27 Des 2008

Tahun Baru


Well kenapa buku ini? karna ini buku yang aku baca dipenutup tahun 2008, moga tahun depan dapat membaca dan beli (hehhe..) lebih banyak buku..
Buat semua pembaca blog saya ucapkan :

SELAMAT TAHUN BARU 1430 HIJRIYAH
SELAMAT TAHUN BARU 2009
SELAMAT HARI RAYA SARASWATI
(that's why i put the cover of my fav book here --but Harry Potter series still the BEST)

Happy..all..happy everybody..love everybody

Alhamdullilah..Puji Tuhan..Matur sembah nuwun Hyang Widhi..Terima kasih atas nikmatMU tahun lalu, jagalah selalu kami dan limpahkan selalu kemurahanMU pada kami di tahun-tahun mendatang, Amiiin..

20 Des 2008

Upacara Potong Gigi atau Mepandes

Tulisan ini sebenarnya udah lama aku bikin, udah sebulan lewat tapi lupa buat posting dan belum sempat edit fotonya. maklum komputer dirumah lelet banget jadi malas aja rasanya. kapan-kapan kalau udah sempat buat edit foto aku upload fotonya, biar tahu upacara potong gigi seperti apa, buat yang udah tahu ya tetap boleh lihat.

Upacara potong gigi, ada juga yang menyebutnya dengan istilah metatah atau mepandes adalah salah satu ritual masyakat Bali, berhubungan dengan adat dan spiritual. Karena pada dasarnya 2 hal tersebut, yaitu adat dan spiritual merupakan elemen terpenting bagi kehidupan masyarakat Bali. Terutama bagi kehidupan sehari-hari. Namanya juga upacara potong gigi, jadi tentunya ada tindakan untuk memotong gigi. Nah seperti apa dan bagaimana, nanti aku ceritakan ya tentang apa yang aku alami. Aku sendiri, meski sudah mendapat informasi dari berbagai macam sumber tentang upacara potong gigi, sebenarnya aku belum pernah menyaksikan secara langsung upacara potong gigi selain upacaraku sendiri. Kalau upacara adat otonan, odalan, memukur, ngaben, pernikahan, sudah aku lihat dan hadiri semenjak tinggal di Bali. Upacara potong gigi juga menjadi salah satu upacara besar karena ini adalah wujud tanggung jawab orang tua pada anaknya, selain menikahkan. Upacara ini diadakan biasanya 1 kali seumur hidup, atau boleh juga lebih. Berhuhung ini ritual wajib, jadi semua orang Hindu Bali pasti mengalami upacara ini. Boleh dilakukan pada masa si anak mencapai akil balig, atau masa-masa setelah itu. Dan kalau ada seseorang yang meninggal sebelum sempat melaksanakan upacara potong gigi maka upacara itu tetap diadakan untuk dirinya setelah meninggal, sebelum di aben tentunya. Kalau teknis penyelenggaraan upacara sendiri berbeda-beda bagi tiap daerah atau desa namun pada intinya tetap sama, yaitu simbol dari pengendalian terhadap Sat Ripu. Berhubung upacara potong gigi termasuk acara ber-budget besar, banyak keluarga atau orang tua mengadakan upacara itu dibarengkan dengan acara lainnya, umumnya pernikahan. Atau ada juga yang menyelenggarakan satu upacara untuk sekaligus beberapa orang. Ini dilakukan untuk meminimalisir pengeluaran maupun berbagai alasan lainnya yang mengandung nilai kepraktisan, dan ada pula alasan-alasan lainnya. Seperti tadi disebutkan, ini adalah upacara besar, jadi tentunya melibatkan banyak orang, tidak ubahnya dengan pernikahan. Orang yang melaksanakan upacara bisanya juga mengundang seluruh kerabat maupun kenalan untuk hadir. Jadi undangan untuk potong gigi sangat umum di Bali, selayaknya kita menerima undangan pernikahan teman atau kenalan.

