25 Nov 2008

Jangan Sakit


Setelah aku teliti diriku sendiri dan kebiasaanku nonton film ternyata aku bukan penggila film. Aku bukan penggemar film kelas berat, tapi sekedar penyuka film yang biasa-biasa saja. Buktinya aku (hampir) tidak pernah tergiur untuk nonton film-film keluaran terbaru, ataupun tergiur untuk menjadi golongan pertama yang menonton film setalah film dirilis. Terbukti tiap kali keluar dari tempat sewa film, bukanlah film-film terbaru yang aku bawa pulang. Tapi kebanyakan film-film yang udah agak out of date alias rilis udah lama, tapi menarik dan berisi. Misalnya Wicker Park dan Dot The I hasil rekomendasi Bagus, teman produser yang super selengekan itu merekomendasikan film yang romantis dan benar-benar bagus. Dan ada film agak lama yang ternyata bagus juga judulnya Babel, yang ini aku tertarik karena dicovernya ada keterangan telah memenangkan penghargaan Academy Award. Memang sih aku selalu tertarik pada berbagai jenis review ataupun triller film yang baru rilis tapi bukan berarti berminat buat nonton. Karena bagiku film yang patut ditonton itu adalah film yang direkomendasikan. Entah itu oleh teman, film-film yang banyak dibicarakan, ataupun alasan-alasan lain yang tidak ada hubungannya sama lebel new rillis. Bahkan film-film Harry Potter yang merupakan film ”wajib ditonton” pun kadang aku menunggu sampai VCD/DVDnya rillis. Tapi kali ini aku belum mau bicara tentang Harry Potter, aku mau membahas tentang Sicko.

Ini sebenarnya bukan film yang terlalu lama tapi ya udah lumayan lama juga dirilis. Pertama tahu film ini saat nonton salah satu episode Oprah Winfrey Show, membahas tentang film ini. Awalnya sih gak begitu tertarik, tapi berhubung si Michael Moore yang merupakan produser sekaligus sutradara film ini banyak diperbincangkan jadi tergoda juga buat nonton. Meski tergoda ternyata harus menunggu sekian bulan untuk aku akhirnya berkesempatan nonton film ini. Gara-gara ada sesi review film untuk kelas yang aku pegang, mau gak mau harus nyiapin materi film yang bagus dan bermutu. Akhirnya terpilih Sicko. Awalnya sih mau putar an Inconvenient Truth, tapi berhubung takut para mahasiswa itu ngantuk dan ngobrol sendiri, akhirnya aku pilih Sicko. Sebuah film dokumenter yang mengupas kebusukan sistem pelayanan kesehatan di AS, dan mungkin juga di negara kita. Nah baca nih review lengkapku tentang SICKO.

Kalau saja aku tidak mengenal asuransi, tentu film ini tidak akan begitu menarik bagiku, namun setelah berhubungan dengan masalah asuransi kesehatan dan sedikit pengetahuan tentang asuransi, film ini menjadi begitu menarik. Pengalaman orang-orang yang ada di film ini memang sungguh tragis, dan menyesakkan sekali karena ternyata apa yang mereka alami yang pastinya banyak dialami masyarakat kita. Tidak menutup kemungkintan kita-kita pun bisa mengalami jika pemerintah Indonesia tetap bertahan dengan sistem yang dianut saat ini. Di Amerika saja yang memiliki jaminan sosial bagi masyarakatnya megalami situasi seperti itu, apalagi bagi Indonesia yang menganut paham “kesejahteraan warga negara ada di tangan mereka sendiri” ini. Saat sehat tentunya semua tidak ada masalah. Namun saat sakit itu datang, biaya adalah momok yang menakutkan. Biaya periksa, biaya obat, perawatan selama sakit, biaya hidup sehari-hari, semuanya harus ditanggung dalam satu waktu. Udah sakit jadi malah tambah sakit. Kalau punya cukup uang dan sakitnya ringan sih gak ada masalah. Trus gimana dong kalau sakitnya berat trus belum lagi gak punya duit. Yang punya asuransi bisa sedikit lega karena ada kemungkinan keringanan biaya (mungkin) bisa juga gratis. Lalu bagi mereka yang tidak punya asuransi, semuanya harus ditanggung sendiri. Gimana kalau sakitnya kanker, aids, tumor, kelainan syaraf, jantung, kecelakaan berat, yang mebutuhkan operasi besar ataupun kecil, berbagai tes laboratorium,dsb ?

