8 Sep 2011

Pura Kerta Bhuwana Giri Wilis

Salah satu tempat yang menjadi target untuk dikunjungi saat mudik beberapa waktu lalu adalah ke satu-satunya Pura yang ada di Nganjuk. Sebenarnya sudah agak lama aku tahu keberadaan Pura ini dari sign kecil berupa papan yang terpasang di perempatan lampu merah Loceret, ke arah Bajulan. Ternyata di Nganjuk ada juga Pura. Tapi mudik2 tahun sebelumnya belum ada waktu untuk melihat keberadaannya. Tahun ini udah diniatkan harus melihat Pura itu, makanya disempatkan searching di google tentang Pura tersebut. Memang belum banyak informasi yang tersedia di internet tentang Pura yang satu ini, makanya bersyukur sekali akhirnya aku sama bli bisa datang langsung kesana.


Untuk mencapai tempat ini ternyata tidak begitu sulit dan jaraknya pun tidak begitu jauh. Dari perempatan Loceret hanya sekitar 18 km saja. Tinggal mengikuti arah menuju Bajulan sambil terus lihat-lihat petunjuk jalan yang terpasang hampir ditiap tikungan. Memang sih sebelumnya, saat SMP dan SMA aku pernah ikut perkemahan dan kemping di daerah Bajulan. Tapi berhubung waktu dulu aku masih gagap dengan jalur transportasi jadi tidak terlalu memperhatikan arah. Jadi saat perjalanan mencari Pura ini lebih banyak lupanya dari pada ingatnya tentang daerah Bajulan. 


Bajulan sendiri merupakan salah satu kecamatan di kabupaten Nganjuk yang letaknya di lereng Gunung Wilis. Tidak sulit menjangkaunya karena sarana jalan sudah lumayan bagus meskipun tidak terlalu lebar. Karena tempatnya agak jauh keluar kota dan hanya ada satu jalan utama jadi untuk menjangkaunya tinggal ikutin jalan besar saja. Melewati jalur menuju bajulan ini agak mengingatkan aku pada perjalanan di daerah Gunung Kidul. Jalannya berliku dan berbukit agak gersang. Di kanan kiri jalan adalah perkampungan penduduk yang lumayan ramai jadi tidak perlu khawatir jika terjadi sesuatu di jalan. Memang dibeberapa titik, kanan kiri hanya terhampar ladang ataupun rimbun pepohonan tapi tetap ada satu dua kendaraan lalu lalang ataupun warga melintas seperti pulang atau pergi ke ladang. 


Melalui papan nama tempat  yang terpasang, akhirnya tahu kalau kami sampai di desa Bajulan dan ada jelas terpampang arah menuju Pura. Tapi untuk lebih meyakinkan bahwa kami tidak salah arah, akhirnya bertanya juga pada warga setempat. Karena rupanya keberadaan Pura ini sudah cukup dikenal, jadi tidak sulit mencari tahu tentang keberadaan pastinya. Dan ternyata memang mudah sekali dijangkau, letak Pura ini di tengah perkampungan di Bajulan dan tepat berada disisi jalan dengan papan nama besar.
Jalan menuju ke Pura, Papan Nama Depan Pura, Gerbang Masuk Pura, Suasana di dalam Pura.
Aku dan Bli sengaja mencari waktu yang tepat untuk datang kesini, yaitu pada hari Tilem, meskipun kami datangnya pada siang hari. Beruntung saat masuk ada beberapa ibu di wantilan Pura yang kemudian bermaksud untuk memperkenalkan kami dengan Pemangkunya. Tapi ternyata Pemangku Pura tinggal disebarang Pura dan melihat kedatangan kami, jadi beliaulah yang akhirnya menghampiri kami. Kami sempat memperkenalkan diri dan mengobrol dengan Pak Mangku sebelum akhirnya minta ijin untuk bersembahyang. Karena kami hanya membawa kain dan selendang, Pak mangku memberikan kami Dupa dan Bunga. 


Selesai sembahyang, kami mengobrol dengan Pak Mangku yang bernama Damri tersebut. Beliau memperlihatkan beberapa fasilitas Pura dan beberapa dokumentasi kegiatan, termasuk upacara-upacara besar yang pernah diadakan disana. Pura ini termasuk lengkap untuk ukuran sebuah Pura di Jawa, bahkan ada perpustakaan kecil dan pasraman yang sepertinya sering digunakan untuk memberikan pendidikan agama Hindu bagi anak-anak. Dibeberapa bagian pura kami melihat tumpukan bahan bangunan dan galian yang tentunya berhubungan dengan pembangunan berkelanjutan pura ini. Pak Mangku menceritakan tentang sejarah Pura ini, termasuk beberapa upacara yang dilakukan untuk mendapatkan petunjuk pembangunan Pura. Beliau juga mengisahkan perjalanannya dalam menemukan prasasti yang mengungkap keberadaan Hindu di wilayah gunung Wilis ini. 




Ternyata Pura ini sudah ada sejak 1994 dan sudah sering dikunjungi umat dari berbagai daerah, terutama dari Bali. Sementara umat dari warga sekitar pura ada sekitar 100 KK disana. Oya, berhubung hari itu Tilem, jadi beberapa ibu tampak mempersiapkan keperluan sembahyang untuk malam harinya. Mereka mempersiapakan Daksina, canang, dan kewangen. Aku tidak tahu, apakah Pura ini juga sama dengan Pura Jagatnatha di Jogja yang mana menyiapkan dupa, kewangen dan bunga. Jadi umat yang datang bersembahnyang tidak perlu membawanya sendiri. Gak sempat banyak nanya-nanya karena terlalu asyik berfoto.


Berbincang dengan Pak Mangku Damri tentang sejarah Pura. tampak Ibu-ibu pengayah menyiapkan banten untuk sembahyang tilem.
 Dalam waktu dekat akan diadakan upacara besar di Pura ini, aku lupa upacara apa, kalau tidak salah melaspas apa odalan gitu, yang jatuh pada hari Purnama Kalima, yaitu pada bulan November 2011 ini.

3 komentar:

  1. Saya sangat bahagia bisa tangkil ke pura KERTA BHUANA GIRI WILIS pada saat panca wali krama yang jatuh pada tanggal 10 nov`11, purnamaning kelima, Kami beserta rombongan KELUARGA BESAR BHUJANGGA WAISNAWA dari bali GRIYA TEMUKUS yg dipimpin oleh Ida Bhujangga Rci Waisnawa Kemenuh, kami berangkat dr bali tgl 8 nov`11, jam 4 am dan nyampe d Pura giri wilis sekitar jam 6 pm waktu setempat, dan kami pemuja dewa wisnu sangat bersyukur kehadapanNya karena berkat Beliaulah upacara ini bisa terlaksana dengan SEMPURNA, yang perlu saya tegaskan bahwa umat hindu yang ada di kab nganjuk kec loceret desa bajulan dusun curik sangatlah antusias terhadap upacara yg bisa dikatan PANCA WALI KRAMA.............

    BalasHapus
  2. Pura kerta bhuana giri wilis merupakan pura yang yang sangat indah dan sangst terinspirasi olehnya, jadi wahai keluarga besar BHUJANGGA WAISNAWA pemuja dewa WISNU, berbaktilah dengan sungguh2 dan ihklas terhadapNYA maka, kalian akan mendapatkan/memperoleh kemakmuran dan anugrah yang berlimpah - limpah...... dengan jalan bhakti kpd leluhur dan bhakti kepada dewa WISNU dgn jalan menstanakan Beliau ditempat suci, menghaturkan minuman suci, bersembahyang dgn hati bahagia dan tentram. itu semua ada di Reg weda X15.4

    BalasHapus
  3. @ Bapak Komang Sangsit, terima kasih atas aspirasinya terhadap artikel ini. Beruntung Bapak bisa menghadiri upacara besar pada purnama kalima tersebut. Terima kasih telah berbagi kepada kami.

    BalasHapus