Tentunya masih ada pertanyaan tentang apa sih tujuan dari pelaksanaan upacara ini sehingga harus dilakukan minimal sekali seumur hidup ? berikut ini adalah penggalan artikel yang aku ambil dari sebuah blog : http://bytescode.wordpress.com/2007/11/28/upacara-potong-gigi-mapandes. ditulis oleh Oleh : Ida Pandita Sri Bhagawan Dwija Warsa Nawa Sandhi. Geria Taman Sari Lingga Ashrama, Jalan pantai Lingga Singaraja Bali, Telp: 0362 22113,27010, HP: 08179719864. E-mail : bhagawandwija@yahoo.com.

Tujuan Upacara Potong Gigi

Tujuan upacara potong gigi dapat disimak lebih lanjut dari lontar kalapati dimana disebutkan bahwa gigi yang digosok atau diratakan dari gerigi adalah enam buah yaitu dua taring dan empat gigi seri di atas. Pemotongan enam gigi itu melambangkan symbol pengendalian terhadap sad Ripu (enam musuh dalam diri manusia).
Meliputi kama (hawa nafsu), Loba (rakus), Krodha (marah), mada (mabuk), moha (bingung), dan Matsarya (iri hati). Sad Ripu yang tidak terkendalikan ini akan membahayakan kehidupan manusia, maka kewajiban setiap orang tua untuk menasehati anak-anaknya serta memohon kepada Hyang Widhi Wasa agar terhindar dari pengaruh sad ripu. Makna yang tersirat dari mitologi Kala Pati, kala Tattwa, dan Semaradhana ini adalah mengupayakan kehidupan manusia yang selalu waspada agar tidak tersesat dari ajaran agama (dharma) sehingga di kemudian hari rohnya yang suci dapat mencapai surga loka bersama roh suci para leluhur, bersatu dengan Brahman (Hyang Widhi). Dalam pergaulan muda-mudi pun diatur agar tidak melewati batas kesusilaan seperti yang tersirat dari lontar Semaradhana. Upacara potong gigi biasanya disatukan dengan upacara Ngeraja Sewala atau disebutkan pula sebagai upacara “menek kelih”, yaitu upacara syukuran karena si anak sudah menginjak dewasa,meninggalkan masa anak-anak menuju ke masa dewasa.

Itu tadi sekilas tentang upacara potong gigi. Seperti yang aku utarakan tadi, upacara potong gigi adalah tanggung jawab orang tua. Jadi upacara ini diadakan dan dilakukan oleh orang tua si anak. Umumnya memang diadakan sebelum anak menikah jadi masih tinggal dengan orang tuanya. Tapi bagi yang sudah menikah tetap boleh dilaksanakan oleh orang tua. Kalau anaknya laki-laki tentu tidak masalah karena tetap tinggal sama keluarganya. Lalu bagaimana kalau yang menikah tersebut anak perempuan, yang secara adat berarti udah masuk dalam keluarga lelaki. Maka upacara potong gigi tetap dilakukan oleh orang tua si anak perempuan atas ijin dan restu dari suami dan keluarga suaminya. Memang tidak ada masalah dengan hal tersebut sih, jadi bukan hal yang perlu dirisaukan. Kalau untuk aku, kasusnya menjadi berbeda. Berhubung aku dari keluarga Jawa dan tidak mengenal upacara potong gigi maka upacara potong gigi untuk aku dilakukan oleh keluarga suami, namun tetap harus melalui proses minta ijin dan restu dari orang tuaku. Yang ini juga tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Waktu dulu aku menikah, memang tidak langsung disertai dengan upacara potong gigi. Sesuai dengan kesepakatan keluarga besar, upacara dilakukan bersamaan dengan upacara pernikahan kakak sepupu cowok yang paling besar. Setelah genap 1 tahun kami (aku dan bli) menikah, sekarang giliran Bli Putu yang menikah dan diadakanlah upacara metatah itu. Awalnya sih masih bertanya-tanya juga tentang upacara ini, tapi seiring berjalannya waktu dan berbekal informasi yang aku dapat, sepertinya aku siap.


