27 Des 2008

Tahun Baru


Well kenapa buku ini? karna ini buku yang aku baca dipenutup tahun 2008, moga tahun depan dapat membaca dan beli (hehhe..) lebih banyak buku..
Buat semua pembaca blog saya ucapkan :

SELAMAT TAHUN BARU 1430 HIJRIYAH
SELAMAT TAHUN BARU 2009
SELAMAT HARI RAYA SARASWATI
(that's why i put the cover of my fav book here --but Harry Potter series still the BEST)

Happy..all..happy everybody..love everybody

Alhamdullilah..Puji Tuhan..Matur sembah nuwun Hyang Widhi..Terima kasih atas nikmatMU tahun lalu, jagalah selalu kami dan limpahkan selalu kemurahanMU pada kami di tahun-tahun mendatang, Amiiin..

20 Des 2008

Upacara Potong Gigi atau Mepandes

Tulisan ini sebenarnya udah lama aku bikin, udah sebulan lewat tapi lupa buat posting dan belum sempat edit fotonya. maklum komputer dirumah lelet banget jadi malas aja rasanya. kapan-kapan kalau udah sempat buat edit foto aku upload fotonya, biar tahu upacara potong gigi seperti apa, buat yang udah tahu ya tetap boleh lihat.

Upacara potong gigi, ada juga yang menyebutnya dengan istilah metatah atau mepandes adalah salah satu ritual masyakat Bali, berhubungan dengan adat dan spiritual. Karena pada dasarnya 2 hal tersebut, yaitu adat dan spiritual merupakan elemen terpenting bagi kehidupan masyarakat Bali. Terutama bagi kehidupan sehari-hari. Namanya juga upacara potong gigi, jadi tentunya ada tindakan untuk memotong gigi. Nah seperti apa dan bagaimana, nanti aku ceritakan ya tentang apa yang aku alami. Aku sendiri, meski sudah mendapat informasi dari berbagai macam sumber tentang upacara potong gigi, sebenarnya aku belum pernah menyaksikan secara langsung upacara potong gigi selain upacaraku sendiri. Kalau upacara adat otonan, odalan, memukur, ngaben, pernikahan, sudah aku lihat dan hadiri semenjak tinggal di Bali. Upacara potong gigi juga menjadi salah satu upacara besar karena ini adalah wujud tanggung jawab orang tua pada anaknya, selain menikahkan. Upacara ini diadakan biasanya 1 kali seumur hidup, atau boleh juga lebih. Berhuhung ini ritual wajib, jadi semua orang Hindu Bali pasti mengalami upacara ini. Boleh dilakukan pada masa si anak mencapai akil balig, atau masa-masa setelah itu. Dan kalau ada seseorang yang meninggal sebelum sempat melaksanakan upacara potong gigi maka upacara itu tetap diadakan untuk dirinya setelah meninggal, sebelum di aben tentunya. Kalau teknis penyelenggaraan upacara sendiri berbeda-beda bagi tiap daerah atau desa namun pada intinya tetap sama, yaitu simbol dari pengendalian terhadap Sat Ripu. Berhubung upacara potong gigi termasuk acara ber-budget besar, banyak keluarga atau orang tua mengadakan upacara itu dibarengkan dengan acara lainnya, umumnya pernikahan. Atau ada juga yang menyelenggarakan satu upacara untuk sekaligus beberapa orang. Ini dilakukan untuk meminimalisir pengeluaran maupun berbagai alasan lainnya yang mengandung nilai kepraktisan, dan ada pula alasan-alasan lainnya. Seperti tadi disebutkan, ini adalah upacara besar, jadi tentunya melibatkan banyak orang, tidak ubahnya dengan pernikahan. Orang yang melaksanakan upacara bisanya juga mengundang seluruh kerabat maupun kenalan untuk hadir. Jadi undangan untuk potong gigi sangat umum di Bali, selayaknya kita menerima undangan pernikahan teman atau kenalan.

Tentunya masih ada pertanyaan tentang apa sih tujuan dari pelaksanaan upacara ini sehingga harus dilakukan minimal sekali seumur hidup ? berikut ini adalah penggalan artikel yang aku ambil dari sebuah blog : http://bytescode.wordpress.com/2007/11/28/upacara-potong-gigi-mapandes. ditulis oleh Oleh : Ida Pandita Sri Bhagawan Dwija Warsa Nawa Sandhi. Geria Taman Sari Lingga Ashrama, Jalan pantai Lingga Singaraja Bali, Telp: 0362 22113,27010, HP: 08179719864. E-mail : bhagawandwija@yahoo.com.

Tujuan Upacara Potong Gigi

Tujuan upacara potong gigi dapat disimak lebih lanjut dari lontar kalapati dimana disebutkan bahwa gigi yang digosok atau diratakan dari gerigi adalah enam buah yaitu dua taring dan empat gigi seri di atas. Pemotongan enam gigi itu melambangkan symbol pengendalian terhadap sad Ripu (enam musuh dalam diri manusia).
Meliputi kama (hawa nafsu), Loba (rakus), Krodha (marah), mada (mabuk), moha (bingung), dan Matsarya (iri hati). Sad Ripu yang tidak terkendalikan ini akan membahayakan kehidupan manusia, maka kewajiban setiap orang tua untuk menasehati anak-anaknya serta memohon kepada Hyang Widhi Wasa agar terhindar dari pengaruh sad ripu. Makna yang tersirat dari mitologi Kala Pati, kala Tattwa, dan Semaradhana ini adalah mengupayakan kehidupan manusia yang selalu waspada agar tidak tersesat dari ajaran agama (dharma) sehingga di kemudian hari rohnya yang suci dapat mencapai surga loka bersama roh suci para leluhur, bersatu dengan Brahman (Hyang Widhi). Dalam pergaulan muda-mudi pun diatur agar tidak melewati batas kesusilaan seperti yang tersirat dari lontar Semaradhana. Upacara potong gigi biasanya disatukan dengan upacara Ngeraja Sewala atau disebutkan pula sebagai upacara “menek kelih”, yaitu upacara syukuran karena si anak sudah menginjak dewasa,meninggalkan masa anak-anak menuju ke masa dewasa.

Itu tadi sekilas tentang upacara potong gigi. Seperti yang aku utarakan tadi, upacara potong gigi adalah tanggung jawab orang tua. Jadi upacara ini diadakan dan dilakukan oleh orang tua si anak. Umumnya memang diadakan sebelum anak menikah jadi masih tinggal dengan orang tuanya. Tapi bagi yang sudah menikah tetap boleh dilaksanakan oleh orang tua. Kalau anaknya laki-laki tentu tidak masalah karena tetap tinggal sama keluarganya. Lalu bagaimana kalau yang menikah tersebut anak perempuan, yang secara adat berarti udah masuk dalam keluarga lelaki. Maka upacara potong gigi tetap dilakukan oleh orang tua si anak perempuan atas ijin dan restu dari suami dan keluarga suaminya. Memang tidak ada masalah dengan hal tersebut sih, jadi bukan hal yang perlu dirisaukan. Kalau untuk aku, kasusnya menjadi berbeda. Berhubung aku dari keluarga Jawa dan tidak mengenal upacara potong gigi maka upacara potong gigi untuk aku dilakukan oleh keluarga suami, namun tetap harus melalui proses minta ijin dan restu dari orang tuaku. Yang ini juga tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Waktu dulu aku menikah, memang tidak langsung disertai dengan upacara potong gigi. Sesuai dengan kesepakatan keluarga besar, upacara dilakukan bersamaan dengan upacara pernikahan kakak sepupu cowok yang paling besar. Setelah genap 1 tahun kami (aku dan bli) menikah, sekarang giliran Bli Putu yang menikah dan diadakanlah upacara metatah itu. Awalnya sih masih bertanya-tanya juga tentang upacara ini, tapi seiring berjalannya waktu dan berbekal informasi yang aku dapat, sepertinya aku siap.


