31 Jul 2010

Kabar dari Batam


Aku sedang memulai menulis jurnal di ruangan saat telponku berdering pagi itu. Nomor dari Bandung, salah satu dari lima mahasiswaku yangpagi itu sedang dalam perjalanan ke Batam. Setelah melalui seleksi ketat, akhirnya mereka mendapatkan kesempatan untuk bisa bergabung dengan Infinite Frameworks Studio Batam, yang telah membuat film animasi Meraih Mimpi. Kesempatan yang paling diidamkan para new beginner animator di negeri ini. Meskipun satu bulan pertama status mereka masih sebagai peserta trainning. Namun aku yakin mereka mampu untuk melewatinya dengan bekal kompetensi hardskill, softskill, dan yang utama adalah semangat yang menyala bahkan semenjak pertama mereka membaca pengumuman lowongan IFW yang aku bawakan ke kelas.

"Halo mbak, kami lagi transit di Sukarno-Hatta. Kangen nih sama mbak Inten" ucap dari sebrang telepon. Itu suara Bandung. Sapaan yang mau gak mau aku sambut dengan gelak tawa. Tentu aku tertawa mendengar ungkapan kangen itu. Pertama karena mereka belum genap 3 jam meninggalkan Bali. Kedua tentu karena aku tidak menyangka bisa-bisanya mereka kangen sama pembimbing cerewet seperti aku. Kupikir datangnya kesempatan pergi ke Batam ini mereka jadikan alasan untuk mengakhiri mimpi buruk mereka menghadapi aku hampir setiap hari di kampus. Obrolan berikutnya adalah bergantian dari orang ke orang diantara mereka berlima dan tentu saja selama obrolan tidak hentinya aku mewanti-wanti tentang banyak hal.

Seminggu Berlalu dan Bandung kembali menelpon. Kali ini hanya berdua dengan Yoga karena kebetulan hanya mereka berdua yang tinggal di homestay Turi resort sementara 3 lainnya, Andi, Verdila, dan Andi tinggal di perumahan lainnya. "Selamat malam Mbak Inten, mbak kami kangen nih" hahhaha..lagi-lagi pembukaan yang sama. Aku jadi mulai berfikir, ni anak beneran kangen ataukah memang itu SOP nya dia saat menyapa orang yang di telpon ya ??? hehhee.. Whatever lah yang jelas aku senang sekali karena akhirnya mereka berkabar juga.

Pembicaraan berlanjut tentang situasi mereka di IFW selama trainning. Sepertinya belum pernah ngobrol selama itu ditelpon. Senang sekali mengetahui mereka baik-baik saja dan semakin dekati mimpi yang ingin diraih. yah meskipun.. masih batuh waktu untuk beradaptasi dengan program-program animasi baru yang menurut mereka bikin puyeng sekaligus antusias, geleng-geleng melihat kecanggihan teknik animasi yang ada disana, akhir pekan yang harus mereka lewatkan sambil memandangi singapura, membeli makanan dengan harga dollar singapura sementara bekal uang saku rupiah, sinyal telpon yang payah, koneksi internet yang gak lagi bebas karena mereka tidak bisa menggunakan modem yang mereka punya lagi-lagi karena sinyal, dan buanyak lagi cerita lainnya.

Kalian membuatku tiba-tiba merasa kangen...


***Mahasiswaku suka nggak konsisten memanggil antara mbak atau bu ke aku, namun kalau di luar kelas, apalagi di FB mereka tetep memanggil mbak. Kebayang dong mudanya aku hehhe..
***Foto diambil saat syuting pembuatan project film pendek "Time Challenger"

22 Jul 2010

Tukang Suun oh... Tukang Suun


Tukang suun adalah salah satu profesi yang populer dikalangan masyarakat Bali. Mereka bisa ditemui di pasar-pasar tradisional di Bali. Tukang suun biasanya menawarkan jasa untuk membawakan barang belanjaan ketika pembeli berbelanja di pasar. Barang belanjaan tersebut kemudian ditaruh dikeranjang yang mereka bawa diatas kepala sambil mengikuti kemanapun pembeli yang menyewanya untuk menyelesaikan belanja diberbagai kios kemudian sampai ke tempat parkir atau ke rumah kalau rumahnya dekat pasar. Di pasar Beringharjo Yogyakarta ada juga profesi sejenis, namun menggunakan teknik yang berbeda. Disana mereka biasa disebut sebagai baruh gendong karena selalu membawa barang dengan cara digendong dipunggung dengan menggunakan kain. Buruh gendong di Jogja kebanyakan juga perempuan, bahkan yang sudah berusia lanjut. Meskipun ada juga beberapa diantara mereka laki-laki. Kalau yang laki-laki biasa juga disebut buruh panggul, mungkin karena mereka tidak menggunakan kain untuk membawa barang di punggungnya.