Seperti yang aku bayangkan, upacara termasuk yang ribet, bahkan sepertinya lebih komplek dari upacara pernikahan. Prosesi upacara sendiri berlangsung selama 2 hari. Hari pertama adalah acara natap beten. Ada prosesi penyucian dan menjadi persiapan untuk proses potong giginya. Upacara dipimpin oleh seorang pemangku yang memimpin doa dan menghaturkan berbagai banten yang sudah dipersiapakan. Gunanya tentu untuk memohon perlindungan kepada Hyang Widhi. Setelah ini mereka yang akan potong gigi ditempatkan pada ruangan khusus yang juga sudah disiapi berbagai banten. Upacaranya sangat rumit dan prosesinya panjang, hmmm..aku gak bisa jelasin. Hari berikutnya barulah prosesi potong giginya. Potong gigi dilakukan oleh ahlinya, aku gak tahu namanya apa. Pertama kami dibawa dulu ke tempat upacara akan berlangsung yaitu di balai dangin. Balai dihias dengan berbagai simbul dan pernak-pernik upacara. Sebelum acara dimulai, kami harus melakukan sembahyang. kemudian gigi yang akan dipotong diusap-usap dengan batu cincin yang aku yakin bukan sembarang cincin tapi memiliki fungsi tertentu. Baru setelah itu kami disuruh menggigit sesuatu yang aku tidak tahu apa tapi fungsinya adalah sebagai pengganjal agar memudahkan proses pengikiran.



Pada saat gigi dikikir, kami dalam posisi merebahkan diri. Kedua tangan ditelangkupkan sama seperti posisi orang meninggal. Saat proses pengikiran berlangsung suasananya begitu sakral dan tegang. Aku sendiri, saat itu merasakan seperti akan menghadapi moment operasi di meja bedah. Tegang dan khawatir akan apa yang nanti terjadi. Tapi saat mengetahui para tamu undangan itu begitu santai dan memikirkan bahwa ini upacara yang umum dan semua orang menjalani pastinya tidak akan semengerikan atau sesakit yang aku bayangkan. Jadi aku rileks. Saat gigiku mulai dikikir dengan benda keras itu tidak ada sakit atau ngilu yang aku rasakan. Aku ngeri membayangkan akan ada darah atau apa, tapi ternyata semua aman. Lalu kami disuruh bangun dan berkumur dengan cairan khusus. Setelah itu disuruh menggigit sirih yang aku tahu pasti secara ilmiah tentu sebagai antiseptik. Berikutnya proses pengikiran diulangi sekali lagi dan kemudian kami disuruh lagi berkumur dan minum berbagai cairan dengan berbagai macam rasa yang disebut sad rasa yaitu enam rasa berupa rasa pahit dan asam sebagai simbol agar tabah menghadapi peristiwa kehidupan yang kadang-kadang tidak menyenangkan, rasa pedas sebagai simbol agar tidak menjadi marah bila mengalamai atau mendengar hal yang menjengkelkan, rasa sepat sebagai symbol agar taat ada peraturan atau norma-norma yang berlaku, rasa asin sebagai simbol kebijaksanaan, selalu meningkatkan kualitas pengetahuan karena pembelajaran diri, dan rasa manis sebagai symbol kehidupan yang bahagia lahir bathin sesuai cita-cita akan diperoleh bilamana mampu menhadapi pahit getirnya kehidupan, berpandangan luas, disiplin, serta senantiasa waspada dengan adanya sad ripu dalam diri manusia. Setelah pengikiran gigi ini ada tahap berikutnya yaitu sembahyang dan ritual lainnya yang dipimpin oleh seorang Pedanda.



Setelah semua selesai bukan berarti acara beres lho. Kami harus menemui tamu-tamu undangan dan berterima kasih telah hadir pada upacara adat potong gigi keluarga kami. Siang sampai malamnya harus terus stanby di upacara resepsinya. Pokonya tidak ubahnya seperti acara pernikahan. Aku sama bli juga mengundang semua teman dan kenalan kami. Rasanya sama seperti waktu pernikahan dulu, jadi ini resepsi kami yang ketiga. Sama ya kayak BCL hehehe... Sayangnya kami tidak bulan madu di Bahama atau Maladewa.. cukup di Bali saja..


bersama para sepupu setelah selesai upacara potong gigi

19 Des 2008

Ketemuan

Dulu waktu mau pindah ke Bali rasanya memang berat, harus keluar dari pekerjaan yang menyenangkan. Belum lagi berpisah dengan teman-teman kerja, teman kost dan keluarga ibu kost yang dekat banget, berpisah dengan Jogja, terlebih harus meninggalkan adikku sendirian di kota itu. Sedih membayangkan bakal kehilangan moment-moment indah bareng dia. Janjian makan bareng, shopping, bergosip..ahhh..kangen. Meski kita beda kost tapi dulu waktu masih sama-sama kuliah kita selalu 1 kost bahkan satu kamar. Dulu selalu bertengkar tentang segala hal tapi setelah aku pindah kost karena lebih dekat dengan kantor jadi malah sering kangen-kangenan. Berat hati pindah ke Bali.

