12 Des 2011

CNN Hero 2011

Robin Lim
Akhirnya vote untuk Ibu Robin ditutup dan telah dilakukan pengumuman dan penyerahan penghargaan untuk CNN Hero 2011. Finally..this is it, universe answer, Robin Lim become CNN Hero 2011. Selamat ibu..

7 Des 2011

Summer in Bali & Christmas Gift

Haaii.. haaaiii.. what's up Bali? 
Bali masih seperti kemarin-kemarin, we're really enjoy very hot summer. Hmm..not really enjoy sih, karena kerap sekali mengeluhkan panasnya udara sepanjang hari. Gak peduli siang malam pokoknya Bali panas terus. Memang sudah masuk bulan Desember dan beberapa kali hujan sudah turun dengan derasnya bahkan sampai banjir di beberapa wilayah di Denpasar namun tetep tidak bisa membuat udara lebih sedikit sejuk. Tapi yang namanya aktifitas kehidupan mesti dan harus tetep dijalankan. Apapun cuacanya minumnya tetep, air PAM. Bersyukurlah bagi yang masih dapat menikmati air bersih disaat banyak sodara kita yang mengeluhnya keterbatasan sumber air. Loh.. malah kampanye.

Dulu sebagai orang yang lahir dan mengalami pertumbuhan di luar Bali, kerap membayangkan oh enaknya tinggal di Bali, tiap hari bisa liburan. OK..sejak tinggal di Bali emang hampir tiap waktu bisa menikmati eksotisme Bali, tapi bukan liburan ya namanya kalau menikmati Sanur atau Kuta sembari berangkat/pulang kerja. Artinya, meskipun tinggal di Bali bukan berarti kita disini liburan terus. Orang Bali malah terlalu sibuk dengan urusan kerja dan upacara adat hingga kadang lupa/tidak memikirkan liburan. Waktu masih tinggal dan bekerja di Jawa, cuti artinya istirahat, refresing, liburan, pulang kampung. Tapi di Bali, cuti artinya kesibukan tambahan diluar kesibukan rutin. haiyyyaa.. itu karena cutinya selalu dalam rangka upacara adat. Seperti aku hari ini, cuti dari aktifitas kantor tapi melakukan kesibukan yang berpuluh kali lipat capeknya karena sedang ada upacara adat Odalan di sanggah rumah. 

Ngomong-ngomong tentang upacara adat, aku sering merasa bersalah dengan beberapa teman blogger yang beberapa kali request agar aku menuliskan tentang kegiatan tersebut dalam postingku. Bukannya nggak mau ya..tapi lagi-lagi alasan klasik, belum sempat hehhee... maaf yee... tapi aku pernah juga kok nulis yang berkaitan dengan Hari Raya umat Hindu Bali di sini dan sana, dan beberapa postingan terkait

Ngomongin soal Desember, kan sebentar lagi natal tuh. And i've got early christms gift, bukan dari Sinterclas tapi dari bodyshop. Gara-garanya tergiur sama promosi keanggotaan produk tersebut. Gaya bener yak, sehari-hari pakainya kosmetik Sariayu tapi mau jadi member Bodyshop. Ok gak papalah, buat nambah-nambah koleksi member card di dompet. Ada hal yang menyenangkan buatku saat kosultasi di konternya kemarin. Karena bingung dengan varian cream malam anti aging yang ingin aku beli, jadi tanya ke mbak SPGnya cream apa yang kira-kira cocok buat aku. Mengingat usia, memang kepikirannya udah mau beralih ke yang anti aging gitu. Tapi setelah tanya jawab dan menganalisa kulitku, mbak SPGnya dengan yakin bilang kalau aku belum perlu cream anti aging. Horeeree... dan disarankan produk yang mengandung seaweed untuk memberi nutrisi kulit. Riangnya hati akyuu, mengingat juga produknya harganya jauh lebih murah. Akhirnya bertambah lagi satu membercard di dompetku. Inginnya membercard ini bisa aku manfaatkan dan akan lebih berguna dibanding membercard gym-ku yang meskipun udah terdaftar untuk 1 tahun tapi tetep aja adem ayen di dalam dompet, alias gak pernah dipakai. Tapi jika mengingat harga produk BS kayaknya nasib si membercard ini gak akan berbeda jauh dengan para pendahulunya.

1 Des 2011

Gebogan Bali

Berbagai bentuk gebogan, foto diambil dari hasil karya peserta lomba gebogan di Kampus tempatku bekerja saat peringatan Hari Raya Saraswati 18-19 November 2011


Arti kata gebogan dalam Bahasa Bali adalah “Jumlah”, merupakan suatu bentuk persembahan berupa susunan atau rangkaian beragam buah dan bunga aneka warna serta berbagai penganan yang diolah dari hasil bumi yang  dikreasikan oleh umat Hindu di Bali. Gebogan biasanya menggunakan wadah yang disebut wanci atau dulang, terbuat dari kayu berbentuk seperti piala namun datar dibagian atas dan bawahnya. Dalam upacara adat di Bali, gebogan biasa dibuat oleh kaum perempuan di rumah mereka sebelum pelaksanaan acara. Pada hari upacara, mereka akan membawa gebogan tersebut menuju Pura. Cara membawa gebogan di Bali termasuk unik karena para perempuan akan menaruh gebogan tersebut di atas kepalanya dan berjalan secara beriringan. 


Nilai sebuah gebogan tidak diukur dari tinggi rendahnya tetapi dari keiklasan hati dalam menunjukkan rasa syukur, baik dalam menyiapkan berbagai bahan untuk membuat gebogan hingga proses pembuatannya. Karena itu, bagi umat Hindu di Bali, gebogan adalah simbul persembahan dan rasa syukur pada Tuhan / Hyang Widhi. Namun seiring perkembangan waktu, gebogan sudah meluas maknanya. Ini dilihat dari sisi keindahan atau artistik dari gebogan itu sendiri. Tidak hanya diganakan dalam sebuah upacara adat, gebogan sudah banyak dipakai sebagai hiasan dalam berbagai peristiwa, misalnya hiasan di lobby hotel, acara pernikahan, dan upacara manusa yadnya lainnya. 


Gebogan merupakan bagian dari tradisi Bali yang harus dilestarikan. Kegiatan ini merupakan seni dan keindahan yang harus dilanjutkan dari generasi ke genarasi. Tidak sedikit kegiatan diadakan untuk menjada tradisi pembuatan gebogan. Kegiatan pembuatan gebogan  telah popular digelar menjadi sebuah perlombaan di sekolah-sekolah atau instansi lainnya. Bahkan dalam berbagai Festival di Bali, tidak jarang perlombaan pembuatan gebogan juga dilakukan. Pawai para perempuan Bali dengan membawa gebogan daya tarik sendiri bagi para wisatawan di Bali.

18 Nov 2011

Iklan Benetton

OK.. aku anggap ini adalah bentuk iklan kontroversial yang berhasil..
Sangat menggugah reaksi. Kira-kira perlu bayar model nggak untuk iklan ini??? Kayaknya sih tidak bayar model tapi lebih tepatnya, Benetton harus mengalihkan biaya yang harusnya buat model tersebut untuk membiayai gugatan yang kemungkinan akan berdatangan. Iklan yang bagus memang harus dengan ide-ide yang out of the box seperti ini.





