Tulisan ini sebenarnya udah lama aku bikin, udah sebulan lewat tapi lupa buat posting dan belum sempat edit fotonya. maklum komputer dirumah lelet banget jadi malas aja rasanya. kapan-kapan kalau udah sempat buat edit foto aku upload fotonya, biar tahu upacara potong gigi seperti apa, buat yang udah tahu ya tetap boleh lihat.Upacara potong gigi, ada juga yang menyebutnya dengan istilah metatah atau mepandes adalah salah satu ritual masyakat Bali, berhubungan dengan adat dan spiritual. Karena pada dasarnya 2 hal tersebut, yaitu adat dan spiritual merupakan elemen terpenting bagi kehidupan masyarakat Bali. Terutama bagi kehidupan sehari-hari. Namanya juga upacara potong gigi, jadi tentunya ada tindakan untuk memotong gigi. Nah seperti apa dan bagaimana, nanti aku ceritakan ya tentang apa yang aku alami. Aku sendiri, meski sudah mendapat informasi dari berbagai macam sumber tentang upacara potong gigi, sebenarnya aku belum pernah menyaksikan secara langsung upacara potong gigi selain upacaraku sendiri. Kalau upacara adat otonan, odalan, memukur, ngaben, pernikahan, sudah aku lihat dan hadiri semenjak tinggal di Bali. Upacara potong gigi juga menjadi salah satu upacara besar karena ini adalah wujud tanggung jawab orang tua pada anaknya, selain menikahkan. Upacara ini diadakan biasanya 1 kali seumur hidup, atau boleh juga lebih. Berhuhung ini ritual wajib, jadi semua orang Hindu Bali pasti mengalami upacara ini. Boleh dilakukan pada masa si anak mencapai akil balig, atau masa-masa setelah itu. Dan kalau ada seseorang yang meninggal sebelum sempat melaksanakan upacara potong gigi maka upacara itu tetap diadakan untuk dirinya setelah meninggal, sebelum di aben tentunya. Kalau teknis penyelenggaraan upacara sendiri berbeda-beda bagi tiap daerah atau desa namun pada intinya tetap sama, yaitu simbol dari pengendalian terhadap Sat Ripu. Berhubung upacara potong gigi termasuk acara ber-budget besar, banyak keluarga atau orang tua mengadakan upacara itu dibarengkan dengan acara lainnya, umumnya pernikahan. Atau ada juga yang menyelenggarakan satu upacara untuk sekaligus beberapa orang. Ini dilakukan untuk meminimalisir pengeluaran maupun berbagai alasan lainnya yang mengandung nilai kepraktisan, dan ada pula alasan-alasan lainnya. Seperti tadi disebutkan, ini adalah upacara besar, jadi tentunya melibatkan banyak orang, tidak ubahnya dengan pernikahan. Orang yang melaksanakan upacara bisanya juga mengundang seluruh kerabat maupun kenalan untuk hadir. Jadi undangan untuk potong gigi sangat umum di Bali, selayaknya kita menerima undangan pernikahan teman atau kenalan.
Tentunya masih ada pertanyaan tentang apa sih tujuan dari pelaksanaan upacara ini sehingga harus dilakukan minimal sekali seumur hidup ? berikut ini adalah penggalan artikel yang aku ambil dari sebuah blog : http://bytescode.wordpress.com/2007/11/28/upacara-potong-gigi-mapandes. ditulis oleh Oleh : Ida Pandita Sri Bhagawan Dwija Warsa Nawa Sandhi. Geria Taman Sari Lingga Ashrama, Jalan pantai Lingga Singaraja Bali, Telp: 0362 22113,27010, HP: 08179719864. E-mail : bhagawandwija@yahoo.com.
Tujuan Upacara Potong Gigi
Tujuan upacara potong gigi dapat disimak lebih lanjut dari lontar kalapati dimana disebutkan bahwa gigi yang digosok atau diratakan dari gerigi adalah enam buah yaitu dua taring dan empat gigi seri di atas. Pemotongan enam gigi itu melambangkan symbol pengendalian terhadap sad Ripu (enam musuh dalam diri manusia). Meliputi kama (hawa nafsu), Loba (rakus), Krodha (marah), mada (mabuk), moha (bingung), dan Matsarya (iri hati). Sad Ripu yang tidak terkendalikan ini akan membahayakan kehidupan manusia, maka kewajiban setiap orang tua untuk menasehati anak-anaknya serta memohon kepada Hyang Widhi Wasa agar terhindar dari pengaruh sad ripu. Makna yang tersirat dari mitologi Kala Pati, kala Tattwa, dan Semaradhana ini adalah mengupayakan kehidupan manusia yang selalu waspada agar tidak tersesat dari ajaran agama (dharma) sehingga di kemudian hari rohnya yang suci dapat mencapai surga loka bersama roh suci para leluhur, bersatu dengan Brahman (Hyang Widhi). Dalam pergaulan muda-mudi pun diatur agar tidak melewati batas kesusilaan seperti yang tersirat dari lontar Semaradhana. Upacara potong gigi biasanya disatukan dengan upacara Ngeraja Sewala atau disebutkan pula sebagai upacara “menek kelih”, yaitu upacara syukuran karena si anak sudah menginjak dewasa,meninggalkan masa anak-anak menuju ke masa dewasa.


