27 Mei 2010

Rumah Makan M23 Drupadi Denpasar


Sejak aku bisa mandiri, berangkat dan pulang kantor sendiri dengan motor, bli sudah tidak berkewajiban lagi antar jemput. Ini lebih memudahkan kami berdua karena arah kantor kami saling berlawanan jadi kasihan bli, sering kecapekan di jalan. Selain itu aku juga lebih rileks berangkat kantornya, gak harus pagi-pagi agar bli tidak terlambat kantor. Pulangnya pun gak mesti nungguin yang seringnya malah bikin BT dan memicu perselisihan. Jadi acara antar jemputnya hanya saat pas aku lagi manja dan gak pingin naik motor sendiri, hehhehe...sok-sokan banget. Kalau gak gitu ya pas bli ada waktu libur atau pas dia lagi romantis dan pingin nganterin gitu. Nah saat mengantar jemput inilah biasanya pulangnya kami melanjutkan dengan acara cari makan malam di luar.

Jangan dibayangkan makan malam romantis ya karena secara style dan dompet kami bukan tipe pasangan seperti itu. Makan malam yang kami maksud ya makan bakso, mie, siomay, batagor, sate atau gulai, kalau gak gitu ya nasi campur atau nasi padang. Tergantung ide yang muncul saja. Selain itu referensinya juga tidak jauh-jauh. Hanya seputaran antara jarak kantorku di daerah Renon sampai tempat tinggal kami di Jl. Sutomo. Inilah yang membuat kami sering kesulitan mencari tempat makan yang sesuai mengacu pada selera, lokasi, dan tentu saja budget.

Salah satu tempat makan yang ada direferensi kami yaitu Rumah makan M23 di Jl. Drupadi. Menu yang disediakan disana adalah makanan khas lombok dan chinese food. Kombinasi yang tidak nyambung sebenarnya. Tapi bagi pengunjung lainnya mungkin ini bagus karena menawarkan banyak variasi makanan.

Kalau dari luar, rumah makan ini tidak begitu besar hanya saja tidak sulit kok dicari karena parkirannya selalu ramai apalagi disaat jam-jam makan. Begitu masuk ke dalam baru terasa kalau sebenarnya rumah makan ini cukup luas. Tempatnya nyaman di dibagi-bagi penempatan kursi dan meja makanannya. Ada yang gaya formal dengan meja makan dan kursi lengkap. Tersedia untuk kelompok kecil, pasangan, hingga meja makan besar yang bisa dipakai untuk acara makan rombangan. Dibagian lain ada tempat makan lesehan dengan gazebo-gazebo yang romantis. Kalau gak mau di gazebo, ada tempat lesehan juga namun dilantai dengan tempat duduk berupa bantal-bantal dilengkapi meja pendek. Pengunjungnya cukup ramai jadi kadang makanan yang kita pesan datangnya agak lama.

Karena kami buta tentang makanan khas Lombok, jadi saat itu kami pesan menu makan paket, ayam bakar pedas lengkap dengan nasi dan es teh. Harganya pun cukup murah hanya Rp. 14.000,- per paket. Variasi menunya banyak namun karena ini pertama kali kesini jadi gak mau coba-coba, selain belum tahu rasanya juga nama menunya terasa asing. Kecuali chinesse foodnya tentu. Karena sudah lapar dan takut pesanan lama datangnya kami pesan camilan ringan lumpia goreng. Secara umum makanannya enak, kecuali lumpianya. Meskipun kami beli menu paket potongan ayamnya gede banget, butuh perjuangan untuk menghabiskan porsinya. Kalau sambelnya??? hahha..ternyata sambel khas lombok tidak pas di lidahku.

Buat yang ingin makan bersama teman atau keluarga, tempat ini bisa jadi pilihan. Oya yang menarik, pelayan disini semua mengenakan baju khas Lombok gitu, dan aku sempat mendengar waktu mereka ngobrol memakai bahasa Lombok juga.

Tipsnya : pesan juga menu camilan ya, lumayan untuk mengganjal perut yang lapar sebelum pesanan datang, terutama jika Anda datang saat jam-jam makan siang atau makan malam.


