5 Nov 2008

Berburu Nasi Pecel

Perburuanku akan nasi pecel yang enak dan sesuai dengan cita rasaku rupaya belum berakhir. Ya jelaslah, sudah hampir satu tahun di Bali tapi aku menemukan nasi pecel yang enak. Padahal, di Bali terutama Denpasar, keberadaan orang Jawa tuh sudah hampir sama populasinya dengan orang Bali asli. Tidak mengherankan jika banyak sekali ditemui warung Jawa yang menyediakan menu nasi pecel. Tapi masalahnya, kok ya belum dapat yang pas sesuai dengan keinginanku. Apakah aku terlalu banyak berharap ya tentang nasi pecel yang enak. Udah jelas ini di Bali, ya gak mungkin dong cita rasa nasi pecel Nganjuk ada disini. Kalau mau ya harus ke Nganjuk buat beli nasi pecelnya hehehe..Nasi pecel itu menu yang sangat sederhana. Hanya terdiri dari nasi, sayuran rebus, ditambah sambal kacang (sambel pecel), lalu dilengkapi dengan lauk pendamping, tidak boleh ketinggalan (ini sangat penting) yaitu ada peyek. Peyek adalah keripik renyah yang terbuat dari tepung beras dan berbagai macam bumbu. Ada juga yang dikasih ornamen teri asin, udang, kacang atau kedelai. Dan peyek inilah yang menjadi ciri khas nasi pecel. Dengan kata lain udah pakem kalau nasi pecel itu pakai peyek, kalau gak pakai peyek ibaratnya seperti pergi ke resepsi tapi pakai celana jeans, ya boleh-boleh aja sih namunbukan pada tempatnya. Tadi pagi aku juga beli nasi pecel. Belinya di warung yang tidak sengaja aku lihat beberapa hari yang lalu waktu meliwatinya. Warungnya sih sangat sederhana. Hanya warung kecil dekat tikungan jalan dengan bangunan yang terbuat dari kayu dan papan. Namun begitu melihatnya, bentuk bangunan ini mengingatkan aku pada keberadaan warung-warung nasi pecel yang tradisional. Warungnya terdiri dari 2 pintu disamping kanan dan kiri, sementara bagian tengah atas adalah jendela yang bentuknya memanjang, sementara dibawahnya adalah tulisan yang dibuat oleh pemilik warung. Namun kalau ini sih bukan ciri khas yang mutlak. Artinya banyak juga kok warung nasi pecel dengan konsep bangunan yang beda tapi punya cita rasa yang enak. Ada juga yang tidak pakai warung, alias kaki lima. Di Malang seingatku nasi pecel yang enak ada di Jl. Kawi Tengah, di Depan toko dekat pasar. Jualannya pakai kaki lima tapi pelanggannya kayak semut ngrubutin gula, kalau kesiangan aja dikit pasti kehabisan. Di Nganjuk juga banyak kaki lima yang menjual nasi pecel. Biasanya buka pada malam hari (jam 9 keatas), meski ada juga yang buka pagi hari sih. Kalau aku pikir nasi pecel itu kok kayak nasi gudeg ya, enaknya dimakan pagi-pagi sekali, atau malam-malam sekali.
Nasi pecelnya yang aku beli tadi ternyata tidak seenak perkiraanku, bahkan rasanya kok mirip nasi pecel di Jogja. Kayaknya memang tidak boleh putus asa, masih ada target lain sih. Yaitu warung nasi pecel Madiun yang ada di Renon. Aku belum sempat kesana, tapi sepertinya tempatnya agak elit yang maegindikasikan harganya lumayan menyesuaikan tempat, belum lagi lokasinya yang di Renon hehehe..

Ngomong-ngomong soal nasi pecel Madiun, kayaknya memang biasanya banyak warung nasi pecel yang membawa embel-embel Madiun. Dulu waktu di Jogja aku pernah makan nasi pecel madiun yang ada di daerah Depok, dekatnya Makro. Disana ada warung nasi pecel yang enak, tapi harganya bo..mahal juga untuk itungan seporsi nasi pecel. Tahun 2005, terakhir kali kesana aja satu porsi nasi pecel saja, gak pakai peyek dan lauk harganya udah 6000rb. Kalau mau pakai lauk tempe, pepes, ikan atau ayam goreng hitungan harganya lain. Jadi bisa saja makan nasi pecel komplit harus bayar 15rb..yang benar saja. Ini hanya nasi pecel lho, dan lokasinya di Jogja yang terkenal sebagai kota yang relatif murah. Yang membuat warung ini unggul dan mahal ternyata memang berasnya organik, dan nasinya sangat pulen dan enak. Jadi jelas keunggulannya ada pada nasinya, tapi gak bisa dipungkiri juga, bumbunya memang enak. Di Jogja ada lagi yang terkenal yaitu SGPC. Bagi mahasiswa UGM pasti tidak asing dengan nama SGPC. SGPC itu singkatan dari sego pecel hehehe..biar mudah orang Jogja menyebut nasi pecel dengan SGPC. Dari sekian banyak SGPC yang ada di Jogja yang terkenal enak adalah SGPC di Fak. TP (teknik Pertanian), dan di daerah selokan Mataram. Katanya sih SGPC disana itu langganannya artis, pejabat, dan dosen-dosen senior penggila SGPC. Aku sendiri sih belum makan SGPC yang di daerah selokan Mataram itu, tapi yang di TP UGM udah, dan menurutku rasanya iasa aja kok. Aku gak tahu apa coba yang membuatnya terkenal dan digemari artis dan pejabat. Apa memang cita rasa mereka hanya segitu saja ? hehhee..gak tahu lahh.. kalau sekarang aku tidak tahu apakah warung SGPC di TP itu masih ada atau tidak..

Hmmm..aku jadi aku ingat nasi pecel terenak adalah yang aku makan pada acara Ulang Tahun Almarum Prof Koesnadi yang ke 80. Sekaligus sebagai upaca Ulang Tahun beliau yang terakhir karena beberapa bulan kemudian Prof Koesnadi berpulang dalam sebuah kecelakaan pesawat Garuda di bandara Adisucipto Yogyakarta. Nasi pecel restoran namun tetap menjaga cita rasa tradisional..ya jelas lah.. aku jadi makin penasan sama nasi pecel enak dan komplit yang disajikan dalam pincuk itu huuhuu...(mau nangis aja rasanya rindu nasi pecel..)

3 komentar:

  1. Ada pecel enak di jl. teuku umar depan SPBU deketnya perempatan stikom ke utara dikit namanya pecel madiun, warungnya gak sebagus bu tinuk tp lebih enak dr bu tinuk, seriously....!! semangat amat ya...

    BalasHapus
  2. Yg ini bukan pecel madiun, tempatnya kecil di jalan wonosari kalo gak keliru sekitar km.7 sebelah timur toko (Optical) jogja, sambelnya hot abis.. rasa pecel ndeso.. kalo lg beruntung ada sayuran yg katanya cikru mlanding ( taoge jawa ), sedia juga Garangasem yg gak kalah enak.. khas solo.. siapa mo coba??

    BalasHapus
  3. to anonim : wah itu berarti di dekat sama studionya jogja tv dong, aku dulu padahal kost daerha sana tapi kok gak pernah tahu ya..sayang sekali sekarang udah gak di jogja.. btw makasih infonya, kalau ke jogja lagi aku cobain..

    BalasHapus