9 Sep 2011

Campursari Lebaran 2011 : Day 1 and 2

Telat banget ya cerita lebarannya. Gak papa, ini masih mending dari pada gak posting sama sekali hehhee... makin aktif blogwalking makin tergerak buat posting. Mungkin ini dipengaruhi juga oleh mandeknya aktivitasku main farmville di FB. Jadi kalau pakai internet lebih sering untuk blogwalking aja. Kok jadi ngelatur pembukanya ya, yang jelas sih aku bersyukur banget bisa mudik lebaran tahun ini. Memang udah lama banget diniatin harus mudik karena lebaran tahun lalu udah gak mudik. Karena tahun lalu jatah cutiku habis untuk pulang pas acara nikahnya Arik, adikku, jadi saat lebarannya aku dan bli melarikan diri untuk trip ke Lembongan, sebagian ceritanya ada disini dan disana. Karena di Bali, terutama di kantorku, libur lebaran hanya 2 hari saja, jadi mau gak mau harus ambil jatah cuti lumayan panjang agar dapat tinggal di Nganjuk selama 1 minggu. Rasanya ambil cuti untuk mudik itu lega banget, cuti untuk liburan, karena biasanya cutiku selalu terpakai untuk upacara adat, jadi gak berasa libur. Yang ada malah capek deh. 


Selama 1 minggu di Nganjuk sebenarnya tidak banyak hal yang aku dan bli lakukan. Sehari-hari kami lebih banyak menghabiskan waktu di rumah orangtuaku. Berangkat dari Denpasar Jumat sore, kami sampai di Nganjuk Sabtu pagi. Kami masih menggunakan alat transportasi andalan yang paling efisien dan ekonomis untuk kami berdua saat ini. Karena masih buslag, jadi hari pertama di Nganjuk kami hanya di rumah sambil melepas kangen sama keluarga. Tapi agak siang, ibu mengajak aku ke Warujayeng untuk beli Jarik (kain batik) dan kebaya untuk dibawa ke rumah Embah (nenek dari pahak bapakku) dan Bude Ni(kakaknya bapak, mbah tinggal bersama Bude Ni karena rumahnya juga sebelahan). Rencananaya memang hari minggu esok harinya, aku sama bli akan main ke rumah Mbah dan Bude Ni.


Di Nganjuk hari kedua, aku sama bli pergi kebeberapa tempat yang menjadi target kami. Pertama kami akan ke Pura Kerta Bhuana Giri Wilis seperti yang telah aku bahas pada posting yang ini. Pulang dari Pura, kami ke kota Nganjuk untuk ngambil uang di ATM, persiapan untuk bagi THR ke adik-adik sepupu dan juga bayar tiket bus untuk perjalanan pulang Denpasar. Sebulan sebelumnya aku dah pesen tiketnya, jadi tinggal bayar aja. Setelah itu kami masih harus membeli kue juga untuk buah tangan karena setelah ini langsung mampir ke rumah Mbah. Namun ternyata bli lapar dan ingin makan bakso Nganjuk. Kami berdua akhirnya nyangkut sebentar di warung bakso depan alun-alun Nganjuk. Oya, warung bakso ini pernah aku ceritakan di postingan  tentang bakso dulu itu. 


Setelah itu baru kami ke rumah Mbah dan Bude Ni. Agak terharu waktu kami sampai disana karena dari rumah sudah dengar cerita kalau mbah mulai pikun jadi hampir tidak mengenali orang. Tapi ternyata begitu aku bilang kalau yang datang ini adalah aku sama bli Mbah langsung nangis dan memeluk kami. Ternyata Mbah masih inget kami berdua meskipun sudah 1,5 lebih tidak ketemu. Mbahku memang usianya sudah 90 tahun lebih, tapi secara fisik sebenarnya masih sehat meskipun beberapa waktu lalu sempat sakit dan opname di RS. Meskipun kemampuan melihatnya sudah menurun tapi kemampuan mendengarnya masih bagus. Seperti kebiasaan Mbahku sejak dulu tiap aku main ke rumahnya, dia pasti akan terus bercerita tentang kisah-kisahnya masa lalu, tentang anak cucunya, juga saudara-saudaranya. Banyak hal yang dia ceritakan yang sebagian besar sudah pernah aku dengar juga darinya. Mbah memang sering mengulang ceritanya, tapi hebatnya dia konsisten dengan alur cerita tersebut. Dari situ aku meyakini bahwa apa yang dia ceritakan memang benar adanya. Namun tidak meleset juga apa yang diceritakan ibuku kalau mbah sudah mulai pikun. Ingatannya sudah putus nyambung, kadang ingat, kadang lupa. 


Di rumah ini Mbah hanya tinggal bersama Bude Ni, yang sejak dahulu setia merawatnya. Dulunya mereka tinggal di rumah terpisah meskipun hanya sebelahan rumahnya. Tapi berhubung mbah sudah semakin tua, sejak sembuh dari sakitnya beberapa waktu sebelumnya, sekarang Mbah tinggal di rumah Bude Ni. Rumah sebelah dibiarkan kosong. Sebenarnya Bude Ni juga sudah tua tapi masih kuat fisiknya. Sama seperti Mbah, meskipun mereka punya anak-anak tapi lebih memilih untuk tetep tinggal di rumah sendiri, lebih kerasan katanya kalau di rumah sendiri. 


Aku sama bli akhirnya menghabiskan sore itu dengan menemani Mbah bercerita dan curhat. Dia mengeluh tidak ada teman bicara di rumah, bingung harus ngobrol dengan siapa karena hanya berdua dengan Bude Ni saja. Agak sedih karena kami tidak bisa mengabulkan keinginan mbah yang menginkan kami menginap hari itu. Aku memang udah lama banget tidak menginap disana. seingatku, dulu waktu SD aku beberapa kali menginap disana bersama adikku. Karena disana hanya ada nenek-nenek saja, tidak ada anak kecil, seringnya aku tidak kerasan. 


Mbah dan Bude Ni, semoga sehat selalu dan panjang umur ya.. 


"Jadi suami itu gak boleh galak ya, harus sayang sama istri" nasehat Mbah buat Bli setelah sungkeman.  hehehhe... semoga bli selalu ingat itu.

3 komentar:

  1. wow si mbah udah 90 th tapi masih sehat ya.. moga2 selalu sehat ya... :)

    BalasHapus
  2. Nice story telling....keep writing ya friend...hehe...

    BalasHapus
  3. @Arman : Iya, tapi dulu mbah pernah 2 kali sakit parah dan masuk RS, tapi bersyukur justru sekarang ini sehat2 saja.

    @Pak Yohanes : Thanks pak.. terima kasih kunjungannya ya :D

    BalasHapus