26 Mei 2010

Monkey Forest Ubud

Sabtu, 22 juni 2010 adalah Hari Raya Kuningan bagi umat Hindu di Bali jadi aku dan bli bisa memanfaatkan waktu ini buat jalan-jalan. Meskipun menetap di Bali kami berdua sebenarnya bukan tipe orang yang suka jalan-jalan atau berpetualang. Jadi moment jalan-jalan sangat jarang dilakukan. Biasanya saat liburan lebih banyak kami habiskan dirumah atau sekedar jalan-jalan di sekitar Denpasar saja. Tapi hari libur ini kami sengaja meniatkan untuk memujudkan keinginan jalan-jalan. Sebenarnya ada 2 alternatif tempat, yaitu ke Ubud atau Bali Safari Marine Park. Setelah menimbang-nimbang anggaran, jarak, cuaca, dan kenyamanan jalan-jalan akhirnya Ubud yang dipilih. Lebih dikarenakan juga karena aku belum pernah ke Monkey Forest.

Jalan-jalan di Hari Raya baru kali ini kami rasakan karena keluarga bli semuanya di Denpasar jadi memang tidak pernah pulang kampung saat Hari Raya. Meskipun sudah menjelang siang jalanan tidak begitu ramai. Yang lewat kebanyakan adalah umat Hindu yang selesai atau hendak sembahyang ataupun silaturahmi, lengkap dengan baju adat Balinya. Barbagai tempat usaha dan perkantoran tutup. Rasanya agak aneh juga, orang lain pergi sembahyang tapi malah kami pergi jalan-jalan. Ini dikarenakan kami berdua hanya sembahyang dirumah dan belum diperbolehkan sembahyang di Pura karena keluarga masih dalam situasi sebel (duka cita).

Sampai di Ubud masih agak sepi, hanya beberapa saja berseliweran turis-turis disana. Sempat berkeliling seputar Ubud sebelum akhirnya ke Monkey Forest. Tempatnya ternyata menyenangkan. Jadi semacam hutan tapi sudah diatur sedemikian rupa sehingga menyerupai taman namun rindang karena dipenuhi pohon-pohon besar. Didalam areal ini juga terdapat beberapa Pura yang menjadi tempat sembahyang umat Hindu.

Monyet-monyet dengan bebas berkeliaran diseputar sana. Sebelumnya bli sudah memperingatkan agar aku hati-hati terhadap para monyet karena mereka suka usil, apalagi jika kita membawa makanan atau barang-barang ditangan, termasuk kamera. Memang sih monyetnya banyak dan ada yang usil tapi secara umum monyetnya baik-baik. Mereka tidak mengganggu atau merasa terganggu meskipun banyak pengunjung berseliweran atau bahkan berhenti untuk mengamati atau mengambil gambar. Namun memang harus hati-hati kalau kita mengambil posisi duduk, seperti yang aku alami. Saat menemukan spot yang bagus untuk foto dan aku duduk beberapa monyet langsung mendekat dan nempel-nempel karena mengira aku akan memberikan makan ke mereka.

Monkey forest tidak melulu monyet. Menurutku justru konsepnya lebih ke tamannya yang sungguh representatif untuk jalan-jalan bersama keluarga dan menikmati oksigen segar yang dihasilkan oleh pepohonan besar disana. Jadi kalau ke Ubud jangan lupa untuk mampir kesini mengunjungi saudara tua ya. Harga tiket masuknya hanya Rp 20.000,- saja.

11 Mei 2010

Galungan Lagi

Yuhuu…Galungan lagi, hari raya lagi.. Kok cepet banget ? ya iya lah..galungan dirayakan setiap 6 bulan sekali menurut hitungan kalender Bali, jadi ada 2 kali dalam 1 tahun. Posting tentang Galungan bisa dilihat disini juga.