Bagi pemegang asuransi pun bukan berarti aman dan bisa tenang saat sakit itu datang. Apalagi kalau asuransinya cuma sekedar Jamsostek dan Askes. Tanggungan hanya sebatas obat flu dan mencret ringan. Kalau sakitnya agak parah dikit jangan harap akan ditanggung. Beruntunglah yang punya penghasilan lebih bisa daftar untuk polis asuransi di perusahaan asuransi gede. Tapi itu berarti pengeluaran rutin diluar biaya hidup sehari-hari. Lalu bagaimana bagi mereka yang pendapatannya pas-pasan, atau mereka yang penghasilannya tidak tentu, atau mereka yang tidak punya pengetahuan tentang asuransi ?.. Mau berobat pakai jaminan masyarakat miskin? Kira-kira pengobatan jenis apa yang bisa didapat, trus bagaimana pelayanannya? Kalau ada yang bilang Sehat itu Mahal harganya, ternyata sakit LEBIH MAHAL lagi harganya.. jadi kesimpulannya sehat atau sakit itu GAK ADA YANG MURAH..

10 Nov 2008

Selektif Pilih Perias Pengantin

Pilih-pilih penata rias untuk acara besar misalnya pernikahan ternyata bukan hal yang mudah. Boleh dibilang juga gampang-gampang susah menemukan penata rias pengantin yang sesuai keinginan mempelai sekaligus bagus menurut penilaian orang lain. Seperti pengalaman sepupuku ini. Kebetulan untuk acara nikahannya penata riasnya dipilihin sama sang Ibu tapi ternyata dapat penata rias yang asal merias. Merias pengantin seperti merias karnaval saja. Padahal yang namanya rias pengantin kan ada sakralnya, ada nilai relijiusnya, bukan sekedar dandanan pengantin untuk acara fashion show. Dan mau gak mau aku juga kebagian imbasnya. Pas sepupu itu menikah, aku dan saudara sepupu yang lain ikut upacara potong gigi. Kalau ikut upacara potong gigi, dandanannya hampir sama seperti mempelainya, jadi kami dirias juga oleh tim perias pengantin ini. Dan sungguh hasilnya sangat jauh dari memuaskan. Bagi aku sendiri sih tidak masalah meski kecewa juga. Tidak masalah karena bukan aku yang menikah, jadi istilahnya bukan aku Ratunya. Tapi kecewa kenapa kok harus ada kejadian seperti ini. Kok ada perias pengantin yang tidak memahami tata krama merias pengantin ya..dikiranya mungkin pengantin itu hanya cukup dipakein make-up, sanggul pengantin, dan kostum pengatin seperti halnya karnaval. Dia melupakan nilai sakral dari acara pernikahan tersebut.

Aku masih ingat banget. Setahuku setiap perias pengantin itu dinilai bagus kalau dia berhasil memunculkan nuansa sakral, punya kemampuan untuk membuka atau memunculkan aura pengantin sehingga kelihatan bersinar dan ’terlihat beda’ dari hari-hari biasanya. Sewaktu masih di Jogja aku pernah mewancarai dan mengangkat profil beberapa perias pengantin kenamaan. Salah satunya yang paling disegani adalah ibu Tinuk Rifki. Ibu tinuk ini perias pengantin Jawa langganannya keluarga keraton dan pejabat-pejabat tinggi negara kita. Aku rasa semua mempelai yang menggunakan riasan Jawa dan tahu kapasitas ibu Tinuk ini sangat mengidamkan dapat dirias olehnya saat hari pernikahan. Bahkan mbak Annisa pohan juga di rias oleh ibu Tinuk ini. Mereka punya ritual khusus sebelum merias. Aku tidak tahu pastinya, ada yang melakukan puasa, doa tertentu kepada yang Kuasa, atau yang lain namun yang pasti sarat akan nuansa sakral dan religius. Merias pengantin harus dilakukan dengan serius dan takzim, seorang perias pengantin profesional hanya akan mengambil order sesuai kapasitas dan waktu yang tersedia. Waktu sangat berhubungan dengan konsentrasinya dia saat merias, berhubungan pula dengan hasil riasan. Jangan sampai perias pengantin memiliki waktu yang terbatas sehingga kerjanya serabutan.