Seperti yang aku bayangkan, upacara termasuk yang ribet, bahkan sepertinya lebih komplek dari upacara pernikahan. Prosesi upacara sendiri berlangsung selama 2 hari. Hari pertama adalah acara natap beten. Ada prosesi penyucian dan menjadi persiapan untuk proses potong giginya. Upacara dipimpin oleh seorang pemangku yang memimpin doa dan menghaturkan berbagai banten yang sudah dipersiapakan. Gunanya tentu untuk memohon perlindungan kepada Hyang Widhi. Setelah ini mereka yang akan potong gigi ditempatkan pada ruangan khusus yang juga sudah disiapi berbagai banten. Upacaranya sangat rumit dan prosesinya panjang, hmmm..aku gak bisa jelasin. Hari berikutnya barulah prosesi potong giginya. Potong gigi dilakukan oleh ahlinya, aku gak tahu namanya apa. Pertama kami dibawa dulu ke tempat upacara akan berlangsung yaitu di balai dangin. Balai dihias dengan berbagai simbul dan pernak-pernik upacara. Sebelum acara dimulai, kami harus melakukan sembahyang. kemudian gigi yang akan dipotong diusap-usap dengan batu cincin yang aku yakin bukan sembarang cincin tapi memiliki fungsi tertentu. Baru setelah itu kami disuruh menggigit sesuatu yang aku tidak tahu apa tapi fungsinya adalah sebagai pengganjal agar memudahkan proses pengikiran.



Pada saat gigi dikikir, kami dalam posisi merebahkan diri. Kedua tangan ditelangkupkan sama seperti posisi orang meninggal. Saat proses pengikiran berlangsung suasananya begitu sakral dan tegang. Aku sendiri, saat itu merasakan seperti akan menghadapi moment operasi di meja bedah. Tegang dan khawatir akan apa yang nanti terjadi. Tapi saat mengetahui para tamu undangan itu begitu santai dan memikirkan bahwa ini upacara yang umum dan semua orang menjalani pastinya tidak akan semengerikan atau sesakit yang aku bayangkan. Jadi aku rileks. Saat gigiku mulai dikikir dengan benda keras itu tidak ada sakit atau ngilu yang aku rasakan. Aku ngeri membayangkan akan ada darah atau apa, tapi ternyata semua aman. Lalu kami disuruh bangun dan berkumur dengan cairan khusus. Setelah itu disuruh menggigit sirih yang aku tahu pasti secara ilmiah tentu sebagai antiseptik. Berikutnya proses pengikiran diulangi sekali lagi dan kemudian kami disuruh lagi berkumur dan minum berbagai cairan dengan berbagai macam rasa yang disebut sad rasa yaitu enam rasa berupa rasa pahit dan asam sebagai simbol agar tabah menghadapi peristiwa kehidupan yang kadang-kadang tidak menyenangkan, rasa pedas sebagai simbol agar tidak menjadi marah bila mengalamai atau mendengar hal yang menjengkelkan, rasa sepat sebagai symbol agar taat ada peraturan atau norma-norma yang berlaku, rasa asin sebagai simbol kebijaksanaan, selalu meningkatkan kualitas pengetahuan karena pembelajaran diri, dan rasa manis sebagai symbol kehidupan yang bahagia lahir bathin sesuai cita-cita akan diperoleh bilamana mampu menhadapi pahit getirnya kehidupan, berpandangan luas, disiplin, serta senantiasa waspada dengan adanya sad ripu dalam diri manusia. Setelah pengikiran gigi ini ada tahap berikutnya yaitu sembahyang dan ritual lainnya yang dipimpin oleh seorang Pedanda.



Setelah semua selesai bukan berarti acara beres lho. Kami harus menemui tamu-tamu undangan dan berterima kasih telah hadir pada upacara adat potong gigi keluarga kami. Siang sampai malamnya harus terus stanby di upacara resepsinya. Pokonya tidak ubahnya seperti acara pernikahan. Aku sama bli juga mengundang semua teman dan kenalan kami. Rasanya sama seperti waktu pernikahan dulu, jadi ini resepsi kami yang ketiga. Sama ya kayak BCL hehehe... Sayangnya kami tidak bulan madu di Bahama atau Maladewa.. cukup di Bali saja..


bersama para sepupu setelah selesai upacara potong gigi

19 Des 2008

Ketemuan

Dulu waktu mau pindah ke Bali rasanya memang berat, harus keluar dari pekerjaan yang menyenangkan. Belum lagi berpisah dengan teman-teman kerja, teman kost dan keluarga ibu kost yang dekat banget, berpisah dengan Jogja, terlebih harus meninggalkan adikku sendirian di kota itu. Sedih membayangkan bakal kehilangan moment-moment indah bareng dia. Janjian makan bareng, shopping, bergosip..ahhh..kangen. Meski kita beda kost tapi dulu waktu masih sama-sama kuliah kita selalu 1 kost bahkan satu kamar. Dulu selalu bertengkar tentang segala hal tapi setelah aku pindah kost karena lebih dekat dengan kantor jadi malah sering kangen-kangenan. Berat hati pindah ke Bali.

Namun ternyata hal tersebut tidak seburuk ketakutanku. Takut dulu tidak bisa ketemu-ketemu lagi dengan teman, tapi ternyata aku salah. Beruntung pindahnya ke Bali karena ternyata banyak teman yang pada akhirnya datang ke Bali dan kita bisa ketemuan. Seperti dulu pas upacara pernikahan. Tidak pernah menduga ada kawan Jogja yang hadir. Ternyata Pras dan para presenternya yang semlohai, Irin, bisa dateng karena kebetulan juga pas ada keperluan di Bali. Dek Gun, selain mengunjungi keluarganya di bali dia juga beberapa kali ditugaskan ke Bali jadi kita bisa janjian buat ketemuan. Seringnya dia main ke rumah. Lalu beberapa minggu lalu Mas Andhi, Wempi, dan pak Dewa ada seminar di Bali. Kita pun janjian buat ketemuan. Ah seru pokoknya..intinya jangan ngajak ngobrol mas Andhi tentang wayang, Wali Songo, Babad Jawa, dsb, jadinya malah berjam-jam ngobrolnya tentang itu melulu. Tapi bukan berarti tidak menyenangkan. Karena kami semua yang berkumpul disana akhirnya terpesona dengan cerita-cerita tersebut. Mas Andhi itu orang yang jiwanya jawa banget, orang yang tergila-gila dengan kebudayaan, tergila-gila pada filosopis wayang, dan ngobrol dengannya membuat aku pingin melahap buku-buku seperti mahabaratha atau ramayana atau menikmati pertunjukan wayang. Namun nyatanya ketiga hal tersebut belum ada yang kesampaian hehehe..

Setelah mas Andhi CS giliran Wulan yang datang ke Bali. Kami bersyukur bisa ketemuan di hotel, jalan-jalan keliling Kuta nyari oleh-oleh dan makan malam, keluar masuk outlet lihat baju-baju natal, sandal, baju anak, bikini (hihihiii...). bagian yang paling seru adalah saat ngobrol, berbicara tentang segala hal. Tentang apa aja yang kami alami dan terjadi setelah pindah. Tentang Bali, adat, tentang Ken yang sekarang udah semakin gede, tentang Pascal dan teman-teman kami di kantor lama, tentang keluarga, samapai tentang korupsi di pemerintahan, tentang kehamilan yang dinantikan..banyak deh. Sampai-samapai lupa waktu dan hampir tengah malam baru pamitan buat pulang heehe.. untung sekarang sudah gak di Jogja jadi gak ada aturan ’Jam belajar Masyarakat” huahahaha...

Siapa lagi ya yang akan datang ke Bali ? Dulu ada Heru, Hendri, aik, Wulan marketing, Ika Marketing, dan sepertinya awal tahun nanti bakal ada lagi yang ke Bali..Ketemuan yuk..

13 Des 2008

Main Kano

Liburan Idul Adha kemarin lumayan menyenangkan. Meski list jalan-jalan ke Nusa Dua, GWK, dan Dreamland urung terlaksana karena masalah cuaca, akhirnya kesampaian juga memanfaatkan liburan kali ini dengan kegiatan seru. Kebetulan ada ajakan dari kawan-kawan bli untuk main ke pantai bareng-bareng. Aku ikut aja meskipun pada akhirnya jadi satu-satunya cewek dalam gerombolan itu hehehe.. Agendanya ke pantai Mertasari, agak jauh dari sanur dan jalannya melingkar membuat aku bingung. Persepsiku akan arah mata angin pun ikutan terganggu. Arah barat tempat matahari terbenam dalam benakku disebelah timur..aneh banget. Jadi waktunya sore hari saat matahari menjelang terbenam tapi terbenamnya di sebelah timur hehehe..kepalaku memang lagi miring. Namun diluar itu semua, acara ke pantai ini menyenangkan. Dengan bekal jajan pasar beli di pasar Badung, berangkatlah kita untuk ketemuan dulu di rumah Gusti, teman kantor Bli. Disana juga udah ada Adi dan Kadek teman-teman Gusti. Lalu berlima kita ke rumah Wahyu yang juga teman kantor Bli dan Gusti. Rumah Wahyu ini dekat dengan pantai tujuan kami semua. Berhubung udah janjian ya kita tinggal berangkat aja ke pantai. Nyampai di pantai Nyoman yang juga teman kami nyusul. Untung tadi udah prediksi bakal nyebur ke laut jadi pakai celana pendek dan kaos aja tanpa baju ganti. Memang udah niat selesai dari laut langsung kita pulang basah-basahan. Memang gitu sih kebiasaannya kalau main ke laut. jadi tidak ada acara bawa persiapan baju ganti dan perlengkapan mandi segala seperti kalau berenang ke kolam renang. Praktis dah pokoknya.

Aku baru pertama ini ke pantai Mestasari. Meski jauh, pantai ini masih segaris sama sanur. Namun ternyata disini lebih istimewa karena hampir tidak ada ombak. Jadi pantainya seperti ditepian danau, hanya riak-riak kecil saja. Pasirnya pun putih dan banyak sekali terdapat kerang didasarnya. Ini lokasi yang sangat-sangat sesuai buat mandi-mandi dan berenang. Berhubung lagi libur jadi pantainya pun ramai. Wisatawan asing pun banyak pula yang kesini, tapi mereka berenangnya disisi pantai yang lain yaitu yang udah diboking sama hotel tempat mereka menginap hehehe.. Disekitar pantai banyak rumah makan yang menata meja kursinya dipinggiran pantai. Suasana outdoor gitu. Dan sepertinya akan ramai kalau malam hari. Romantiskan bisa menikmati makan malam di alam terbuka dipinggiran pantai? Apalagi kalau bulan terang-benderang dengan kilauan bintang gemintang aihh..Tapi sayangnya kami tidak makan malam di situ hahaha..bisa bangkrut bo, habis pasarnya buat wisatawan sih.

Aku baru tahu kalau ternyata kami tidak akan sekedar mandi dan berenang saja di pantai ini tapi juga main kano. Kanonya bisa nyewa dengan tarif 5000 ribu rupiah aja untuk waktu yang tidak dibatasi alias sepuasnya. Dan oh..man..ternyata kano itu cuma cukup untuk 1 orang, jadi masing-masing orang satu. Bayangkan aku yang tidak bisa berenang, paling gak suka olah raga air, bahkan kalau ke waterbom hanya mau pakai ban yang tandem sekarang harus sendiri main kano. Dan jangan lupa ini laut.

OK deh aku terima tantangan ini, padahal dalam hati udah ciut banget dan berniat dalam hati gak akan lebih dari 10 m dari garis pantai. Ya setidaknya kalau tenggelam masih banyak yang nulungin dan mudah dicari hehehe.. Informasi dari wahyu mengatakan bahwa tidak ada gelombang besar bahkan ombak disini jadi airnya tenang, dan seperti memang yang aku lihat airnya sangat tenang ya aku berani. Ini dikarenakan agak ketengah sana ada gugusan karang yang memecah ombak/gelombang. Jadi pantai ini aman dan sangat tenang. Waduuhh saat itu aku lupa kalau air yang tenang menghanyutkan, seperti danau Batur yang tenang dan menyejukkan mata itu ternyata kedalamannya 88 meter. Tapi udah terlanjur terima tantangan, malu kalau batal, dan rugi kalau tidak coba, akhirnya mulai deh berkano.

Satu menit pertama harus kesakitan berjalan di air dangkal untuk menjangkau kano karena dasar pantai berserakan kulit-kulit kerang, belum lagi ketakutan dan trauma akan laut yang aku rasakan. Menit kedua ngeri duduk dikano dan terbayang kanonya ngguling atau terbalik. Menit ketiga masih takut tapi mulai belajar menguasai kano, melatih mendayung maju, mundur, belok, tapi belum bisa menghindari tabrakan antar kano. Menit kelima udah mulai menguasai tapi masih takut dan menjerit-jerit kalau kanonya tertabrak dan menabrak kano lain karena kami semua memang masih awam sama kano2 ini. Tapi lho..lho..makin lama makin hilang takutku, makin seru rasanya..dan ahhh..man kenapa aku tidak mencoba permainan ini sejak lama. Memang sih bli udah sering banget ngajakin main kano tiap kita ke pantai tapi dengan mentah-mentah aku tolak bahkan sebelum melihat wujud kano itu seperti apa. Ketakutanku akan air yang menggenang lebar dan tampak dalam memang tergolong akut. Bahkan nyemplung kolam renang aja membuat aku ngeri hehehee..


Baru aku sadari, main kano itu tidak sulit dan ternyata sangat menyenangkan. bahkan diantara kami semua hanya aku, bli, dan satu lagi Nyoman yang berani berkano sampai jauh ke tengah, beradu cepat dan mengincar sasaran-sasaran seperti perahu atau titik-tiitik tertentu untuk di jangkau. Swear deh..aku cinta sama permainan ini sampai-sampai lupa kalau ini di laut, dan jika kanoku terguling aku mungkin tidak akan kembali lagi ke dunia dalam keadaan bernyawa. Yang jelas hari itu aku melewatkan sore dengan sangat-sangat menyenangkan. Bahkan saking antusiasnya lupa sama niat buat mengamati sunset, keasyikan berkano lawan bli. Selesai berkano dan mandi-mandi kita makan bekalku tadi dan juga beli lumpia yang sangat nikmat dimakan saat selesai mandi di laut..hmmm.. pingin lagiii...


9 Des 2008

Piknik Danau Batur

Bersyukurlah pada yang Kuasa..Cinta kita di dunia…Selamanya..”

Rasanya tidak cukup bersyukur atas segala cinta, karena segala hal detail pun atas karuniaNya. Termasuk cuaca yang kita nikmati in every single moment. Entah itu panas, mendung, hujan..jangan sampai deh jadi manusia yang tidak bersyukur. Dikasih hujan mengeluh dikasih kemarau panjang mengeluh..aduh trus gimana dong.. Hehee ini bukan karena harapanku atas minggu yang cerah terkabul namun juga bagian dari perenunganku..bahwa Tuhan selalu memberikan yang terbaik. Tapi kalau ternyata itu diluar harapan kita, ya ambil sisi positifnya aja..Semoga saya mampu, dan semoga anda juga mampu. Iya kan?

Dari pengalaman beberapa minggu terakhir ini cuaca Denpasar tidak menentu, kadang hujan kadang panas, kadang pagi hujan deras sorenya panas, atau pagi cerah siang hujan deras..pokoknya gak menentu deh. Padahal kami berdua sedang menyusun rencana untuk jalan2 minggu ini. Jadi aku sangat berharap hari minggu cerah..dan syukurlah harapanku terkabul. Hari minggu ini rencana ke danau Batur terlaksana. Sudah lama banget ingin melihat danau Batur secara langsung. Sebelumnya aku hanya melihat dari kejahuan. Maksudnya dari atas bukit dalam perjalanan Singaraja-Denpasar lewat Kintamani. Sungguh pemandangan yang mengesankan. Makanya aku pingin banget melihat danau ini dari dekat. Pokoknya semua disiapin karena hari ini agendanya tidak sekedar jalan-jalan tapi juga piknik. Bekal makan siang Ok, kue-kue OK, minuman Ok, kamera OK, hmmm berangkat deh..

