19 Mar 2009

Drama Gong

Untuk pertama kalinya aku nonton pertunjukan Drama Gong secara langsung di panggung terbuka Ardha Chandra. Kebetulan ada teman yang ngajakin barengan jadinya ya nonton aja, padahal swear deh, kalau sebelumnya tahu harga tiketnya 15 ribu aku lebih memilih nonton film aja di bioskop. Biasanya aku lihat pertunjukan drama gong hanya ditelevisi aja, itu pun kalau bli maksa-maksa buat nonton itu acara. Kalau aku sih bukannya tidak suka, tapi berhubung gak ngerti bahasanya jadi ya gak bias menikmati. Oya buat yang belum tahu drama gong yang merupakan kesenian tradisional Bali, ini ada cuplikan artikel yang aku dapat :

Drama Gong adalah sebuah bentuk seni pertunjukan Bali yang masih relatif muda usianya yang diciptakan dengan jalan memadukan unsur-unsur drama modern (non tradisional Bali) dengan unsur-unsur kesenian tradisional Bali. Dalam banyak hal Drama Gong merupakan pencampuran dari unsur-unsur teater modern (Barat) dengan teater tradisional (Bali). Nama Drama Gong diberikan kepada kesenian ini oleh karena dalam pementasannya setiap gerak pemain serta peralihan suasana dramatik diiringi oleh gamelan Gong (Gong Kebyar). Drama Gong diciptakan sekitar tahun 1966 oleh Anak Agung Gede Raka Payadnya dari desa Abianbase (Gianyar). Diakui oleh penciptanya bahwa Drama Gong yang diciptakan dengan memadukan unsur-unsur drama tari tradisional Bali seperti Sendratari, Arja, Prembon dan Sandiwara dimaksudkan sebagai sebuah prembon (seni campuran) modern.

Unsur-unsur teater modern yang dikawinkan dalam Drama Gong antara lain :

  • tata dekorasi
  • penggunaan sound efect
  • akting
  • tata busana

Karena dominasi dan pengaruh kesenian klasik atau tradisional Bali masih begitu kuat, maka semula Drama Gong disebut "drama klasik".

Jadi bisa dibayangin kan ? ya mirip-mirip gitu deh dengan pertunjukan ketoprak kalau di Jawa. Namun kebanyakan drama gong yang sekarang tuh lebih mengedepankan unsur lawaknya, dan ceritera kalau menurutku justru hanya sebagai pelengkapnya saja. Seperti ketoprak humornya RCTI dulu itu, tapi ketoprak humor pun jalinan ceritanya nampak nyata, disebut humor karena yang main bukan pemain ketoprak tapi artis yang memang gak bisa main ketoprak maka jadinya ya humor alias lucu. Tapi kalau drama gong memang kecenderungannya lawak sih. Tidak heran jika pemain drama gong yang laris tuh ya pelawaknya seperti Cendil, Lolak, dan lain sebagainya (habis yang nyantol dikepalaku hanya 2 itu, padahal masih banyak lho yang lain). Orang pasti berfikir kenapa sih aku yang belum 2 tahun di Bali ini kesannya dekat dengan drama gong. Padahal orang Bali asli belum tentu interest sama pertunjukan tradisional seperti ini. Ini tidak lain dan tidak bukan gara-gara suami kerjanya berhungan dengan kesenian macam drama gong, calonarang, janger, cenkblonk, dsb. Jadi ya sering dengar istilah itu, bahkan terpaksa mau ikutan nonton kalau dia merasa perlu untuk lihat hasil tayangannya. Huuh..


Kebetulan yang aku tonton kemarin tuh publikasinya heboh. Judulnya Bhima Rampak kalau gak salah, ya maaf kalau salah. Disebut-sebut sebagai pentas drama gong kolosal bahkan tercatat MURI (kalau gak salah) dengan jumlah pemain paling banyak, lebih dari 500 orang. dan karena banyaknya pemain itu banyak pula pelawaknya yang ikut mendukung acara. Jadi kesannya dari awal lawakan terus dan inti ceritanya dikit banget, gak nyampe 30 persen kali dari keseluruhan slot time acara. Musik pengiringnya ada lebih dari 2 set kelompok gamelan, dan musiknya pun modifikasi antara gamelan bali dengan musik modern seperti organ, gitar, bas, drum, dsb. Jadi ya kayak campursari-nya Didi Kempot gitu deh. Secara keseluhan ini tidak tradisional lagi jadinya. Bagian menarik 9tidak ada yang paling) dari pertunjukan ini adalah panggung ardha Chandra-nya aja yang megah, apalagi didukung dengan cahaya rembulan yang hari itu pascapurnama, Perfect decoration. Ini pengalaman pertamaku nonton pertunjukan drama gong secara live dan lain kali kalau ada yang ngajak lagi mending aku gak ikut aja, kalau dia nekat mau traktir beliin tiket mending beliin aku tiket bioskop aja, itu akan lebih membuat aku terkesan.

4 komentar:

  1. hmm..thx infonya jeng, jadi nambah wawasan ttg bali deh. sekaligus jadi makin pengen ke bali, pertama (dan sejauh ini terakhir) ke Bali adl perpisahan SMP, lebih dari 10 thn yg lalu, hiks...poor me :(

    BalasHapus
  2. Bulan Madu lagi ke Bali, tapi sabar..konsen dulu yah sama kehamilannya..

    BalasHapus
  3. postingan menarik, baru tahu juga kau kalau tahun lahir drama gong itu 1966 ibunya bernama Anak Agung Gede Raka Payadnya dari desa Abianbase (Gianyar). tentang ki bima rampak yang kita nonton kemarin, humor yang ditampilin lumyan segar namun tengah main belum nampak jalan ceritanya. besok malam minggu kalau istriku tersayang pingin nonton lagi, bli ajak ke art centre lagi.. mau..?? dari pada kita nonton film di bioskop yang nggak ada mutunya.. mending sewa dvd dan nonton sambil colek2-an di kamar berdua..?? mantap kan..???
    kalau dirimu mau, coba deh nonton cengblonk dari yang pertama sampai yang terakhir "sutha amerih bapa"... pasti dapat petuah yang bagus.../

    BalasHapus
  4. ok sayang.. nonton drama gongnya kayaknya jangan dulu deh, trus tentang nyewa dvd akan aku pikirkan, trus untuk cenkblonk kayaknya butuh penerjemah nih.. makasih dah kasih komentar. iloveyousomuch......

    BalasHapus