Aku merasa sangat beruntung kejadian perias pengantin serampangan tersebut tidak menimpaku di hari pernikahanku. Aku dirias oleh penata rias pengantin adat bali yang profesional, tahu aturan dan menghargai nilai sakral sebuah acara pernikahan. Ibu ini memiliki kapasitas untuk menyulap pengantin yang biasa saja menjadi istimewa, sehingga pada hari pernikannya dia benar-benar menjadi seorang ratu. Begitupun upacara pernikahanku di Jawa. Meski tidak ada acara akad nikah, namun prosesi pernikahan adat Jawa lengkap aku jalani. Termasuk tradisi midodareni pada malam sebelum upacara pernikahan adat Jawa. Aku dirias oleh perias yang paham betul bahwa rias pengantin itu berbeda dengan riasan untuk acara biasa. Meski periasnya adalah lelaki (udah bapak-bapak) namun sangat ahli dan luwes dalam merias. Aku, keluarga, dan semua kerabat dibuat sangat puas dengan hasil kreasinya. Aku merasa sangat bersyukur..

Nah buat yang merencanakan pernikahan hati-hati ya memilih perias pengantin. Kalau bisa sih cari informasi dari pengalaman-pengalaman saudara atau kenalan yang udah pernah dirias. Bagaimana testimoni mereka terhadap perias yang kamu maksud. Lalu bagaimana pamor perias pengantin tersebut, apakah terkenal dan memang profesional dibidang ini atau tidak. Kalau perlu survay dulu. Itulah mengapa perlu sekali yang namanya test make-up. Jadi gak Cuma baju aja yang perlu fitting, make-up pun perlu di test. Kalau aku dulu memang tidak melakukan itu semua, aku hanya beruntung mendapatkan perias yang bagus dan memuaskan. Periasku untuk nikah adat bali adalah Mek Luh Mendri yang merupakan kenalan dari Ibu mertuaku, jadi ibu mertuaku tahu benar bagaimana kapasitas Mek Luh Mendri dalam merias pengantin. Dan memang harus aku akui, ibu mertua memang punya selera yang bagus untuk hal-hal seperti ini. Sementara untuk perias pengantin adat Jawaku, aku lupa namanya. Beliau kebetualan teman dari tanteku dan reputasinya sebagai perias memang cukup dikenal untuk lingkup daerahkku. Sekali lagi, kalau gak mau menyesal seumur hidup gara-gara perias pengantin yang gak bagus ya memang butuh usaha..jangan lupa Berdoa agar pernikahan dapat berjalan lancar.. selamat merencanakan Pernikahan ya...

5 Nov 2008

Berburu Nasi Pecel

Perburuanku akan nasi pecel yang enak dan sesuai dengan cita rasaku rupaya belum berakhir. Ya jelaslah, sudah hampir satu tahun di Bali tapi aku menemukan nasi pecel yang enak. Padahal, di Bali terutama Denpasar, keberadaan orang Jawa tuh sudah hampir sama populasinya dengan orang Bali asli. Tidak mengherankan jika banyak sekali ditemui warung Jawa yang menyediakan menu nasi pecel. Tapi masalahnya, kok ya belum dapat yang pas sesuai dengan keinginanku. Apakah aku terlalu banyak berharap ya tentang nasi pecel yang enak. Udah jelas ini di Bali, ya gak mungkin dong cita rasa nasi pecel Nganjuk ada disini. Kalau mau ya harus ke Nganjuk buat beli nasi pecelnya hehehe..Nasi pecel itu menu yang sangat sederhana. Hanya terdiri dari nasi, sayuran rebus, ditambah sambal kacang (sambel pecel), lalu dilengkapi dengan lauk pendamping, tidak boleh ketinggalan (ini sangat penting) yaitu ada peyek. Peyek adalah keripik renyah yang terbuat dari tepung beras dan berbagai macam bumbu. Ada juga yang dikasih ornamen teri asin, udang, kacang atau kedelai. Dan peyek inilah yang menjadi ciri khas nasi pecel. Dengan kata lain udah pakem kalau nasi pecel itu pakai peyek, kalau gak pakai peyek ibaratnya seperti pergi ke resepsi tapi pakai celana jeans, ya boleh-boleh aja sih namunbukan pada tempatnya. Tadi pagi aku juga beli nasi pecel. Belinya di warung yang tidak sengaja aku lihat beberapa hari yang lalu waktu meliwatinya. Warungnya sih sangat sederhana. Hanya warung kecil dekat tikungan jalan dengan bangunan yang terbuat dari kayu dan papan. Namun begitu melihatnya, bentuk bangunan ini mengingatkan aku pada keberadaan warung-warung nasi pecel yang tradisional. Warungnya terdiri dari 2 pintu disamping kanan dan kiri, sementara bagian tengah atas adalah jendela yang bentuknya memanjang, sementara dibawahnya adalah tulisan yang dibuat oleh pemilik warung. Namun kalau ini sih bukan ciri khas yang mutlak. Artinya banyak juga kok warung nasi pecel dengan konsep bangunan yang beda tapi punya cita rasa yang enak. Ada juga yang tidak pakai warung, alias kaki lima. Di Malang seingatku nasi pecel yang enak ada di Jl. Kawi Tengah, di Depan toko dekat pasar. Jualannya pakai kaki lima tapi pelanggannya kayak semut ngrubutin gula, kalau kesiangan aja dikit pasti kehabisan. Di Nganjuk juga banyak kaki lima yang menjual nasi pecel. Biasanya buka pada malam hari (jam 9 keatas), meski ada juga yang buka pagi hari sih. Kalau aku pikir nasi pecel itu kok kayak nasi gudeg ya, enaknya dimakan pagi-pagi sekali, atau malam-malam sekali.
Nasi pecelnya yang aku beli tadi ternyata tidak seenak perkiraanku, bahkan rasanya kok mirip nasi pecel di Jogja. Kayaknya memang tidak boleh putus asa, masih ada target lain sih. Yaitu warung nasi pecel Madiun yang ada di Renon. Aku belum sempat kesana, tapi sepertinya tempatnya agak elit yang maegindikasikan harganya lumayan menyesuaikan tempat, belum lagi lokasinya yang di Renon hehehe..

Ngomong-ngomong soal nasi pecel Madiun, kayaknya memang biasanya banyak warung nasi pecel yang membawa embel-embel Madiun. Dulu waktu di Jogja aku pernah makan nasi pecel madiun yang ada di daerah Depok, dekatnya Makro. Disana ada warung nasi pecel yang enak, tapi harganya bo..mahal juga untuk itungan seporsi nasi pecel. Tahun 2005, terakhir kali kesana aja satu porsi nasi pecel saja, gak pakai peyek dan lauk harganya udah 6000rb. Kalau mau pakai lauk tempe, pepes, ikan atau ayam goreng hitungan harganya lain. Jadi bisa saja makan nasi pecel komplit harus bayar 15rb..yang benar saja. Ini hanya nasi pecel lho, dan lokasinya di Jogja yang terkenal sebagai kota yang relatif murah. Yang membuat warung ini unggul dan mahal ternyata memang berasnya organik, dan nasinya sangat pulen dan enak. Jadi jelas keunggulannya ada pada nasinya, tapi gak bisa dipungkiri juga, bumbunya memang enak. Di Jogja ada lagi yang terkenal yaitu SGPC. Bagi mahasiswa UGM pasti tidak asing dengan nama SGPC. SGPC itu singkatan dari sego pecel hehehe..biar mudah orang Jogja menyebut nasi pecel dengan SGPC. Dari sekian banyak SGPC yang ada di Jogja yang terkenal enak adalah SGPC di Fak. TP (teknik Pertanian), dan di daerah selokan Mataram. Katanya sih SGPC disana itu langganannya artis, pejabat, dan dosen-dosen senior penggila SGPC. Aku sendiri sih belum makan SGPC yang di daerah selokan Mataram itu, tapi yang di TP UGM udah, dan menurutku rasanya iasa aja kok. Aku gak tahu apa coba yang membuatnya terkenal dan digemari artis dan pejabat. Apa memang cita rasa mereka hanya segitu saja ? hehhee..gak tahu lahh.. kalau sekarang aku tidak tahu apakah warung SGPC di TP itu masih ada atau tidak..

