17 Jun 2009

Pembukaan PKB ke-31

Akhirnya PKB atau pesta kesenian Bali kembali digelar. Setelah tahun lalu hampir melewatkan kemeriahan PKB, tahun ini aku gak mau kecolongan lagi. Udah diniatkan untuk nonton acara pembukaan yang berlangsung pada sabtu 13 juni 2009. Untungnya hari sabtu jadi bisa pulang kantor lebih awal dan akhirnya dapat nonton acara pawai yang merupakan ritual pembukaan PKB. siap hunting berbekal kamera digital canon A55 (huksss..hiksss). I hope someday i have my own SLR. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, start untuk pawai pembukaan ini tidak dilakukan di lapangan Renon, melainkan di lapangan Puputan. Jelas aja aku senang banget karena kebetulan dekat rumah. Pawai ini ya semacam karnaval 17-an gitu deh hanya saja lebih meriah, lebih mewah, dan lebih Bali. Jelas saja karena yang ditampilkan melulu budaya Bali, selain tentunya juga ada peserta tamu dari propinsi lain bahkan dari Negara lain.

Yang ini dari jepang. Mereka menampilkan samurai dan ninja dengan berbagai gaya, termasuk anak-anak imut berbaju kimono dan sangat sadar kamera sehingga sangat memuaskan hasrat para fotografer. Mereka satunya kelompok peserta pawai yang sersenyum, tertawa sumringah dan melambai kepada penonton dan para hunter.

Pingin punya kemera seperti yang dipakai mas-nya yang itu, biar bisa puas huntingnya dan eksplorasi. Yang pojok kanan atas adalah penampil dari Jawa Timur. Gadis-gadis dengan kuda lumping, sayangnya gak dapat motret reognya.

Tema pawai kali ini adalah siklus kehidupan manusia. Maklum saja di Bali ini, setiap tahapan kehidupan manusia pasti mengandung makna dan punya simbolisasi khusus. Berbagai uparaca adat juga diadakan untuk memperingati setiap tahap yang dilalui oleh manusia. Mulai dari kelahiran, 3 bulan, 7 bulan, masa kanak-kanak, remaja, dewasa, masa tua, hingga ketika meninggal dunia. Pawai dikuti oleh semua kabupaten yang ada di Bali dan mereka menampilkan adat istiadat dan ciri khas daerah masing-masing berkaitan dengan upacara-upacara tersebut. Meski pada hakekatnya sama namun ada ciri-ciri tertentu yang berbeda-beda antara daerah satu dengan lainnya. Contohnya nih untuk masa dewasa yang biasanya diwakili dengan pernikahan. Tiap-tiap daerah memiliki adat pernikahan yang berbeda. Entah itu dari sarana uparaca, pakaian, dan lainnya.

Pakaian adat membuat cantik atau hanya yang cantik-cantik saja yang dipih buat ikut pawai ya. Habis gak ada yang jelek.

Bagi aku pawai kali ini tentu memberikan pengetahuan tersendiri. Maklum saja masih banyak hal yang belum aku ketahui tentang adat istiadat disini yang boleh dibilang kompleks dan rumit. Selain itu juga bisa tahu tentang Plebon Agung, Calonarang, barong, leak, celuluk, (kok mistik semua ya..) dsb.


Nah kalau yang ini penggambaran Pelebon Agung. Biasanya digunakan untuk pembakaran jenasah, bagi tokoh masyarakat yang dihormati dan berjasa besar bagi lingkungannya, misalnya Ida Pedanda atau Raja yang mempunyai pengaruh. Seperti halnya Pelebon Agung Raja Puri Ubud beberapa waktu lalu yang eventnya jadi pembicaraan dan buruan dunia internasional. ***kalau ada yang salah tolong direvisi dan kasih masukan ya..***



Malamnya nonton juga acara pembukaan di Arda Chandra, Art Center Bali. Acara pembukaan sesuai dengan tradisinya dimeriahkan dengan sendratari. Pembukaan dilakukan oleh SBY yang juga menyampaikan sambutan yang tidak ada hubungannya dengan kampanye. Ya iyalah..disini dia hadir kan memang sebagai presiden, bukan kandidat presiden. Tapi antusiasme masyarakat yang hadir di Art Center terhadap SBY sangat bagus. Gak tahu meriahnya karena SBY atau karena presiden hehehe..

Acara pembukaan sebelumnya diawali dengan Tari Janger, yang menjadi simbul penyambutan tamu. Dan berikutnya sendratari berjudul Bhisma Swarga yang inti ceritanya adalah tentang pengabdian seorang anak terhadap orang tuanya, meski kedua orang tua sudah meninggal dunia. Banyak nilai-nilai philosopis dan religius ada di dalamnya, namun berhubung bahasa yang digunakan oleh narrator tidak begitu aku pahami ya reka-reka aja artinya hehhe..


Tidak ada komentar:

Posting Komentar