9 Nov 2011

Robin Lim - Finalis CNN Hero 2011

Udah pernah tahu belum sih program CNN Hero??? 
Jadi ini adalah program tahunan dari CNN untuk mencari orang-orang diseluh dunia yang telah berjasa membuat perubahan. Nah tahun 2011 ini CNN kembali menggelar program tersebut dan salah satu dari 10 finalis tersebut berasal dari Indonesia meskipun bukan orang Indonesia. Itu artinya, tokoh tersebut telah berbuat sesuatu untuk perubahan di Indonesia. Hayo... haruskan merasa bangga atau malu??? orang yang berjasa untuk negerimu ternyata adalah warga negara asing. Kalau saya terus terang merasa malu. Kenapa dia mampu berbuat untuk Indonesia sementara saya tidak, that's it. OK..saya tinggalkan dulu kemaluan (rasa malu ini), ayo lanjut..
Banner diambil dari Web CNN for candidate CNN Hero 2011, Robin Lim

Nah orang tersebut tidak lain adalah Robin Lim. Sebenarnya saya tidak mengenal Robin Lim secara Pribadi. Kebetulan salah satu mahasiswa dikelas saya bekerja di Yayasan Bumi Sehat, yayasan non profit dalam bidang kesehatan (terutama ibu dan anak) yang didirikan oleh Robin Lim di Banjar Nyuh Kuning, Ubud, Bali. Beberapa kali dia membahas tentang Yayasan dan Ibu Robin Lim di presentasi atau tugas-tugas kuliahnya. Dari situlah aku mengenal sosok ini. Tapi sebenarnya Robin Lim telah banyak di ulas di berbagai media, bahkan sudah menjadi kandidat juga di Kick Andy Hero 2012. Dan jangan tanyakan kenapa Kick Andy keduluan CNN. Profil Ronbin Lim juga ada di link yang saya sertakan tersebut. Ini cuplikan paragrafnya :
"Robin kini sudah menetap bersama keluarganya di Ubud, Bali. Di Yayasan Bumi Sehat, Ubud, dia telah membantu sekitar 400 persalinan sekaligus memandu ASI ekslusif. Sekitar 30% dari persalinan tersebut dilakukan di dalam air. “Di samping bisa mengurangi rasa sakit sekitar seperempat kali, melahirkan di air juga bisa mengurangi risiko sobeknya vagina. Selain itu, dengan lahir di air, bayi tidak terlalu kaget karena masih dalam habitatnya (berada dalam cairan),” kata wanita kelahiran Arizona, USA, 24 November 1936 ini. (Kick Andy Heroes)"
"Robin Lim, seorang ibunda yang bekerja sebagai bidan membantu ribuan perempuan yang miskin melahirkan anaknya dengan sehat. Pendiri Klinik Yayasan Bumi Sehat (Healthy Mother Earth Foundation) ini, menyediakan pemeriksaan kehamilan secara gratis, pelayanan kelahiran, dan bantuan medis kepada siappun yang memerlukan. Beliau dan tim nya berjuang keras memerangi kematian bayi dan ibunya di Indonesia, yang terkenal sebagai negara yang sangat tinggi angka kematian bayi dan ibu.

Didirikan pada tahun 1995, Bumi Sehat adalah nirlaba, organisasi berbasis desa yang menjalankan operasi nya di dua daerah, dan hanyamenjadi yayasan yang berbasis sumbangan. Menjadi pusat kesehatan masyarakat di Bali dan Aceh, Indonesia. Yayasan ini menyediakan lebih dari 17.000 konsultasi kesehatan untuk anak-anak dan orang dewasa per tahun. Pelayanan kebidanan untuk memastikan lancarnya kelahiran bayi di fasilitas Yayasan Bumi Sehat dan klinik kami membantu sekitar 600 bayi yang lahir ke dunia setiap tahunnya. (Kompasiana - Jack Soetopo)"
Hmmm... apakah penggalan-pengalan diatas juga sudah membuat kemaluan (rasa malu) Anda muncul. Dari pada jengah dan menyesali diri karena belum bisa berbuat sesuatu untuk Indonesiamu, kenapa kita tidak dukung saja ibu Robin Lim?? caranya adalah dengan melakukan vote dan memilih ibu Robin Lim sebagai pemenang CNN Hero 2011. Gampang sekali, tinggal klik saja banner di posting ini atau banner di header blog ini dan ikuti langkah-langkahnya. YESSS!!! Do it and you did it for INDONESIA.


Vote ini berlangsung hingga 7 Desember 2011, jadi sudah gak banyak lagi waktu, lakukan sekarang. Dari blog akarumput, aku mendapat ini, cara-cara mendukung Robin Lim yang bisa Anda Lakukan juga :
  1. Luangkan sejenak waktu untuk memilih dia di laman ini. Anda hanya perlu memasukkan alamat email atau akun facebook. Satu alamat email (berapa email yang Anda punya?) atau akun facebook bisa melakukan vote maksimal 10 kali sehari. Voting ditutup pada 7 Desember 2011.
  2. Kirim tulisan atau link laman ini kepada 10 orang yang Anda cintai lewat email, atau jejaring sosial. Lakukan sesering mungkin.
  3. Pasang banner “Vote Robin Lim” di situs atau blog Anda, dan cantumkan sebagai email signature.
  4. Follow @iburobin di Twitter dan ‘Like’ Facebook page Robin Lim.
  5. Vote dan vote lagi.
Ayo berbuat dengan jarimu... :)

7 Nov 2011

Maag, Daging Kurban, dan Rossi

Kembali merasakan siksaan maag yang menyebalkan saat weekend sungguh diluar keinginanku. Beberapa minggu sebelumnya aku harus menanggung maag yang kambuh gara-gara pas hari Sabtu ada meeting yang membuatku gak sempat makan siang. Udah gitu ditambah minum kopi, jenis minuman yang seabenarnya udah bertahun-tahun aku tinggalkan karena lambung yang sensitif terhadap kafein. Akibatnya bisa ditebak, pulang kantor kepalaku kliyengan dan terus berlanjut hingga minggu malam. Otomatis weekendku yang berharga berlalu sia-sia. Dan kejadian yang hampir serupa dan untungnya tidak terlalu parah terjadi lagi Sabtu kemarin. 

Sabtunya...
Sebenarnya, that should be perfect saturday karena Tuhan benar-benar mengabulkan harapanku. Aku bersama para mahasiswiku memang merencanakan kegiatan Outbond sekaligus Team Building di Desa Budaya Kertalangu. Oya, aku pernah menuliskan tentang tempat tersebut di postinganku yang ini. Karena memasuki musim hujan dan tidak pernah dapat diprediksi jatuhnya, agak was-was juga seandainya hujan, bisa hancur minah rencana kami. Tapi Tuhan sangat baik, cuaca di Kertalangu dan sekitarnya sangat cerah meskipun beberapa tempat di Denpasar, termasuk rumahku hujan deras.  Singkat kata, itu kegiatan yang sangat menyenangkan buat kami, meskipun hampir disepanjang acara aku mengabdikan tenagaku untuk jeprat-jepret aja heheh.. Dan karena keasyikan itulah panas teriknya matahari ditengah lapangan rumput membuat kami lupa diri. Mau kulit hitam kek, rambut bau matahari, keringat bercucuran pokoknya hajarrrr..

Dan ternyata, kayaknya aku over heated sehingga sampai di rumah tepar dengan kepala cenat-cenut pusing tujuh belas keliling. Setelah tertidur beberapa waktu akhirnya terbangun karena cucian seminggu memanggil-manggil. Selesai nyuci, kepala masih pusing dan kali ini ditambah perut mual..hahhhh.. ketebak deh, ternyata pusing dikepalaku selain dipicu oleh terik matahari juga karena maag kambuh. Kok bisa ya.. padahal tadi siang aku kan makan siang tepat waktu. Hasil analisaku, mungkin disebabkan minuman vit C 1000mg yang aku konsumsi 2 hari berturut-turut, termasuk tadi siang. OK, minum orange juice aja maagku kambuh, apalagi vit C 1000mg. Untungnya kalau minum es jeruk atau makan jeruk segar masih fine-fine aja. Setelah minum obat maag, makan, kembali minum obat maag, tidur, esok paginya bangun dengan kondisi jauh lebih baik, tapi badan lemes.