Perjalanan yang ditempuh kali ini lumayan panjang. Dari Denpasar ke Kintamani memakan waktu sekitar 2 jam. Secara keseluruhan akses jalan sangat mudah. Sudah halus mulus lus..lus..meski ya lumayan menanjak, menurun, menikung..akhirnya sampai juga di bukit Kintamani. Dari atas bukit danau udah nampak mempesona dengan latar belakang gunung Batur yang puncaknya diselimuti awan hitam menggantung. Untuk mencapai danau perjalanan belum berakhir. Kami harus turun bukit. Medannya lumayan sulit karena curam dan berkelok. Belum lagi harus selalu waspada karena truk-truk penambang batu ikut-ikutan bersliweran di jalan yang tidak terlalu lebar ini. Turun ke danau ini adalah pengalaman pertama buat aku, dan kedua buat bli (dan jeleknya dia tidak berbagi informasi yang akibatnya membuatku sempat patah semangat hikss)..


Akhirnya sampailah di kaki paling bawah, alias udah nyampai lembah. Setelah bingung berkeliling kami tidak mendapati gerbang masuk ke danau. Akses ke sana adalah gang-gang rumah warga atau kebun-kebun sayuran. Inilah informasi penting yang aku lewatkan. Dalam bayanganku akan ada gerbang khusus wisatawan dengan berbagai fasilitas. Seperti yang ada di danau Beratan, Bedugul. Tapi ternyata gak ada. Akhirnya kami mendapati pintu masuk ke Hot Spring Water yang sangat meragukan untuk disebut sebagi tempat wisata. Karena terlantar dan tidak ada penjaganya. Tapi target kami adalah danau jadi itu bukan masalah. Setelah parkir di dekat gubug darurat dan atas petunjuk warga setempat yang sekaligus berjualan makanan dan nyewain pancing kami diantarkan ke danau. Dan bagian ini bukan bagian tepian danau yang landai, namun bertebing dan berkarang..oh..my.. dan sudut ini benar-benar bukan tempat wisata, tidak ada sentuhan fasilitas apapun jadi masih murni dikelola oleh alam. Akhirnya kami pun menikmati danau dari sisi sini. Hanya kami berdua saja dan seorang penambak yang tambaknya hanya beberapa meter dari tempat kami bersantai ”menikmati” Danau batur yang tenang ini..hikss.. Pikniknya tetap jalan dong meski duduknya tidak di bangku taman ataupun diatas rumput yang sejuk dan landai. Kami memancing sambil makan siang..hmm..acara yang piknik yang cukup aneh..kalau di Trans TV ada jalan-jalan yang bertema Koper dan Ransel, maka tema jalan-jalan kami ini masuk kategori Tas Kresek... Ini semua akibat minim informasi, sok tahu, dan ogah bertanya.. Namun selain pengalamanku ternyata ada sisi lain danau Batur yang layak buat dikunjungi kalau berwisata ke Bali. Untuk liputan komplit wisata Batur KLIK DISINI ya. Semoga bisa jadi panduan buat wisata seru kesana.


4 Des 2008

Pujian

Setiap orang, terutama perempuan pasti merasa senang jika ada yang memujinya cantik. Setiap manusia butuh pengakuan dari orang lain atas kelebihan yang dia miliki. Aku rasa memang begitu. Aku pun begitu. Selalu tersanjung dengan segala pujian yang dilontarkan. Hmm.. mungkin juga karena aku termasuk jarang dipuji kali ya hehehe.. namun baru aku sadari, bahwa ternyata ada yang menyenangkan dari sekedar pujian.

Aku suka bercermin, terutama saat waktu senggang. Bukan untuk berdandan karena aku tidak suka berdandan. Sekedar sisiran atau merapikan rambut. Sepertinya dari waktu ke waktu wajahku berubah-ubah. Terkadang saat pikiran santai dan rileks aku mengaca di cermin dan mendapatkan diriku hari ini terlihat segar dan menarik. Lalu meluncurlah komentar. ”Aku cantik ya” dan suamiku pasti akan menjawab ”iya..cantik” sambil tidak mengalihkan matanya dari TV atau hal-hal lain yang dia kerjakan saat itu. Tapi aku senang aja toh bli udah menanggapi positif dan dan setuju kalau aku cantik hehehe..narsis. Namun kadang aku bercermin dan mendapati wajahku yang kucel dan kusut. ”kok aku jelek ya” dan bli pun pasti akan berkomentar ”memang kamu jelek” dikatakannya dengan datar. Namun setelah itu dia akan meraih tanganku dan menarik tubuhku kedalam pelukannya lalu dia membisikan dengan lembut ”tapi aku selalu menyanyangimu apa adanya. I Love you”. Dan dia pun akan mempererat pelukannya. Saat itulah aku menyadari bahwa pujian ternyata bukanlah sesuatu yang yang paling menyenangkan. Ada yang jauh..jauh..jauh lebih indah dan membahagiakan, yaitu perasaan diterima dan dicintai. God..terima kasih telah Kau kirimkan lelaki ini menjadi pendamping hidupku, aku begitu begitu mencintainya.

25 Nov 2008

Jangan Sakit


Setelah aku teliti diriku sendiri dan kebiasaanku nonton film ternyata aku bukan penggila film. Aku bukan penggemar film kelas berat, tapi sekedar penyuka film yang biasa-biasa saja. Buktinya aku (hampir) tidak pernah tergiur untuk nonton film-film keluaran terbaru, ataupun tergiur untuk menjadi golongan pertama yang menonton film setalah film dirilis. Terbukti tiap kali keluar dari tempat sewa film, bukanlah film-film terbaru yang aku bawa pulang. Tapi kebanyakan film-film yang udah agak out of date alias rilis udah lama, tapi menarik dan berisi. Misalnya Wicker Park dan Dot The I hasil rekomendasi Bagus, teman produser yang super selengekan itu merekomendasikan film yang romantis dan benar-benar bagus. Dan ada film agak lama yang ternyata bagus juga judulnya Babel, yang ini aku tertarik karena dicovernya ada keterangan telah memenangkan penghargaan Academy Award. Memang sih aku selalu tertarik pada berbagai jenis review ataupun triller film yang baru rilis tapi bukan berarti berminat buat nonton. Karena bagiku film yang patut ditonton itu adalah film yang direkomendasikan. Entah itu oleh teman, film-film yang banyak dibicarakan, ataupun alasan-alasan lain yang tidak ada hubungannya sama lebel new rillis. Bahkan film-film Harry Potter yang merupakan film ”wajib ditonton” pun kadang aku menunggu sampai VCD/DVDnya rillis. Tapi kali ini aku belum mau bicara tentang Harry Potter, aku mau membahas tentang Sicko.

Ini sebenarnya bukan film yang terlalu lama tapi ya udah lumayan lama juga dirilis. Pertama tahu film ini saat nonton salah satu episode Oprah Winfrey Show, membahas tentang film ini. Awalnya sih gak begitu tertarik, tapi berhubung si Michael Moore yang merupakan produser sekaligus sutradara film ini banyak diperbincangkan jadi tergoda juga buat nonton. Meski tergoda ternyata harus menunggu sekian bulan untuk aku akhirnya berkesempatan nonton film ini. Gara-gara ada sesi review film untuk kelas yang aku pegang, mau gak mau harus nyiapin materi film yang bagus dan bermutu. Akhirnya terpilih Sicko. Awalnya sih mau putar an Inconvenient Truth, tapi berhubung takut para mahasiswa itu ngantuk dan ngobrol sendiri, akhirnya aku pilih Sicko. Sebuah film dokumenter yang mengupas kebusukan sistem pelayanan kesehatan di AS, dan mungkin juga di negara kita. Nah baca nih review lengkapku tentang SICKO.

Kalau saja aku tidak mengenal asuransi, tentu film ini tidak akan begitu menarik bagiku, namun setelah berhubungan dengan masalah asuransi kesehatan dan sedikit pengetahuan tentang asuransi, film ini menjadi begitu menarik. Pengalaman orang-orang yang ada di film ini memang sungguh tragis, dan menyesakkan sekali karena ternyata apa yang mereka alami yang pastinya banyak dialami masyarakat kita. Tidak menutup kemungkintan kita-kita pun bisa mengalami jika pemerintah Indonesia tetap bertahan dengan sistem yang dianut saat ini. Di Amerika saja yang memiliki jaminan sosial bagi masyarakatnya megalami situasi seperti itu, apalagi bagi Indonesia yang menganut paham “kesejahteraan warga negara ada di tangan mereka sendiri” ini. Saat sehat tentunya semua tidak ada masalah. Namun saat sakit itu datang, biaya adalah momok yang menakutkan. Biaya periksa, biaya obat, perawatan selama sakit, biaya hidup sehari-hari, semuanya harus ditanggung dalam satu waktu. Udah sakit jadi malah tambah sakit. Kalau punya cukup uang dan sakitnya ringan sih gak ada masalah. Trus gimana dong kalau sakitnya berat trus belum lagi gak punya duit. Yang punya asuransi bisa sedikit lega karena ada kemungkinan keringanan biaya (mungkin) bisa juga gratis. Lalu bagi mereka yang tidak punya asuransi, semuanya harus ditanggung sendiri. Gimana kalau sakitnya kanker, aids, tumor, kelainan syaraf, jantung, kecelakaan berat, yang mebutuhkan operasi besar ataupun kecil, berbagai tes laboratorium,dsb ?

Bagi pemegang asuransi pun bukan berarti aman dan bisa tenang saat sakit itu datang. Apalagi kalau asuransinya cuma sekedar Jamsostek dan Askes. Tanggungan hanya sebatas obat flu dan mencret ringan. Kalau sakitnya agak parah dikit jangan harap akan ditanggung. Beruntunglah yang punya penghasilan lebih bisa daftar untuk polis asuransi di perusahaan asuransi gede. Tapi itu berarti pengeluaran rutin diluar biaya hidup sehari-hari. Lalu bagaimana bagi mereka yang pendapatannya pas-pasan, atau mereka yang penghasilannya tidak tentu, atau mereka yang tidak punya pengetahuan tentang asuransi ?.. Mau berobat pakai jaminan masyarakat miskin? Kira-kira pengobatan jenis apa yang bisa didapat, trus bagaimana pelayanannya? Kalau ada yang bilang Sehat itu Mahal harganya, ternyata sakit LEBIH MAHAL lagi harganya.. jadi kesimpulannya sehat atau sakit itu GAK ADA YANG MURAH..

10 Nov 2008

Selektif Pilih Perias Pengantin

Pilih-pilih penata rias untuk acara besar misalnya pernikahan ternyata bukan hal yang mudah. Boleh dibilang juga gampang-gampang susah menemukan penata rias pengantin yang sesuai keinginan mempelai sekaligus bagus menurut penilaian orang lain. Seperti pengalaman sepupuku ini. Kebetulan untuk acara nikahannya penata riasnya dipilihin sama sang Ibu tapi ternyata dapat penata rias yang asal merias. Merias pengantin seperti merias karnaval saja. Padahal yang namanya rias pengantin kan ada sakralnya, ada nilai relijiusnya, bukan sekedar dandanan pengantin untuk acara fashion show. Dan mau gak mau aku juga kebagian imbasnya. Pas sepupu itu menikah, aku dan saudara sepupu yang lain ikut upacara potong gigi. Kalau ikut upacara potong gigi, dandanannya hampir sama seperti mempelainya, jadi kami dirias juga oleh tim perias pengantin ini. Dan sungguh hasilnya sangat jauh dari memuaskan. Bagi aku sendiri sih tidak masalah meski kecewa juga. Tidak masalah karena bukan aku yang menikah, jadi istilahnya bukan aku Ratunya. Tapi kecewa kenapa kok harus ada kejadian seperti ini. Kok ada perias pengantin yang tidak memahami tata krama merias pengantin ya..dikiranya mungkin pengantin itu hanya cukup dipakein make-up, sanggul pengantin, dan kostum pengatin seperti halnya karnaval. Dia melupakan nilai sakral dari acara pernikahan tersebut.

Aku masih ingat banget. Setahuku setiap perias pengantin itu dinilai bagus kalau dia berhasil memunculkan nuansa sakral, punya kemampuan untuk membuka atau memunculkan aura pengantin sehingga kelihatan bersinar dan ’terlihat beda’ dari hari-hari biasanya. Sewaktu masih di Jogja aku pernah mewancarai dan mengangkat profil beberapa perias pengantin kenamaan. Salah satunya yang paling disegani adalah ibu Tinuk Rifki. Ibu tinuk ini perias pengantin Jawa langganannya keluarga keraton dan pejabat-pejabat tinggi negara kita. Aku rasa semua mempelai yang menggunakan riasan Jawa dan tahu kapasitas ibu Tinuk ini sangat mengidamkan dapat dirias olehnya saat hari pernikahan. Bahkan mbak Annisa pohan juga di rias oleh ibu Tinuk ini. Mereka punya ritual khusus sebelum merias. Aku tidak tahu pastinya, ada yang melakukan puasa, doa tertentu kepada yang Kuasa, atau yang lain namun yang pasti sarat akan nuansa sakral dan religius. Merias pengantin harus dilakukan dengan serius dan takzim, seorang perias pengantin profesional hanya akan mengambil order sesuai kapasitas dan waktu yang tersedia. Waktu sangat berhubungan dengan konsentrasinya dia saat merias, berhubungan pula dengan hasil riasan. Jangan sampai perias pengantin memiliki waktu yang terbatas sehingga kerjanya serabutan.

Aku merasa sangat beruntung kejadian perias pengantin serampangan tersebut tidak menimpaku di hari pernikahanku. Aku dirias oleh penata rias pengantin adat bali yang profesional, tahu aturan dan menghargai nilai sakral sebuah acara pernikahan. Ibu ini memiliki kapasitas untuk menyulap pengantin yang biasa saja menjadi istimewa, sehingga pada hari pernikannya dia benar-benar menjadi seorang ratu. Begitupun upacara pernikahanku di Jawa. Meski tidak ada acara akad nikah, namun prosesi pernikahan adat Jawa lengkap aku jalani. Termasuk tradisi midodareni pada malam sebelum upacara pernikahan adat Jawa. Aku dirias oleh perias yang paham betul bahwa rias pengantin itu berbeda dengan riasan untuk acara biasa. Meski periasnya adalah lelaki (udah bapak-bapak) namun sangat ahli dan luwes dalam merias. Aku, keluarga, dan semua kerabat dibuat sangat puas dengan hasil kreasinya. Aku merasa sangat bersyukur..

Nah buat yang merencanakan pernikahan hati-hati ya memilih perias pengantin. Kalau bisa sih cari informasi dari pengalaman-pengalaman saudara atau kenalan yang udah pernah dirias. Bagaimana testimoni mereka terhadap perias yang kamu maksud. Lalu bagaimana pamor perias pengantin tersebut, apakah terkenal dan memang profesional dibidang ini atau tidak. Kalau perlu survay dulu. Itulah mengapa perlu sekali yang namanya test make-up. Jadi gak Cuma baju aja yang perlu fitting, make-up pun perlu di test. Kalau aku dulu memang tidak melakukan itu semua, aku hanya beruntung mendapatkan perias yang bagus dan memuaskan. Periasku untuk nikah adat bali adalah Mek Luh Mendri yang merupakan kenalan dari Ibu mertuaku, jadi ibu mertuaku tahu benar bagaimana kapasitas Mek Luh Mendri dalam merias pengantin. Dan memang harus aku akui, ibu mertua memang punya selera yang bagus untuk hal-hal seperti ini. Sementara untuk perias pengantin adat Jawaku, aku lupa namanya. Beliau kebetualan teman dari tanteku dan reputasinya sebagai perias memang cukup dikenal untuk lingkup daerahkku. Sekali lagi, kalau gak mau menyesal seumur hidup gara-gara perias pengantin yang gak bagus ya memang butuh usaha..jangan lupa Berdoa agar pernikahan dapat berjalan lancar.. selamat merencanakan Pernikahan ya...

