21 Des 2010

Trauma Ciko

Euporia tahun baru datang lebih awal di Bali, khususnya Denpasar. Setidaknya terlihat dari gegap gempita ledakan kembang api setiap usai matahari terbenam. Bahkan tidak jarang siang hari bolong terdengar jedar-jedor. Awalnya aku kira suara mercon, tapi ternyata itu bunyi kembang api. Seingatku sudah sejak tanggal 6 atau 7 Desember lalu orang-orang udah mulai demam kembang api. kebetulan itu pas hari Raya Galungan. Jadi saat itu aku rasa wajar merayakannya dengan kembang api. Sewajar perayaan Idul Fitri dengan mercon / petasan. Meskipun sekarang petasan udah dilarang (semoga juga diharamkan).


Namun ternyata selewat Galugan, kembang api makin ramai menghiasi langit lengkap dengan suara ledakan-ledakan seperti suara tembakan senapan beruntun. Situasi tersebut ternyata menimbulkan penderitaan tersendiri bagi Ciko, anjing peliharaan di rumah kami. Dari tahun ke tahun, menjelang tahun baru dia selalu begitu. Ketakutan dengan suara-suara ledakan kembang api. Kalau sedang ketakutan gitu dia selalu mencari orang buat diikuti kemana saja, maunya dekat-dekat terus seperti anak kecil yang takut ditinggal pergi sama ibunya. Mungkin karena takut yang berlebihan, sikapnya jadi sangat pendiam, selalu nampak gugup dan gemetaran sehingga menimbulkan rasa iba bagi siapa saja yang melihatnya. Nafsu makannya juga sangat berkurang, bahkan cenderung seperti mau menyentuh makanan. Saat semua orang sudah masuk ke dalam kamar, dia pasti akan kebingungan mencari teman. Kalau sudah begitu pasti deh dia menggedor-gedor pintu ingin ikut masuk ke dalam kamar. Sayangnya Ciko bau karena jarang mandi jadi pada gak mau ngajak dia masuk ke kamar.


Ciko, si anjing kampung berwarna hitam yang telah lama tinggal dengan keluarga bli ini usianya sudah sangat tua. Kalau untuk ukuran manusia dia mungkin sudah kakek-kakek. Sehari-hari dia lebih banyak duduk dan diam sambil bermalas-malasan. Namun saat sedang bersemgat dia suka jalan-jalan dan lari-lari dengan gesit selayaknya anjing kampung lainnya. Yang menyebalkan, Ciko suka menggonggong semaunya. kadang ada orang jalan di gang di menggonggong, lain waktu ada orang asing datang ke rumah dia malah diam, lain kesempatan saat orang rumah baru datang dia malah mengonggong seperti ada orang asing masuk. kadang aku bertanya, ini anjing bodoh atau anjing iseng sih?


Ciko, kenapa sih takut sama suara ledakan? bikin repot.

7 Des 2010

Kacang Vulgar


Aku yakin, hurup P dalam produk makanan kecil ini mengacu pada kata peanut = kacang. Namun bagi para pembaca Cosmopolitan Magazine, merk tersebut terasa sangat vulgar :p

4 Des 2010

Di Balik Layar Lembongan


Sky on Sunset Beach 
Nusa Lembongan adalah nama pulau. Di pulau ini ada 2 desa yaitu Jungut Batu dan Lembongan. Kedua desa bersebelahan namun dipisahkan oleh bukit dan hutan semak-semak. Berbeda dengan Jungut Batu. Desa lembongan lebih ramai dan penduduk lokalnya lebih padat. Namun tentang keindahan dan potensi wisata keduanya boleh dikatakan seimbang dan memiliki kelebihan masing-masing. Keluarga Bli balok yang kami kunjungi tinggal di Jungut Batu, dan penginapan kami pun di Jungut batu.

Devil Tears salah satu spot utama paling menarik di Lembongan. Menurut cerita Bli Balok, dia sempat kebingungan waktu pertama kali aku menanyakan tentang Devil Tears. Meskipun tempat ini selalu dijadikan referensi utama yang harus dikunjungi oleh mereka yang datang ke nusa Lembongan, tapi nama Devil Tears agak terdengar asing bagi penduduk lokal yang bukan tour guide. Katanya, pada awalnya tempat-tempat di Lembongan itu tidak bernama, karena penduduk disana tidak terlalu menyadari potensi dan keindahan tempat tersebut. Justru orang luar yang menyadari keindahannya. Dan untuk mempermudah identifikasi lokasi, mereka secara tidak sadar memberikan nama untuk menandai tempat tersebut. Tidak heran jika nama-nama tempat di nusa Lembongan hampir semuanya menggunakan bahasa Inggris. Seperti Devil Tears, Dream Beach, Mashroom Beach, Sunset Beach, dsb.

