25 Feb 2009

Berpuisi

Sudah berapa lama sejak terakhir kali aku membuat puisi ya? Oh kapan itu ya.. kalau gak salah waktu dulu masih jamannya PDKT sama bli kali ya. Dulu selalu saling berpuisi lewat sms, email, atau memo-memo dikertas. Itu pun yang dibikin ya puisinya orang kasmaran, puisi-puisi cinta melulu, yang merupakan ungkapan isi hati atas hasrat yang selama itu belum terpenuhi. Setelah hasratnya terpenuhi alias jadian ya kemampuan berpuisi ala pujangganya menguap entah kemana. Apalagi setelah menikah, wah malah gak kepikiran untuk bikin puisi buat suami. Bisa-bisa diketawain sama bli. Aku juga gak tahu kenapa ya, rasanya membuat puisi, sajak atau apalah yang berbau sastra, bahkan menulis diary sangat dipengaruhi oleh perasaan dan gejolak hati. Saat lagi sedih, patah hati, jatuh cinta, kasmaran, marah, atau apa saja saat perasaan sedang bergolak, rasanya sangat mudah untuk merangkai kata-kata. Namun kenapa justru saat perasaan lagi bahagia (dalam artian kebahagiaan yang bukan disebabkan oleh jatuh cinta dan kasmaran) terasa lebih sulit untuk merangkai kata indah. Apalagi saat perasaan lagi datar-datar aja, saat kehidupan semua sedang pada jalurnya, normal, tanpa riak dan hentakan, rasanya bahkan tidak ada inspirasi yang singgah dibenak. Sekeras apapun usaha untuk menjadi romantis ujungnya pasti mentok aja.


Nah jadinya akan beda kalau pikiran atau otak kita dipaksa untuk membuat puisi. Aku mengami hal ini. Dipaksa untuk berpusi dengan tema yang sudah ditentukan. Waduhh..sulitnya. gara-garanya seminggu ini, mulai dari 23 hingga 27 Februari aku sama rekan2 dan beberapa mahasiswa ikutan workshop Bengkel Sastra, Berpusi Dalam Animasi. Workshopnya itu adalah bagaimana membuat sebuah karya animasi (kalau menurutku sih cenderung ke video art deh..) dari sebuah puisi. Jadi materinya adalah membuat puisi dulu, lalu menentukan cerita apa yang akan dibuat untuk memvisualkan puisi, mengumpulkan materi untuk video dan animasinya, lalu tahap berikutnya editing. Ya gitu deh, agak berbeda dari kebiasaan. Jika biasanya bikin video dari materi skenario, trus sekarang materinya adalah puisi. Dalam pengerjaan proyek ini sih kita tidak sendirian, tapi dibagi dalam kelompok-kelompok.


Balik lagi ke masalah puisi, kelompokku akhirnya menentukan tema tentang Global Warming. Huuhh..tema yang sangat jamak dan banyak dibuat orang sebenarnya, tapi sejauh ini sih masih OK karena masih relevan sampai kapan pun sambil nunggu berakhirnya jaman kali ya. Dan tentunya mau gak mau harus dong kita bikin puisi tentang Global warming. Walah..aku gak kepikiran kalau mengangkat tema ini dalam bentuk puisi. Dalam otakku kan kalau puisi ya tentang cinta hehehe.. akhirnya bekerja keraslah kita dengan otak yang buntu dipaksa untuk berpuisi. Setiap orang menyumbang kata-kata dan akhirnya jadilah puisi kami.


Tema : Global Warming

Judul : Kembalikan Aku


Marahnya panas

Marahnya dingin

Marahnya Alam


Saat segalanya terlanjur tersulut

Adakah yang mampu meredamnya

Peluh berderai disetiap kulit

Bahkan janin pun ingin keluar dari kandungan sang ibu


Dengan denyut nadi yang mulai malas berdetak

Saatnya kita bertindak


Benar-benar puisi yang dibuat berdasarkan kerangka visual, bukannya visual yang dibangun dengan puisi. Kami mengerjakannya memang agak terbalik karena kebetulan satu tim dengan praktisi jadi dalam benaknya yang ada ya visual.. visual.. dan visual.. oya tentang janin itu kalian pasti menduga itu kata-kata dari aku ya, bukan lho.. memang sih aku yang menentukan apakah kalimat itu akan dipakai atau tidak, tapi itu bukan ideku. Itu pikirannya pak Akim yang mengibaratkan panasnya bumi pun dirasakan oleh janin yang ada dalam kandungan. Wah..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar