17 Nov 2009

SIM Gak Pernah gak Ribet

Bikin SIM sepertinya tidak pernah tidak ribet. Memang sih sudah ada layanan pembuatan SIM keliling tapi aku belum berkesempatan untuk mencobanya. Dulu waktu belum ada rencana bikin SIM sering banget berpapasan dengan Van layanan pembuatan SIM keliling. Bahkan beberapa kali sempat melewati saat kendaraan besar itu lagi mangkal. Tapi gilirannya udah dekat masa aktif SIM ku eh malah gak pernah sekali pun melihatnya, apalagi tahu dimana dia ngetem. Memang gitu kali ya, kalau gak dibutuhin aja eh nongol terus dia, tapi gilirannya dicari malah gak nongol-nongol. Akhirnya dengan berat hati harus menyisihkan waktuku yang berharga (ups..) buat bikin SIM.

Rencana memang hanya mau perpanjang masa aktif aja tapi berhubung SIM ku terdahulu dikeluarkan oleh kepolisian Nganjuk, jadi gak bisa perpanjang di Denpasar. Ini ketiga kalinya aku bikin SIM sejak pertama kali bisa naik motor. Pertama waktu masih SMA kelas 2. Waktu itu pun aku udah cari SIM sendiri tanpa diantar dan tanpa calo. Masih dengan seragam sekolah harus ngantri sana-sini test ini itu buat bikin SIM pertamaku. Trus belum genap 5 tahun, SIM ku hilang gara-gara dompet kecopetan pas jamannya kuliah di Jogja. Seingatku sudah 4 kali aku kecopetan sejak kuliah di Jogja dan pada kecopetan yang terakhir aku benar-benar sial karena SIM ikut melayang. Karena diantara surat2 penting lainnya SIM adalah satu-satunya yang ngurusnya butuh ekstra tenaga dan biaya. Maka lahirlah SIM ku yang kedua. dan sekarang setelah 2 tahun di Bali, habislah masa aktifnya.

Dari rumah sih tenang-tenang aja karena kupikir gak akan butuh waktu lama buat perpanjang. Tapi nyampe di Poltabes Denpasar dikasih tahu bapak petugasnya kalau aku harus bikin baru. Alamak..itu berarti tambahan ngantri loket, tambahan test ini itu, dan tentunya tambahan biaya pula. Test kesehatan hanya di test buta warna sama periksa tekanan darah. Biaya Rp. 25.000,-. Trus harus nyari sertifikat mengendarai motor Rp 70.000,-. Trus bayar administrasi SIM di loket BRI Rp. 75.000,- untuk administrasi SIM, meliputi test teori, test parktek naek motor, foto, dan terakhir cetak SIM.

Biaya terakhir sih It's Okay..memang segitu kali ya tarif resminya dan masuknya pun ke loket bank. Tapi pembayaran test kesehatan dan sertifikat itu yang aku gak rela. Sertifikatnya pun harus tempuh di konter tempat kursus mengemudi yang berlokasi disekitar kantor polisi. Test kesehatannya juga bukan dari polri. Kalau testnya di puskesmas mungkin gratis, bahkan kalaupun bayar gak samapai Rp. 10.000. Trus sertifikat itu bisa dicari di tempat lain yang pastinya lebih murah. Tapi kenapa harus pakai sertifikat segala kalau nantinya dalam proses pembuatan SIM ada test teory dan praktek ??? Sepertinya mengada-ada banget, gak efektif, pemborosan uang rakyat banget.

Trus kenapa SIM ku gak bisa diperpanjang di Denpasar itu katanya pak Petugas yang aku tanyain karena sistem komputerisasi kepolisian antar daerah belum online. Jadi berkas lamaku ya masih di kepolisian Nganjuk, dan terpaksa harus bikin berkas baru di Denpasar, kecuali aku mau ke Nganjuk dan transfer berkasku dari sana buat bikin SIM di Denpasar. Bayangkan betapa ribetnya. Lebih mudah bikin berkas baru aja. Tapi dengan begitu otomatis akan ada double data yang tentunya akan menghasilkan penghitungan yang tidak valid ditingkat pusat dong. Ya mirip kasus pembuatan KTP. Bisa saja satu orang punya beberapa KTP yang dibuat dari daerah berbeda karena lagi-lagi disebabkan sistem yang masih tradisional. Hanya dengan nebeng KK orang lain trus lirik-lirik dikit jadi dah tuh KTP baru (dengan identitas baru), dan jauh lebih mudah karena ada jasa calo juga. Kalau situasinya seperti itu terus, kapan dong Indonesia bisa bener ???

Pemerintah harus lebih care lagi dengan masalah seperti ini sehingga gak ada lagi yang namanya double data, pemalsuan identitas, penduduk selundupan, maupun ketidak-sinkronan data pemilu karena adanya selisih jumlah pemilih terdaftar dan surat suara. Masih ingat kan dengan berbagai kasus teroris yang tertangkap dan ternyata mereka punya banyak identitas ?

Hmm..tapi dari hasil ribet-ribet juga akhirnya aku jadi tahu gimana caranya bisa meminimalisir pengeluaran buat biaya pembuatan SIM. ini sedikit tips buat yang mau bikin atau perpanjang SIM :
  1. Foto copy KTP siapin 1 lembar (kalau foto copy di foto copian di kantor polisi biayanya lebih mahal)
  2. Siapkan surat keterangan sehat dari dokter atau puskesmas (biasanya gratis) dari pada bikin keterangan sehat di loket yang ditunjuk polisi biayanya mahal banget.
  3. Untuk pembuatan SIM baru siapkan sertifikat mengendarai atau menyetir kendaraan dari tempat kursus mengemudi. Untuk perpanjangan SIM tidak perlu sertifikat.
  4. Lebih baik cari sendiri dan tidak usah menggunakan jasa calo. Perbaiki mentalitas bangsa ini mulai dari hal yang paling sederhana dan dari diri kita sendiri.


" Officialy Happy Riding with Driving License "

4 komentar:

  1. Memang gitu kali ya, kalau gak dibutuhin aja eh nongol terus dia, tapi gilirannya dicari malah gak nongol-nongol.

    >> kayaknya itu mah hukum alam yg berlaku untuk banyak hal, hehehe... sama kayak saya yg udah lamaaa bgt nungguin tukang lontong balap enak, lewat depan rumah. tp ya ga lewat-lewat deh tu lontong balap kalo ditunggu.

    *komen OOT*

    anyway, mudah2an besok kalo perpanjangan SIM A dan C, bisa lewat van SIM-Keliling itu dehhh.. ga kebayang ribetnya ngurus sendiri :(

    BalasHapus
  2. dari SIM kok ke Lontong balap mbak?? hehehe..BTW aku belum pernah tuh makan lontong balap :(

    BalasHapus
  3. Walopun sistemnya blom online, Setidaknya dari proses hingga biaya, gak seperti lima tahun lalu. dan gak sampe sejam untuk ngurus sendirian tanpa calo. Satu kemajuan yang patut dipertahankan...

    BalasHapus
  4. Tapi masih lebi OK di polres Nganjuk tuh hehhe.. Bukan dipertahankan kalau udah hari gini..harus terus ditingkatkan. kapannya pelayanan pemerintah dan kepolian untuk publik bisa sekeren pelayanan di bank?

    BalasHapus