The Blows of Devil's Tears
Untuk mencapai lokasi-lokasi yang ada di nusa Lembongan bukanlah hal yang mudah. Pertama karena medannya yang berliku, jalan sempit, kondisi jalan buruk, dan minim petunjuk. Kalaupun ada petunjuk agak kurang informatif bagi pendatang. Aku dan Bli cukup beruntung karena punya kenalan orang lokal jadi diantar ke berbagai tempat yang ingin kami kunjungi. Bagi pendatang yang tidak seberuntung kami, bisa memanfaatkan jasa tour guide lokal, ataupun menggunakan peta nusa Lembongan sederhana yang semacam brosur yang biasanya disedikan gratis diberbagai tempat penyedia layanan wisata. Ketika Bli Balok berhalangan mengantar kami di hari berikutnya, aku dan bli cukup berhasil menemukan tempat-tempat yang kami inginkan dengan mengandalkan peta di Brosur, tentu saja ditambah dengan sedikit bertanya sana-sini pada orang yang kami temui.

Kondisi jalan yang harus ditempuh untuk menjangkau tempat-tempat menarik di Nusa Lembongan
Menjelajah keseluruhan pulau Lembongan bukanlah hal yang sulit sebenarnya karena pulau ini relatif kecil. Bahkan kita bisa menjelajah 2 pulau sekaligus yaitu nusa Lembongan dan nusa Ceningan karena letaknya bersebelahan hanya dipisahkan selat kecil dan sudah dibangun jembatan penghubung jadi tidak perlu menggunakan perahu. Disana kami menggunakan transportasi motor karena kebetulan keluarga Bli Balok berbaik hati meminjamkan motor untuk kami selama kami berlibur disana. Jangan mengharapkan mobil karena jalanan disana lumayan sempit untuk kendaraan besar. Kalaupun ada itu adalah mobil bak terbuka yang biasa digunakan agen Cruise untuk membawa penumpangnya keliling pulau.

Tidak perlu khawatir untuk mendapatkan motor di nusa Lembongan karena sudah banyak rental motor dan sepeda untuk wisatawan. Yang harus dicatat tentu saja bahan bakarnya. Harga bensin di Lembongan jauh lebih mahal. Namun tidak sulit untuk mendapatkan bensin disini. Meski tidak ada pom bensin tapi penjual bensin eceran banyak bertebaran. Dari hasil pengalaman kami, kalau Anda bukan olah ragawan atau penggemar sejati tantangan fisik, sebaiknya gunakan motor saja karena medan yang harus dilewati untuk mencapi berbagai lokasi di nusa Lembongan lumayan sulit dan berbukit. Meskipun pulaunya kecil, tapi kalau harus mengelilinginya dengan menggunakan sepeda dijamin bisa membuat Anda tepar. Kecuali hanya untuk keliling Desa, sepeda mungkin bisa cukup menyenangkan.

Berbagai bahan kebutuhan pokok di nusa Lembongan didatangkan dari Bali, tidak heran jika secara umum biaya hidup di Lembongan relatif tinggi. Harga-harga jauh diatas harga pasaran di Bali. Belum lagi, antar toko/warung satu dengan lainnya tidak ada standar harga yang pasti. Harga barang bukanlah sesuatu yang mutlak bagi wisatawan di Lembongan, apalagi bagi orang asing, penetapan harganya tergantung otoritas pemilik toko/warung. Trik untuk mendapatkan harga normal tentu saja harus dengan menunjukkan kalau kita orang lokal.

Kami beruntung karena Bli orang Bali jadi bisa berkomunikasi dengan bahasa Bali. Jadi saat membeli sesuatu kami dianggap sebagai orang lokal dan diberi harga yang masuk akal. Ada pengalaman juga sih, waktu itu aku mencoba membeli air mineral ukuran besar di toko dan karena tidak bisa berbahasa Bali dengan baik aku pakai bahasa Indonesia. Dari harga normal di supermarket di Bali sekitar Rp 3.000,-  aku harus membayarnya Rp 8.000,- namun saat Bli yang beli di tempat sama dan penjual yang sama, dengan bahasa Bali harganya hanya Rp 5.000,-. Aneh..lucu..dan kadang menyebalkan karena kita harus membayar lebih mahal hanya karena kita bukan orang lokal.

Sunset Cafe, salah satu warung makan yang sempat kami kunjungi saat menjelajahi Nusa Lembongan. 
Tidak sulit untuk menemukan rumah makan di Nusa lembongan, baik itu di desa Lembongan maupun Jungut Batu. Namun kebanyakan dari rumah makan itu menyediakan makanan dengan tarif wisatawan asing. Jadi ya  harus hati-hati dan siapkan kantong untuk di charge dengan standart harga dollar (meskipun bayarnya tetep pakai rupiah). Selama di nusa Lembongan kami memang hanya sesekali saja beli makan di rumah makan tersebut karena Bli merasa lebih aman dan nyaman membeli makan yang take away alias nasi bungkus hahahha... Kami juga bebrapa kali diundang makan di rumah bli Balok. Tentang harga di warung makan, pengalaman kami adalah mendapatkan harga dengan standart lokal meskipun harga yang tertera di menu terhitung mahal (standart dollar). Saat bayar di kasir, kami terkejut karena harganya jauh dibawah perkiraan semula, rupanya trik menggunakan bahasa Bali masih ampuh sebagai penanda bahwa kami orang lokal sehingga dapat harganya pun lokal. Nasi Goreng yang di menu tertera Rp 20.000,-  ternyata kami hanya perlu mrmbayarnya Rp 6.000,-. Lucunya, selama makan, bli melarangku untuk ngobrol terlalu keras dengan bahasa Indonesia hahahha...