Namun ternyata hal tersebut tidak seburuk ketakutanku. Takut dulu tidak bisa ketemu-ketemu lagi dengan teman, tapi ternyata aku salah. Beruntung pindahnya ke Bali karena ternyata banyak teman yang pada akhirnya datang ke Bali dan kita bisa ketemuan. Seperti dulu pas upacara pernikahan. Tidak pernah menduga ada kawan Jogja yang hadir. Ternyata Pras dan para presenternya yang semlohai, Irin, bisa dateng karena kebetulan juga pas ada keperluan di Bali. Dek Gun, selain mengunjungi keluarganya di bali dia juga beberapa kali ditugaskan ke Bali jadi kita bisa janjian buat ketemuan. Seringnya dia main ke rumah. Lalu beberapa minggu lalu Mas Andhi, Wempi, dan pak Dewa ada seminar di Bali. Kita pun janjian buat ketemuan. Ah seru pokoknya..intinya jangan ngajak ngobrol mas Andhi tentang wayang, Wali Songo, Babad Jawa, dsb, jadinya malah berjam-jam ngobrolnya tentang itu melulu. Tapi bukan berarti tidak menyenangkan. Karena kami semua yang berkumpul disana akhirnya terpesona dengan cerita-cerita tersebut. Mas Andhi itu orang yang jiwanya jawa banget, orang yang tergila-gila dengan kebudayaan, tergila-gila pada filosopis wayang, dan ngobrol dengannya membuat aku pingin melahap buku-buku seperti mahabaratha atau ramayana atau menikmati pertunjukan wayang. Namun nyatanya ketiga hal tersebut belum ada yang kesampaian hehehe..

Setelah mas Andhi CS giliran Wulan yang datang ke Bali. Kami bersyukur bisa ketemuan di hotel, jalan-jalan keliling Kuta nyari oleh-oleh dan makan malam, keluar masuk outlet lihat baju-baju natal, sandal, baju anak, bikini (hihihiii...). bagian yang paling seru adalah saat ngobrol, berbicara tentang segala hal. Tentang apa aja yang kami alami dan terjadi setelah pindah. Tentang Bali, adat, tentang Ken yang sekarang udah semakin gede, tentang Pascal dan teman-teman kami di kantor lama, tentang keluarga, samapai tentang korupsi di pemerintahan, tentang kehamilan yang dinantikan..banyak deh. Sampai-samapai lupa waktu dan hampir tengah malam baru pamitan buat pulang heehe.. untung sekarang sudah gak di Jogja jadi gak ada aturan ’Jam belajar Masyarakat” huahahaha...

Siapa lagi ya yang akan datang ke Bali ? Dulu ada Heru, Hendri, aik, Wulan marketing, Ika Marketing, dan sepertinya awal tahun nanti bakal ada lagi yang ke Bali..Ketemuan yuk..

13 Des 2008

Main Kano

Liburan Idul Adha kemarin lumayan menyenangkan. Meski list jalan-jalan ke Nusa Dua, GWK, dan Dreamland urung terlaksana karena masalah cuaca, akhirnya kesampaian juga memanfaatkan liburan kali ini dengan kegiatan seru. Kebetulan ada ajakan dari kawan-kawan bli untuk main ke pantai bareng-bareng. Aku ikut aja meskipun pada akhirnya jadi satu-satunya cewek dalam gerombolan itu hehehe.. Agendanya ke pantai Mertasari, agak jauh dari sanur dan jalannya melingkar membuat aku bingung. Persepsiku akan arah mata angin pun ikutan terganggu. Arah barat tempat matahari terbenam dalam benakku disebelah timur..aneh banget. Jadi waktunya sore hari saat matahari menjelang terbenam tapi terbenamnya di sebelah timur hehehe..kepalaku memang lagi miring. Namun diluar itu semua, acara ke pantai ini menyenangkan. Dengan bekal jajan pasar beli di pasar Badung, berangkatlah kita untuk ketemuan dulu di rumah Gusti, teman kantor Bli. Disana juga udah ada Adi dan Kadek teman-teman Gusti. Lalu berlima kita ke rumah Wahyu yang juga teman kantor Bli dan Gusti. Rumah Wahyu ini dekat dengan pantai tujuan kami semua. Berhubung udah janjian ya kita tinggal berangkat aja ke pantai. Nyampai di pantai Nyoman yang juga teman kami nyusul. Untung tadi udah prediksi bakal nyebur ke laut jadi pakai celana pendek dan kaos aja tanpa baju ganti. Memang udah niat selesai dari laut langsung kita pulang basah-basahan. Memang gitu sih kebiasaannya kalau main ke laut. jadi tidak ada acara bawa persiapan baju ganti dan perlengkapan mandi segala seperti kalau berenang ke kolam renang. Praktis dah pokoknya.

