16 Mar 2010

Nyepi-ku dari tahun ke tahun (2006 - 2010)

Suasana Nyepi di Jl. Sutomo Denpasar. Sepi dari kendaraan dan aktifitas jalanan lainnya. Foto diambil 16 Maret 2010 pukul 09.00 saat pulang sembahyang dari Pura Majelangu

Ini adalah Nyepi-ku yang ke-5. Dua Nyepi pertamaku aku jalani waktu di Jogja (2006 dan 2007). Kalau di Jogja Nyepi tidak serasa Nyepi karena umat Hindu adalah minoritas disana. Hari-hari tetap seperti hari libur biasa. Hanya saja bagi umat hindu, pada saat Nyepi biasanya mereka hanya diam di rumah, tidak menyalakan lampu selama 24 jam. Kalau menyalakan api aku gak tahu sih, mungkin tetap ada yang masak karena tidak semua umat Hindu menjalani puasa Nyepi. Tapi berhubung waktu itu aku kost dan tidak masak sendiri, jadinya puasa. Tapi semenjak pindah ke Bali aku baru tahu, meskipun Hindu di Jawa minoritas, tapi umat disana lebih menyelami Nyepi dan melaksanakan catur Brata Penyepian dengan lebih taat.

Nyepi tahun ketiga adalah Nyepi pertamaku di Bali (2008). Tahun pertama aku melihat ogoh-ogoh Bali (tahun sebelumnya melihat juga ogoh-ogoh Jogja). Aku dibuat terkesima dengan pawai ogoh-ogoh yang meriah. Kebetulan aku tinggal di jl. Sutomo jadi pawai ogoh-ogoh lewat dekat rumah. Seperti tahun-tahun sebelumnya aku menduga bahwa kejadiannya akan sama seperti Nyepi di Jogja. Diam diri dirumah (maksudnya aktivitas dilakukan hanya sebatas dilingkungan rumah dan tidak bepergian), dan tidak memasak karena puasa. Ternyata aku salah. Bangun pagi aku mendapati kesibukan seperti biasanya. Pagi-pagi ibu mertua menjalankan aktivitas dapur. Ketika aku bertanya kenapa masak? Beliau bilang karena tidak semua keluarga puasa jadi harus nyipin makanan. Hmmm.. keanehan bagiku. Yang lebih mengherankan lagi adalah saat ngobrol dengan Bapak mertua, bahwa pada hari Nyepi, di Pura Mejelangu (pura dekat rumah kami) ada orang jualan disana. Baca disini cerita lebih komplitnya. Bapak mertuaku bahkan menyuruh ibu mertua untuk mengantar aku ke pura, melihat aktivitas orang disana. Tapi berhubung aku ndak mau, karena meniatkan untuk Nyepi secara konsisten akhirnya nggak ke pura. Meskipun yang lain tidak puasa, tapi mereka tidak mentertawakan aku, dan mengatakan niat baik harus dilanjutkan. Sipp.. lalu bagaimana Nyepi tahun depan???

Nyepi tahun kedua (2009), aku lebih nyantai. Tetap meniatkan untuk puasa meskipun tidak 24 jam. Hanya sampai waktu sore saja. Kali ini tidak ada pawai ogoh-ogoh seperti tahun lalu karena pemerintah Bali tidak mengijinkan pembuatan ogoh-ogoh masal. Pada waktu itu berdekatan dengan pilkada jadi dikhawatirkan pawai dapat memicu huru-hara. Selain itu pembuatan ogoh-ogoh rawan money politik. Meskipun di malam pengrupukan tetap ada pawai dalam skala kecil, ogoh-ogoh kecil dibuat anak-anak kecil yang biayanya juga kecil. Dalam melaksanakan Nyepi, aku tetap melakukan aktifitas seperti biasa di lingkungan rumah seperti halnya tahun lalu tapi yang tahun ini lebih nyantai karena aku tahu Nyepi di keluarga-keluarga Bali tidak seseram yang aku bayangkan hehhee.. Bahkan ada juga beberapa saudara yang rumahnya terpisah gang datang ke rumah. Pada ngumpul, ngobrol, makan minum ngemil. Malam harinya ibu mengantar aku jalan-jalan ke Pura Majelangu. Tentu saja suasanya gelap gulita waktu menuju pura. Nyampai disana ternyata masih banyak pembeli yang nongkrong sambil makan dan minum, ngobrol. Beberapa aku lihat adalah warga cina dan wajah-wajah bukan orang Bali. Karena tinggal di Denpasar jadi masyarakatnya sudah berbaur merata dengan para pendatang dari luar Bali. Mereka yang tidak merayakan Nyepi dan mengetahui adat pura Majelangu di waktu Nyepi memanfaatkannya untuk beli makanan dan minuman.

Nyepi tahun ini (2010) lebih meriah lagi dirumah karena di manis Nyepi (sehari setelah Nyepi) bertepatan ada upacara odalan di rumah. Keluarga sibuk mempersiapkan odalan sejak 3-4 hari sebelumnya, tapi tetap saja ada persiapan upacara yang harus dilakukan pada saat Nyepi meskipun sedikit. Berhubung lagi persiapan odalan ibu mertua yang biasanya ke Pura bersama bapak mertua untuk mekidung tidak bisa pergi, bapak ke pura sendiri. Untuk menghaturkan banten akhirnya aku sama bli yang berangkat ke Pura. Pagi-pagi ikut sembahyang ke Pura Majelangu. Selesai sembahyang sempat belanja di warung dadakan dalam Pura yang merupakan tradisi Nyepi di Pura ini (kemungkinan hanya satu-satunya di Bali). Setelah itu pulang dan melanjutkan ikut bantu-bantu persiapan odalan. Lebih banyak lagi saudara yang datang untuk ikut membantu kami bikin dan pasang penjor, ngunggahin banten, dan menyiapakan banten pejati. Setelah itu waktu bebas. Ku sih lebih suka masuk kamar dan main komputer. Sementara yang lain masih pada asyik ngobrol dan bercanda-canda.

Aku merasakan justru lebih menikmati Nyepi tahun ini. Bukan karena tahun ini pawai ogoh-ogohnya meriah dan dahsyat, bukan karena aku bisa mengambil cuti 2 hari (pengrupukan dan manis Nyepi), bukan karena semua siaran TV di Bali mati (kecuali TV Kabel) jadi aku gak tergoda nonton TV, tapi karena banyak hal yang aku dapat kerjakan di hari Nyepi, itu saja. Jadi tidak mati gaya hehhee…

Anak-anak dengan santai melintas ditengah jalan yang sepi. bahkan mereka tidak jalan di trotoar lho, tapi benar-benar di tengah jalan. Ini juga pengalaman pertamaku jadi sensasinya luar biasa. Mereka baru pulang membeli snack yang dijual di dalam Pura. Kalau hari-hari biasa tidak mungkin bisa sesantai ini menyeberang jalan Sutomo Denpasar karena ini adalah salah satu ruas jalan sibuk di Denpasar.

Untuk menjaga keamanan sepanjang Nyepi, setiap Banjar dijaga oleh Pecalang. Ini adalah kelompok Pecalang di Balai Banjar Gerenceng. Oya, aku bisa bebas berkeliaran dan foto-foto karena masih memakai baju sembahyang, Baju kebaya komplit adat Bali. Tentunya juga ditemani suami tercinta jadi everything is under contol hehehe..


12 Mar 2010

Dampak Fogging

Akhirnya kesampaian juga niatan untuk bangun pagi. Bukan karena udah insaf atau udah rajin, tapi bangun pagi kali ini gara-gara ada fogging di Banjar tempat aku tinggal, Banjar Gerenceng, Denpasar. Fogging disini selalu dilakukan pada pagi hari, sekitar pukul 5 pagi. Meski tahun lalu aku sempat kena DB tapi kegiatan fogging ini benar-benar tidak bisa aku pahami. Ibaratnya menyergap komplotan teroris disuatu kampung dengan cara mengebom kampung tersebut. Terorisnya belum tentu mati tapi udah bisa dipastikan banyak warga kampung yang mati atau terluka kena bom. Fogging tidak memusnahkan nyamuk, tapi hanya memutuskan rantainya saja, alias hanya membunuh nyamuk dewasa. Kalau tidak diimbangi dengan 3M ya nyamuknya berkembang lagi.