5 Nov 2008

Berburu Nasi Pecel

Perburuanku akan nasi pecel yang enak dan sesuai dengan cita rasaku rupaya belum berakhir. Ya jelaslah, sudah hampir satu tahun di Bali tapi aku menemukan nasi pecel yang enak. Padahal, di Bali terutama Denpasar, keberadaan orang Jawa tuh sudah hampir sama populasinya dengan orang Bali asli. Tidak mengherankan jika banyak sekali ditemui warung Jawa yang menyediakan menu nasi pecel. Tapi masalahnya, kok ya belum dapat yang pas sesuai dengan keinginanku. Apakah aku terlalu banyak berharap ya tentang nasi pecel yang enak. Udah jelas ini di Bali, ya gak mungkin dong cita rasa nasi pecel Nganjuk ada disini. Kalau mau ya harus ke Nganjuk buat beli nasi pecelnya hehehe..Nasi pecel itu menu yang sangat sederhana. Hanya terdiri dari nasi, sayuran rebus, ditambah sambal kacang (sambel pecel), lalu dilengkapi dengan lauk pendamping, tidak boleh ketinggalan (ini sangat penting) yaitu ada peyek. Peyek adalah keripik renyah yang terbuat dari tepung beras dan berbagai macam bumbu. Ada juga yang dikasih ornamen teri asin, udang, kacang atau kedelai. Dan peyek inilah yang menjadi ciri khas nasi pecel. Dengan kata lain udah pakem kalau nasi pecel itu pakai peyek, kalau gak pakai peyek ibaratnya seperti pergi ke resepsi tapi pakai celana jeans, ya boleh-boleh aja sih namunbukan pada tempatnya. Tadi pagi aku juga beli nasi pecel. Belinya di warung yang tidak sengaja aku lihat beberapa hari yang lalu waktu meliwatinya. Warungnya sih sangat sederhana. Hanya warung kecil dekat tikungan jalan dengan bangunan yang terbuat dari kayu dan papan. Namun begitu melihatnya, bentuk bangunan ini mengingatkan aku pada keberadaan warung-warung nasi pecel yang tradisional. Warungnya terdiri dari 2 pintu disamping kanan dan kiri, sementara bagian tengah atas adalah jendela yang bentuknya memanjang, sementara dibawahnya adalah tulisan yang dibuat oleh pemilik warung. Namun kalau ini sih bukan ciri khas yang mutlak. Artinya banyak juga kok warung nasi pecel dengan konsep bangunan yang beda tapi punya cita rasa yang enak. Ada juga yang tidak pakai warung, alias kaki lima. Di Malang seingatku nasi pecel yang enak ada di Jl. Kawi Tengah, di Depan toko dekat pasar. Jualannya pakai kaki lima tapi pelanggannya kayak semut ngrubutin gula, kalau kesiangan aja dikit pasti kehabisan. Di Nganjuk juga banyak kaki lima yang menjual nasi pecel. Biasanya buka pada malam hari (jam 9 keatas), meski ada juga yang buka pagi hari sih. Kalau aku pikir nasi pecel itu kok kayak nasi gudeg ya, enaknya dimakan pagi-pagi sekali, atau malam-malam sekali.
Nasi pecelnya yang aku beli tadi ternyata tidak seenak perkiraanku, bahkan rasanya kok mirip nasi pecel di Jogja. Kayaknya memang tidak boleh putus asa, masih ada target lain sih. Yaitu warung nasi pecel Madiun yang ada di Renon. Aku belum sempat kesana, tapi sepertinya tempatnya agak elit yang maegindikasikan harganya lumayan menyesuaikan tempat, belum lagi lokasinya yang di Renon hehehe..

Ngomong-ngomong soal nasi pecel Madiun, kayaknya memang biasanya banyak warung nasi pecel yang membawa embel-embel Madiun. Dulu waktu di Jogja aku pernah makan nasi pecel madiun yang ada di daerah Depok, dekatnya Makro. Disana ada warung nasi pecel yang enak, tapi harganya bo..mahal juga untuk itungan seporsi nasi pecel. Tahun 2005, terakhir kali kesana aja satu porsi nasi pecel saja, gak pakai peyek dan lauk harganya udah 6000rb. Kalau mau pakai lauk tempe, pepes, ikan atau ayam goreng hitungan harganya lain. Jadi bisa saja makan nasi pecel komplit harus bayar 15rb..yang benar saja. Ini hanya nasi pecel lho, dan lokasinya di Jogja yang terkenal sebagai kota yang relatif murah. Yang membuat warung ini unggul dan mahal ternyata memang berasnya organik, dan nasinya sangat pulen dan enak. Jadi jelas keunggulannya ada pada nasinya, tapi gak bisa dipungkiri juga, bumbunya memang enak. Di Jogja ada lagi yang terkenal yaitu SGPC. Bagi mahasiswa UGM pasti tidak asing dengan nama SGPC. SGPC itu singkatan dari sego pecel hehehe..biar mudah orang Jogja menyebut nasi pecel dengan SGPC. Dari sekian banyak SGPC yang ada di Jogja yang terkenal enak adalah SGPC di Fak. TP (teknik Pertanian), dan di daerah selokan Mataram. Katanya sih SGPC disana itu langganannya artis, pejabat, dan dosen-dosen senior penggila SGPC. Aku sendiri sih belum makan SGPC yang di daerah selokan Mataram itu, tapi yang di TP UGM udah, dan menurutku rasanya iasa aja kok. Aku gak tahu apa coba yang membuatnya terkenal dan digemari artis dan pejabat. Apa memang cita rasa mereka hanya segitu saja ? hehhee..gak tahu lahh.. kalau sekarang aku tidak tahu apakah warung SGPC di TP itu masih ada atau tidak..

Hmmm..aku jadi aku ingat nasi pecel terenak adalah yang aku makan pada acara Ulang Tahun Almarum Prof Koesnadi yang ke 80. Sekaligus sebagai upaca Ulang Tahun beliau yang terakhir karena beberapa bulan kemudian Prof Koesnadi berpulang dalam sebuah kecelakaan pesawat Garuda di bandara Adisucipto Yogyakarta. Nasi pecel restoran namun tetap menjaga cita rasa tradisional..ya jelas lah.. aku jadi makin penasan sama nasi pecel enak dan komplit yang disajikan dalam pincuk itu huuhuu...(mau nangis aja rasanya rindu nasi pecel..)