Aku baru pertama ini ke pantai Mestasari. Meski jauh, pantai ini masih segaris sama sanur. Namun ternyata disini lebih istimewa karena hampir tidak ada ombak. Jadi pantainya seperti ditepian danau, hanya riak-riak kecil saja. Pasirnya pun putih dan banyak sekali terdapat kerang didasarnya. Ini lokasi yang sangat-sangat sesuai buat mandi-mandi dan berenang. Berhubung lagi libur jadi pantainya pun ramai. Wisatawan asing pun banyak pula yang kesini, tapi mereka berenangnya disisi pantai yang lain yaitu yang udah diboking sama hotel tempat mereka menginap hehehe.. Disekitar pantai banyak rumah makan yang menata meja kursinya dipinggiran pantai. Suasana outdoor gitu. Dan sepertinya akan ramai kalau malam hari. Romantiskan bisa menikmati makan malam di alam terbuka dipinggiran pantai? Apalagi kalau bulan terang-benderang dengan kilauan bintang gemintang aihh..Tapi sayangnya kami tidak makan malam di situ hahaha..bisa bangkrut bo, habis pasarnya buat wisatawan sih.

Aku baru tahu kalau ternyata kami tidak akan sekedar mandi dan berenang saja di pantai ini tapi juga main kano. Kanonya bisa nyewa dengan tarif 5000 ribu rupiah aja untuk waktu yang tidak dibatasi alias sepuasnya. Dan oh..man..ternyata kano itu cuma cukup untuk 1 orang, jadi masing-masing orang satu. Bayangkan aku yang tidak bisa berenang, paling gak suka olah raga air, bahkan kalau ke waterbom hanya mau pakai ban yang tandem sekarang harus sendiri main kano. Dan jangan lupa ini laut.

OK deh aku terima tantangan ini, padahal dalam hati udah ciut banget dan berniat dalam hati gak akan lebih dari 10 m dari garis pantai. Ya setidaknya kalau tenggelam masih banyak yang nulungin dan mudah dicari hehehe.. Informasi dari wahyu mengatakan bahwa tidak ada gelombang besar bahkan ombak disini jadi airnya tenang, dan seperti memang yang aku lihat airnya sangat tenang ya aku berani. Ini dikarenakan agak ketengah sana ada gugusan karang yang memecah ombak/gelombang. Jadi pantai ini aman dan sangat tenang. Waduuhh saat itu aku lupa kalau air yang tenang menghanyutkan, seperti danau Batur yang tenang dan menyejukkan mata itu ternyata kedalamannya 88 meter. Tapi udah terlanjur terima tantangan, malu kalau batal, dan rugi kalau tidak coba, akhirnya mulai deh berkano.

Satu menit pertama harus kesakitan berjalan di air dangkal untuk menjangkau kano karena dasar pantai berserakan kulit-kulit kerang, belum lagi ketakutan dan trauma akan laut yang aku rasakan. Menit kedua ngeri duduk dikano dan terbayang kanonya ngguling atau terbalik. Menit ketiga masih takut tapi mulai belajar menguasai kano, melatih mendayung maju, mundur, belok, tapi belum bisa menghindari tabrakan antar kano. Menit kelima udah mulai menguasai tapi masih takut dan menjerit-jerit kalau kanonya tertabrak dan menabrak kano lain karena kami semua memang masih awam sama kano2 ini. Tapi lho..lho..makin lama makin hilang takutku, makin seru rasanya..dan ahhh..man kenapa aku tidak mencoba permainan ini sejak lama. Memang sih bli udah sering banget ngajakin main kano tiap kita ke pantai tapi dengan mentah-mentah aku tolak bahkan sebelum melihat wujud kano itu seperti apa. Ketakutanku akan air yang menggenang lebar dan tampak dalam memang tergolong akut. Bahkan nyemplung kolam renang aja membuat aku ngeri hehehee..