Bahan kimia yang disemprotkan tentu bahan kimia berbahaya dan mengandung insektisida (mala-thion) yang tentunya mengganggu kesehatan manusia. Meskipun manusianya menyingkir pada saat fogging, namun molekul-molekus yang disemprotkan tidak menghilang begitu saja. Bisa menempel dimana saja, di makanan yang tidak ditutup, peralatan makan, dapur, baju, tempat tidur, jemuran, tanaman, air mandi, sikat gigit, sabun, dan sebagainya. Bukan tidak mungkin molekul tersebut bisa memasuki saluran cerna dan pernafasan manusia. Apalagi tidak semua warga memiliki kesadaran akan ancaman bahaya asap fogging. Banyak warga yang tidak menghindar dari asap fogging, tetep bertahan dilingkungan rumahnya yang sedang pekat tertutup asap insektisida. Kalau tidak begitu, banyak juga diantara mereka yang kembali ke rumahnya sebelum asap dan aroma insektisida benar-benar menghilang. Kalau seperti ini, tindakan fogging bukannya membunuh nyamuk tapi membunuh warga pelan-pelan.

Sesuai dengan artikel yang dimuat di SINI dan SITU, fogging banyak membawa dampak negatif seperti :

  • Banyak polutan (zat pencemar) yang dihasilkan oleh mesin fogging akibat insektisida yang disemprotkan dan pembakaran yang tidak sempurna.
  • Polutan yang mencemari makanan, air minum dan lingkungan rumah setelah pelaksanaan fogging dapat mengganggu kesehatan warga baik secara langsung maupun tidak langsung.
  • Fogging memerlukan biaya cukup besar (± Rp. 1.900.000 untuk fogging radius 200 meter) dan tenaga yang cukup banyak dan terlatih (tidak efisien). Sedangkan daya bunuhnya hanya 1 – 2 hari, setelah itu nyamuk akan menjadi banyak lagi dan akan mudah menularkan DBD.
  • Pelaksanaan fogging pada umumnya memberikan kepuasan semu pada warga, sehingga merasa aman dan tidak melakukan PSN (pemberantasan sarang nyamuk) lagi.
  • Kandungan mala-thion pada asap fogging dapat menyebabkan kelainan saluran cerna (gastrointestinal) dan bagi wanita hamil yang ter-papar malathion risiko kelai-nan gastrointestinal pada anaknya 2,5 kali lebih besar.
  • Paparan malation ini juga mengakibatkan Leukemia pada anak-anak, Aplastik anemia, gagal ginjal, dan defek pada bayi baru lahir. Bahkan juga berperan dalam kerusakan gen dan kromosom, kerusakan paru serta penurunan sistem kekebalan tubuh.
  • Penelitian juga menyimpulkan malation mempunyai peran terhadap 28 gangguan pada manusia, mulai dari gangguan gerakan sperma hingga kejadian hiperaktif pada anak.

Dengan dampak negatif seperti ini masihkan fogging dijadikan langkah untuk pencegahan DB ? aku rasa pelaksanaan 3M jauh lebih efektif dibandingkan hasil instant dari fogging ini.

** Note : Gambar dicomot dari SITU

4 Mar 2010

Hemat Penggunaan Kertas

Di dunia kerja apalagi bidang pendidikan, hal yang paling sulit dihindari adalah penggunaan kertas. Di kantorku, kampus New Media Denpasar misalnya. Mekipun sudah mulai diterapkan tindakan paperless dengan mengoptimalkan email dan messegger untuk komunikasi, penggunaan digital modul untuk mahasiswa, dan sebagainya namun rupanya kebisaan yang sudah mengakar agak menyulitkan terwujudnya hal tersebut. Mau tidak mau, beberapa kegiatan tetap mengharuskan penggunaan kertas untuk mengeprint file tertentu.