Wah enak dong jadi orang Bali, sering libur hari raya ? ya enak, apalagi kalau pegawai negeri. Selain libur-libur nasional, setiap hari raya Bali liburnya juga komplit. Buat pegawai swasta belum tentu libur, seperti kantorku, tetep saja masuk di hari raya. Padahal jananan udah pada sepi. Orang-orang udah pada pulang kampung, sekolah dan perkantoran libur, toko-toko dan pusat perbelanjaan libur kalaupun buka paling setengah hari. Dan kalau kami berangkat kantor (pengalaman aku dan teman-teman kantorku) selalu diiringi pandangan dan pertanyaan heran dari orang-orang. Hah..yang bener, emang hari raya gini masuk kantor? Kantor apa sih? Hahahha...swear ini bener-benar terjadi. Dan buat Anda ketahui, kami tidak bekerja di media, rumah sakit, hotel, dinas pariwisata, travel agent, apotik, bank, ataupun kantor-kantor pelayanan umum.

Sering hari raya berarti sering dapat THR dong? Gila aja, THR kok sering, ini kantor atau dinas sosial. Tentu saja sama dengan daerah lainnya, meskipun mayoritas karyawan di Bali adalah Hindu yang hari rayanya sering, THR kami ya cuma 1 kali GP dalam setahun (atau sesuai dengan masa kerja dan kebijakan perusahaan/instansi). Nah masalah penyerahannya bagaimana, itu tergantung kebijakan masing-masing perusahaan/instansi. Contohnya nih, dikantorku THR diberikan 1 tahun sekali setiap menjelang hari raya Nyepi. Sementara dikantor suami diberikan 2 kali setahun setiap menjelang hari raya Galungan jadi tiap THR hanya mendapat setengahnya. Tuh kan, tetep aja sama jatahnya.

Sering hari raya berarti sering dapat angpao dong? Ya iyalah...anak-anak seneng banget. Udah sekolah sering libur, sering dapat jatah hari raya dari orang tua atau saudara yang lain, makanan berlimpah, dan lain-lain. Tapi buat orang tua itu semua sama dengan pengeluaran ekstra yang harus disiapkan secara reguler. Hmmm.... Tapi gimana pun yang namanya hari raya ya harus tetep disambut dengan ketulusan dan suka cita.

Trus apa lagi ya...
Kalau Galungan yang aku lihat itu :
  • Bali meriah karena setiap rumah memasang penjor (hiasan janur yang dipasang disetiap gerbang)
  • Jalan dekat-dekar pasar macet semenjak beberapa hari menjelangnya. Teruatama terasa banget buat aku yang tinggal dekat pasar Badung yang merupakan pasar tradisional terbesar di Bali. Masyarakat tumpah ruah kesana berbelanja persiapan hari raya. Bagusnya untuk kali ini polisi lalu lintas antisipasi dengan memberlakukan sistem buka tutup di sekitar perempatan Jl. Gajah Mada , Jl. Thamrin, dan Jl. Sutomo jadi tidak sampai terjadi stuck kendaraan di dekat pasar Badung.
  • Orang Bali juga terbiasa belanja dimenit-menit terakhir, jadi sehari seblum hari raya jangan deh pergi ke pasar atau supermarket biar tidak terlibat kerusuhan.
  • Dirumah para ibu-ibu bekerja siang malam menyiapkan banten (lagi dan lagi), dan aku dari dulu belum bisa apa-apa karena malas belajar. Jadi aku berharap selagi aku belum belajar ini semoga ibu mertua dan bibi-bibi yang lain selalu sehat wal alfiat jasmani dan rohani, amiin...
  • Bikin lawar. Mebat yang ini, dikeluargaku biasanya juga dilakukan tiap Galungan. Tapi bukan agenda wajib sih. Kalau lagi mood bikin ya bikin, kalau lagi gak mood ya gak bikin. Selain mood juga sangat tergantung ketebalan dompet.
  • Otonan-ku

Selamat Hari Raya Galungan ya buat teman-teman dan saudara yang merayakan, minggu depan, Selamat Hari Raya Kuningan juga...