Baru aku sadari, main kano itu tidak sulit dan ternyata sangat menyenangkan. bahkan diantara kami semua hanya aku, bli, dan satu lagi Nyoman yang berani berkano sampai jauh ke tengah, beradu cepat dan mengincar sasaran-sasaran seperti perahu atau titik-tiitik tertentu untuk di jangkau. Swear deh..aku cinta sama permainan ini sampai-sampai lupa kalau ini di laut, dan jika kanoku terguling aku mungkin tidak akan kembali lagi ke dunia dalam keadaan bernyawa. Yang jelas hari itu aku melewatkan sore dengan sangat-sangat menyenangkan. Bahkan saking antusiasnya lupa sama niat buat mengamati sunset, keasyikan berkano lawan bli. Selesai berkano dan mandi-mandi kita makan bekalku tadi dan juga beli lumpia yang sangat nikmat dimakan saat selesai mandi di laut..hmmm.. pingin lagiii...


9 Des 2008

Piknik Danau Batur

Bersyukurlah pada yang Kuasa..Cinta kita di dunia…Selamanya..”

Rasanya tidak cukup bersyukur atas segala cinta, karena segala hal detail pun atas karuniaNya. Termasuk cuaca yang kita nikmati in every single moment. Entah itu panas, mendung, hujan..jangan sampai deh jadi manusia yang tidak bersyukur. Dikasih hujan mengeluh dikasih kemarau panjang mengeluh..aduh trus gimana dong.. Hehee ini bukan karena harapanku atas minggu yang cerah terkabul namun juga bagian dari perenunganku..bahwa Tuhan selalu memberikan yang terbaik. Tapi kalau ternyata itu diluar harapan kita, ya ambil sisi positifnya aja..Semoga saya mampu, dan semoga anda juga mampu. Iya kan?

Dari pengalaman beberapa minggu terakhir ini cuaca Denpasar tidak menentu, kadang hujan kadang panas, kadang pagi hujan deras sorenya panas, atau pagi cerah siang hujan deras..pokoknya gak menentu deh. Padahal kami berdua sedang menyusun rencana untuk jalan2 minggu ini. Jadi aku sangat berharap hari minggu cerah..dan syukurlah harapanku terkabul. Hari minggu ini rencana ke danau Batur terlaksana. Sudah lama banget ingin melihat danau Batur secara langsung. Sebelumnya aku hanya melihat dari kejahuan. Maksudnya dari atas bukit dalam perjalanan Singaraja-Denpasar lewat Kintamani. Sungguh pemandangan yang mengesankan. Makanya aku pingin banget melihat danau ini dari dekat. Pokoknya semua disiapin karena hari ini agendanya tidak sekedar jalan-jalan tapi juga piknik. Bekal makan siang Ok, kue-kue OK, minuman Ok, kamera OK, hmmm berangkat deh..

Perjalanan yang ditempuh kali ini lumayan panjang. Dari Denpasar ke Kintamani memakan waktu sekitar 2 jam. Secara keseluruhan akses jalan sangat mudah. Sudah halus mulus lus..lus..meski ya lumayan menanjak, menurun, menikung..akhirnya sampai juga di bukit Kintamani. Dari atas bukit danau udah nampak mempesona dengan latar belakang gunung Batur yang puncaknya diselimuti awan hitam menggantung. Untuk mencapai danau perjalanan belum berakhir. Kami harus turun bukit. Medannya lumayan sulit karena curam dan berkelok. Belum lagi harus selalu waspada karena truk-truk penambang batu ikut-ikutan bersliweran di jalan yang tidak terlalu lebar ini. Turun ke danau ini adalah pengalaman pertama buat aku, dan kedua buat bli (dan jeleknya dia tidak berbagi informasi yang akibatnya membuatku sempat patah semangat hikss)..


