22 Des 2009

Selamat Hari Ibu

Kemarin sempat terlibat perbincangan dengan sahabat tentang hari ibu. Aku sempat menanyakan apakah aku juga berhak untuk dirayakan pada hari ibu. Dia bilang tidak. Aku bertanya mengapa. Dia jawab karena aku belum jadi ibu. Lalu kapan aku bisa dirayakan pada hari ibu. Dia menjawab pendek, kalau udah jadi ibu. Sebenarnya obrolan yang biasa banget dan hanya terjadi selintas lalu. Tapi hari ini sebagian besar acara TV menampilkan tema hari ibu, aku jadi teringat kembali obrolan dengan sahabat kemarin. Jadi, apakah hari ibu hanya dirayakan oleh anak-anak untuk ibu mereka ? bagaimana dengan para perempuan yang tidak atau belum menjadi ibu ? Pertanyaan terakhir itulah yang terpikirkan oleh aku, dan mungkin juga oleh perempuan-perempuan lainnya yang tengah berjuang untuk menjadi ibu. Apakah kami hanya bisa memberikan ucapan selamat dan tidak berhak atas ucapan selamat hanya karena status belum berhasil menjadi ibu ? bagaimana dengan ibu dari para anak-anak asuh dan anak angkat ? mereka juga tidak melahirkan anak. Bagaimana dengan para ibu yang melahirkan anak-anak mereka tapi menyia-nyiakan anugrah itu? Apakah mereka berhak mendapat ucapan selamat hari ibu?

Meskipun belum berhasil, tapi selama ini kami tidak diam. Kami berjuang untuk bisa menjadi ibu. Bekerja keras untuk membiayai berbagai terapi dan kunjungan dokter. Belum lagi berbagai test dan pengobatan yang kadang sakit. Mengikuti berbagai tips untuk bisa cepat hamil yang kadang terasa tidak masuk akal. Mengikuti jadwal konsepsi yang dianjurkan dokter meski kadang situasi membuat tertekan tapi tetap harus dijalani. Bahkan ada yang karena penyakitnya harus menjalani operasi. Belum lagi perasaan kecewa dan putus asa yang ada kalanya menyeruak tapi tetap harus diredam dengan optimisme.

Sungguh, bagi yang mengalami dapat merasakan beratnya perjalanan itu. Semuanya hanya untuk satu tujuan saja, agar bisa hamil dan menjadi ibu bagi anak-anak mereka kelak.
Aku jadi berfikir, tidak harus hari ibu dirayakan untuk para ibu yang telah melahirkan anak. Semua wanita dengan sikap dan hasrat keibuannya berhak atas hari ibu.

Tulisan ini aku persembahkan untuk semua sahabat blogger yang saat ini sedang berjuang untuk mendapatkan momongan, dan untuk aku. Selamat Hari Ibu.. Pada waktuNya, Tuhan pasti akan menjawab semua perjuangan ini. Tetap OPTIMIS ya..





Note :

  • Mengapa ilustrasinya bunga Jepun ? aku pilih bunga jepun, selain ini bunga favoritku juga karena bunga ini simbul dari perjuangan. Bunga ini dapat tumbuh dalam kondisi lahan yang kering sekali pun. Bahkan hanya dengan batang yang hampir layu, dengan perawatan yang tepat dia dapat tumbuh subur dan menghasilkan bunga yang indah. Bunga Jepun dalam kondisi cuaca yang panas dan daun yang meranggas tetap dapat menghasilkan bunga yang harum dan rimbun. Selain itu, bentuknya yang indah dan aromanya yang harus membuat bunga ini selalu digunakan sebagai sarana upacara dan sembahyang di Bali. Jadi tidak ada salahnya kita mengambil ketegaran bunga jepun untuk menjadi pengemangat dalam usaha kita.
  • Oya aku juga belum mengucapkan selamat hari ibu buat IBu-ku, habis takut mewek, entar aja kalau dirumah baru telpon
  • Foto bunga jepun diambil dari balifotografer.net

17 Des 2009

Bunga Jepun

Aku sedang jatuh cinta sama yang ini...


Berharap dapat menciuminya setiap waktu..

12 Des 2009

Mitos agar Cepat Dapat Jodoh

Banyak mitos yang ada di masyarakat. Tidak hanya bagi orang timur seperti kita, orang barat pun memiliki berbagai mitor juga yang gak kalah aneh dan uniknya dengan yang ada di Negara kita. Setiap daerah sih biasanya punya mitos yang berbeda dengan daerah lainnya. Contohnya nih, kalau di Jawa “jika masakannya asin itu tandanya yang masak pingin menikah” sementara mitos di Bali yang berhubungan dengan asin adalah “kalau suka makanan asin itu tandanya suka ciuman (dicium apa mencium ya???)”. Sama-sama asin sih meskipun konteksnya berbeda. Yang jelas itu menunjukkan berbagai hal sederhana semacam itu masih banyak yang mempercayainya. Tidak peduli dari kalangan apa dan tingkat pendidikan apapun, kalau udah berhubungan dengan mitos semua orang pasti berfikir untuk berbuat jika ada yang bilang mitos tersebut berhubungan dengan sesuatu yang buruk. Semuanya memang kembali pada kepercayaan sih. Ada juga yang gak percaya dan lebih mengedepankan rasionalitas.

Salah satu mitos yang paling banyak menurut pengamatanku adalah yang berhubungan dengan jodoh. Misalnya gak boleh duduk di ambang pintu entar jauh jodoh. Tidak boleh makan di depan pintu entar susah dapat jodoh. Atau mitos lainnya, yaitu yang berhubungan dengan agar cepat dapat jodoh. Mitos ini biasanya popular dikalangan gadis-gadis di Jawa. Jika menghadiri pernikahan seseorang jangan lupa untuk ‘mencuri’ bunga melati atau kantil (cempaka) yang menghiasi sanggul pengantin. Jika bunga tersebut disimpan maka si ‘pencuri’ tadi niscaya akan cepet dapat jodoh atau cepat menyusul menikah. Yang harus dicatat adalah melati atau kantil tersebut harus dicuri a.k.a tidak boleh ketahuan sama pengantinnya. Sungguh tantangan besar. Gimana coba caranya mencuri hiasan sanggul pengantin ?

Tidak tahu dengan daerah lainnya, tapi yang jelas dulu aku dan teman-temanku percaya sekali dengan mitos itu. Setiap menghadiri pernikahan pasti berharap dapat kesempatan untuk mengambil sekuntum melati yang dipakai oleh pengantinnya. Ya meskipun hingga berpuluh pernikahan yang kau hadiri nyatanya tidak pernah berhasil sekali pun. Tapi bersyukur, akhirnya Tuhan mengirimkan jodohku tepat pada waktunya.

Ternyata, motos yang semula aku sangka hanya popular dikalangan cewek, popular juga lho dikalangan cowok. Kejadian yang tertangkap kamera ini terjadi sekitar 2 tahun lalu. Dan sekarang salah satu pencurinya sudah menemukan jodohnya dan menikah. Sementara pencuri lainnya sedang menunggu waktu yang tepat untuk menikah. Nggak tahu deh jodohnya datang karena hasil mencuri melati di sanggul pengantin atau bukan. Meskipun pengantinnya yang tahu tapi aksi mereka kan ketahuan sama fotografer hehehe…