30 Mei 2008

Trend Mc.Donald

Tidak sedikit restoran cepat saji yang ada di Indonesia. Rupanya bisnis ini sangat menggiurkan. Terbukti dengan merajalelanya restoran cepat saji baik dari luar negeri maupun dalam negeri sendiri. Mulai dari jualan ayam goreng, kopi tubruk, nasi padang, pizza, sampai roti dan kue bolu. Makan direstoran cepat saji, bagi sebagian besar orang Indonesia tidak hanya mengejar rasa karena memang menu yang ditawarkan lain dari menu masakan sehari-hari di rumah. Namun juga gengsi yang menyertainya. Meski ada sedikit pergeseran, dimana orang-orang kembali melirik ke warung-warung yang menyajikan menu tradisional sejak maraknya liputan kuliner di TV, dan Bondan Winarno menjadi selebritis baru dunia televise, restoran cepat saji tetap dalam posisi yang tidak dapat diganggu-gugat dalam hal menarik pembeli.


Berbagai program kencang dilancarkan untuk meraih pasar. mulai dari menu-menu yang terus diperbarui, penawaran paket hemat atau komplit, sampai peningkatan fasilitas bagi pelanggan. Pokoknya mereka tidak kalah kalah kreativenya dengan para kru di stasiun televise.
Dan menurutku yang paling menarik dan sukses adalah strategi McDonald di Bali. Dengan memanfaatkan gaya hidup dan kegiatan rutin masyarakat setempat, Mc Donald tidak perlu lagi bersusah payah promosi sekaligus menjual dagangannya. Yaitu dengan cara kerjasama jualan kupon makan paket panas.


Di Bali memang banyak sekali kegiatan, terutama yang diadakan oleh pemuda Banjar. Dengan berbagai kegiatan tentu mereka membutuhkan dana yang tidak sedikit jumlahnya. Keliling ke rumah-rumah warga untuk minta sumbangan sudah kuno, dan hasilnya pun tidak seberapa. Lalu muncul trend mengadakan bazaar di bajar untuk mengumpulkan dana. Namun kegiatan seperti ini tentu sangat merepotkan. Membutuhkan banyak tenaga dan modal. Sementara para pemuda tersebut masih harus kuliah, sekolah, atau bekerja. Jadi sedikit punya waktu untuk mengurusi kegiatan bazaar. Dan sekarang mereka punya cara baru mencari dana, yaitu menjalin kerja sama dengan Mc.Donald.

Berhubung aku baru tinggal di Bali, jadi tidak tahu sejak kapan Trend ngumpulin dana dengan cara seperti ini dimulai. Kerja samanya yaitu dengan menjual kupon makan Mc.Donald kepada orang-orang. Sistem penjualan sih macam-macam. Setiap Banjar punya cara berbeda. Yang jelas penjualannya sangat luas, tidak hanya melulu untuk orang banjar setempat. Kupon di jual seharga Rp. 25.000, yang kemudian dapat di tukar dengan Paket PaNas di restoran Mc.D manapun yang tercantum di kupon.

Tentu saja cara ini sukses berat. Meskipun harus banyar 25rb hanya untuk satu paket PaNas (nasi, ayam goreng, softdrink) namun peminatnya sangat banyak. Cara ini dapat memuaskan tiga pihak. Pertama dan terbesar tentu saja Mc.Donald yang tentu penjualannya akan terus meningkat. Mengingat tentu akan banyak dari orang yang nukar kupon dan masih lagi nambah pesanan yang lain sebagai pelengkapnya, atau mungkin dia ngajak orang lain hanya dengan bawa satu kupon. Mau gak mau kan pesan lagi buat orang yang dia ajak. Tanpa mendayung tiga pulau terlampaui deh pokoknya. Bagi pencari dana (pemuda banjar biasanya) ini tentu cara yang sangat praktis dan efisien. Hanya dengan modal koneksi dan teman maka banyaklah kupon yang dia bisa jual. Tidak perlu repot, dana pun mengalir untuk kas kegiatan. Bagi pembeli (donatur) tentu mereka juga senang. Itung-itung sambil nyumbang dapat kupon makan di Mc.D lagi. Tentu lebih menguntungkan dari pada beli kupon bazaar dengan harga yang sama hanya dapat segelas bir dan sepiring kacang, atau paket makan lain yang rasanya belum terjamin.