Akhirnya sampailah di kaki paling bawah, alias udah nyampai lembah. Setelah bingung berkeliling kami tidak mendapati gerbang masuk ke danau. Akses ke sana adalah gang-gang rumah warga atau kebun-kebun sayuran. Inilah informasi penting yang aku lewatkan. Dalam bayanganku akan ada gerbang khusus wisatawan dengan berbagai fasilitas. Seperti yang ada di danau Beratan, Bedugul. Tapi ternyata gak ada. Akhirnya kami mendapati pintu masuk ke Hot Spring Water yang sangat meragukan untuk disebut sebagi tempat wisata. Karena terlantar dan tidak ada penjaganya. Tapi target kami adalah danau jadi itu bukan masalah. Setelah parkir di dekat gubug darurat dan atas petunjuk warga setempat yang sekaligus berjualan makanan dan nyewain pancing kami diantarkan ke danau. Dan bagian ini bukan bagian tepian danau yang landai, namun bertebing dan berkarang..oh..my.. dan sudut ini benar-benar bukan tempat wisata, tidak ada sentuhan fasilitas apapun jadi masih murni dikelola oleh alam. Akhirnya kami pun menikmati danau dari sisi sini. Hanya kami berdua saja dan seorang penambak yang tambaknya hanya beberapa meter dari tempat kami bersantai ”menikmati” Danau batur yang tenang ini..hikss.. Pikniknya tetap jalan dong meski duduknya tidak di bangku taman ataupun diatas rumput yang sejuk dan landai. Kami memancing sambil makan siang..hmm..acara yang piknik yang cukup aneh..kalau di Trans TV ada jalan-jalan yang bertema Koper dan Ransel, maka tema jalan-jalan kami ini masuk kategori Tas Kresek... Ini semua akibat minim informasi, sok tahu, dan ogah bertanya.. Namun selain pengalamanku ternyata ada sisi lain danau Batur yang layak buat dikunjungi kalau berwisata ke Bali. Untuk liputan komplit wisata Batur KLIK DISINI ya. Semoga bisa jadi panduan buat wisata seru kesana.


4 Des 2008

Pujian

Setiap orang, terutama perempuan pasti merasa senang jika ada yang memujinya cantik. Setiap manusia butuh pengakuan dari orang lain atas kelebihan yang dia miliki. Aku rasa memang begitu. Aku pun begitu. Selalu tersanjung dengan segala pujian yang dilontarkan. Hmm.. mungkin juga karena aku termasuk jarang dipuji kali ya hehehe.. namun baru aku sadari, bahwa ternyata ada yang menyenangkan dari sekedar pujian.

Aku suka bercermin, terutama saat waktu senggang. Bukan untuk berdandan karena aku tidak suka berdandan. Sekedar sisiran atau merapikan rambut. Sepertinya dari waktu ke waktu wajahku berubah-ubah. Terkadang saat pikiran santai dan rileks aku mengaca di cermin dan mendapatkan diriku hari ini terlihat segar dan menarik. Lalu meluncurlah komentar. ”Aku cantik ya” dan suamiku pasti akan menjawab ”iya..cantik” sambil tidak mengalihkan matanya dari TV atau hal-hal lain yang dia kerjakan saat itu. Tapi aku senang aja toh bli udah menanggapi positif dan dan setuju kalau aku cantik hehehe..narsis. Namun kadang aku bercermin dan mendapati wajahku yang kucel dan kusut. ”kok aku jelek ya” dan bli pun pasti akan berkomentar ”memang kamu jelek” dikatakannya dengan datar. Namun setelah itu dia akan meraih tanganku dan menarik tubuhku kedalam pelukannya lalu dia membisikan dengan lembut ”tapi aku selalu menyanyangimu apa adanya. I Love you”. Dan dia pun akan mempererat pelukannya. Saat itulah aku menyadari bahwa pujian ternyata bukanlah sesuatu yang yang paling menyenangkan. Ada yang jauh..jauh..jauh lebih indah dan membahagiakan, yaitu perasaan diterima dan dicintai. God..terima kasih telah Kau kirimkan lelaki ini menjadi pendamping hidupku, aku begitu begitu mencintainya.