3 Nov 2008

The King





Rindu Rossi... Makasih buat kompas.com

Workshop Balinale




Pernah dengar tentang Balinale ? itu adalah sebuah festifal film internasional yang dimotori oleh Bali Taksu. Sebuah yayasan non frofit yang bergerak dibidang film. Begitulah sepertinya. Aku sendiri juga baru sekali ini tahu tentang Balinale International Film Festival. 2008 ini sudah tahun ke-2 pelaksanaan event tersebut, diadain 21-31 Oktober. Agenda utamanya tentu pemutaran film, dan juga ada beberapa workshop untuk sinematografi dan fotografi bagi para pelajar dan mahasiswa. Kebetulan New Media ada kerjasama untuk penyelenggaraan workshop dan pemutaran film. Jadi bisa ngambil ilmu dari beberapa filmmaker internasional. Acara di kampus New Media berlangsung selama 2 hari. Cukup menyenangkan melihat antusiasme mahasiswa terhadap event tersebut. Semoga motivasi mereka hadir bukan karena ada Marsanda ya hehehe.. Ada 4 pembicara pada hari ke-2 kemarin. Ricard Todd dari Australia. Richard ini seorang kameramen dan juga produser film. Minatnya adalah natural history filmmaking. Salah satu filmnya, God Made Them Blind tahun 2008, dinominasikan untuk beberapa festival film di Amerika, dan Eropa. Lalu ada Tino Saroengallo, seorang filmmaker dari Indonesia. Beliau ini ngajar juga di IKJ. Aku kenal bapak ini sih dari bukunya Dongeng Pembuatan Film. Kebetulan kemarin berhasil minta tandatangannya, dan si pak Tino rupanya gak nyadar kalau dia terkenal hahaha.. Flmnya adalah Ca bau Kan & Pasir Berbisik. Tino juga udah banyak kali menjadi sutradara untuk iklan-iklan besar di Indonesia. Ada juga Filmmaker dari Prancis Claude Theret dan Dean Allan Tolhurst dari Ausrtralia. Yang sangat menarik tentu saja pada agenda screening beberapa film terbaik Eagle Award. Film ini motivated banget. Setelah acara anak-anak merasa terbakar untuk ikut Eagle Award tahun depan. Hmm.. do’akan kami ya..

30 Okt 2008

Urusan Menikah

Minggu pertama bulan november ini, tepatnya tanggal 7 November sepertinya memang dewasa bagus menurut perhitungan kalender Bali buat mengadakan upacara Manusa Yadnya. Salah satunya upaca pernikahan. Dilingkungan yang aku kenal saja ada 3 pernikahan yang diadakan hari itu. Pernikahan kakak sepupu suamiku, pernikahan teman sekantorku, dan pernikahan kakan teman karibku. Satu lagi, sahabatku Bunga Citra Lestari juga akan menikah meski tanggalnya 8 November. Baca blog seorang teman kuliah, dia juga sedang mempersiapkan pernikahannya, tapi untuk bulan Desember. Berbicara tentang persiapan pernikahan tentu suatu hal yang sangat menyenangkan. Pernikahan, bagaimanapun situasinya pasti menjadi kabar gembira bagi keluarga maupun orang-orang dekat mempelai. Dan siapa pun yang menikah, tentunya pasti dengan harapan sebuah pernikahan indah yang mendatangkan kebahagiaan. Ya mungkin ada jenis pernikahan tertentu yang adakalanya menimbulkan sakit hati pihak tertentu, namun bagi yang menikah tetap saja itu membahagiakan. Meski kasus tertentu ada juga pernikahan yang justru membawa beban bagi mempelai saat menjalaninya. Misalnya orang yang menikah dengan orang yang tidak dicintainya. Tapi kita tidak akan membicarakan kasus pernikahan yang seperti itu. Aku lebih suka menuliskan pernikahan yang indah dan mendatangkan bahagia. Baik bagi yang menjalani, maupun bagi orang-orang disekitarnya.
Persiapan pernikahan biasanya menjadi hal yang mendebarkan, menegangkan, membuat penasaran akan segera tibanya hari H yang dinantikan. Tidak terkecuali pernikahanku 1 tahun yang lalu. Secara umum aku memang tidak mempersiapkan sendiri pernikahan itu. Upacara dan resepsi di Bali dipersiapakan oleh bli dan keluarganya, aku sendiri waktu itu masih di Jogja. Sementara resepsi di Nganjuk tentu saja dipersiapkan oleh keluarga di Nganjuk, waktu itu aku udah di Bali, kan resepsi di Nganjuk diadainnya 2 bulan setelah upacara adat Bali hehehe.. untuk persiapan resepsi di Nganjuk tidak ada yang khusus, semua sudah komplit karena aku punya EO yang hebat, yaitu adikku Yuli. Jadi aku sama bli sampai di Ngajuk 2 hari sebelum hari H dan hanya tinggal fitting baju saja. Semoga pas tiba waktunya buat dia menikah aku bisa membatu urusan pernikahannya ya..tunggu aja Yul.
Persiapan pernikahan adat di Bali tentunya hanya aku lakukan lewat kontak telepon saja. Itupun sebatas persiapan global, tidak bicara detail karena aku tidak tahu menahu tentang detail upacara adat Bali tentunya. Jadi aku serahin deh sama bli dan keluarganya, termasuk penata riasnya. Padahal biasanya kan mempelai pilih sendiri rias pengantin dan busana yang akan dikenakan agar sreg dengan keinginan. Untunglah penata riasnya pas banget, sangat sesuai dengan harapanku. Sementara kontak sama bli hanya sebatas desain undangan dan tentunya kelengkapan surat-surat yang harus aku selesaikan di Nganjuk sebelum berangkat ke Bali, biar tidak ada yang missed. Di Jogja aku hanya melakukan persiapan seperlunya untuk keperluanku sendiri. Mulai dari kebaya, aksesorisnya, sandalnya, sampai harus beli beberapa perlengkapan kosmetik buat persiapan saja. Maklum aku bukan tipe cewek yang care sama penampilan apalagi make-up wajah, jadi tidak pernah punya peralatan make-up. Sementara untuk surat-surat aku khusus ambil cuti karena ngurusnya di Nganjuk dan seperti yang aku perkirakan butuh waktu beberapa hari. Karena untuk kasus pernikahanku ini jarang terjadi jadi harus ada persyaratan khusus yang wajib diurus oleh yang bersangkutan, tidak boleh dititipkan, selain dari aku sendiri memang ingin menyelesaikannya sendiri. Mulai dari ngurus surat keterangan belum nikah, surat pindah domisili, surat catatan kepolisian (kalau ini sih untuk kelengkapan pindah domisili, kalau buat nikah gak perlu deh kayaknya), trus harus minta surat pengantar dari KUA karena aku akan menikah secara Hindu. Aku tidak tahu, apakah surat ini juga sekaligus sebagai kelengkapan untuk PHDI yang nantinya akan mengeluarkan sertifikat Sidi wadani untuk aku nantinya atau tidak. Urusan surat menyurat ternyata memang tidak ribet meski tidak bisa selesai dalam sehari. Tapi itu lebih dikarenakan keperluan ngurus pindah domisili daripada ngurus nikahnya. Jadi buat yang mau nikah gak usah khawatir deh, hukum negara kita tidak akan mempersulit warganya yang ingin nikah kok. Diantara berbagi urusan tersebut ada satu hal yang sempat membuat aku sedih, yaitu saat salah seorang pamong desa yang melayaniku mencoret namaku dari daftar KK yang aku bawa. Katanya pak pamong itu karena aku pindah, jadi memang harus dicoret dari KK karena nantinya namaku akan terdaftar pada KK baru. Sedih banget, bayangin aja, udah hampir 27 tahun namaku ada dalam KK bapakku tercatat sebagai anak pertama. Sekarang, saat mengurus kelengkapan pernikahan namaku dicoret dari sana. Katanya pak pamong, memang harus begitu kalau mengurus pindah domisili atau menikah. Setelah itu, resmi KTPku sebagai warga RT.01/Rw.02 N0. 49, dusun Ngabar, desa Getas, kecamatan Tanjunganom, kabupaten Nganjuk, Propinsi Jawa Timur, Indonesia, dicabut. Digantikan berbagai surat keterangan pindah yang harus aku serahkan ke banjar, kelurahan, kecamatan, kotamadya, dimana nanti aku akan tinggal sebagai warga baru. Urusan surat-menyurat di Nganjuk beres. Surat menyurat di Denpasar ternyata lebih simpel karena tinggal menyerahkan ke petugas banjar, nantinya aku akan menerima jadi, mulai dari surat nikah, sertifikat Sudi wadani dari PHDI, KTP, dan KK baru. Aku sama bli tinggal foto dan tandatangan dibeberapa kolom, bayar 350rb jadi deh.. Dan terbayarlah kesedihanku saat namaku dicoret dari KK bapak dulu itu. Kami menerima KK baru. KK kami sendiri, bukan KK bapak atau KK bapak kost seperti waktu masih di kost dulu untuk ngurus KIPEM. KK yang mencatat nama I Gede Susilayasa sebagai suami dan Inten Pertiwi sebagai istri.. yehaa.. mungkin itu ya kebanggaan baru bagi pasangan yang udah menikah. Tapi kok kayaknya persiapan pernikahanku yang mengena ya cuma urusan surat menyurat itu ya, mungkin karena untuk persiapan upacara yang lain udah dilakukan keluarga. Aku tinggal pasrah saja dinikahi hehehe.. Buat teman dan sabahat yang mau menikah, aku ucapkan Selamat Berbahagia, yakin deh kebahagiaan saat mempersiapakan pernikahan itu gak seberapa kok bila dibandingkan kebahagiaan setelah menikah, jadi tunggu aja.. Menikah itu keren!!!