6 Mei 2010

Mebat

Salah satu tradisi unik di Bali dan aku suka adalah mebat. Bukan karena aku suka untuk melakukannya, bahkan aku tidak bisa sama sekali, tapi karena produk yang dihasilkan oleh kegiatan mebat itu. Lagi-lagi ini soal makanan. Mebat sebenarnya adalah aktifitas merajang atau mengiris sampai halus. Dalam konteks ini yang dirajang dan diiris adalah bumbu dan rempah-rempah untuk memasak.. Mebat dilakukan oleh kaum lelaki Bali dalam rangka membuat hidangan dalam sebuah kegiatan atau upacara tertentu.


Masakan yang dihasilkan adalah masakan khas Bali seperti lawar, jukut ares (sayur batang pisang), jukut daun belimbing, jukut nyuh (sayur khas Bali yang menggunakan kelapa sebagai bahan utamanya). Aku sendiri sangat menyukai lawar dan sayur daun belimbing. Kalau jukut ares aku tidak begitu suka. Kalau lihat jukut ares aku teringat dengan batang-batang pisang yang dulu waktu kecil aku gunakan untuk main masak-masakan, tidak untuk dimakan. Tapi bagi orang Bali, jukut ares adalah makanan paling enak. Bahkan keluargaku di Jawa tertawa waktu aku cerita kalau makanan favorit di Bali adalah sayur ares. Semua makanan tadi dihidangkan saat makan bersama selesai pelaksanaan upacara, ditambah menu babi guling khas Bali dan ayam panggang.

Ini dia yang aku bilang unik tadi, semua makanan khas Bali itu dibuat oleh para kaum pria. Mulai dari mengupas dan membersihkan bumbu, membersihkan bahan-bahan yang akan dimasak, membuat bumbu, proses memasaknya hingga finishingnya. Bagi lelaki Bali, ketrampilan mebat itu mutlak karena bisa menjadi salah satu kegiatan untuk bersosialisasi. Memiliki ketrampilan menggunakan pusau besar untuk mengiris rempah-rempah sama pentingnya dengan ketrampilan memainkan gamelan atau menarik-ulur benang layangan.

Mebat sebenarnya sudah jarang dilakukan, terutama bagi masyarakat kota yang lebih menyukai kepraktisan dengan memesan hidangan katering. Namun dalam kondisi tertentu mebat tetap dilakukan sebagai-bagian dari tradisi masyarakat Bali. Terutama dalam hal menjalin keakraban diantara para lelaki. Seperti halnya perempuan kalau lagi ngumpul, ternyata lelaki juga suka ngobrol dan bersenda-gurau. Dilingkungan keluargaku, mebat masih sering dilakukan. Terutama saat ada odalan di rumah selain itu biasanya juga pada hari raya Galungan.

Lalu ngapain saja kaum perempuannya kalau laki-lakinya yang masak? Jangan salah, perempuan Bali sudah sangat disibukkan dengan segala macam banten dan perlengkapan upacara lainnya. Selain itu, perempuan tetap juga harus stanby untuk memenuhi kebutuhan para bapak-bapak ini. Mulai dari mengawasi pasokan kopi dan jajanan agar tidak telat, mengambilkan bumbu-bumbu pelengkap yang diperlukan, menyiapkan peralatan memasaknya hingga membersihkan bekas-bekas peralatan yang dipakai untuk kegiatan mebat. Justru kalau aku amati dengan ada kegiatan mebat malah menambah pekerjaan perempuan. Karena mereka, para pria maunya hanya memasak saja dan tidak menghiraukan bekas peralatan yang selesai dipakai. Lalu harus gimana ? namanya juga tradisi lelaki.