Rupanya ini strategi penjualan yang jitu dan sangat cerdas dari Mc.Donald. Coba aja kalau sempat jalan-jalan ke Denpasar dan makan di Mc.D, kamu bakal banyak melihat orang-orang nukar kupon. . “Ada yang bisa di bantu mas?”.. “saya mau nukar 2 kupon”.. “oya, dua paket panas ya mas, dibungkus atau amakn sini?.. makan disini saja…ada tambahan?”…”hm..tambah frech fries ya mas yang medium satu aja, trus beef burgernya 2, dan ice cream sundee 2..”.. Nah lho, ternyata si mas ngjak istri dan 2 anaknya heheheh… selamat buat Mc.Donald…


28 Mei 2008

Bakso Nganjuk

Siapa yang tidak suka bakso? Hampir semua orang menyukai makanan yang asalnya dari Cina ini. Bakso kan gampang banget dijumpai. Sampai ke pelosok desa pun ada aja yang jual. Aku masih ingat banget. Dulu jamannya aku masih kecil (TK atau SD ya) hampir tiap hari selalu beli bakso. Kalau di desaku dulu adanya yang jualan pakai gerobak gitu. Jadi aku sama adik2ku pada nungguin tukang bakso lewat. Persis kayak lagunya Melisa, penyanyi cilik jaman dulu yang berjudul Abang Tukang Bakso. Dan bagi kami anak-anak kecil di desa, bakso pada waktu itu adalah makanan yang paling enak. Secara belum ada tuh yang namanya hamburger, pizza, ayam goreng tepung. Makanan istimewa yang kami kenal adalah bakso. Aku ingat banget, dulu satu mangkok bakso harganya Cuma Rp. 50. lalu naik sedikit demi sedikit secara berkala. Dan seingatku, harga bakso Rp.100 adalah posisi harga yang bertahan paling lama. Sampai sekarang harga bakso di Nganjuk sudah Rp4000-Rp5000 per porsi aku tetap suka banget sama yang namanya bakso yang menurutku sangat enak itu. Setelah kuliah dan kemudian kerja di Jogja baru deh aku mulai jarang makan bakso. Bukan karena apa, tapi memang di Jogja tidak ada bakso yang seenak di nganjuk. Nah, baru deh saat mudik ke Nganjuk aku makan bakso sepuasnya. Begitu enakkah bakso di Nganjuk? Kalau di bandingkan bakso di Jogja memang bakso Nganjuk sangat enak. Gak tahu kenapa ya, aku sudah berkali-kali survey rasa bakso yang ada di Jogja dan kesemuanya tidak ada yang mantap di lidah. Rasanya ada yang kurang pada kaldunya. Tekstur baksonya pun terlalu kenyal. Dan aku tidak suka mi yang dipakai di bakso Jogja. Biasanya penjualnya pakai mi kuning atau mi bihun gitu yang kurang lama menyianginya, jadi masih agak keras, apalagi ditambah irisan sawi mentah yang malah merusak rasa itu. Kalau di Ngajuk rasa kaldunya mantap, baksonya pun lembut, dan pakai soun, bukan mie. Wah pokonya beda deh.. bahkan waktu aku sama bli masih di Jogja, dia selalu gak percaya kalau aku bilang tidak ada bakso yang seenak di Nganjuk. Sampai aku bawakan bakso dari Nganjuk waktu aku mudik, dia baru percaya kalau bakso Jogja memang agak kurang rasanya. Sejak saat itu tiap ke Nganjuk dia selalu aku ajak ke warung bakso favoritnya orang Nganjuk, bakso kemsing.

Hmm..kalau berwisata kuliner ke Nganjuk jangan lupa ke Bakso KemSing (aku gak tau ejaannya salah gak ya..). tempatnya ada di depan alun-alun Nganjuk, di pojok timur. Strategis banget deh pokoknya. Warung bakso itu katanya sudah ada semenjak sebelum aku lahir dan udah jadi favorit. Dulu waktu aku kecil kalau diajak jalan-jalan ke kota (nganjuk red.) selalu mampir ke warung bakso itu. Tidak lengkap pokoknya kalau jalan ke kota tidak mampir ke bakso kemsing. Sebelahnya ada warung es campur yang rasanya juga tidak kalah mantapnya. Isinya komplit. Mulai dari nanas, blewah, kelapa muda, kacang hijau, sampai tape singkong, santannya khas sekali karena kental dan direbus dulu jadi rasanya gurih-gurih manis gitu. Kedua warung yang saling menempel itu sudah berkali-kali mengalami perubahan bentuk bangunan dan mungkin juga perubahan pengelola. Tapi aku ingat banget rasa bakso dan esnya masih tetap saja sama kayak dulu (setidaknya tidak banyak berubah selain harganya). Terakhir kali aku makan bakso kemsing sama bli waktu selesai acara resepsi pernikahan kami di Nganjuk. Ahh…jadi kangen sama bakso di Nganjuk…

Di Bali lebih mnyenangkan dari pada di Jogja soal baksonya. Pertama kali merasakan kuah baksonya, langsung deh..clengg..seperti de javu (segitunya..) ingat bakso Nganjuk. Rasa kaldunya sama persis, sama enaknya. Kalau di Bali tuh yang enak bakso yang dijual keliling pakai gerobak, kebalikan sama bakso nganjuk yang biasanya tidak pakai gerobak keliling. Di Bali, kalau yang di jual di warung beberapa kali aku merasa kurang puas karena masih mirip bakso Jogja. Makanya aku selalu beli bakso yang dijual pakai gerobak gitu. Bakso di Bali juga lebih variatif karena lebih banyak pilihannya. Ada bakso ayam, bakso sapi, atau bakso babi. Isinya pun ada tahu dan pangsit gorengnya, dan pakai soun juga. Kalau mau, ada juga lontong dan telur. Hmm..yummy..

Kalau mau makan bakso yang ada warungnya, di Bali ada sih satu yang enak. Bakso Malang gitu tulisannya, letakknya di jalan raya Sasetan Denpasar. Kami berdua nemuinnnya gak sengaja. Waktu itu berdua habis pulang sembahyang dari pura Sakenan. Karena udah siang banget dan kelaparan akhirnya mampir beli bakso yang ternyata baksonya enak. Kalau sempat kesana jangan lupa nyobain bakso kikil dan es campur. Tidak semantap kemsing sih, tapi bagi orang nganjuk yang kangen, lumayan kok buat memuaskan kerinduan…

Hercule Poirot kalah sama Harry Potter

ini cerita beberapa bulan lalu namun baru inget untuk upload sekarang..

Berhubung malam minggu bli ada jadwal shooting di Karangasem, jadi kami sepakat bahwa agar aku gak kesepian dirumah, bli nraktir aku beli Harry Potter seri 7 Harry Potter and The Deathly Hollow buat bacaan hehe.. akhirnya, setelah sekian lama ‘ngempet’ gak beli karena harganya yang selangit.. padahal tahu sendiri kan aku tergila-gila sama Harry Potter. Gara-gara Harry Potter pula aku sering menghayalkan choklat cha-cha warna-warni yang aku makan adalah kacang segala rasa berty boot. Bahkan bli sendiri kasih julukan aku ‘Profesor Harry Potter’ karena hapal segala hal yang berhubungan dengan Harry Potter (walah…). Padahal aku pernah gagal melengkapi teka-teki silang Harry Potter yang dibuat Gramedia pada terbitan seri 5 Harry Potter and the Order of Phoenix. Waktu itu dari semua pertanyaan aku Cuma gak bisa satu aja, apa mantra untuk mematikan cahaya dari tongkat sihir, jawabannya adalah nox, waduh padahal udah dapat huruf N. kalau ingat sebel sekali.. sebenarnay aku bukan maniak sih, usia juga tidak mengijinkan untuk menggilai sesuatu hal sampai sebegitunya. Tapi aku merasa bangga punya syal griffindor hehehe.. dan syal itu membawa kenangan perjalanan Jogja-Nganjuk sama bli waktu masih pacaran dulu. Dan semuanya berjalan indah meski penuh rintangan pada awalnya.