Minggunya...
Rencana beryoga minggu pagi batal total karena kondisi badan belum fit. Dan ternyata aku nggak sendirian. Bli ikutan demam. Sebenarnya udah dari kemarin dia mengeluh, tapi gak seberapa sakitnya. Baru tadi pagi demamnya meninggi. Tapi aktifitas sih masih normal, masih sempat internetan, main ke rumah sodara, bahkan aku maksa Bli untuk mengantar ke Warung Vegetarian Hare Krishna di Jl. Waribang, kami makan sore disana. Habis sudah terlalu terlambat untuk menyebutnya sebagai makan siang. Pulang dari makan, sebenarnya aku mau menyetrika baju. Tapi gara-gara ngecek frizer ada darah membeku disana akhirnya terjun deh ke dapur. Darah bekunya gara-gara tadi sebelum berangkat makan, ada sodara (tantenya bli yang keluarganya muslim) datang mengantarkan daging kurban. Karena mau pergi akhirnya hanya ditaruh aja di frizer, ternyata plastik pembungkusnya kotor, ada darah yang menetes dan membuat frizernya ikutan kotor.

Sambil menunggu bunga es-nya cair, akhirya aku memutuskan untuk megolah saja daging kurbannya. Dengan modal kemampuan masak setara Farah Quinn akhirnya, this is it... semur daging dan soto sapi ala Inten. Sotonya sih sukses tapi semurnya alot, padahal udah direbus lama, mungkin dagingnya memang bukan bagian yang cocok untuk dimasak semur. Kesuksesanku masak menu soto rupanya tidak diikuti oleh Rossi... yahhh..minggu malam ditutup dengan kekecewaan karena Rossi jatuh saat balapan baru dimulai di race penutup di Valencia.Tetap berharap semoga Rossi jauh lebih baik di musim balapan yang akan datang. I Miss your podium smilling face so much...

18 Okt 2011

Antara Yoga dan Bubur Ayam

Perjuangan untuk bangun pagi adalah salah satu yang berat buatku, apalagi tiap hari libur. Jika ada hal yang membuatku semangat untuk bangun salah satunya adalah agenda latihan Yoga tiap hari minggu pagi. Seperti hari minggu kemarin, aku dah niat banget sejak sehari sebelumnya, pokoknya tidak boleh bolos latihan yoga minggu pagi. Maklum di hari kerja sedikit sekali kesempatan untuk dapat melakukannya karena waktu latihannya yang tidak strategis yaitu jam 7 pagi atau jam 5 sore. Gimana gak sulit kalau pagi kan harus berangkat kerja, sementara latihan sore sulit untuk bisa diikuti karena pulang kantor jam 5. Kadang aku memang nekat untuk datang latihan meskipun seringkali telat untuk mengikuti sesi pemanasan.

Memang udah lama banget aku ingin ikut latihan yoga. Menurutku itu olah raga yang paling sesuai untuk aku yang tidak begitu suka olah raga fisik seperti aerobik atau fitness, meskipun sampai sekarang masih anggota aktif di gym, tapi juarang banget latihan. Dan sejak ikut yoga untuk pertama kali, aku sudah sangat menyukainya. Awalnya sempat survay tempat latihan yoga berbayar, tapi mahal. Untung menemukan kelompok yoga yang rutin mengadakan latihan yang terbuka untuk umum dan gratis. Tempat latihannya pun gak jauh, tiap hari kerja di Lapangan Renon, dan tiap hari minggu di Lapangan Puputan Badung atau di Pantai Sanur. Hari minggu biasanya aku acak aja, kadang ikut yang di Sanur, kadang yang di Puputan Badung.

Aku sama bli agak kesiangan berangkat dari rumah, dan kami memilih tempat latihan di Sanur di pantainya Hotel Grand Bali Beach. Latihan di pantai memang lebih panas, apalagi saat-saat sekarang matahari pagi aja udah terasa terik. Tapi aku sangat menyukainya karena terasa sekali damainya, udara pun lebih segar karena bebas dari polusi. Minggu pagi ini laut sedang surut jadi tidak begitu terdengar suara ombak. Hanya terdengar alunan lembut musik yang mengiringi sesi latihan dan arahan dari instruktur. Meskipun telat sesi pemanasan dan harus melakukan pemanasan sendiri tapi tidak begitu masalah karena jalan kaki dari parkir ke spot latihan cukup jauh jadi gak perlu pemanasan lama, aku bisa langsung mengikuti latihan bersama. Yoga dipantai dibawah matahari kemarau serasa melakukan Hot Yoga.

Terasa sekali keringat bercucuran sepanjang latihan. Situasi ini tidak bisa didapat kalau memilih latihan di Lapangan Puputan Badung karena dilakukan di tempat yang sejuk, dibawah rindang pepohonan. Tapi saat tidak ingin berpanas-panas, latihan di Puputan Badung adalah pilihan yang sangat menyenangkan. Kalau latihan di Lapangan Renon, aku belum pernah ikut yang sesi pagi, selalu yang sesi sore dimana matahari sudah mulai redup jadi gak ada efet Hot Yoga-nya hehhee...

Selesai latihan aku menahan diri untuk tidak beli lumpia di Sanur, jajanan wajib tiap jalan-jalan ke pantai. Hal ini karena aku sama bli ada rencana untuk sarapan bubur ayam di Lapangan Lumintang. Lumayan jauh juga ya dari Sanur ke Lumintang dan ternyata bubur ayam yang kami inginkan sudah habis, sold out. Akhirnya nyerah saja beli bubur ayam yang ada. Hanya bubur ayam biasa, bukan bubur ayam beras merah, dan menurut bli pun rasanya tidak seenak bubur ayam beras merah yang kami incar. Lucunya bubur ayam yang kami beli ini disajikan di piring ingke yang dialas kertas minyak. Tidak menggunakan mangkok seperti umumnya.

Bli bilang kalau ingin beli bubur ayam yang kami inginkan itu harus datang lebih pagi, dan sepertinya itu harus mengorbankan latihan yoga, hmmm....pilihan yang sulit ya... 


Bubur ayam tanpa mangkok, tapai pakai ingke

Dua Pose yang belum bisa aku lakukan tanpa bantuan

11 Okt 2011

Pelajaran Berharga

Ini sebenarnya sudah kegiatan 2 minggu lalu, tapi baru sempat ngedit fotonya dan uploadnya sekarang. Aku melakukan ini bersama kolega dan para mahasiswa. Kami melakukan kunjungan ke YPAC Jimbaran Bali.


Kami kesana memang bertujuan untuk berbagi kebahagiaan dengan adik-adik di YPAC tapi kenyataannya justru merekalah yeng telah memberikan kebahagiaan dan banyak sekali pelajaran berharga. Tentang percaya diri, berani menghadapi tantangan dalam keterbatasan, dan penerimaan. Diantara hal-hal yang dimata kita menjadi kekurangan, ternyata masih banyak keberuntungan yang patut kita syukuri. Tuhan itu Maha Adil.