Ngaturang Ayah


Kalau di Jawa ada kegiatan yang disebut gotong-royong, yaitu sekumpulan orang yang secara bersama-sama bekerjasama untuk menyelesaikan pekerjaan dengan begitu pekerjaan berat pun dapat terasa lebih ringan dan akan lebih cepat terselesaikan. Kalau di Bali, gotong royong tercermin dalam kegiatan yang disebut Ngayah atau Nguopin. Memberikan bantuan dalam bentuk tenaga untuk membantu menyelesaikan segala pekerjaan. Ngayah atau nguopin keduanya memiliki makna yang kurang lebih sama, hanya saja istilah Nguopin biasa digunakan dalam skala kegiatan yang lebih kecil, misalnya dilingkungan rumah atau keluarga. Sementara istilah ngayah digunakan untuk kegiatan dengan skala yang lebih besar. Salah satu contohnya adalah saat ada karya (upacara) di pura atau lingkungan tertentu. ngayah atau nguopin dilakukan oleh siapa saja, baik oleh mereka yang memang ’diwajibkan’ maupun dilakukan secara suka rela. Biasanya rutin dilakukan saat persiapan upacara, saat upacara berlangsung, maupun setelah upacara berakhir. Sudah menjadi tradisi di Bali, dalam setiap upacara yang dilakukan selalu menggunakan banyak sekali sarana upacara. Baik yang wujudnya besar maupun yang sangat rumit dan detail, sehingga dibutuhkan dana yang besar dan juga tenaga yang banyak untuk mempersiapkannya. Disinilah kegiatan ngayah itu sangat dibutuhkan untuk menuntaskan segala persiapan yang dibutuhkan.

Dalam lingkungan keluarga, kegiatan nguopin misalnya ikut membantu saat ada upacara odalan atau rainan (hari raya). Dilingkungan banjar, biasanya bagi mereka yang sudah menikah juga mendapat kewajiban untuk ngayah saat ada upacara atau kegiatan banjar, termasuk juga saat ada tetangga yang meninggal (ngaben) ataupun upacara (odalan/toyan) di pura, dsb. Sebagai warga baru dalam lingkungan masyarakat Bali, aku banyak sekali mendapat pengetahuan dan ketrampilan baru tentang adat Bali melalui kegiatan ngayah atau nguopin ini. Dapat bergaul dan berkenalan lebih dekat dengan warga banjar lainnya, belajar mejejahitan, mengenal berbagai sarana dan upakara untuk upacara, dan berbagai keperluan adat lainnya.


Ini adalah salah satu contoh kegiatan Ngaturang ayah (ngayah) yang dilakukan oleh masyarakat pada saat persiapan Odalan di Pura Batur. Kaum pria dan wanita masing-masing mengerjakan pekerjan sesuai dengan bidang yang mereka kuasai. Ibu-ibu biasanya mengerjakan pekerjaan mejejahitan atau mernagkai janur untuk dibuat menjadi perlengkapan atau sarana upacara sementara yang pria mengerjaan pekerjaan yang lebih membutuhkan tenaga dan otot. Pekerjaan lainnya yang juga bisa dikerjakan adalah membantu membersihkan pura ataupun membantu keperluan umat Hindu lainnya yang bersembahyang disana. Dalam sebuah karya besar di pura yang besar, tidak sedikit pula instansi baik swasta atau pemerintah mengerahkan pegawainya untuk ambil bagian dalam kegiatan ngayah.


Saling mebantu, bekerja sama, gotong royong, ngayah, nguopin, atau apaun istilahnya, sudah menjadi budaya dalam masyarakat Indonesia. Inilah warisan nenek moyang harus terus dipertahankan. Jangan samapai luntur oleh munculnya egoisme dan individualisme karena kita adalah makhluk sosial.

* Foto diambil di Pura Batur beberapa hari menjelang Odalan.

5 Mei 2010

Perjalanan Mudik ke Nganjuk


Tanggal 24 April sampai 1 Mei 2010 adalah agenda pulang kampung ke Nganjuk dalam rangka menghadiri acara pernikahan adikku, Arik dan Lukman. Rencana awalnya sih hanya aku berdua dengan bli saja, naik bis seperti yang biasa kami lakukan. Tapi ternyata keluarga Bali pada mau ikut ke Nganjuk juga. Dari rencana hanya berdua, akhirnya rombongan membengkak menjadi sekitar 18 orang dan kami menggunakan 3 mobil. Berangkat dari Bali hari sabtu 24 Mei jam 06.00 WITA dengan perkiraan jam 18.00 WIB nyampe di Nganjuk.