Menyadari bahwa penggunaan kertas yang berlebihan dapat mendukung rusaknya lingkungan, terlebih lagi juga pengeluaran yang besar, maka kantor kami menerapkan peraturan untuk menggunakan kembali kertas bekas yang masih bisa dipakai untuk beberapa keperluan sejak beberapa tahun terakhir. Bahkan dikantorku yang lama juga menerapkan peraturan yang sama. Jadi ini bukan hal baru tentunya. Upaya yang dilakukan adalah memanfaatkan kertas bekas yang halaman dibaliknya masih kosong dan masih bisa digunkan untuk print ulang.
Pada awalnya tentu saja hal ini memunculkan beberapa respon, ada yang mendukung, dan ada yang menganggap bahwa ini hanya trik perusahaan untuk berhemat, bahkan respon paling negatif adalah menganggap ini wujud sikap pelit perusahaan. Namun seiring berjalannya waktu, dengan sendirinya karyawan mulai terbiasa dan sadar bahwa tidakan ini harus dilakukan untuk membantu program hijau yang sekarang sudah ramai dibicarakan. Meskipun upaya untuk paperless belum sepenuhnya berhasil, tapi upaya untuk mengurangi sampah kertas bolehlah diacungi jempol.


Menggunakan kertas bekas untuk ngeprint ulang adalah hal sudah sangat umum, mungkin juga dilakukan oleh hampir semua institusi dan perkantoran. Agar hemat dalam penggunaan kertas dan dilain pihak tidak menimbulkan kerugian lainnya, ternyata ada beberapa hal yang harus dilakukan :
  • Pilihlah kertas bekas yang akan digunakan, singkirkan kertas yang memuat dokumen yang sifatnya rahasia dan tidak layak diketahui orang lain. Jika ada yang seperti ini sebaiknya dihancurkan saja jika memang sudah tidak digunakan.
  • Kelompokkan kertas sesuai jenisnya atau ukurannya.
  • Susun kertas dengan rapi, ratakan lipatan kertas sehingga permukaannya tetap rata untuk menjaga penampilan kertas agar tetap seperti baru dan agar tidak merusak printer.
  • Buang peperclip atau strepless yang menempel dikertas agar tidak merusak printer.
  • Hanya gunakan kertas bekas untuk mengeprint file internal, untuk surat dan file keluar tetap gunakan kertas baru.
  • Hati-hati dalam penggunaan printer karena printer tertentu peka terhadap kertas yang digunakan, dan kertas bekas dapat mengganggu kinerja printer. Kalau perlu awasi tarikan kertas oleh printer, jangan sampai printer menarik lebih dari 1 lembar kertas.
  • Cek lagi laci, loker, ataupun lemari karja. Jika ada file atau dokumen yang sudah tidak dipakai namunmasih bisa digunakan lagi kumpulkan bersama kertas-kertas yang lain dalam satu tempat sehingga memudahkan mencari kertas bekas pada saat mau mengeprint.
  • Kertas bekas bisa dipotong-potong dan digunakan sebagai notes untuk mencatat hal tertentu.

Nah siapa bilang mensukseskan program hijau harus dilakukan dengan kegiatan besar. Bahkan sambil berhemat pun bisa membantu menyelamatkan lingkungan. Memang sih perlu kesadaran untuk memulainya, dan kenapa kesadaran itu tidak kita tumbuhkan sekarang ?. Memang menggunakan kertas bekas untuk ngeprint butuh sedikit perjuangan ya, harus memilah kertas, membuang paperclip atau streplessnya, harus hati-hati ngeprint, dan kerepotan lainnya jika dibandingkan dengan menggunkan kertas baru. Namun hal tersebut tentu tidak sebanding dengan berapa ratus pohon yang dapat kita selamatkan. Mari lakukan sesuatu untuk BUMI.