9 Okt 2011

Otonan Gede Adhitya

Dulu aku juga pernah menuliskan tentang acara otonan di posting yang ini.Untuk referensi lebih jelas tentang upacara 6 bulanan (otonan pertama) dapat dilihat pada artikel dari web Babad Bali yang disini. Seingatku, ini adalah upacara 6 bulanan partema yang aku hadiri sejak tinggal di Bali. Kebetulan otonan keponakan sendiri jadi aku bisa mengikuti upacaranya dari awal hingga hampir selesai. Kenapa aku bilang hampir? karena pas hari itu aku tidak ambil cuti gara-gara sudah banyak cuti di bulan September untuk urusan mudik. Jadi hanya ambil ijin meninggalkan kantor. Kebetulan ada jadwal mengajar kelas malam, makanya bisa masuk siang, beruntung upacaranya berlangsung pagi hari sehingga aku bisa ikut hadir disana.


Lucunya, ada beberapa bagian dari upacara ini mirip dengan upacara mitoni (tujuh bulanan) pada adat Jawa. Ada adegan bayinya dimasukkan ke kurungan ayam. Kalau di Jawa ada tradisi nedak sinten (menginjak bumi untuk pertama kalinya), di upacara 6 bulanan adat Bali ini, banyinya diinjakkan kakinya ke genangan air lengkap dengan ikannya. Aku belum sempat interview dengan para tetua tentang maknanya apa. Lalu ada juga bagian dimana bayi tersebut (dengan dibantu ibunya) berdagang makanan kecil. Lalu para tamu akan rebutan membeli makanan itu dengan harga suka rela. Tentu saja nilai uang yang dibayarkan jauh lebih tinggi dari nilai makanan yang didaganngkan. Kalau pada upacara mitoni kan nggak ada yang seperti ini, justru yang ada adalah tradisi membagikan (menyebar) uang. Jadi orang tua si Bayi menyediakan uang pecahan untuk disebarkan dan nantinya menjadi rebutan para tamu.


Tidak tahu deh makna upacara2 tersebut apa, aku hanya tahunya itu tradisi leluhur. Banyak hal rupanya yang aku lihat dan seharusnya memberikan banyak pelajaran dan pengetahuan tapi aku melewatkannya begitu saja tanpa inisiatif untuk mengeksplorenya lebih jauh. Ah sudahlah... ini dia beberapa foto yang aku ambil dari upacara 6 bulannya Gede Adhitya Pratama, selamat ya ponakanku, semoga cepat besar dan jadi anak baik yang membanggakan keluarga.

7 Okt 2011

Intermezo

Jadi malu deh, tiap kali posting pasti disertai kalimat "lama gak posting nih". Well..well... berkelitnya tentu karena kerjaan emang banyak banget. Tapi kalau menjadikan pekerjaan sebagai alasan gak punya waktu untuk menulis ya bisa-bisa berbulan-bulan atau bertahun-tahun gak posting di blog. Lebih tepatnya malas nulis kali ya. Padahal sebenarnya banyak banget ide dan keinginan untuk posting di blog kesayangan ini tapi tindakan yang tidak ada.


Rasanya gak mungkin ya aku melanjukan postingan tentang mudik lebaran yang lalu, hahhaha...yang bener aja, gak aktual banget. Jadi cerita apa ya?.. bingung. Ya udehh... aku tampilin foto ini aja deh. Foto ini diambil ketika kami sekeluarga besar melakukan perjalanan ke Buleleng untuk menghadiri acara pernikahan sepupu Bli. Sepulang acara, kami sempat mampir sebentar di pasar dekat danau Beratan, Bedugul. Para keluarga sempat belanja sayur, buah, dan makanan kecil khas Bedugul.


Saya dan Dadong (Nenek) Bli dengan background para keluarga yang asyik berbelanja buah.
Iya.. iya.. kami memang mekai kebaya untuk berbagai kegiatan, termasuk menghadiri acara pernikahan adat Bali. Tidak seperti di daerah lain yang biasanya mengenakan gaun atau jenis pakaian formal lainnya. Disini pakaian adat lebih diutamakan. Tidak hanya untuk ibu-ibu atau kaum perempuan, tapi para pria juga mengenakan baju adat lengkap dengan udeng. Tidak heran, ketika ada acara-acara tertentu, terutama acara kantor yang mengharuskan berbaju resmi (bukan baju kerja), aku pasti kebingungan setengah mati karena hampir tidak punya koleksi baju/gaun untuk party dan sejenisnya. Apalagi baju dugem.. NO!! kalau ada ajakan dugem gratis pun sepertinya saya akan lebih memilih tidur saja. Bukan karena malas dugem, tapi  karena gak punya baju yang pantas hehhee... Masak pakai kebaya dan kain, apa kata dunia???

9 Sep 2011

Campursari Lebaran 2011 : Day 1 and 2

Telat banget ya cerita lebarannya. Gak papa, ini masih mending dari pada gak posting sama sekali hehhee... makin aktif blogwalking makin tergerak buat posting. Mungkin ini dipengaruhi juga oleh mandeknya aktivitasku main farmville di FB. Jadi kalau pakai internet lebih sering untuk blogwalking aja. Kok jadi ngelatur pembukanya ya, yang jelas sih aku bersyukur banget bisa mudik lebaran tahun ini. Memang udah lama banget diniatin harus mudik karena lebaran tahun lalu udah gak mudik. Karena tahun lalu jatah cutiku habis untuk pulang pas acara nikahnya Arik, adikku, jadi saat lebarannya aku dan bli melarikan diri untuk trip ke Lembongan, sebagian ceritanya ada disini dan disana. Karena di Bali, terutama di kantorku, libur lebaran hanya 2 hari saja, jadi mau gak mau harus ambil jatah cuti lumayan panjang agar dapat tinggal di Nganjuk selama 1 minggu. Rasanya ambil cuti untuk mudik itu lega banget, cuti untuk liburan, karena biasanya cutiku selalu terpakai untuk upacara adat, jadi gak berasa libur. Yang ada malah capek deh. 


Selama 1 minggu di Nganjuk sebenarnya tidak banyak hal yang aku dan bli lakukan. Sehari-hari kami lebih banyak menghabiskan waktu di rumah orangtuaku. Berangkat dari Denpasar Jumat sore, kami sampai di Nganjuk Sabtu pagi. Kami masih menggunakan alat transportasi andalan yang paling efisien dan ekonomis untuk kami berdua saat ini. Karena masih buslag, jadi hari pertama di Nganjuk kami hanya di rumah sambil melepas kangen sama keluarga. Tapi agak siang, ibu mengajak aku ke Warujayeng untuk beli Jarik (kain batik) dan kebaya untuk dibawa ke rumah Embah (nenek dari pahak bapakku) dan Bude Ni(kakaknya bapak, mbah tinggal bersama Bude Ni karena rumahnya juga sebelahan). Rencananaya memang hari minggu esok harinya, aku sama bli akan main ke rumah Mbah dan Bude Ni.


Di Nganjuk hari kedua, aku sama bli pergi kebeberapa tempat yang menjadi target kami. Pertama kami akan ke Pura Kerta Bhuana Giri Wilis seperti yang telah aku bahas pada posting yang ini. Pulang dari Pura, kami ke kota Nganjuk untuk ngambil uang di ATM, persiapan untuk bagi THR ke adik-adik sepupu dan juga bayar tiket bus untuk perjalanan pulang Denpasar. Sebulan sebelumnya aku dah pesen tiketnya, jadi tinggal bayar aja. Setelah itu kami masih harus membeli kue juga untuk buah tangan karena setelah ini langsung mampir ke rumah Mbah. Namun ternyata bli lapar dan ingin makan bakso Nganjuk. Kami berdua akhirnya nyangkut sebentar di warung bakso depan alun-alun Nganjuk. Oya, warung bakso ini pernah aku ceritakan di postingan  tentang bakso dulu itu. 


Setelah itu baru kami ke rumah Mbah dan Bude Ni. Agak terharu waktu kami sampai disana karena dari rumah sudah dengar cerita kalau mbah mulai pikun jadi hampir tidak mengenali orang. Tapi ternyata begitu aku bilang kalau yang datang ini adalah aku sama bli Mbah langsung nangis dan memeluk kami. Ternyata Mbah masih inget kami berdua meskipun sudah 1,5 lebih tidak ketemu. Mbahku memang usianya sudah 90 tahun lebih, tapi secara fisik sebenarnya masih sehat meskipun beberapa waktu lalu sempat sakit dan opname di RS. Meskipun kemampuan melihatnya sudah menurun tapi kemampuan mendengarnya masih bagus. Seperti kebiasaan Mbahku sejak dulu tiap aku main ke rumahnya, dia pasti akan terus bercerita tentang kisah-kisahnya masa lalu, tentang anak cucunya, juga saudara-saudaranya. Banyak hal yang dia ceritakan yang sebagian besar sudah pernah aku dengar juga darinya. Mbah memang sering mengulang ceritanya, tapi hebatnya dia konsisten dengan alur cerita tersebut. Dari situ aku meyakini bahwa apa yang dia ceritakan memang benar adanya. Namun tidak meleset juga apa yang diceritakan ibuku kalau mbah sudah mulai pikun. Ingatannya sudah putus nyambung, kadang ingat, kadang lupa. 


Di rumah ini Mbah hanya tinggal bersama Bude Ni, yang sejak dahulu setia merawatnya. Dulunya mereka tinggal di rumah terpisah meskipun hanya sebelahan rumahnya. Tapi berhubung mbah sudah semakin tua, sejak sembuh dari sakitnya beberapa waktu sebelumnya, sekarang Mbah tinggal di rumah Bude Ni. Rumah sebelah dibiarkan kosong. Sebenarnya Bude Ni juga sudah tua tapi masih kuat fisiknya. Sama seperti Mbah, meskipun mereka punya anak-anak tapi lebih memilih untuk tetep tinggal di rumah sendiri, lebih kerasan katanya kalau di rumah sendiri. 


Aku sama bli akhirnya menghabiskan sore itu dengan menemani Mbah bercerita dan curhat. Dia mengeluh tidak ada teman bicara di rumah, bingung harus ngobrol dengan siapa karena hanya berdua dengan Bude Ni saja. Agak sedih karena kami tidak bisa mengabulkan keinginan mbah yang menginkan kami menginap hari itu. Aku memang udah lama banget tidak menginap disana. seingatku, dulu waktu SD aku beberapa kali menginap disana bersama adikku. Karena disana hanya ada nenek-nenek saja, tidak ada anak kecil, seringnya aku tidak kerasan. 


Mbah dan Bude Ni, semoga sehat selalu dan panjang umur ya.. 


"Jadi suami itu gak boleh galak ya, harus sayang sama istri" nasehat Mbah buat Bli setelah sungkeman.  hehehhe... semoga bli selalu ingat itu.

8 Sep 2011

Pura Kerta Bhuwana Giri Wilis

Salah satu tempat yang menjadi target untuk dikunjungi saat mudik beberapa waktu lalu adalah ke satu-satunya Pura yang ada di Nganjuk. Sebenarnya sudah agak lama aku tahu keberadaan Pura ini dari sign kecil berupa papan yang terpasang di perempatan lampu merah Loceret, ke arah Bajulan. Ternyata di Nganjuk ada juga Pura. Tapi mudik2 tahun sebelumnya belum ada waktu untuk melihat keberadaannya. Tahun ini udah diniatkan harus melihat Pura itu, makanya disempatkan searching di google tentang Pura tersebut. Memang belum banyak informasi yang tersedia di internet tentang Pura yang satu ini, makanya bersyukur sekali akhirnya aku sama bli bisa datang langsung kesana.


Untuk mencapai tempat ini ternyata tidak begitu sulit dan jaraknya pun tidak begitu jauh. Dari perempatan Loceret hanya sekitar 18 km saja. Tinggal mengikuti arah menuju Bajulan sambil terus lihat-lihat petunjuk jalan yang terpasang hampir ditiap tikungan. Memang sih sebelumnya, saat SMP dan SMA aku pernah ikut perkemahan dan kemping di daerah Bajulan. Tapi berhubung waktu dulu aku masih gagap dengan jalur transportasi jadi tidak terlalu memperhatikan arah. Jadi saat perjalanan mencari Pura ini lebih banyak lupanya dari pada ingatnya tentang daerah Bajulan. 


Bajulan sendiri merupakan salah satu kecamatan di kabupaten Nganjuk yang letaknya di lereng Gunung Wilis. Tidak sulit menjangkaunya karena sarana jalan sudah lumayan bagus meskipun tidak terlalu lebar. Karena tempatnya agak jauh keluar kota dan hanya ada satu jalan utama jadi untuk menjangkaunya tinggal ikutin jalan besar saja. Melewati jalur menuju bajulan ini agak mengingatkan aku pada perjalanan di daerah Gunung Kidul. Jalannya berliku dan berbukit agak gersang. Di kanan kiri jalan adalah perkampungan penduduk yang lumayan ramai jadi tidak perlu khawatir jika terjadi sesuatu di jalan. Memang dibeberapa titik, kanan kiri hanya terhampar ladang ataupun rimbun pepohonan tapi tetap ada satu dua kendaraan lalu lalang ataupun warga melintas seperti pulang atau pergi ke ladang. 


Melalui papan nama tempat  yang terpasang, akhirnya tahu kalau kami sampai di desa Bajulan dan ada jelas terpampang arah menuju Pura. Tapi untuk lebih meyakinkan bahwa kami tidak salah arah, akhirnya bertanya juga pada warga setempat. Karena rupanya keberadaan Pura ini sudah cukup dikenal, jadi tidak sulit mencari tahu tentang keberadaan pastinya. Dan ternyata memang mudah sekali dijangkau, letak Pura ini di tengah perkampungan di Bajulan dan tepat berada disisi jalan dengan papan nama besar.
Jalan menuju ke Pura, Papan Nama Depan Pura, Gerbang Masuk Pura, Suasana di dalam Pura.
Aku dan Bli sengaja mencari waktu yang tepat untuk datang kesini, yaitu pada hari Tilem, meskipun kami datangnya pada siang hari. Beruntung saat masuk ada beberapa ibu di wantilan Pura yang kemudian bermaksud untuk memperkenalkan kami dengan Pemangkunya. Tapi ternyata Pemangku Pura tinggal disebarang Pura dan melihat kedatangan kami, jadi beliaulah yang akhirnya menghampiri kami. Kami sempat memperkenalkan diri dan mengobrol dengan Pak Mangku sebelum akhirnya minta ijin untuk bersembahyang. Karena kami hanya membawa kain dan selendang, Pak mangku memberikan kami Dupa dan Bunga. 


Selesai sembahyang, kami mengobrol dengan Pak Mangku yang bernama Damri tersebut. Beliau memperlihatkan beberapa fasilitas Pura dan beberapa dokumentasi kegiatan, termasuk upacara-upacara besar yang pernah diadakan disana. Pura ini termasuk lengkap untuk ukuran sebuah Pura di Jawa, bahkan ada perpustakaan kecil dan pasraman yang sepertinya sering digunakan untuk memberikan pendidikan agama Hindu bagi anak-anak. Dibeberapa bagian pura kami melihat tumpukan bahan bangunan dan galian yang tentunya berhubungan dengan pembangunan berkelanjutan pura ini. Pak Mangku menceritakan tentang sejarah Pura ini, termasuk beberapa upacara yang dilakukan untuk mendapatkan petunjuk pembangunan Pura. Beliau juga mengisahkan perjalanannya dalam menemukan prasasti yang mengungkap keberadaan Hindu di wilayah gunung Wilis ini. 