24 Okt 2008

Mengapa Bunga Jepun?



Bunga ini punya banyak nama, namun sebenarnya dia itu satu. Orang jawa ada yang menyebut dengan semboja. Bahasa Sunda dan Bahasa Indonesia dari bunga ini adalah Kamboja. Sementara orang Bali menyebut bunga cantik ini dengan sebutan bunga Jepun. Mungkin di daerah lain masih banyak pula sebutan untuk bunga yang aku maksud.

Ini sekilas tentang Plumeria Abla yang aku dapat Wikipedia.org. Perhatiin baik-baik :

Kamboja atau samboja merupakan sekelompok tumbuhan dalam marga Plumeria. Bentuknya berupa pohon kecil dengan daun jarang namun tebal. Bunganya yang harum sangat khas, dengan mahkota berwarna putih hingga merah keunguan, biasanya lima helai. Bunga dengan empat atau enam helai mahkota bunga oleh masyarakat tertentu dianggap memiliki kekuatan gaib. Tumbuhan ini berasal dari Amerika Tengah. Nama Plumeria diberikan untuk menghormati Charles Plumier (1646-1706), pakar botani asal Perancis. Walaupun berasal dari tempat yang jauh, kamboja sekarang merupakan pohon yang sangat populer di Pulau Bali karena ditanam di hampir setiap pura serta sudut kampung, dan memiliki fungsi penting dalam kebudayaan setempat. Di beberapa tempat di Nusantara, termasuk Malaya, kamboja ditanam di pekuburan sebagai tumbuhan peneduh dan penanda tempat. Kamboja dapat diperbanyak dengan mudah, melalui stek batang. Plumeria saat ini populer digunakan sebagia tanan hias outdoor awalnya tanaman ini hanya dignakan sebagai tanaman kuburan

Kerajaan: Plantae
Divisi:
Magnoliophyta
Kelas:
Magnoliopsida
Ordo:
Gentianales
Famili:
Apocynaceae
Genus:
Plumeria


Bunga ini kalau di Jawa memang populer sebagai bunga kuburan. Harumnya yang semerbak identik dengan seremnya suasana kuburan.
Warnanya putih dan bermahkota lebar. berdaun rimbun dangan batang-batang besar. Dulu kalau pas karnaval dan ada yang mengenakan pakaian adat Bali pasti nyari bunga kamboja ini sebagai hiasan rambut atau sanggul. Memang bunga ini identik dengan nuansa Bali. Namun kemajuan botani sekarang membuat penampilan Kamboja menjadi cantik dan tidak lagi membawa aroma kengerian kuburan. Sebaliknya, Plumeria Alba hadir dengan warna-warna cerah, kuning, merah keunguan, pink, dan putih bersemu kuning pada bagian tengahnya. Di semua daerah, terutama Jawa bunga ini makin populer sebagai penghias taman yang anggun. Apalagi kamboja kuning yang cerah dengan warna merona dan wangi menggoda. Sejak kecil aku menyukai aroma kamboja ini meski dulu banyak yang bilang kalau bunga ini disukai oleh makhluk halus. Tapi bagiku gak masalah karena bunga ini menjadi bunga yang paling dicari saat hari karnaval tiba. Setalah di Jogja aku makin sering melihat tampilan kamboja ini. Bukan penampilan lama, tapi penampilan barunya yang mungil dan menggoda. Bukan lagi mahkota yang lebar tapi mahkotanya kecil sehingga nampak manis dan anggun. Aku selalu dibuat jatuh cinta oleh penampilan bunga ini. Setiap melihat siluet batangnya di taman-taman rumah orang, di pinggir jalan, di halaman Mall Ambarukmo, di Pura Jagatnatha Banguntapan, dan pura-pura lainnya di Jawa, aku selalu tak kuasa untuk menahan haru atas keindahannya. Apalagi jika ke Bali. Sosok bunga ini makin tersebar diseluruh penjuru pulau.. betapa indahnya. Bahkan Bli pernah bawa stek batangnya dari Bali untuk ditanam di rumah kontrakan Jogja dulu, tapi gak tahu ya sekarang masih ada atau tidak karena pastinya rumah itu udah berganti penghuni. Saking jatuh cintanya bahkan aku dulu ingin sekali bila menikah hiasan rambutku haruslah bunga kamboja kuning itu.

Di Bali aku baru tahu, bunga kamboja ini populer dengan sebutan bunga Jepun. Heran juga kenapa bunga ini pakai nama bunga Jepun, padahal bunga ini bukan dari Jepang kan? Memang benar ada bunga keluarga Plumeria ini yang disebut sebagai Kamboja Jepang, populer dengan sebutan Adenium. Bunga yang pernah naik daun sehingga melambungkan harganya hingga mencapai harga jutaan bahkan puluhan juta rupiah. Tapi Kamboja Jepang atau Adenium yang dimaksud bukanlah bunga jepun Bali. Jenisnya beda. Adenium berbatang besar, berbongol-bongol, umumnya ditumbuhkan di Pot dan dapat dibentuk bonsai, bunganya pun seperti terompet, tidak berbau harum namun warna-warninya lebih beragam. Kalau bunga jepun bali seperti kamboja yang aku sebutkan diatas. Berkelopak lima, berpohon tinggi, dan batangnya tidak berbongol-bongol seperti Adenium. Biasanya tidak ditumbuhkan di pot tapi ditanam sebagaimana orang menanam pohon. Jadi jangan salah mengartikan Kamboja atau Bunga Jepun sebagai Kamboja Jepang atau Adenium.

Masyarakat Bali umumnya memanfaatkan bunga ini sebagai sarana upacara atau sembahyang. Bentuknya yang cantik dan baunya yang harum sangat sesuai untuk menghias canang dan banten. Bunga ini juga sangat mudah ditemui di pura dan sanggah, sehingga banyak di gunakan pula untuk sembahyang sehari-hari dan diselipkan dirambut wanita-wanita Bali. Dan karena keindahan pula, banyak sekali aneka rupa hiasan rambut mengadaptasi bentuk bunga kamboja atau bunga jepun ini. Mulai dari jepit, ikat rambut, hiasan sanggul, bahkan aneka rupa bentuk anting. Motif-motif baju maupun bordir juga banyak yang mengambil bentk Bunga Jepun Di Bali sedang menjadi trend. Tapi kalau aku lebih senang menggunakan kamboja bunga aslinya karena kalau dipakai sebagai hiasan rambut wanginya semerbak menenangkan. Seperti harapanku. Saat menikah dulu kesampaian juga menggunakan bunga jepun ini sebagai hiasan sanggul. Bunga yang dirangkai indah ini menghadirkan suasana sakral dalam setiap kegiatan adat maupun keagamaan di Bali. Sekuntum bunga Jepun adalah kesakralan, lambang keindahan dan keagungan Tuhan. Itulah mengapa aku begitu cinta sama bunga jepun..

Ini dia riwayat www.bungajepun.blogspot.com jadi jangan bingung lagi ya kenapa aku pakai user name bunga Jepun untuk domain blogku.. Kalau ada buku atau cerita bunga Jepun namun bukan dalam konteks bunga Jepun Bali itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan diriku. Hmm...