Kemana lagi beli kalau gak di Toga Mas karena iming-imnig diskon (lagi???) lumayan kan 15% dari harga buku, dan itu pun masih ditambah merchandise tas Harry Potter (padahal aku Cuma beli edisi soft cover lho) atau boleh pilih voucher senilai Rp.20.000. dengan pertimbangan yang sangat-sangat berat mengingat desain tasnya yang exclusive, bukan tas biasa seperti bonusnya Gramedia di Harry Potter 4, Harry Potter and The Goblet of Fire. Akhirnya aku pilih voucher biar bisa beli buku 1 lagi. Setelah pilih dan pilih akhirnya dapat novel Agatha Christie yang berjudul The Murder on Orion Express hanya dengan nambah Rp.7000 aja. Karna kupikir aku sama bli pasti bakal rebutan baca Harry Potter, jadinya kisah si Detective mungil itu aku jadikan cadangan kalau ada diantara kami yang kalah rebutan hehehe… dan pada akhirnya aku bersyukur banget membeli buku itu. Seperti yang sudah aku duga, aku gak pernah bisa ngalahin bli. Jadinya selama beberapa malam bli cekikikan dan tegang baca itu novel, aku harus puas dengan cerita pembunuhan di atas kereta api. Ahh..padahal kan harry Potter sama sekali gak naik kereta Hogward Express di seri 7 ini.

Kalau biasanya aku begitu tegang dan terbawa misteri kasusnya Hercule Poirot tapi tidak kali ini. Rasanya kasus yang ini membosankan banget bagiku meski pada akhirnya kasus tersebut terpecahkan dengan luar biasa. Semuanya pasti gara-gara bli yang selalu berisik kegirangan karena berbagai kejutan dalam petualangan Harry Potter. Dan bagiku hal menyebalkan ini berlangsung lama sekali. Secara kami baru bisa sama-sama asyik dengan buku-buku tersebut menjelang tidur saja. Jadi perlu waktu hampir satu minggu aku nunggu bli menyelesaikan Harry Potter. Hmmm…seandainya Poirot juga punya tongkat sihir….

24 Mei 2008

akhir pekan

hari sabtu nih..
senangnya pulang lebih cepat..
besok adalah hari belajar masak..
asyikkk..

Jamu kunyit madu

Mengalami kondisi badan yang tidak fit, hmm..saatnya bikin jamu.. sebagi orang jawa tulen yang namanya jamu tentu sudah akrab. Udah jadi tradisi di keluargaku untuk minum jamu secara rutin. Dulu biasanya tiap pulang ke rumah aku selalu dibikin jamu sama ibu. Enak..karena tinggal minum hehehe.. sekarang siapa coba yang bikinin jamu. Mau beli sih banyak. Di pasar banyak orang jawa jualan jamu gendong. Jadi ingat suasana di Jogja. Tapi bukan kebiasaanku beli jamu gendong, kurang mantap rasanya.. ya mau gak mau bikin sendiri..

Biasanya sih aku bikin setiap bulan, namun berhubung lagi membiasakan suami minum jamu makanya tiap hari bikin jamu. Ternyata lumayan manjur buat jaga stamina. Buktinya bli yang sempat demam jadi sembuh karena tiap malam minum jamu ramuanku hehehe..Buat yang tertarik bikinin jamu buat suami dan orang terkasih, nih resepnya..