Ternyata Pura ini sudah ada sejak 1994 dan sudah sering dikunjungi umat dari berbagai daerah, terutama dari Bali. Sementara umat dari warga sekitar pura ada sekitar 100 KK disana. Oya, berhubung hari itu Tilem, jadi beberapa ibu tampak mempersiapkan keperluan sembahyang untuk malam harinya. Mereka mempersiapakan Daksina, canang, dan kewangen. Aku tidak tahu, apakah Pura ini juga sama dengan Pura Jagatnatha di Jogja yang mana menyiapkan dupa, kewangen dan bunga. Jadi umat yang datang bersembahnyang tidak perlu membawanya sendiri. Gak sempat banyak nanya-nanya karena terlalu asyik berfoto.


Berbincang dengan Pak Mangku Damri tentang sejarah Pura. tampak Ibu-ibu pengayah menyiapkan banten untuk sembahyang tilem.
 Dalam waktu dekat akan diadakan upacara besar di Pura ini, aku lupa upacara apa, kalau tidak salah melaspas apa odalan gitu, yang jatuh pada hari Purnama Kalima, yaitu pada bulan November 2011 ini.

30 Agt 2011

Saat Mudik


Saat ini lagi mudik dong.. ini pertama kalinya ngeblog di rumah orang tuaku, di Nganjuk. Saat nulis ini masih di word, semoga nanti bisa langsung diupload. Maklum aja, sejak nyampe disini belum dapat sinyal yang proper buat upload dan download. Kalau browsing aja sih masih bisa, dengan bantuan niat dan sabar tentunya. Kita udah nyoba pakai smart, xl, axis, dan terakhir 3. Semua hanya ada sinyal Edge, belum ada GPRS. Ya masih syukur lah namanya juga di desa, setidaknya masih dapat memantau email kerjaan. Padahal ya, harusnya gak perlu sampe serepot itu lho kalau misalnya Bli cukup puas menggunakan mobile internet. Dianya yang maksa bawa netbook dan modem sih. Untungnya gak sia-sia.

Meskipun hetic saat persiapannya, tapi akhirnya semua berjalan lancar. Meskipun mabuk saat perjalanan tapi bersyukur bisa sampai di Nganjuk dengan selamat.. Holiday is so fun..!!!!! 

12 Jun 2011

Sesaat Menikmati Pawai PKB ke-33

Hari sabtu yang banyak acara. Gak tahu kenapa sepertinya 110611 menjadi hari baik. Terbukti banyak event diadakan  hari ini. Termasuk 2 kegiatan yang rasanya penting untuk aku hadiri.  Yang pertama tentu pawai PKB. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya,  pembukaan  PKB kali ini sudah diresmikan malam sebelumnya, yaitu jumat malam kemarin sementara pawai baru dilaksanakan sabtu sorenya.  Ini adalah pawai ketiga yang aku saksikan sejak tinggal di Denpasar. Setiap tahun rasanya sayang melewatkan kegiatan akbar ini.  Tentang pawainya sendiri aku pernah menuliskannya  tahun lalu dan satu tulisan lagi tahun sebelumnya.

 Oh, kameramu mas.. ngiler aku. Tapi ini ngilernya belum seberapa dibanding saat berdekatan dengan kamera berlensa moncong putih.

Tapi tidak seperti tahun lalu, aku nonton pawai selintas lalu.  Gara-garanya tentu  kesulitan mendapatkan posisi strategis dekat panggung kehormatan. Gak seru saja rasanya kalau gak dapat melihat atraksi peserta pawai karena mereka hanya melakukan atraksi dihadapan panggung kehormatan saja. Tahun lalu aku bisa menonton dengan puas karena dapat posisi wuenak. Lagi pula kali ini aku nontonnya sama bli meskipun lebih tepatnya dia tidak menemani nonton tapi sekedar jadi bodyguard pasif. Aku malah seringnya menelusup sendiri berebut posisi depan dengan para fotografer amatir yang nasibnya beruntung karena mampu menenteng kamera profesinal keluaran terbaru dan lensa-lensa panjang.

kali ini memang aku berambisi menonton di dekat panggung utama di depan lapangan puputan Badung karenanya akses untuk maju ke depan dan melihat pawai dengan leluasa sangatlah sulit. Penonton di spot ini padat sekali. Sebenarnya Bli terus menawarkan idcard Persnya untuk peliputan sepanjang acara PKB agar aku dapat akses untuk mendapatkan posisi strategis bersama para wartawan. Terang aja aku tolak, kan malu karena aku bukan lagi pekerja media. Sebenarnya memang banyak kemudahan yang hilang dariku sejak tidak lagi bekerja di media terutama dalam mengakses acara-acara penting seperti ini. Tapi bagiku ini justru kebebasan. Bebas untuk menikmati event tanpa terbebani perasaan 'sedang kerja'. Ternyata jadi penonton biasa itu lebih menyenangkan dibandingkan jadi peliput ataupun wartawan.

Kali ini aku juga gak bawa kamera pocket yang warnanya udah gak jernih itu. Hanya sesekali aja jepret pakai kamera hp. Sayang sekali gak dapat nonton ampe tuntas karena harus pulang cepat. Kebetulan hari  ini rainan dan ada odalan di Banjarku.

 Ini Bade, wadah untuk mengangkut jenasah menuju tempat pengabenan. Bade seperti ini digunakan pada Royal Ceremoni, orang biasa tidak pakai yang bertingkat setinggi ini. Awalnya aku kira dia patah tapi ternyata emang dibuat bisa dijungklingkan gini untuk menghindari kabel listrik. Wah gak bisa dibayangkan jika semisalnya Pelebon (Ngaben) beneran dengan Bade yang pastinya lebih besar ukurannya. Mungkin suatu hari harus diciptakan bade bertingkat dengan sistem hidrolik, bisa naik turun jadi gak perlu dipatahkan kayak gini yang beresiko patah beneran. Atau sistem perkabelannya aja dibuat bawah tanah semua biar gak kacau saat pawai atau upacara adat kayak gini.

Wah fotonya yang diposting semuanya tentang Royal Ceremony. Habisnya cuma ini aja yang sempat aku foto. Banyak ketinggalan moment indah lainnya. Kamera Hp yang seadanya juga mengurangi napsu jeprat-jepret. Apalagi jika kanan kiri semua pakai kamera profesional. Hahhaa... alasan.

 Odalan di Banjar kali ini aku gak sempat ngayah sama sekali karena harus kerja. Biasanya selalu dapat untuk ikut persiapannya di Banjar. Agak gak enak hati sih tapi mobagaimanalagi. Beruntung aku tinggal di banjar yang fleksibel dan bertoleransi tinggi pada warganya yang harus kerja. Gak ada sistem denda ataupun absensi. Tapi bagaimanapun ada rasa tidak enak kalau gak hadir ngayah. Untung malam ini dapat (dan memang harus sih) ikut persembahyangan bersama yang lain sampai selesai acara dengan mata yang sangat sepet karena hampir tegah malam baru selesai.

Bagaimana dengan pekerjaan? Hahh..tetep aja ribet. Apalagi udah selesai ujian. Sekarang giliranku puyeng memeriksa hasil ujian. Bagi pengajar tentunya sedih ya kalau harus memberi nilai D atau E. Tapi kadang mogimana? Ada aja yang memang gak layak dilulusin. Namun tenang aja, yang gak lulus jumlahnya gak seberapa kok dibanding yang lulus dan nilai bagus.

Ngomong-ngomong, pingin banget ikut yoga. Besok pagi mau survey ke lapangan Renon semoga minggu depan udah bisa mulai ikut beryoga.