Profesi tukang suun di Bali ini dijalankan oleh perempuan dari berbagai jenis usia. MUlai dari anak-anak, remaja, dewasa, bahkan tidak jarang ada juga manula. Ini adalah profesi yang 90 persen mengandalkan kekuatan fisik dan 10 persen adalah ketrampilan atau teknik menjunjung yang benar. Meskipun mengandalkan kekuatan, terutama kekuatan otot leher tapi mengapa hanya perempuan saja yang menekuninya. Di Bali hampir tidak pernah aku melihat tukang suun laki-laki. Mungkin laki-laki terlalu gengsi untuk menjadi tukang suun di pasar sehingga nampak tidak lazim untuk menjalani pekerjaan ini. Atau juga karena perempuan Bali memiliki kekuatan lebih, terbukti pekerjaan kasar lainnya seperti kuli atau buruh bangunan dijalani juga oleh para perempuan.


Berapa tukang suun dibayar untuk membawa barang bawaan? itu sangat tergantung pada proses negosiasinya dengan calon pelanggan, mungkin juga tergantung berat barang bawaan dan jarak yang harus ditempuh. Tapi mungkin juga dugaanku itu salah karena banyak tukang junjung yang langsung begitu saja menawarkan diri untuk membawa barang belanjaan meskipun pelanggannya belum mulai belanja jadi belum tahu banyak sedikitnya barang yang akan dibeli. Dari pengalamanku menggunakan jasa mereka sekitar tahun 2009 - 2010 adalah dikisaran 3000 - 5000 rupiah, dengan volume belanjaan sedang. Hasil pengamatanku di pasar, seorang tukang suun mampu mengangkat beban hingga 80 kg diatas kepalanya, meskipun saat menaikkan atau menurunkan barang, mereka membutuhkan bantuan orang yang ada disekitarnya
.

Tidak sedikit dari para tukang suun dipasar membuatku miris. Terutama jika mereka anak-anak yang masih kecil, orang yang sudah tua, atau bahkan pernah aku temui wanita hamil, atau wanita muda yang sambil menggendong anaknya yang masih bayi. Dengan wajah dan suara memelas mereka mendekatiku meminta aku menggunakan jasa mereka untuk membawakan barang hasil belanjaan. Tentu aku menolaknya, mengingat aku hanya belanja sayur, ikan dan kebutuhan dapur lainnya dalam jumlah yang tidak banyak, masih bisa aku tenteng sendiri. Namun kalaupun barang bawaanku banyak, akankah aku tega menggunakan jasa wanita hamil? atau menyuruh anak-anak yang masih usia kelas 1-4 SD itu membawa belanjaan yang berat dikepala mereka? atau menyuruh nenek-nenek membawakan barang belanjaanku diatas kepalanya? sungguh tidak bisa aku bayangkan.


Memang serba salah. Tidak memberi pekerjaan berarti tidak memberikan penghasilan pada mereka yang mungkin sangat mereka butuhkan, tapi dengan memberi pekerjaan akan terlihat sangat tidak manusiawi.


Di lain sisi, profesi ini tentu sangat membantu, jika pembeli di pasar berbelanja dalam jumlah banyak. Tentu tidak mungkin menggunakan trolly di pasar tradisional seperti halnya di supermarket. Tidak ada yang menyediakan. Kalaupun punya trolly sendiri pasti akan terlihat sangat aneh. Para ibu dengan banyak belanjaan dan harus berkeliling ke berbagai kios tidak perlu repot lagi membawa-bawa karung untuk barang bawaannya. Tukang suun telah siap sedia dengan keranjang besar serbagunanya dan akan dengan senang hati mengiringi ke kios manapun di pasar. Jadi tinggal melenggang, tawar barang, bayar, kasih barangnya ke tukang suun, dan melenggang lagi. Ini pasti lebih nyaman jika dibandingkan mendorong-dorong trolly di gang-gang pasar yang sempit, tidak rata, bahkan kadang becek. Profesi tukang suun juga bisa menjadi jawaban atas masalah kemiskinan yang ada di Bali. seorang tukang suun tidak membutuhkan ketrampilan khusus kecuali kekuatan fisik dan teknik membawa barang diatas kepala. Bagi perempuan bali, membawa barang diatas kepala adalah kemampuan mutlak. Tidak hanya berhubungan dengan pekerjaan di pasar atau pekerjaan sehari-hari, mereka juga terbiasa membawa perlengkapan upacara diatas kepala dengan alasan penghormatan dan kepraktisan. Seorang tukang suun hanya membutuhkan modal sebuah keranjang bambu dan kain atau tatakan untuk melindungi kepala.

Nah, kapan mau belanja ke pasar tradisional di Bali dan menggukan jasa tukang suun?

19 Jul 2010

Cepatnya Waktu Berlalu

Gara-gara mendengarkan lagu " Ya Sudahlah " dari Bondan Prakoso jadi ngerasa kalau ternyata waktu begitu cepat berlalu. Rasanya baru beberapa hari kemarin aku hanya seorang anak SD yang menyukai lagu si Lumba-Lumba. Saat itu rasanya Bondan adalah penyanyi cilik paling keren dengan gaya enerjik sambil melompat-lompat dan teriak si lumba-lumba di video klipnya. Sekarang...??? hmmm...aku masih tetap muda dan Bondan pun sudah menikah.

11 Jul 2010

Fanatisme Yang Sudah Lewat

Final piala dunia sudah di depan mata. Semua orang, baik penggemar sepak bola ataupun yang hanya sekedar penggembira acara nonton bareng, penasaran siapa yang akan menjadi pemenang pertarungan Belanda vs Spanyol. Tapi aku tidak akan membahas kedua tim tersebut, bukan kapasitasku..sudah bukan kapasitasku tepatnya. Hehhee..seolah-olah aku mantan komentator sepak bola handal saja. Ya..piala dunia tahun ini dapat aku lewatkan dengan selamat. Tanpa beban jika harus melewatkan pertandingan yang ditayangkan larut malam, tanpa perasaan patah hati saat tim yang aku dukung kalah dalam pertandingan, dan tidak ada perasaan berdebar-debar saat tim yang aku dukung kebobolan gawangnya. I feel free..

Kalian boleh bilang tidak seru jika tidak ikut larut dalam euphoria sepak bola. tapi bagiku sebaliknya. Aku merasa happy terbebas dari keterikatan emosi dengan segala soccer stuff. Hampir 10 tahun kebelakang hidupku diatur oleh sepak bola. Tidak hanya piala dunia dan piala eropa, aku juga menikmati Liga seri A, La liga, Bundesliga, Premiere Leage, Liga Champion, dan liga-liga lainnya. Tidak hanya fisik yang terganggu karena harus bergadang bahkan hingga dini hari, makan berat diatas jam 12 malam karena tidak seru nonton bola tanpa ditemani mie instan. Secara emosi, moodku sangat dipengaruhi oleh hasil pertandingan sepak bola, terutama hasil yang diperoleh oleh Juventus dan Liverpool. Dan bayangkan bagaimana perasaanku saat Juventus sempat terdegradasi ke seri B.

Secara keuangan juga jelas terganggu. Uang saku banyak terpakai untuk memuaskan hasratku memantau perkembangan dunia sepak bola. Mulai dari langganan majalah SPORTIf, tabloit BOLA, beli aksesoris2 berbau bola, dsb. Nggak kepikiran dah beli kosmetik atau baju-baju modis. Aku malah lebih bangga memakai kaos tim sepak bola favoritku untuk jalan-jalan.

Seru sih menjalani hobby seperti itu, apalagi kalau tim yang kita dukung menang, wah happy banget. Tapi setelah makin lama antusiasku mengendor, aku jadi sadar kalau kesukaanku pada sepak bola tidak begitu membawa banyak manfaat. Yang ada malah tekor hehe..tekor uang tekor perasaan juga. Sekarang sih masih nonton bola, tapi juarang banget, lagi pula perkembangannya pun tidak begitu terpantau olehku jadi secara emosional tidak begitu terikat. Sudah lewat masanya The Golden Boy, Michael Owen, dan Mr. Perfecto, Alessandro Del Piero hehhee.... Kalau Kaka ??? belum bisa menghindar sampai sekarang ***teteppp