25 Apr 2008

Kucingan atau Jinggo

Buat yang udah pernah tinggal di Jogja dan ngaku gaul, pasti dong pernah makan di angkringan yang menu utamanya nasi kucing. Wua..jadi kangen makan di angkringan. Seingatku dulu waktu pertama ke Jogja nasi kucing harganya Rp.200 atau Rp 300 gitu deh. Tapi terakhir kali beli sebelum aku pindah ke Denpasar udah Rp.1000. Wah..padahal isinya cuma nasi 3 sendok sama sambal doang. Kalau pun isi kering tempe itupun tidak lebih dari setengah sendok makan. Kalau mau nambah lauk ya beli gorengan atau kerupuk atau bacem ceker yang selalu ada di setiap warung angkringan. Minumnya yang paling khas adalah wedang jahe. Tapi kalau mau teh atau es jeruk juga ada. Kalau mau tidur nyenyak nanti malam pesan saja susu jahe anget. Dijamin bakal terlelap tanpa mimpi deh.. Angkringan memang jadi alternative tempat makan buat yang lagi mepet keuangannya. Padahal kalau dihitung-hitung, makan diangkringan habisnya lebih banyak dari pada makan di penyetan. Tapi suasana angkringan memang tidak bisa digantikan. Bahkan oleh nasi jinggo.

Di Bali nasi jinggo posisinya hampir sama seperti nasi kucing di Jogja. Tapi kalau ini lebih komplit. Porsinya pun standar manusia normal dengan lauk sabal, mie goreng, ayam suwir, atau pelengkap lain tergantung penjualnya. Harganya pun lebih mahal yaitu Rp.2000. Seperti nasi kucing, nasi jingo pun di jual grosiran (lho..) eh..maksudnya udah dibungkusin gitu dan jualnya pun dalam jumlah banyak, jadi yang mau beli tinggal ambil. Bedanya dengan nasi kucing adalah tempat jualnya. Kalau nasi kucing biasnya ada di gerobak angkringan dilengkapi dengan tenda warna orange (tidak tahu kenapa selalu warnanya orange ya…) sementa nasi jingo di jualnya di tempat yang lebih praktis. Ada penjual yang cuma bawa keranjang yang dibonceng motor, atau ada juga yang jual dimeja dilengkapi tikar buat lesehan. Kalau yang ini biasanya jual minuman pelengkapnya dan lauk alternative juga. Tapi pastinya tidak ada tenda warna orange. Buat orang yang pernah tinggal di Jogja dan ngidam nasi kucing, kira-kira nasi jingo bisa jadi pilihan atau gak ya hehehe…

Denpasar = Jogja gara-gara Jepang

Jogja dikenal dengan tradisi jawanya yang kental. Sedangkan Denpasar, tentu saja kental dengan adat istiadat Bali. Bukan..bukan karena akar budaya Jawa dan Bali yang membuatnya sama tapi yang mebuat Denpasar sama dengan Jogja adalah macetnya. Betapa padatnya jalan di daerah Bunderan UGM sampai perempatan Mirota Kampus. Ke Utara apalagi, sepenjang jalan Kaliurang yang selalu padat kendaraan. Kalau mau ke selatan pun ambil yang ke arah Malioboro, waduh..jangan tanya deh. Apalagi sepanjang jalan Kusumanegara yang banyak lampu merahnaya itu.

Meski tentu kemacetannya tidak separah Jakarta, tapi dijamin sulit banget menyebrang jalan di Jogja. Dan dapat dipastikan yang menyebabkan macet tidak lain dan tidak bukan adalah sepeda motor. Denpasar sama saja. Ruas-ruas jalan tertentu tidak ubahnya seperti di Jogja, macet..dan macet.. dan lagi-lagi karena sepeda motor yang jumlahnya meningkat tidak sebanding dengan penambahan ruas jalan. Udah bisa di pastikan motor Jepang menempati urutan pertama dalam hal jumlah.