4 Jun 2011

Nongol Lagi

Waduh.. rasanya deg-degan mengetik postingan ini. Udah kayak ketemuan sama pacar yang udah lama LDR aja. Udah berapa bulan ya sejak posting terakhirku?.. wuihh.. Aku memang payah dalam hal menajemen waktu sehingga gak bisa menyisihkan waktu buat nulis di blog. Sejak beberapa bulan terakhir ini kerjaan di kantor emang gak bisa disambi. Waktuku sebagian besar habis untuk mengajar dikelas dan melakukan banyak hal untuk pernak-perniknya seperti menyusun materi presentasi ngajar, menyusun tugas untuk mahasiswa, input nilai tugas dan ujian, sampai bikin soal ujian. Waduh..dulu aku membayangkan enak banget jadi dosen atau guru, tiap hari hanya ngajar dan seenaknya ngasih tugas. Tapi wahai sodara-sodara yang belum pernah mengalami jadi guru atau dosen, ngajar di depa kelas itu cuapek lho. Lebih capek lagi kalau mahasiswanya pada bandel. Trus jangan dikira membuat soal dan tugas itu hal yang mudah. Belum lagi harus mengoreksi hasil ujian dan menginput nilai. Ya ampun.. aku baru menyadari betapa hebat dulu dosen/guru ku yang dapat melakukan tugasnya dengan baik bahkan sampai menjadi dosen/guru favorit.

Sebenarnya bukan hanya kesibukan kerja yang membuat aku malas nulis. Tapi juga kebosanan berlama-lama di depan monitor. Dulu-dulu aku selalu menghabiskan waktu dirumah untuk main game dan blogging. Tapi akhir-akhir ini aku lebih suka menikmati malam dengan istirahat sambil nonton tv atau jalan keluar sama suami. Alasan lainnya juga karena beberapa bulan belakangan terbentur koneksi internet yang bermasalah. Udah berapa kali ya ganti-ganti provider, kayaknya udah semua aku cobain satu2 baik yang GSM ataupun CDMA. Tapi tetep ada aja masalah. Sekarang yang terakhir lagi nyoba pakai si biru dan sejauh ini lumayan. Dia mampu buat nge-load game farmville favoritku. Jadi udah bisa lagi nengokin kebunku yang berbulan-bulan terlantar.

Jadi sodara-sodara, saya gak mau posting panjang dulu ya, mau main game dulu hehhehe...

14 Feb 2011

Valentine yang Katanya Haram

Pasti ada yang bertanya "kok bisa???" ....
Tapi ya begitulah, ada kelompok-kelompok tertentu yang mengatakan tidak boleh merayakan Valentine karena itu perayaan untuk umat agama lain (bukan agamanya), atau karena dianggap itu budaya barat. Namanya juga tinggal di negara dengan suku bangsa, ajaran kepercayaan, pemahaman sosial budaya yang beragam ya wajar kalau ada pro dan kontra tentang suatu hal. Tapi aku gak akan membahasnya kok ditulisan kali ini, gak akan ada habisnya. Lagian juga saya terlalu malas untuk menuliskannya.

Kalau aku sendiri tergolong yang mana? hahha..gak perlu ditanya lah, aku kan orang yang selalu merindukan kasih sayang jadi pastinya mengganggap Valentine day itu berkah. Merasa bersyukur karena hari itu ada, jadi diingatkan untuk mengungkapkan kasih sayang pada orang/makhluk lain. Terutama saat dulu jamannya ABG, jamannya masih pacar-pacaran. Sekarang pun kalau ada yang mencurahnya kasih sayangnya padaku, dengan suka citalah akan aku terima, bahkan aku balas sesuai proporsi dan kapasitasku.

Aku menganggap Valentineku telah dimulai sejak 12 Februari 2011, beberapa saat menjelang tengah malam. Seorang teman bersama kekasihnya mengentuk pintu rumahku untuk mengantarkan Jalakote, oleh-oleh khas Makasar. Sungguh pemberian yang sangat menyentuhku. Aku tersadarkan, she loves me.. Bukan Jalakote-nya, tapi cerita dibalik perjalanan Jalakote itu yang menyentuhku. Kisah mereka yang manis, mereka yang mengalami LDR dan akhirnya bisa bertemu dan merayakan hari besarnya para pecinta, Valentine. Best wishes for you guys... langgenglah selalu, semoga tembok itu telah runtuh diantara kalian. Tembok yang diciptakan manusia bisa luluh oleh cinta. Bolehlah orang lain berkata aku hanya terlalu puitis, mereka salah. Aku dan pasanganku telah menjalaninya. Now, It's your turn, both of you..

13 Februari 2011, aku merasakan kasih sayang dan perhatian dari teman kepada temannya. Kisah Bapak mertuaku dan kasih sayangnya untuk menyukseskan upacara temannya. Hari-hari yang dia lewati dengan payah, diluar kesibukan kerja, selalu menyempatkan waktu untuk orang lain dalam berbagai kegiatan adat. Aku dan suamiku akan sulit menyamai pengabdiannya pada lingkungan sosial, bahkan sepercik pun sangat sulit.

14 Februari 2011, aku tidak merencakan perayaan materialistik, tidak coklat ataupun kado karena padatnya pekerjaanku akhir-akhir ini. Hari ini masih jadwalku menjadi assesor untuk ujian praktek multimedia di SMK PGRI 4 Denpasar. Seorang siswi menghampiri dengan memberikan sekuntum mawar merah "Selamat Valentine buat guru yang saya cintai" begitu ucapan dikartunya. Ucapan yang membuatku tersenyum menyambut pagi ini, yah..meskipun aku bukan guru mereka, setidaknya tidak mengajar dikelas mereka. Siangnya 2 orang teman kantor mampir untuk memberikan bingkisan makan siang, rejeki tidak terduga.

Masih ada beberapa jam lagi hingga tanggal berganti menjadi 15 Februari, tapi masih banyak yang harus aku lalui, salah satunya mengajar kelas malam di kampusku. Dan aku harap masih banyak lagi cerita kasih sayang melengkapi hariku...

11 Feb 2011

Balinese with Javanese Taste

Hai..hai... udah lama banget ternyata gak update blog, udah sebulan lebih. Sungguh prestasi kemalasan yang tidak patut dibanggakan. Lama kelamaan aku juga merasa blog ini makin kusan aja ya. Hmm.. kayaknya harus otak-atik lagi, tapi belum ada ide mau dibuat sepeti apa. Tapi sejauh ini aku masih sangat puas dengan keberhasilanku mencetuskan tagline untuk blog ini. Tuh ada di header atas " Balinese with Javanese Taste " hahhaa.. aku suka sekali. Sangat mewakili diriku. Pasti pada bingung kan, kok aku menyebut diriku orang Bali. Nah, urusan ini aku juga bingung.

Sejak menikah dan tinggal di Bali selalu saja orang pada bilang "wah..udah jadi orang Bali ya..". Terutama dulu waktu awal-awal nikah pernyataan itu hampir selalu terlontar dari mulut orang yang ketemu aku. Sepertinya ketika ada perempuan dari luar Bali menikah dengan lelaki Bali (Hindu Bali), ada anggapan bahwa dia otomatis sudah menjadi orang Bali. Mungkin disebabkan ketika seorang perempuan menikah maka otomatis dia telah menjadi bagian dari keluarga lelaki dalam arti yang sangat mengikat. Not only ypur body, your soul belongs here gitu deh. Begitu pun sebaliknya, ketika perempuan Bali menikah dengan lelaki dari luar Bali maka secara otomatis dia juga telah lepas dari keluarganya dan masuk menjadi bagian dari keluarga suaminya, body and soul. Ada adat istiadat yang mengaturnya dan di Bali, adat istiadat memiliki kekuatan mengukat yang lebih kuat dibanding UUD '45.