Boleh dibilang ini perjalanan daratku pertama dari Bali ke Nganjuk yang kami tempuh pada pagi dan siang hari. Biasanya perjalanan darat dari Bali berangkat sore atau malam hari untuk menghindari panas dan macet. Tapi berhubung keluarga ingin menikmati pemandangan selama perjalanan, jadinya pagi-pagi kita baru berangkat. Perjalanan Denpasar – Gilimanuk ditempuh sekitar 3 jam, dengan kecapatan mobil rata-rata 70-80 km/jam dan sekali isi bensin. Pemandangan kiri-kanan jalan selama perjalanan biasa saja karena jalur ini paling sering aku lalui. Biasanya juga kalau naik bis ke Jawa dari terimanal Ubung berangkat jam 15.00 WITA jadi sampai Gilimanuk memang masih sore jadi masih bisa menikmati pemandangan.

Sampai Gilimanuk pukul 09.00 WITA dan suasana masih sepi. Beruntung banget sudah ada kapal yang merapat jadi rombongan kami tinggal naik, gak perlu ngantri. Hanya menunggu sebentar kapal langsung berangkat. Laut sangat tenang dan angin pun hanya bertiup semilir jadi aku bisa menikmati pemandangan di tepi-tepi kapal sambil menikmati lalu-lintas selat Bali. Tidak samapai 1 jam, kapal merapat di pelabuhan Ketapang, dan perjalanan panjang lewat darat pun dimulai.

Pengalaman pertama bagiku menyusuri bagian timur pulau Jawa dan menikmati pemandangannya. Rombongan sempat berhenti sebentar untuk menikmati makan pagi yang terlambat karena hari sudah menjelang siang. Melalui Situbondo kami sangat terhibur karena bisa menikmati perjalanan tepi laut. Laut memang bukan hal baru bagi orang Bali, tapi menyusuri jalan raya yang hanya terpisahkan oleh pagar sebetis dengan laut Jawa yang memebentang luas adalah pengalaman yang seru. Biasanya aku selalu tertidur di mobil atau bis karena perjalanan malam hari tapi kali ini aku jadi tahu kalau jalur yang aku lewati selama ini berada dibibir pantai. Siang hari rombongan berhenti di dekat PLTU Poiton untuk istirahat dan menikmati kopi panas dari warung-warung yang berderet disana. Ini adalah lokasi langganan untuk istirahat saat menempuh perjalanan darat Jawa – Bali.

Probolingo menjadi kabupaten terpanjang yang kami lewati. Rasanya perjalanan di Probolinggo tidak ada ujungnya. Mulai dari mata ngantuk, tidur, melek, mampir POM Bensin, ngemil, tidur, melek lagi eh masih di Probolinggo. Capek, tidur, mimpi, melek lagi masih juga di Probolinggo..waduhhhh...

Perjalanan paling rumit untuk dihapalkan adalah saat sampai di Pasuruan. Aku sama Bli memang punya misi khusus untuk menghapal rute Bali-Nganjuk. Secara umum bukan hal sulit karena jalan yang dilalui adalah jalur utama tapi Pak Amin, sopir yang mengantar kami hapal jalanan di Jawa dan tahu jalur-jalur tembusan yang bisa mempersingkat perjalanan. Tapi di Pasuruan kami agak blank mengikuti rute tembusannya yang menuju Mojosari lalu Mojokerto.

Setelah melewati Mojokerto, perjalanan ke Nganjuk jadi terasa lebih dekat karen atinggal melewati Jombang dan Kertosano maka samapailah kami di rumahku di Nganjuk. Nyampai sana hari masih sore, tepat seperti perkiraan yaitu pukul 18.00 WIB jadi kami masih bisa menghadiri acara seserahan yang dilakukan pada malam harinya. Ternyata pak Amin benar, kalau tahu jalurnya, Denpasar – Nganjuk hanya butuh waktu 12 jam saja. Padahal kalau kami menggunakan bis, perjalanan bisa sampai 15 - 18 jam. Perjalanan anti mabuk darat yang sangat menyenangkan hehehhe...