2 Sep 2008

Week End Bareng Rossi

Week end kemarin harusnya bisa berlangsung dengan sangat menyenangkan. Udah nyiapin rencana yang sempurna buat mengisi akhir pekan panjang. Maklum hari sabtu libur karena Hari Raya Kuningan. Rencananya :

Sabtu (30 Agustus 2008)

pagi – sembahyang Kuningan

siang – ke bukit Jimbaran, mengunjungi teman

sore – pulang dari bukit mampir ke Kuta lihat sunset

malam – jalan2 dan beli martabak manis

Minggu (31 Agustus 2008)

pagi – ke Pantai Matahari terbit jalan-jalan sambil lihat sunrise

siang – bantu jarit buat persiapan odalan

malam – nonton konser Balawan di Ardha Chandra

tapi oh tapi..rencana berantakan gara-gara sakit maag yang menyerang. Akhirnya harus puas seharian hari sabtu kemarin terkapar di tempat tidur. Untungnya setelah ke dokter sabtu sorenya, hari minggu udah bisa bangkit dari tempat tidur dan bisa ke rumah paman bantu jarit. Jarit atau orang bali sering menyebutnya dengan mejejaritan (melakukan aktifitas jarit) adalah kegiatan merangkai janur menjadi berbagai hiasan untuk sarana upacara adat bali maupun persembahyangan. Biasanya selalu dikerjakan oleh kaum perempuan. Sementara kaum pria melakukan pekerjaan yang lebih besar, misalnya menghias sanggah atau lingkungan rumah maupun pekerjaan lain yang berhubungan dengan palu, kayu, paku, d..s..b..hehehe.. Meski masih lemas tapi berhubung pekerjaan jarit ini aku sukai jadi ya enjoy aja. Karena udah merasa sehat, kupikir malamnya bakal bisa nonton konser. Tapi mungkin karena siangnya terlalu capek, badanku nge drop lagi. Lemas dan seluruh tubuh pegal-pegal seperti habis pukulin orang sebanjar. Jadinya bli malah gak mau pergi nonton konser, takut sakitku kambuh dan gak bisa kerja esok harinya. Akhirnya malam itu aku menghabiskan waktu di kamar sambil menikmati martabak manis dan Rossi deh..ambil sisi positifnya aja .. jadinya malam ini bisa nonton siaran langsung MotoGP di sirkuit Missano.

Akhirnya Rossi kembali ke podium setelah berhasil lagi memenangi balapan di Missano. Ini adalah kemenangannya yang ke 68 di MotoGP. Membanggakan lagi karena Missano juga menjadi kampung halaman baginya. Tidak mengherankan bila stadion Missano berubah menjadi kuning setelah kemenangan Rossi. Aku sendiri gak tahu harus berkomentar apa, disatu sisi senang jelasnya. Dengan menyisakan 5 putaran dan unggul 75 poin dari peringkat 2 klasemen, makin mendekatkan Rossi dengan gelas juara dunianya yang ke 6 di MotoGP. Aku malas ngasih komentar balapan di blog ini, karena terus terang agak kurang puas juga nonton balapannnya semalam. Agak kurang seru karena Rossi dengan sangat terpaksa hanya sedikit saja mempertontonkan manuvernya, yaitu saat bertarung dengan Daniel Pedrosa untuk menempati posisi di belakang Ducati yang dikendarai Stoner. Seperti biasa, Rossi menang dengan gemilang. Tapi sebelum sempat memanuver Ducati eh malah Stoner udah jatuh duluan. Dan sebenarnya juga gak yakin kalau Rossi bakal mampu mengejar Ducati karena pertarungan tentu sangat tidak seimbang. Sebenarnya tidak mau kejam pada Stoner, tapi pertarungan bukan lagi antara Rossi dengan Stoner, tapi Rossi dengan Ducati. Dan ibaratnya senjata makan tuan, justru karena kehebatan Ducatilah maka Stoner jatuh 2 kali berturut-turut. Kecepatannya motornya mungkin tidak mampu diimbangi sama Stoner.

Namun fisik atau mental Stoner kah yang tidak mampu mengimbangi kecanggihan Ducati. Apakah Stoner jatuh karena tidak mampu menahan getaran Ducati saat melesat dengan kecepatan yang tidak mampu ditandingi motor lain, ataukah Stoner jatuh karena mentalnya yang tertekan oleh pamor dan kehebatan Ducati ? tentu sulit untuk menjawabnya. Bahkan tahun lalu, secara tidak langsung Rossi pernah mengungkapkan keputusasaannya melawan Ducati. Rossi pernah mengatakan bahwa dirinya butuh sebuah pistol untuk dapat mengalahkan Stoner. Tentu itu hanya candaan tingkat tinggi ala Rossi. Karena lawan dia yang sesungguhnya adalah Ducati, dan bukannya si Stoner yang malang itu tapi beruntung itu. Setelah tahun lalu sempat kehilangan gelar motoGP yang berhasil direbut oleh Ducati, tahun ini kemungkinan akan kembali menjadi milik Rossi.

Tapi rasanya sadis sekali telah mengabaikan keberadaan Stoner. Jika tidak mau memandang pertarungan ini sebagai miliknya Rossi dan Ducati, baiklah mari kita berbaik hati pada Stoner. Mari kita bahas lagi dia sebagai petarung di arena balap ini, bukan lagi sebagai joki Ducati. 5 putaran tersisa adalah pertarungan mental antara keduanya untuk kembali merebut gelar juara dunia moto GP. Motor tidak bisa dibandingkan, jelas Ducati belum terkalahkan di lap lurus. Tapi pembalap tetaplah pembalap, dia yang menentukan apakah kecanggihan dapat dibuktikan dalam realita. Skill menjadi milik Rossi, teknologi dan motor ada dalam kendali Stoner. Tinggal menunggu 5 putaran lagi untuk melihat hasil akhir dari pertarungan aneh ini..mampukah Rossi menundukkan Ducati, ataukah mampukah mental Stoner dan teknologi Ducati meredam heroisme Valentino Rossi ??

1 komentar:

  1. waduhhh...sebenarnya tulisanmu bagus lho jeng..tapi kenapa ya,aku baca kok aku malah bingung...hehe..ngomongin kegiatan di rumah tapi terakhir lari ke valentino rosi..kok g lari ke suamimu?..si buta kale...hahaha..

    BalasHapus