8 Jun 2010

Benarkah Film Little Krishna Tayangan untuk Anak-Anak?


Film animasi Little Krishna sedang banyak diminati akhir-akhir. Saat ini ditayangkan oleh sebuah stasiun televisi swasta Nasional meskipun dengan episode yang sangat terbatas. Little Krishna mengisahkan kehidupan masa kecil Krishna yang merupakan inkarnasi atau personalitas dari Tuhan Yang Maha Esa. Jadi dapat disimpulkan film ini masuk dalam kategori religius meskipun dikemas dalam nuansa menghibur. Unsur pendidikan agama, khususnya Hindu tersirat jelas di dalamnya.

Film Little Krishna diwujudkan dalam bentuk animasi yang sangat menarik dengan gambar-gambar indah. Dilihat dari kemasannya, jelas terlihat film ini ditujukan untuk penonton anak-anak tentunya dengan maksud mengajarkan nilai-nilai kebajikan dan religiusitas sedini mungkin. Namun benarkah film ini sesuai jika dimasukkan dalam kategori film anak-anak atau segala usia ? Menurut pendapatku pribadi justru sangat tidak sesuai.

Meskipun mengambil karakter Krishna dimasa kecil, film ini mengandung muatan filosofi yang sangat berat dan dalam, yang tentunya tertalu sulit untuk dipahami oleh nalar anak-anak. Dalam pandanganku sebagai seorang yang baru belajar tentang Hindu, anak-anak sebaiknya tidak dibiarkan sendirian dalam menonton film ini, harus ada bimbingan dari orang tua, sehingga tayangan yang seharusnya mendidik ini tidak berujung menyesatkan bagi mereka.

Filosofi-filosofi moral yang berat menghiasi hampir seluruh tayangan ini. Baik itu dalam bentuk dialog, narasi, maupun adegan di dalamnya. Disana dikisahkan, masa kecil Krishna penuh kenakalan dan sikap usil kanak-kanak, namun dilain pihak meskipun nakal tapi tetap disanjung dan dicintai oleh siapa saja. Krishna kecil juga senang mencuri susu dan mentega untuk dinikmati bersama teman-temannya. Hal-hal seperti ini adalah contoh kejadian dalam film yang membutuhkan penjelasan orang tua kepada anak-anaknya.

Pada episode Krishna mengangkat bukit Govadharna misalnya, disana ada adegan Krishna menyuruh warga Vrindavan agar lebih menghormati (menyembah) bukit Govardhana dari pada Dewa Indra. Ajaran moralnya sangat dalam, dan tanpa penjelasan dari orang dewasa, anak-anak dikhawatirkan akan mengintepretasikan film ini secara mentah yang justru akan menyesatkan mereka. Padahal pesan moral sebenarnya adalah Krishna mengingatkan Indra, bahwa kekuasaannya menurunkan hujan itu adalah karena kekuatan yang diberikan Tuhan jadi tidak patut untuk disombongkan.

Adegan lain yang aku sangat ingat yaitu saat Brahma menculik anak-anak gembala dan anak-anak sapi. Dialog antara Krishna dan Brahma begitu sulit untuk dipahami anak-anak tanpa pengetahuan dan kebijaksanaan orang dewasa. Aku sendiri, meskipun sudah dewasa dan bernalar, tapi termasuk baru dalam belajar Hindu jadi setiap menonton film ini membutuhkan pendampingan dari Bli. Jadi aku bisa mendapat penjelasan darinya mengapa Brahma meragukan bahwa anak kecil bertubuh biru itu adalah Wisnu, mengapa Brahma harus menculik para gembala dan anak sapi, mengapa Krishna memilih meng-ekspansi dirinya untuk menggantikan para gembala dan anak sapi yang di culik, mengapa ada banyak Brahma yang didatangkan oleh Krishna dari seluruh jagad raya, dan masih banyak lagi. Dan aku sendiri sebenarnya kasihan juga sama bli yang harus dengan sabar menjawab pertanyaan-pertanyan awamku. Dalam episode ini ada kalimat Krishna kepada Brahma yang sangat aku suka meskipun maknanya terlalu dalam untuk dapat aku resapi.

Ketahuilah bahwa sesungguhnya Aku tidak bisa dipahami hanya dengan pengetahuan dan meditasi. Aku hanya bisa dipahami dengan Cinta dan ketaatan.

Secara keseluruhan film ini sangat bagus, mendidik, penuh ajaran moral dan filosofi tingkat tinggi. Anak-anak akan mendapatkan banyak hiburan dan pendidikan dari film ini namun harus disertai dengan bimbingan dari orang tua. Dan untuk orang dewasa film ini sangat layak untuk dinikmati, sangat cerdas dan syarat nilai-nilai kehidupan.

Kejelian orang tua dalam memilih tayangan acara televisi dan pemahaman terhadap kandungan tayangan untuk anak-anak mutlak diperlukan. Mari menjadi penonton yang cerdas.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar