14 Feb 2011

Valentine yang Katanya Haram

Pasti ada yang bertanya "kok bisa???" ....
Tapi ya begitulah, ada kelompok-kelompok tertentu yang mengatakan tidak boleh merayakan Valentine karena itu perayaan untuk umat agama lain (bukan agamanya), atau karena dianggap itu budaya barat. Namanya juga tinggal di negara dengan suku bangsa, ajaran kepercayaan, pemahaman sosial budaya yang beragam ya wajar kalau ada pro dan kontra tentang suatu hal. Tapi aku gak akan membahasnya kok ditulisan kali ini, gak akan ada habisnya. Lagian juga saya terlalu malas untuk menuliskannya.

Kalau aku sendiri tergolong yang mana? hahha..gak perlu ditanya lah, aku kan orang yang selalu merindukan kasih sayang jadi pastinya mengganggap Valentine day itu berkah. Merasa bersyukur karena hari itu ada, jadi diingatkan untuk mengungkapkan kasih sayang pada orang/makhluk lain. Terutama saat dulu jamannya ABG, jamannya masih pacar-pacaran. Sekarang pun kalau ada yang mencurahnya kasih sayangnya padaku, dengan suka citalah akan aku terima, bahkan aku balas sesuai proporsi dan kapasitasku.

Aku menganggap Valentineku telah dimulai sejak 12 Februari 2011, beberapa saat menjelang tengah malam. Seorang teman bersama kekasihnya mengentuk pintu rumahku untuk mengantarkan Jalakote, oleh-oleh khas Makasar. Sungguh pemberian yang sangat menyentuhku. Aku tersadarkan, she loves me.. Bukan Jalakote-nya, tapi cerita dibalik perjalanan Jalakote itu yang menyentuhku. Kisah mereka yang manis, mereka yang mengalami LDR dan akhirnya bisa bertemu dan merayakan hari besarnya para pecinta, Valentine. Best wishes for you guys... langgenglah selalu, semoga tembok itu telah runtuh diantara kalian. Tembok yang diciptakan manusia bisa luluh oleh cinta. Bolehlah orang lain berkata aku hanya terlalu puitis, mereka salah. Aku dan pasanganku telah menjalaninya. Now, It's your turn, both of you..

13 Februari 2011, aku merasakan kasih sayang dan perhatian dari teman kepada temannya. Kisah Bapak mertuaku dan kasih sayangnya untuk menyukseskan upacara temannya. Hari-hari yang dia lewati dengan payah, diluar kesibukan kerja, selalu menyempatkan waktu untuk orang lain dalam berbagai kegiatan adat. Aku dan suamiku akan sulit menyamai pengabdiannya pada lingkungan sosial, bahkan sepercik pun sangat sulit.

14 Februari 2011, aku tidak merencakan perayaan materialistik, tidak coklat ataupun kado karena padatnya pekerjaanku akhir-akhir ini. Hari ini masih jadwalku menjadi assesor untuk ujian praktek multimedia di SMK PGRI 4 Denpasar. Seorang siswi menghampiri dengan memberikan sekuntum mawar merah "Selamat Valentine buat guru yang saya cintai" begitu ucapan dikartunya. Ucapan yang membuatku tersenyum menyambut pagi ini, yah..meskipun aku bukan guru mereka, setidaknya tidak mengajar dikelas mereka. Siangnya 2 orang teman kantor mampir untuk memberikan bingkisan makan siang, rejeki tidak terduga.

Masih ada beberapa jam lagi hingga tanggal berganti menjadi 15 Februari, tapi masih banyak yang harus aku lalui, salah satunya mengajar kelas malam di kampusku. Dan aku harap masih banyak lagi cerita kasih sayang melengkapi hariku...

11 Feb 2011

Balinese with Javanese Taste

Hai..hai... udah lama banget ternyata gak update blog, udah sebulan lebih. Sungguh prestasi kemalasan yang tidak patut dibanggakan. Lama kelamaan aku juga merasa blog ini makin kusan aja ya. Hmm.. kayaknya harus otak-atik lagi, tapi belum ada ide mau dibuat sepeti apa. Tapi sejauh ini aku masih sangat puas dengan keberhasilanku mencetuskan tagline untuk blog ini. Tuh ada di header atas " Balinese with Javanese Taste " hahhaa.. aku suka sekali. Sangat mewakili diriku. Pasti pada bingung kan, kok aku menyebut diriku orang Bali. Nah, urusan ini aku juga bingung.

Sejak menikah dan tinggal di Bali selalu saja orang pada bilang "wah..udah jadi orang Bali ya..". Terutama dulu waktu awal-awal nikah pernyataan itu hampir selalu terlontar dari mulut orang yang ketemu aku. Sepertinya ketika ada perempuan dari luar Bali menikah dengan lelaki Bali (Hindu Bali), ada anggapan bahwa dia otomatis sudah menjadi orang Bali. Mungkin disebabkan ketika seorang perempuan menikah maka otomatis dia telah menjadi bagian dari keluarga lelaki dalam arti yang sangat mengikat. Not only ypur body, your soul belongs here gitu deh. Begitu pun sebaliknya, ketika perempuan Bali menikah dengan lelaki dari luar Bali maka secara otomatis dia juga telah lepas dari keluarganya dan masuk menjadi bagian dari keluarga suaminya, body and soul. Ada adat istiadat yang mengaturnya dan di Bali, adat istiadat memiliki kekuatan mengukat yang lebih kuat dibanding UUD '45.

Aku sendiri dulu sering protes sama suami jika ada yang bilang aku telah menjadi orang Bali. Aku dilahirkan dan dibesarkan di Jawa, orang tuaku asli Jawa ya aku tetaplah orang Jawa, begitu sellau aku bilang padanya. Namun meskipun aku bersikukuh dengan keJawaanku tetap saja tidak akan pernah bisa mengelak dari adat yang mengikatku disini. Bersyukur tidak ada pernah pemberontakan dari dalam diriku. I really enjoy being Balinesse. Meskipun harus aku akui jadi orang Bali sangat-sangat berat.

Pertama tentu karena kedudukan aturan adat yang lebih mengikat dari UUD '45 tadi. Lalu ikatan keluarga, lebih-lebih saat ini kami masih tinggal bersama keluarga besar suami. Tanggung jawabku tidak hanya lagi sekedar pada kedua orang tua kandungku, seperti halnya dulu belum menikah. Sekarang sudah ada keluarga suami, tidak sekedar keluarga inti, tapi keluarga besar dalam makna yang sangat besar. Dan terutama keterikatan orang Bali kepada para leluhur mereka. Point terakhir inilah yang tidak aku rasakan waktu masih di Jawa.

Itulah kenapa sekarang aku sudah bisa menerima jika ada yang menyebut aku sebagai "nak Bali" dengan segala konsekuensi yang mengikutinya. I said, this is my way and this is my destiny.

Itu tadi soal karma, tentang takdir sebagai orang Bali. Tapi secara manusiawi ada hal-hal yang tidak bisa dilepaskan, yaitu selera, taste. Terlahir dan tumbuh di Jawa telah membentuk karakterku sebagai orang Jawa. Dan aku sangat bangga dengan segala pendidikan pekerti yang luhur tersebut. Begitupun masalah selera, dalam berbagai hal tidak bisa dipungkiri aku tetapnya orang Jawa.