11 Feb 2011

Balinese with Javanese Taste

Hai..hai... udah lama banget ternyata gak update blog, udah sebulan lebih. Sungguh prestasi kemalasan yang tidak patut dibanggakan. Lama kelamaan aku juga merasa blog ini makin kusan aja ya. Hmm.. kayaknya harus otak-atik lagi, tapi belum ada ide mau dibuat sepeti apa. Tapi sejauh ini aku masih sangat puas dengan keberhasilanku mencetuskan tagline untuk blog ini. Tuh ada di header atas " Balinese with Javanese Taste " hahhaa.. aku suka sekali. Sangat mewakili diriku. Pasti pada bingung kan, kok aku menyebut diriku orang Bali. Nah, urusan ini aku juga bingung.

Sejak menikah dan tinggal di Bali selalu saja orang pada bilang "wah..udah jadi orang Bali ya..". Terutama dulu waktu awal-awal nikah pernyataan itu hampir selalu terlontar dari mulut orang yang ketemu aku. Sepertinya ketika ada perempuan dari luar Bali menikah dengan lelaki Bali (Hindu Bali), ada anggapan bahwa dia otomatis sudah menjadi orang Bali. Mungkin disebabkan ketika seorang perempuan menikah maka otomatis dia telah menjadi bagian dari keluarga lelaki dalam arti yang sangat mengikat. Not only ypur body, your soul belongs here gitu deh. Begitu pun sebaliknya, ketika perempuan Bali menikah dengan lelaki dari luar Bali maka secara otomatis dia juga telah lepas dari keluarganya dan masuk menjadi bagian dari keluarga suaminya, body and soul. Ada adat istiadat yang mengaturnya dan di Bali, adat istiadat memiliki kekuatan mengukat yang lebih kuat dibanding UUD '45.

Aku sendiri dulu sering protes sama suami jika ada yang bilang aku telah menjadi orang Bali. Aku dilahirkan dan dibesarkan di Jawa, orang tuaku asli Jawa ya aku tetaplah orang Jawa, begitu sellau aku bilang padanya. Namun meskipun aku bersikukuh dengan keJawaanku tetap saja tidak akan pernah bisa mengelak dari adat yang mengikatku disini. Bersyukur tidak ada pernah pemberontakan dari dalam diriku. I really enjoy being Balinesse. Meskipun harus aku akui jadi orang Bali sangat-sangat berat.

Pertama tentu karena kedudukan aturan adat yang lebih mengikat dari UUD '45 tadi. Lalu ikatan keluarga, lebih-lebih saat ini kami masih tinggal bersama keluarga besar suami. Tanggung jawabku tidak hanya lagi sekedar pada kedua orang tua kandungku, seperti halnya dulu belum menikah. Sekarang sudah ada keluarga suami, tidak sekedar keluarga inti, tapi keluarga besar dalam makna yang sangat besar. Dan terutama keterikatan orang Bali kepada para leluhur mereka. Point terakhir inilah yang tidak aku rasakan waktu masih di Jawa.

Itulah kenapa sekarang aku sudah bisa menerima jika ada yang menyebut aku sebagai "nak Bali" dengan segala konsekuensi yang mengikutinya. I said, this is my way and this is my destiny.

Itu tadi soal karma, tentang takdir sebagai orang Bali. Tapi secara manusiawi ada hal-hal yang tidak bisa dilepaskan, yaitu selera, taste. Terlahir dan tumbuh di Jawa telah membentuk karakterku sebagai orang Jawa. Dan aku sangat bangga dengan segala pendidikan pekerti yang luhur tersebut. Begitupun masalah selera, dalam berbagai hal tidak bisa dipungkiri aku tetapnya orang Jawa.

2 komentar:

  1. yang penting tetep orang indonesia ya.... mau jawa atau bali gak masalah lah... :D

    BalasHapus
  2. @arman : betul banget.. Tapi masalahnya dalam konteks ini lingkupnya msh sebatas antar pulau hehe..

    BalasHapus