Itu tadi sekilas tentang upacara potong gigi. Seperti yang aku utarakan tadi, upacara potong gigi adalah tanggung jawab orang tua. Jadi upacara ini diadakan dan dilakukan oleh orang tua si anak. Umumnya memang diadakan sebelum anak menikah jadi masih tinggal dengan orang tuanya. Tapi bagi yang sudah menikah tetap boleh dilaksanakan oleh orang tua. Kalau anaknya laki-laki tentu tidak masalah karena tetap tinggal sama keluarganya. Lalu bagaimana kalau yang menikah tersebut anak perempuan, yang secara adat berarti udah masuk dalam keluarga lelaki. Maka upacara potong gigi tetap dilakukan oleh orang tua si anak perempuan atas ijin dan restu dari suami dan keluarga suaminya. Memang tidak ada masalah dengan hal tersebut sih, jadi bukan hal yang perlu dirisaukan. Kalau untuk aku, kasusnya menjadi berbeda. Berhubung aku dari keluarga Jawa dan tidak mengenal upacara potong gigi maka upacara potong gigi untuk aku dilakukan oleh keluarga suami, namun tetap harus melalui proses minta ijin dan restu dari orang tuaku. Yang ini juga tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Waktu dulu aku menikah, memang tidak langsung disertai dengan upacara potong gigi. Sesuai dengan kesepakatan keluarga besar, upacara dilakukan bersamaan dengan upacara pernikahan kakak sepupu cowok yang paling besar. Setelah genap 1 tahun kami (aku dan bli) menikah, sekarang giliran Bli Putu yang menikah dan diadakanlah upacara metatah itu. Awalnya sih masih bertanya-tanya juga tentang upacara ini, tapi seiring berjalannya waktu dan berbekal informasi yang aku dapat, sepertinya aku siap.
Seperti yang aku bayangkan, upacara termasuk yang ribet, bahkan sepertinya lebih komplek dari upacara pernikahan. Prosesi upacara sendiri berlangsung selama 2 hari. Hari pertama adalah acara natap beten. Ada prosesi penyucian dan menjadi persiapan untuk proses potong giginya. Upacara dipimpin oleh seorang pemangku yang memimpin doa dan menghaturkan berbagai banten yang sudah dipersiapakan. Gunanya tentu untuk memohon perlindungan kepada Hyang Widhi. Setelah ini mereka yang akan potong gigi ditempatkan pada ruangan khusus yang juga sudah disiapi berbagai banten. Upacaranya sangat rumit dan prosesinya panjang, hmmm..aku gak bisa jelasin. Hari berikutnya barulah prosesi potong giginya. Potong gigi dilakukan oleh ahlinya, aku gak tahu namanya apa. Pertama kami dibawa dulu ke tempat upacara akan berlangsung yaitu di balai dangin. Balai dihias dengan berbagai simbul dan pernak-pernik upacara. Sebelum acara dimulai, kami harus melakukan sembahyang. kemudian gigi yang akan dipotong diusap-usap dengan batu cincin yang aku yakin bukan sembarang cincin tapi memiliki fungsi tertentu. Baru setelah itu kami disuruh menggigit sesuatu yang aku tidak tahu apa tapi fungsinya adalah sebagai pengganjal agar memudahkan proses pengikiran.


Pada saat gigi dikikir, kami dalam posisi merebahkan diri. Kedua tangan ditelangkupkan sama seperti posisi orang meninggal. Saat proses pengikiran berlangsung suasananya begitu sakral dan tegang. Aku sendiri, saat itu merasakan seperti akan menghadapi moment operasi di meja bedah. Tegang dan khawatir akan apa yang nanti terjadi. Tapi saat mengetahui para tamu undangan itu begitu santai dan memikirkan bahwa ini upacara yang umum dan semua orang menjalani pastinya tidak akan semengerikan atau sesakit yang aku bayangkan. Jadi aku rileks. Saat gigiku mulai dikikir dengan benda keras itu tidak ada sakit atau ngilu yang aku rasakan. Aku ngeri membayangkan akan ada darah atau apa, tapi ternyata semua aman. Lalu kami disuruh bangun dan berkumur dengan cairan khusus. Setelah itu disuruh menggigit sirih yang aku tahu pasti secara ilmiah tentu sebagai antiseptik. Berikutnya proses pengikiran diulangi sekali lagi dan kemudian kami disuruh lagi berkumur dan minum berbagai cairan dengan berbagai macam rasa yang disebut sad rasa yaitu enam rasa berupa rasa pahit dan asam sebagai simbol agar tabah menghadapi peristiwa kehidupan yang kadang-kadang tidak menyenangkan, rasa pedas sebagai simbol agar tidak menjadi marah bila mengalamai atau mendengar hal yang menjengkelkan, rasa sepat sebagai symbol agar taat ada peraturan atau norma-norma yang berlaku, rasa asin sebagai simbol kebijaksanaan, selalu meningkatkan kualitas pengetahuan karena pembelajaran diri, dan rasa manis sebagai symbol kehidupan yang bahagia lahir bathin sesuai cita-cita akan diperoleh bilamana mampu menhadapi pahit getirnya kehidupan, berpandangan luas, disiplin, serta senantiasa waspada dengan adanya sad ripu dalam diri manusia. Setelah pengikiran gigi ini ada tahap berikutnya yaitu sembahyang dan ritual lainnya yang dipimpin oleh seorang Pedanda.


Setelah semua selesai bukan berarti acara beres lho. Kami harus menemui tamu-tamu undangan dan berterima kasih telah hadir pada upacara adat potong gigi keluarga kami. Siang sampai malamnya harus terus stanby di upacara resepsinya. Pokonya tidak ubahnya seperti acara pernikahan. Aku sama bli juga mengundang semua teman dan kenalan kami. Rasanya sama seperti waktu pernikahan dulu, jadi ini resepsi kami yang ketiga. Sama ya kayak BCL hehehe... Sayangnya kami tidak bulan madu di Bahama atau Maladewa.. cukup di Bali saja..

bersama para sepupu setelah selesai upacara potong gigi