1 Jan 2011

Tahun Baru Yang Tidak Pernah Seru

Tidak ada pesta tahun baru..
Tidak melihat kembang api tahun baru..
Tidak ada tiup terompet tahun baru..
Bergadang hingga detik-detik pergantian ke tahun baru..
Dan apa pun yang berhubungan dengan semarak tahun baru..


Ya..itulah setidaknya pengalaman 4 kali tahun baru yang aku alami sejak tinggal di Bali. Meskipun beribu wisatawan berebut booking tempat untuk bisa merayakan tahun baru di Bali, tapi semarak itu tidak aku alami..bahkan terbersit keinginan untuk ikut menikmati pun tidak terlalu aku rasakan.


Tahun baru pertamaku di Bali saat masuk 2008. Saat itu kami masih penganti baru dan aku belum bekerja sejak pindah ke Bali pada akhir November 2007. Hari-hari yang menyenangkan, santai, dan tidak terbebani urusan deadline, karena selama hampir 4 tahun sebelumnya aku habiskan hari-hariku sebagai pekerja media. Aku melewatkan tahun baru sendiri saja di rumah karena Bli ada syuting acara tahun baru. Ini tahun baru pertamaku sejak lulus kuliah yang bisa aku lewatnya dibalik selimut hangat sambil nonton acara TV. Aku tidak meratapinya, karena sungguh malam itu aku menikmati hari-hari santaiku. Lagi pula malam tahun baru saat itu di luar hujan deras.


Tahun baru 2009, serasa bukan tahun baru buatku. Sejak Januari 2008 aku sudah bergabung di sebuah lembaga pendidikan, dan disini ada tradisi acara general meeting staff setiap tanggal 31 Desember. Otomatis selama aku masih bekerja disini, kakiku terikat untuk mengikuti tradisi ini. Acaranya selalu berlangsung dari pagi hingga sore, bahkan bisa malam hari. Setengah hari pertama dilewatkan dengan acara meeting. Kegiatan yang panjang dan membutuhkan konsentrasi, selain juga perjuangan agar tidak mengantuk selama acara berlangsung. Setelah acara meeting biasanya akan dilanjutkan dengan berbagai kegiatan. Saat itu kegiatannya adalah games team building. Acara lainnya makan-makan dan tukar kado. Malamnya tentu saja aku sudah kehabisan banyak tenaga untuk bisa merayakan tahun baru. Meskipun bli sedang tidak kerja dan cuaca sedang tidak hujan, tapi karena aku begitu kecapekan dan bli agak sakit akhirnya kami memutuskan melewatkan tahun baru dengan tidur.


Tahun baru 2010, dari pagi hingga malamnya kegiatanku masih sama seperti tahun sebelumnya. Melewatkannya dengan teman-teman kantor dalam tradisi tahunan. Malamnya tentu saja masih sama seperti tahun sebelumnya. Aku pulang ke rumah dengan badan capek remuk redam. Payah banget, dan kami pun melewatkan kemeriahan tahun baru meskipun hingar-bingarnya memecah keheningan di kamar. Suara musik dari Balai banjar yang saat itu sedang diadakan acara pentas musik, berpadu dengan suara petasan dan kembang api. Bli malah menyibukkan diri dengan ulah ciko, anjing kami yang kambuh trauma tahunanya karena bunyi ledakan petasan dan kembang api.


Tahun baru 2011, tetap sama dengan tahun sebelumnya. Sebenarnya sejak sehari sebelumnya aku sudah memutuskan untuk melewatkanya dengan melihat pertunjukan kembang api di areal lapangan Puputan, Denpasar. Jaraknya tidak begitu jauh dari rumah, meskipun macet setidaknya tidak harus ditempuh dengan waktu yang lama. Kalaupun harus jalan kaki tidak sampai 10 menit. Malam sebelumnya kami sudah sempat jalan-jalan menyusuri area Denpasar Festival. Sebuah kegiatan tahunan yang diadakan oleh pemerintah kota Denpasar untuk menyambut tahun baru dengan berbagai kegiatan seperti pertunjukan seni tradisional, musik, pameran fotografi, area stan makanan dan kerajinan, dsb. Itulah kenapa muncul ideku untuk kembali lagi besoknya untuk melihat pertunjukan kembang api di lokasi yang sama. Namun ternyata cuaca berkata lain. Meskipun hari cerah sejak pagi harinya, menjelang jam 10 malam hujan deras mengguyur Denpasar. Dan seperti bisa ditebak, semalam kami kembali melewatkan pergantian tahun di tempat tidur karena terlalu malas untuk menerobos hujan hanya untuk melihat pertunjukan kembang api yang belum tentu bisa meledak karena basah.


Hahhhhh... itulah sejarah malam-malam tahun baru kami selama 4 tahun terakhir. Dan selama 4 tahun itulah kami juga disibukkan dengan ulah Ciko setiap memasuki balan Desember. Tidak bisa dibilang kami tidak menikmati kembang api karena sejak awal Desember langit denpasar sudah ramai dengan ledakan-ledakan kembang api. Setiap sore dan malam kami hanya perlu duduk diteras maka pertunjukan kembang api gratis dapat dinikmati sepuasnya. 


Sekarang tahun baru 2011, pagi ini aku mau memulainya dengan sesuatu yang produktif yaitu menghasilkan sebuah artikel untuk diposting di blog. Semoga kegiatan kecil ini bisa bisa terus menjadi motivasiku untuk memujudkan resolusi tahun ini, menulis sebuah buku. Dan sebuah resolusi lainnya yang sempat aku bisikkan pada Tuhan. Astungkara.