Kalau di Jogja, mungkin karena udah konsekuensi kali ya sebagai kota pendidikan. Jadi ribuan bahkan mungkin jutaan mahasiswa berdatangan dari seluruh pelosok negeri untuk melanjutkan pendidikan di kota ini. Kedatangan mereka pun tidak sebanding dengan jumlah mereka yang meninggalkan kota Jogja. Jelas ini yang membuat Jogja penuh sesak. Teorinya kalau kuliah di Jogja setidaknya butuh waktu tiga tahun, belum lagi kalau yang ambil S1 bisa ampe 4 atau 5 tahun, bahkan mungkin lebih. Belum lagi yang udah lulus tapi masih kerasan tinggal di sana. Bahkan kerja dan beranak-pinak di Jogja. Di lain pihak, tidak bisa tidak setiap tahun berdatanganlah warga baru karena memang tahun ajaran kan setahun sekali ya.. mereka gak cuma bawa badan doang, tapi juga bawa bekal motor, walah.. gak heran kalau kepadatan itu berimbas ke jalanan.

Tapi kalau Denpasar lain lagi. Memang sih di kota ini banyak juga mahasiswa pendatang, namun tentu perbandingannya kalah jauh dengan Jogja. Tapi kenapa masih saja macet. Menurut pengamatanku, tidak lain dan tidak bukan karena orang sini hobby beli motor. Memang sih, ini didukung pula oleh minimnya transportasi umum, jadi kalau mau nyaman pergi-pergi mau gak mau harus punya motor. Orang Denpasar tidak bisa dilepaskan dari motor. Hasil surveyku setiap keluarga setidaknya punya 2 motor. Itu belum lagi kalau di rumah tinggal keluarga besar yang terdiri dari tiga atau lebih kepala keluarga. Pastinya jumlah motor lebih banyak lagi..wuiss.. pernah ngebayangin kalau di rumah ada 9 motor parkir di garasi. Itu bisa terjadi di bali. Kalau mau buktiin macetnya Denpasar coba aja jalan-jalan menelusi jalan Sutomo, Gajah Mada, Hayam Wuruk, Diponegoro, sampai ke Kuta. Bedanya kalau di Jogja plat motornya bervariasi dari seluruh daerah dan yang naik kebanyakan anak-anak muda. Kalau di Denpasar hampir semuanya plat DK dan yang naik bervariasi mulai dari anak muda, ibu-ibu, keluarga, sampai orang2 tua memadati jalanan. Persamaannya adalah motornya dari Jepang.

Motor memang jadi alat transpotasi idola di negara-negara Asia, khusunya ya di Indonesia. Selain karena harganya yang murah, juga jauh lebih praktis dan ekonomis dibanding mobil. Apalagi kalau kamu tinggal di kota ramai namun tidak terlalu besar seperti Jogja dan Denpasar. Apalagi fasilitas kendaraan umum yang minim pun tidak mampu menjangkau semua wilayah. Dan naik motor jauh lebih murah dibanding naik angkot, bisa mampir-mapir juga hehehe… oya kalau di Bali banyak juga turis ikutan memadati jalan naik motor. Karena di Bali ada tempat-tempat khusus yang nyewain motor buat wisatawan. Jadi kalau gak mampu sewa mobil atau mau nikmati jalan2 naik motor di Bali ya tinggal sewa aja. Kalau di Jogja harus punya sendiri.. kecuali sih kamu punya teman yang baik banget yang rela minjamin motornya buat kamu hehe..

Pernikahan Hindu di Bali

Artikel ini terjemahan dari The Wedding in Hindu (Balinese) Religion yang ditulis oleh Bhagawan Dwija.

