6 Mei 2010

Ngaturang Ayah


Kalau di Jawa ada kegiatan yang disebut gotong-royong, yaitu sekumpulan orang yang secara bersama-sama bekerjasama untuk menyelesaikan pekerjaan dengan begitu pekerjaan berat pun dapat terasa lebih ringan dan akan lebih cepat terselesaikan. Kalau di Bali, gotong royong tercermin dalam kegiatan yang disebut Ngayah atau Nguopin. Memberikan bantuan dalam bentuk tenaga untuk membantu menyelesaikan segala pekerjaan. Ngayah atau nguopin keduanya memiliki makna yang kurang lebih sama, hanya saja istilah Nguopin biasa digunakan dalam skala kegiatan yang lebih kecil, misalnya dilingkungan rumah atau keluarga. Sementara istilah ngayah digunakan untuk kegiatan dengan skala yang lebih besar. Salah satu contohnya adalah saat ada karya (upacara) di pura atau lingkungan tertentu. ngayah atau nguopin dilakukan oleh siapa saja, baik oleh mereka yang memang ’diwajibkan’ maupun dilakukan secara suka rela. Biasanya rutin dilakukan saat persiapan upacara, saat upacara berlangsung, maupun setelah upacara berakhir. Sudah menjadi tradisi di Bali, dalam setiap upacara yang dilakukan selalu menggunakan banyak sekali sarana upacara. Baik yang wujudnya besar maupun yang sangat rumit dan detail, sehingga dibutuhkan dana yang besar dan juga tenaga yang banyak untuk mempersiapkannya. Disinilah kegiatan ngayah itu sangat dibutuhkan untuk menuntaskan segala persiapan yang dibutuhkan.

Dalam lingkungan keluarga, kegiatan nguopin misalnya ikut membantu saat ada upacara odalan atau rainan (hari raya). Dilingkungan banjar, biasanya bagi mereka yang sudah menikah juga mendapat kewajiban untuk ngayah saat ada upacara atau kegiatan banjar, termasuk juga saat ada tetangga yang meninggal (ngaben) ataupun upacara (odalan/toyan) di pura, dsb. Sebagai warga baru dalam lingkungan masyarakat Bali, aku banyak sekali mendapat pengetahuan dan ketrampilan baru tentang adat Bali melalui kegiatan ngayah atau nguopin ini. Dapat bergaul dan berkenalan lebih dekat dengan warga banjar lainnya, belajar mejejahitan, mengenal berbagai sarana dan upakara untuk upacara, dan berbagai keperluan adat lainnya.


Ini adalah salah satu contoh kegiatan Ngaturang ayah (ngayah) yang dilakukan oleh masyarakat pada saat persiapan Odalan di Pura Batur. Kaum pria dan wanita masing-masing mengerjakan pekerjan sesuai dengan bidang yang mereka kuasai. Ibu-ibu biasanya mengerjakan pekerjaan mejejahitan atau mernagkai janur untuk dibuat menjadi perlengkapan atau sarana upacara sementara yang pria mengerjaan pekerjaan yang lebih membutuhkan tenaga dan otot. Pekerjaan lainnya yang juga bisa dikerjakan adalah membantu membersihkan pura ataupun membantu keperluan umat Hindu lainnya yang bersembahyang disana. Dalam sebuah karya besar di pura yang besar, tidak sedikit pula instansi baik swasta atau pemerintah mengerahkan pegawainya untuk ambil bagian dalam kegiatan ngayah.


Saling mebantu, bekerja sama, gotong royong, ngayah, nguopin, atau apaun istilahnya, sudah menjadi budaya dalam masyarakat Indonesia. Inilah warisan nenek moyang harus terus dipertahankan. Jangan samapai luntur oleh munculnya egoisme dan individualisme karena kita adalah makhluk sosial.

* Foto diambil di Pura Batur beberapa hari menjelang Odalan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar