22 Jul 2010

Tukang Suun oh... Tukang Suun


Tukang suun adalah salah satu profesi yang populer dikalangan masyarakat Bali. Mereka bisa ditemui di pasar-pasar tradisional di Bali. Tukang suun biasanya menawarkan jasa untuk membawakan barang belanjaan ketika pembeli berbelanja di pasar. Barang belanjaan tersebut kemudian ditaruh dikeranjang yang mereka bawa diatas kepala sambil mengikuti kemanapun pembeli yang menyewanya untuk menyelesaikan belanja diberbagai kios kemudian sampai ke tempat parkir atau ke rumah kalau rumahnya dekat pasar. Di pasar Beringharjo Yogyakarta ada juga profesi sejenis, namun menggunakan teknik yang berbeda. Disana mereka biasa disebut sebagai baruh gendong karena selalu membawa barang dengan cara digendong dipunggung dengan menggunakan kain. Buruh gendong di Jogja kebanyakan juga perempuan, bahkan yang sudah berusia lanjut. Meskipun ada juga beberapa diantara mereka laki-laki. Kalau yang laki-laki biasa juga disebut buruh panggul, mungkin karena mereka tidak menggunakan kain untuk membawa barang di punggungnya.

Profesi tukang suun di Bali ini dijalankan oleh perempuan dari berbagai jenis usia. MUlai dari anak-anak, remaja, dewasa, bahkan tidak jarang ada juga manula. Ini adalah profesi yang 90 persen mengandalkan kekuatan fisik dan 10 persen adalah ketrampilan atau teknik menjunjung yang benar. Meskipun mengandalkan kekuatan, terutama kekuatan otot leher tapi mengapa hanya perempuan saja yang menekuninya. Di Bali hampir tidak pernah aku melihat tukang suun laki-laki. Mungkin laki-laki terlalu gengsi untuk menjadi tukang suun di pasar sehingga nampak tidak lazim untuk menjalani pekerjaan ini. Atau juga karena perempuan Bali memiliki kekuatan lebih, terbukti pekerjaan kasar lainnya seperti kuli atau buruh bangunan dijalani juga oleh para perempuan.


Berapa tukang suun dibayar untuk membawa barang bawaan? itu sangat tergantung pada proses negosiasinya dengan calon pelanggan, mungkin juga tergantung berat barang bawaan dan jarak yang harus ditempuh. Tapi mungkin juga dugaanku itu salah karena banyak tukang junjung yang langsung begitu saja menawarkan diri untuk membawa barang belanjaan meskipun pelanggannya belum mulai belanja jadi belum tahu banyak sedikitnya barang yang akan dibeli. Dari pengalamanku menggunakan jasa mereka sekitar tahun 2009 - 2010 adalah dikisaran 3000 - 5000 rupiah, dengan volume belanjaan sedang. Hasil pengamatanku di pasar, seorang tukang suun mampu mengangkat beban hingga 80 kg diatas kepalanya, meskipun saat menaikkan atau menurunkan barang, mereka membutuhkan bantuan orang yang ada disekitarnya
.

Tidak sedikit dari para tukang suun dipasar membuatku miris. Terutama jika mereka anak-anak yang masih kecil, orang yang sudah tua, atau bahkan pernah aku temui wanita hamil, atau wanita muda yang sambil menggendong anaknya yang masih bayi. Dengan wajah dan suara memelas mereka mendekatiku meminta aku menggunakan jasa mereka untuk membawakan barang hasil belanjaan. Tentu aku menolaknya, mengingat aku hanya belanja sayur, ikan dan kebutuhan dapur lainnya dalam jumlah yang tidak banyak, masih bisa aku tenteng sendiri. Namun kalaupun barang bawaanku banyak, akankah aku tega menggunakan jasa wanita hamil? atau menyuruh anak-anak yang masih usia kelas 1-4 SD itu membawa belanjaan yang berat dikepala mereka? atau menyuruh nenek-nenek membawakan barang belanjaanku diatas kepalanya? sungguh tidak bisa aku bayangkan.


Memang serba salah. Tidak memberi pekerjaan berarti tidak memberikan penghasilan pada mereka yang mungkin sangat mereka butuhkan, tapi dengan memberi pekerjaan akan terlihat sangat tidak manusiawi.


Di lain sisi, profesi ini tentu sangat membantu, jika pembeli di pasar berbelanja dalam jumlah banyak. Tentu tidak mungkin menggunakan trolly di pasar tradisional seperti halnya di supermarket. Tidak ada yang menyediakan. Kalaupun punya trolly sendiri pasti akan terlihat sangat aneh. Para ibu dengan banyak belanjaan dan harus berkeliling ke berbagai kios tidak perlu repot lagi membawa-bawa karung untuk barang bawaannya. Tukang suun telah siap sedia dengan keranjang besar serbagunanya dan akan dengan senang hati mengiringi ke kios manapun di pasar. Jadi tinggal melenggang, tawar barang, bayar, kasih barangnya ke tukang suun, dan melenggang lagi. Ini pasti lebih nyaman jika dibandingkan mendorong-dorong trolly di gang-gang pasar yang sempit, tidak rata, bahkan kadang becek. Profesi tukang suun juga bisa menjadi jawaban atas masalah kemiskinan yang ada di Bali. seorang tukang suun tidak membutuhkan ketrampilan khusus kecuali kekuatan fisik dan teknik membawa barang diatas kepala. Bagi perempuan bali, membawa barang diatas kepala adalah kemampuan mutlak. Tidak hanya berhubungan dengan pekerjaan di pasar atau pekerjaan sehari-hari, mereka juga terbiasa membawa perlengkapan upacara diatas kepala dengan alasan penghormatan dan kepraktisan. Seorang tukang suun hanya membutuhkan modal sebuah keranjang bambu dan kain atau tatakan untuk melindungi kepala.

Nah, kapan mau belanja ke pasar tradisional di Bali dan menggukan jasa tukang suun?

2 komentar:

  1. wow... manggul barang 80 kg di atas kepala??? hebat bener....

    BalasHapus
  2. Iya, kalau nggak lihat sendiri nggak bakal percaya. Jadi kebetulan paman saya punya kios buah di pasar, kan banyak pengecer yang beli per-keranjang. tiap keranjang antara 50 - 100 kg beratnya. Dan keranjang-keranjang itu diangkut dengan menggunakan jasa tukang suun ini. Di bali gak banyak Mall, jadi gimana kalau pas jalan2 ke bali mainnya ke pasar tradisional ??? hehhee...

    BalasHapus