By : Bhagawan Dwija

Weda mengatakan bahwa pernikahan dalam Hindu adalah suatu perbuatan suci. Ada dua maksud utama di dalamnya. Pertama, Tuhan memberkati lelaki dan perempuan untuk saling mencintai sebagaimana Dewa Smara (sama seperti dengan Adam) dan Dewi Ratih (sama seperti Hawa). Kedua, manusia diberi kesempatan untuk bereinkarnasi melalui keturunan yang dihasilkan oleh sepasang lelaki dan perempuan. Itulah sebabnya mengapa melahirkan keturunan masuk dalam prioritas bagi masyarakatHindu di Bali.

Seorang anak, terutama anak laki-laki mempunyai peran penting dalam keluarga. Dialah yang akan merawat orang tuanya, baik semasa hidup maupun setelah meninggal. Roh dari orang tua yang sudah meninggal akan diantarkan kepada Tuhan oleh anaknya dalam sebuah upacara Ngaben. Karena pernikahan itu suci, maka juga disebut sebagai perbuatan dharma. Lawan kata dari adharma yang bermakna dosa. Masyarakat bali sangat menghindari perceraian, kecuali untuk alas an yang prinsip, misalnya tidak bisa mendapat keturunan. Seks sebelum pernikahan juga sebuah dosa. Jadi dengan kata lain, seks menjadi hal kedua setelah pernikahan, lalu diikuti oleh kewajiban istri terhadap keluarga suami. Ia meninggalkan rumah keluarga untuk bergabung dalam keluarga barunya. Sekarang ia tidak hanya mencintai dan merawat suami dan anak, namun juga harus mencintai dan merawat keluarga suami terutama kedua orang tua. Dalam filosofi Bali kuno, istri hampir sama kedudukannya dengan pelayan, namun pada jaman sekarang, suami dan istri mempunyai kedudukan yang setara dan seimbang.

Perayaan pernikahan diadakan sebagaimana mestinya seperti daerah lain, terkadang mereka yang mampu boleh juga mengadakan pernikahan yang meriah dan mengeluarkan banyak uang. Namun suatu pernikahan tidak tergantung pada besar kecilnya pesta atau perayaan. Hal terpenting dari suatu pernikahan meliputi tiga aspek, yaitu Bhuta Saksi, Dwa Saksi, dan Manusa Saksi. Butha Saksi adalah bagian dari ritual pernikahan untuk mewujudkan pernikahan suci dan sacral. Dewa Saksi adalah permohonan dan do’a untuk berkat dari Tuhan atas mempelai berdua pernikahan yang dilangsungkan. Sedangkan Manusa Saksi lebih mengacu pada pemberitahuan pada masyarakat sekitar bahwa telah berlangsung pernikahan antara sepasang mempelai tersebut. Sebagaimana tercantum juga dalam undang-undang perkawinan No.1/1974.

Acara Pernikahan tersusun atas tiga bagian yaitu keluarga kedua belah pihak mempelai, orang-orang yang membuat perlengkapan dan kebutuhan upacara (banten), serta pendeta. Pendeta yang memimpin semua ritual dan bertanggung jawab atas jalannya upacara. Pendeta adalah seorang yang sudah terlatih dan diberkati, dia memiliki otoritas dari guru yang biasa disebut Nabe, untuk memimpin suatu upacara. Seseorang dapat menjadi pendeta setelah belajar segala sesuatu tentang Weda dan menjalani kehidupan baru di ‘Jalan Tuhan’ barulah dia dapat memimpin pengikutnya untuk menuju kehidupan yang lebih baik (suci).

Pendeta tidak hanya memimpin apacara namun juga harus aktif dalam mengarahkan orang-orang untuk menjadi seorang Hindu yang baik. Orang yang membuat perlengkapan dan kebutuhan upacara atau banten biasanya adalah para perempuan, terkadang dipimpin oleh istri pendeta. Bantenmenjadi media yang digunakan oleh Pendeta dalam do’a-do’anya, terdiri dari daun-daunan, berbagai macam bunga, babi, ayam, buah-buahan, dsb. Selain itu juga dimaksudkan sebagai persembahan suci dan iklas dari lubuk hati umat Hindu.