Aku sendiri dulu sering protes sama suami jika ada yang bilang aku telah menjadi orang Bali. Aku dilahirkan dan dibesarkan di Jawa, orang tuaku asli Jawa ya aku tetaplah orang Jawa, begitu sellau aku bilang padanya. Namun meskipun aku bersikukuh dengan keJawaanku tetap saja tidak akan pernah bisa mengelak dari adat yang mengikatku disini. Bersyukur tidak ada pernah pemberontakan dari dalam diriku. I really enjoy being Balinesse. Meskipun harus aku akui jadi orang Bali sangat-sangat berat.

Pertama tentu karena kedudukan aturan adat yang lebih mengikat dari UUD '45 tadi. Lalu ikatan keluarga, lebih-lebih saat ini kami masih tinggal bersama keluarga besar suami. Tanggung jawabku tidak hanya lagi sekedar pada kedua orang tua kandungku, seperti halnya dulu belum menikah. Sekarang sudah ada keluarga suami, tidak sekedar keluarga inti, tapi keluarga besar dalam makna yang sangat besar. Dan terutama keterikatan orang Bali kepada para leluhur mereka. Point terakhir inilah yang tidak aku rasakan waktu masih di Jawa.

Itulah kenapa sekarang aku sudah bisa menerima jika ada yang menyebut aku sebagai "nak Bali" dengan segala konsekuensi yang mengikutinya. I said, this is my way and this is my destiny.

Itu tadi soal karma, tentang takdir sebagai orang Bali. Tapi secara manusiawi ada hal-hal yang tidak bisa dilepaskan, yaitu selera, taste. Terlahir dan tumbuh di Jawa telah membentuk karakterku sebagai orang Jawa. Dan aku sangat bangga dengan segala pendidikan pekerti yang luhur tersebut. Begitupun masalah selera, dalam berbagai hal tidak bisa dipungkiri aku tetapnya orang Jawa.

1 Jan 2011

Tahun Baru Yang Tidak Pernah Seru

Tidak ada pesta tahun baru..
Tidak melihat kembang api tahun baru..
Tidak ada tiup terompet tahun baru..
Bergadang hingga detik-detik pergantian ke tahun baru..
Dan apa pun yang berhubungan dengan semarak tahun baru..


Ya..itulah setidaknya pengalaman 4 kali tahun baru yang aku alami sejak tinggal di Bali. Meskipun beribu wisatawan berebut booking tempat untuk bisa merayakan tahun baru di Bali, tapi semarak itu tidak aku alami..bahkan terbersit keinginan untuk ikut menikmati pun tidak terlalu aku rasakan.


Tahun baru pertamaku di Bali saat masuk 2008. Saat itu kami masih penganti baru dan aku belum bekerja sejak pindah ke Bali pada akhir November 2007. Hari-hari yang menyenangkan, santai, dan tidak terbebani urusan deadline, karena selama hampir 4 tahun sebelumnya aku habiskan hari-hariku sebagai pekerja media. Aku melewatkan tahun baru sendiri saja di rumah karena Bli ada syuting acara tahun baru. Ini tahun baru pertamaku sejak lulus kuliah yang bisa aku lewatnya dibalik selimut hangat sambil nonton acara TV. Aku tidak meratapinya, karena sungguh malam itu aku menikmati hari-hari santaiku. Lagi pula malam tahun baru saat itu di luar hujan deras.


Tahun baru 2009, serasa bukan tahun baru buatku. Sejak Januari 2008 aku sudah bergabung di sebuah lembaga pendidikan, dan disini ada tradisi acara general meeting staff setiap tanggal 31 Desember. Otomatis selama aku masih bekerja disini, kakiku terikat untuk mengikuti tradisi ini. Acaranya selalu berlangsung dari pagi hingga sore, bahkan bisa malam hari. Setengah hari pertama dilewatkan dengan acara meeting. Kegiatan yang panjang dan membutuhkan konsentrasi, selain juga perjuangan agar tidak mengantuk selama acara berlangsung. Setelah acara meeting biasanya akan dilanjutkan dengan berbagai kegiatan. Saat itu kegiatannya adalah games team building. Acara lainnya makan-makan dan tukar kado. Malamnya tentu saja aku sudah kehabisan banyak tenaga untuk bisa merayakan tahun baru. Meskipun bli sedang tidak kerja dan cuaca sedang tidak hujan, tapi karena aku begitu kecapekan dan bli agak sakit akhirnya kami memutuskan melewatkan tahun baru dengan tidur.


Tahun baru 2010, dari pagi hingga malamnya kegiatanku masih sama seperti tahun sebelumnya. Melewatkannya dengan teman-teman kantor dalam tradisi tahunan. Malamnya tentu saja masih sama seperti tahun sebelumnya. Aku pulang ke rumah dengan badan capek remuk redam. Payah banget, dan kami pun melewatkan kemeriahan tahun baru meskipun hingar-bingarnya memecah keheningan di kamar. Suara musik dari Balai banjar yang saat itu sedang diadakan acara pentas musik, berpadu dengan suara petasan dan kembang api. Bli malah menyibukkan diri dengan ulah ciko, anjing kami yang kambuh trauma tahunanya karena bunyi ledakan petasan dan kembang api.


Tahun baru 2011, tetap sama dengan tahun sebelumnya. Sebenarnya sejak sehari sebelumnya aku sudah memutuskan untuk melewatkanya dengan melihat pertunjukan kembang api di areal lapangan Puputan, Denpasar. Jaraknya tidak begitu jauh dari rumah, meskipun macet setidaknya tidak harus ditempuh dengan waktu yang lama. Kalaupun harus jalan kaki tidak sampai 10 menit. Malam sebelumnya kami sudah sempat jalan-jalan menyusuri area Denpasar Festival. Sebuah kegiatan tahunan yang diadakan oleh pemerintah kota Denpasar untuk menyambut tahun baru dengan berbagai kegiatan seperti pertunjukan seni tradisional, musik, pameran fotografi, area stan makanan dan kerajinan, dsb. Itulah kenapa muncul ideku untuk kembali lagi besoknya untuk melihat pertunjukan kembang api di lokasi yang sama. Namun ternyata cuaca berkata lain. Meskipun hari cerah sejak pagi harinya, menjelang jam 10 malam hujan deras mengguyur Denpasar. Dan seperti bisa ditebak, semalam kami kembali melewatkan pergantian tahun di tempat tidur karena terlalu malas untuk menerobos hujan hanya untuk melihat pertunjukan kembang api yang belum tentu bisa meledak karena basah.


Hahhhhh... itulah sejarah malam-malam tahun baru kami selama 4 tahun terakhir. Dan selama 4 tahun itulah kami juga disibukkan dengan ulah Ciko setiap memasuki balan Desember. Tidak bisa dibilang kami tidak menikmati kembang api karena sejak awal Desember langit denpasar sudah ramai dengan ledakan-ledakan kembang api. Setiap sore dan malam kami hanya perlu duduk diteras maka pertunjukan kembang api gratis dapat dinikmati sepuasnya. 


Sekarang tahun baru 2011, pagi ini aku mau memulainya dengan sesuatu yang produktif yaitu menghasilkan sebuah artikel untuk diposting di blog. Semoga kegiatan kecil ini bisa bisa terus menjadi motivasiku untuk memujudkan resolusi tahun ini, menulis sebuah buku. Dan sebuah resolusi lainnya yang sempat aku bisikkan pada Tuhan. Astungkara.