Hmmm..aku jadi aku ingat nasi pecel terenak adalah yang aku makan pada acara Ulang Tahun Almarum Prof Koesnadi yang ke 80. Sekaligus sebagai upaca Ulang Tahun beliau yang terakhir karena beberapa bulan kemudian Prof Koesnadi berpulang dalam sebuah kecelakaan pesawat Garuda di bandara Adisucipto Yogyakarta. Nasi pecel restoran namun tetap menjaga cita rasa tradisional..ya jelas lah.. aku jadi makin penasan sama nasi pecel enak dan komplit yang disajikan dalam pincuk itu huuhuu...(mau nangis aja rasanya rindu nasi pecel..)

3 Nov 2008

The King





Rindu Rossi... Makasih buat kompas.com

Workshop Balinale




Pernah dengar tentang Balinale ? itu adalah sebuah festifal film internasional yang dimotori oleh Bali Taksu. Sebuah yayasan non frofit yang bergerak dibidang film. Begitulah sepertinya. Aku sendiri juga baru sekali ini tahu tentang Balinale International Film Festival. 2008 ini sudah tahun ke-2 pelaksanaan event tersebut, diadain 21-31 Oktober. Agenda utamanya tentu pemutaran film, dan juga ada beberapa workshop untuk sinematografi dan fotografi bagi para pelajar dan mahasiswa. Kebetulan New Media ada kerjasama untuk penyelenggaraan workshop dan pemutaran film. Jadi bisa ngambil ilmu dari beberapa filmmaker internasional. Acara di kampus New Media berlangsung selama 2 hari. Cukup menyenangkan melihat antusiasme mahasiswa terhadap event tersebut. Semoga motivasi mereka hadir bukan karena ada Marsanda ya hehehe.. Ada 4 pembicara pada hari ke-2 kemarin. Ricard Todd dari Australia. Richard ini seorang kameramen dan juga produser film. Minatnya adalah natural history filmmaking. Salah satu filmnya, God Made Them Blind tahun 2008, dinominasikan untuk beberapa festival film di Amerika, dan Eropa. Lalu ada Tino Saroengallo, seorang filmmaker dari Indonesia. Beliau ini ngajar juga di IKJ. Aku kenal bapak ini sih dari bukunya Dongeng Pembuatan Film. Kebetulan kemarin berhasil minta tandatangannya, dan si pak Tino rupanya gak nyadar kalau dia terkenal hahaha.. Flmnya adalah Ca bau Kan & Pasir Berbisik. Tino juga udah banyak kali menjadi sutradara untuk iklan-iklan besar di Indonesia. Ada juga Filmmaker dari Prancis Claude Theret dan Dean Allan Tolhurst dari Ausrtralia. Yang sangat menarik tentu saja pada agenda screening beberapa film terbaik Eagle Award. Film ini motivated banget. Setelah acara anak-anak merasa terbakar untuk ikut Eagle Award tahun depan. Hmm.. do’akan kami ya..