Bahan A :
kunyit 3 jari
jahe 1/2 jari
kencur 1 jari

(Ukurannya sih gak pake ukuran resmi. Cukup kira2 aja, biasanya pakai jari telunjuk ya buat patokan, jangan jempol)

Bahan B :
Air jeruk nipis 2 sdm
Madu 2 sdm
Kuning telur ayam kampung (kalau suka)

Cara membuat :

  1. bahan A diblender tambah air matang ½ gelas trus disaring
  2. Tambahkan madu dan air jeruk nipis
  3. kalau mau pake kuning telur, aduknya pelan2 aja jangan sampai telurnya terkoyak

nah…mudah dan praktis kan.. segar, alami, menyehatkan..

Ngaben Nini’

Hari penuh dilemma..masuk kerja, minta ijin setengah hari, cuti, atau… waduh..

Sebelumnya aku tidak pernah bingung seperti ini. Ini semua karena hari ini ada upacara ngaben nenek yang meninggal seminggu yang lalu. Memang sih selama seminggu ini aku bisa terus masuk kerja dan datang ke rumah kerabat tersebut sepulang kerja untuk bantu-bantu persiapan upacara. Dan untungnya upacara mandiin jenasah pas tanggal merah hari raya waisak kemarin, jadi aku gak perlu ambil cuti. Tapi untuk ngaben aku benar-benar bingung. Sebenarnya sih udah direncanakan untuk cuti dan udah ngurus ijin cuti, ijin pun udah turun. Namun aku jadi inget kalau bulan depan akan ada upacara melaspas sanggah di rumah waa..itu artinya aku kan butuh cuti banyak untuk bulan depan.. wah..gimana bisa, apalagi manajemen perusahaanku termasuk ketat masalah penilaian kinerja karyawan. Gak bisa seenaknya ambil cuti meski untuk urusan penting.. dan penting tidaknya cuti karena upacara adat tentu beda persepsinya dimata bos.. hmm..

Akhirnya rapat darurat keluarga memutuskan aku tetap masuk kerja biar bulan depan leluasa ambil cuti.. aha..dapat masukan yang meringankan. Tapi nyatanya nurani tidak bisa menerima dengan ringan. Apakah akan merasa enak sama kerabat yang lain kalau aku gak hadir diacara ngaben, lalu bagaimana dengan warga banjar, mengingat aku juga udah resmi masuk jadi warga banjar yang udah punya kewajiban dalam kegiatan banjar. Yah akhirnya keputusan masuk kerja dan membatalkan cuti aku lakukan. Tapi pada akhirnya aku menjalani kerja hari itu dengan setengah hati karena ada kegelisahan.. dapat pulang lebih awal karena aku berangkat awal pagi tadi. Janjian sama bli ditunggu di tempat ngaben, jadi cepat-cepat pulang ganti baju adat trus berangkat. Pembakaran mayat udah selesai, jadi aku Cuma bisa hadir di acara menghanyutkan abu saja ke pantai.. tidak apalah..yang penting aku dapat hadir disana, memberikan penghormatan..

Yah semoga kehadiranku meskipun tidak sepenuhnya mengikuti rangkai upacara cukup untuk mengobati kegelisahanku 2 hari ini. Meski tiba dipantai tidak ada yang aku lakukan selain berkumpul sama keluarga dan beli lumpia di pantai hehehe.. selamat jalan Nini’..

19 Mei 2008

Toga Mas ada di Denpasar.

Akhirnya aku nemuin juga toko buku yang hobby ngasih diskon di Bali. Tidak lain dan tidak bukan Toga Mas, toko buku kesayangan mahasiswa di Jogja hehehe.. dan tahu tidak, Toga Mas ada cabangnya juga di Denpasar. Aku baru tahu dari teman kantor. Setelah melalu berbagai wawancara dan investigasi (cie…) akhirnya ketemulah alamat toko buku itu. Tempatnya di Jalan Hayam Wuruk Denpasar, jadi satu sama musium Lukisan Sidik Jari (aku belum pernah masuk musiumnya…). Pulang kerja langsung deh meluncur kesana.. berbekal petunjuk dan informasi teman-teman akhirnya ketemu juga tokonya. Target hari ini adalah beli buku tentang Broadcasting dan Penulisan Skenario.

Hmmm..baru dari luar udah kecium aroma diskon, hehhe dasar… begitu masuk pikiranku langsung membanding-bandingkan dengan kakaknya yang ada di Jogja. Toga Mas Denpasar jauh lebih kecil dan sepi.. koleksi bukunya pun tidak seperti yang aku banyangkan.. tidak sekomplit yang di Jogja. Dan perbedaan besarnya adalah.. kok tidak ada mahasiswa yang belanja buku ya. Aku hanya melihat beberapa orang dewasa dan ibu-ibu yang mengantar anaknya beli alat tulis. But it’s okey.. Susunan raknya masih konvensional, disusun miring jadi kalau mau lihat judulnya harus miringin kepala. Raknya pun tinggi-tinggi. Tidak sepeti di Toga Mas Jogja atau standar Gramedia yang raknya pendek. Jadi meski di susun miring kita tetap nyaman hunting bukunya. But it’s okey.. Ke bagian novel. Mau hunting Chick Lit yang dulu belum kebeli waktu di Jogja. Tapi mana ya.. hanya ada 1-2 judul aja yang itupun gak aku minati. Lainnya adalah novel asli pengarang Indonesia. But it’s okay… Komik, novel populer, dan buku-buku lainnya aku rasa cukup tersedia, tapi buku-buku tentang Hindu kok gak ada ya.. tidak seperti di Gramedia Matahari.. but It’s okey toh saat ini bukan buku itu targetku. Setelah puas melihat-lihat buku dan mengidentifikasi raknya gak nemu juga buku yang aku inginkan. Keputusan berikutnya adalah pakai komputer penjelajah. Padahal terus terang saja nih, lebih puas nyari dan nemu sendiri dari pada dicariin sama mbak/mas pramuniaga. Cari di komputernya tapi mbaknya bingung ya, gak bisa mengeja kata ‘skenario’ lalu kata ‘misbach’ lalu kata ‘broadcasting’ but it’s okey kan aku bisa mengetikannya. Akhirnya dapat juga buku yang dicari. Dapat 2 kali ini. Buku Menjadi Penulis Skenario Terkenal dan Teknik Produksi Program Televisi. Tapi buku Teknis Menulis Skenario Film Cerita karya Misbach Yusa Biran belum ku dapatkan but it’s okay…Akhirnya ke kasir deh dan bayar. Puass..beneran dapat diskon (dasar..padahal kan memang udah ada kode diskon di bungkus plastiknya…), serasa di Jogja saja. Karna selama ini di Denpasar referensiku beli buku ya cuma di Gramedia yang pelit kasih diskon.

Dan yang paling aku suka, bukunya disampul. Duh..baiknya.. bagiku beli buku dan langsung disampulin adalah pelayanan istimewa. Karena suamiku yang juga gila belanja buku itu paling cerewet masalah perawatan buku..buku tanpa sampul adalah aib katanya (kok bisaaa..) buku dikasih coretan adalah pelanggaran hukum (waduhhh..) buku dilipat adalah kriminalitas (alamakkk….) dan buku ditiduri adalah tindakan durhaka (ampunn..). padahal semua larangannya adalah kebiasaanku. Aku merasa kadang terganggu baca buku yang disampul karena licin dan gak nyaman dipegang. Pokoknya tidak senyaman kalau gak ada sampulnya. Aku juga suka kasih footnote pake pulpen atau pensil pada bagian-bagian tertentu yang kuanggap penting, aku gak terbiasa pakai pembatas buku, dan yang paling mengerikan aku suka banget baca buku sambil tiduran dan seringnya sampai ketiduran. Karena bli bukan tipe orang yang suka dibantah jadi ya mau gak mau harus mulai terbiasa dengan peraturannya dalam hal buku ini.. dan kadang seneng juga saat lihat-lihat koleksi buku yang rapi dan tetap mulus meski udah sering dibaca hehehe…