28 Agt 2008

The Doctor


Siapa sih pria seksi dan menggemaskan nomor dua di dunia ini dalam satu tahun terakhir? bagiku tidak lain dan tidak bukan dia adalah Valentino Rossi. He’s sexy because of his brain. Dan saat ini, tinggal nunggu 6 putaran tersisa balapan Moto GP 2008 baginya untuk kembali merebut Juara Dunia yang kesekian kali dalam karirnya di balapan motor. Sudah lama sekali aku mendengar nama ini disebut-sebut sebagai rider paling berprestasi dalam sejarah. Namun baru 2 tahun belakangan ini aja aku mengikuti sepak terjangnya. Tepatnya semenjak membaca otobiografinya. Ternyata tidak hanya lihai di lap-lap yang menikung namun dia juga mahir mengolah kata untuk dijadikan sebuah buku. Buku yang membuat aku jatuh cinta sama si penulis weekeekee..Buku yang sangat bagus, ditulis dengan gaya yang sangat Rossi. Buku kedua yang aku rela bahkan ingin membacanya lagi..lagi..dan lagi..setelah serial Harry Potter tentunya. Membaca ceritanya seperti membaca sebuah novel petualangan yang diangkat dari kisah nyata. Belum lagi komentar-komentarnya tentang berbagai balapan yang dia lakukan, murni dari pikiran si pembalap, dan tentunya komentarnya sangat berbeda dengan komentar yang selalu kita dengar dari mulut komentator.

“Seandainya Aku Tidak Pernah Mencoba..”. pada intinya Rossi menuliskan bahwa apa yang terjadi dalam hidupnya adalah berkat keberaniannya dalam mengambil sikap. Tentang Seandainya ia tidak pernah menekuni balap motor, alih-alih balap mobil seperti ayahnya, atau Seandainya ia tidak pernah memutuskan pindah dari Honda. Setelah mengecap berbagai kesuksesan bersama Honda, di merasa harus melakukan perubahan. Dan perubahan itu tidak akan pernah terjadi di Honda. Kebetulan pada waktu itu datang tawaran dari Yamaha. Akhirnyalah sampai sekarang Rossi menjadi simbul kebangkitan Yamaha, dan namun lucunya dengan keterbatasan Yamaha, justru Rossi telah menghidupkan dirinya sendiri. Meruntuhkan mitos bahawa kemenangannya adalah karena Honda dan bukan karena kemampuannya sebagai Pembalap. Dia orang yang cerdas. Memikirkan segala konsekuensi dan tetap bijaksana pada langkah yang diambil. Pindah tidak sekedar pindah bagi Rossi. Bersama Honda dia telah memiliki nama besar, dan tentunya tidak mau konyol begitu saja dengan memilih Yamaha. Sebuah kejadian langka di dunia balap ketika seorang pembalap ternyata memiliki nilai tawar atas dirinya. Bukan sekedar teknologi motor yang memiliki nilai sementara pembalapnya bisa siapa saja. Buku ini mengulas detail tentang perang batin dalam dirinya dan berbagai negosiasi alot bersama tim yamaha dan tim teknisi Rossi saat itu di Honda. Hingga akhirya dia dan timnya sukses bedol desa ke yamaha. Secara tersirat jelas sekali buku ini menyatakan bahwa bukan “pekerjaan yang hebat ditempat hebat” yang membuat kita menjadi besar dan memiliki kebanggaan, namun “teman, rasa nyaman, kehangatan tim” adalah kunci dari kemenagan sekaligus kebanggaan itu sendiri.

Setiap membaca, setiap kali pula makin cinta sama Rossi. Tidak hanya tampangnya saja yang tengil. Tingkah polahnya pun tengil sekali, namun tengil yang kreatif dan menggemaskan. Dia banyak menuliskan tentang berbagai keisengannya bersama teman-temannya, terutama tentang berbagai cara mereka untuk merayakan kemenangan. Membacanya aja sampai geleng-geleng kepala. Aduh..ini cowok, ditengah balapan yang menegangkan itu masih sempat-sempatnya menyusun rencana iseng. The most..most..aku suka, Rossi orangnya positif, dia ceria..dia optimis.. bijaksana.. cerdas..ahhh cinta pokoknya. Sekarang Rossi sudah membuktikan bahwa langkahnya untuk pindah ke Yamaha adalah memang jalan terbaik bagi hidup dan karirnya. Bersama Honda dia tahu hanya akan memperoleh kemenangan, dia juga tahu dengan bersama Yamaha dia bisa mendapatkan kemenangan sekaligus kebanggaan. Public sudah bisa menilai apakah Stoner atau Rossi yang lebih hebat. Meski Stoner berkuasa tahun lalu namun Ducatilah yang mendapatkan sanjungan. Stoner ibaratnya juara latar. Sebaliknya bagi Rossi, meski hanya menduduki peringkat 2 namun itu adalah hasil maksimal bagi Yamaha karena kondisi, dan bagi Rossi sanjungan dan elu dari para penggemar pun tidak berkesudahan. Malang bagi Stoner. Mungkin dia saat ini sedang mengalami krisis seperti yang dialami Rossi pada puncak karirnya bersama Honda. Mendapatkan kemenangan tanpa sanjungan, dan mendapatkan kekalahan dengan penuh kritikan. Mungkin itulah mengapa penampilan Stoner tidak begitu stabil musim ini. Dilain pihak, Rossi sedang bersiap kembali menapak tangga kemenangannya dan terus membuktikan pada public bahwa dia patut menyandang gelar pembalap besar abad ini. Dan membuktikan lagi bahwa keputusannya bukanlah keputusan konyol, tapi langkah monumental. Masih adakah ksatria bijaksana seperti Valentino Rossi ??...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar