18 Okt 2011

Antara Yoga dan Bubur Ayam

Perjuangan untuk bangun pagi adalah salah satu yang berat buatku, apalagi tiap hari libur. Jika ada hal yang membuatku semangat untuk bangun salah satunya adalah agenda latihan Yoga tiap hari minggu pagi. Seperti hari minggu kemarin, aku dah niat banget sejak sehari sebelumnya, pokoknya tidak boleh bolos latihan yoga minggu pagi. Maklum di hari kerja sedikit sekali kesempatan untuk dapat melakukannya karena waktu latihannya yang tidak strategis yaitu jam 7 pagi atau jam 5 sore. Gimana gak sulit kalau pagi kan harus berangkat kerja, sementara latihan sore sulit untuk bisa diikuti karena pulang kantor jam 5. Kadang aku memang nekat untuk datang latihan meskipun seringkali telat untuk mengikuti sesi pemanasan.

Memang udah lama banget aku ingin ikut latihan yoga. Menurutku itu olah raga yang paling sesuai untuk aku yang tidak begitu suka olah raga fisik seperti aerobik atau fitness, meskipun sampai sekarang masih anggota aktif di gym, tapi juarang banget latihan. Dan sejak ikut yoga untuk pertama kali, aku sudah sangat menyukainya. Awalnya sempat survay tempat latihan yoga berbayar, tapi mahal. Untung menemukan kelompok yoga yang rutin mengadakan latihan yang terbuka untuk umum dan gratis. Tempat latihannya pun gak jauh, tiap hari kerja di Lapangan Renon, dan tiap hari minggu di Lapangan Puputan Badung atau di Pantai Sanur. Hari minggu biasanya aku acak aja, kadang ikut yang di Sanur, kadang yang di Puputan Badung.

Aku sama bli agak kesiangan berangkat dari rumah, dan kami memilih tempat latihan di Sanur di pantainya Hotel Grand Bali Beach. Latihan di pantai memang lebih panas, apalagi saat-saat sekarang matahari pagi aja udah terasa terik. Tapi aku sangat menyukainya karena terasa sekali damainya, udara pun lebih segar karena bebas dari polusi. Minggu pagi ini laut sedang surut jadi tidak begitu terdengar suara ombak. Hanya terdengar alunan lembut musik yang mengiringi sesi latihan dan arahan dari instruktur. Meskipun telat sesi pemanasan dan harus melakukan pemanasan sendiri tapi tidak begitu masalah karena jalan kaki dari parkir ke spot latihan cukup jauh jadi gak perlu pemanasan lama, aku bisa langsung mengikuti latihan bersama. Yoga dipantai dibawah matahari kemarau serasa melakukan Hot Yoga.

Terasa sekali keringat bercucuran sepanjang latihan. Situasi ini tidak bisa didapat kalau memilih latihan di Lapangan Puputan Badung karena dilakukan di tempat yang sejuk, dibawah rindang pepohonan. Tapi saat tidak ingin berpanas-panas, latihan di Puputan Badung adalah pilihan yang sangat menyenangkan. Kalau latihan di Lapangan Renon, aku belum pernah ikut yang sesi pagi, selalu yang sesi sore dimana matahari sudah mulai redup jadi gak ada efet Hot Yoga-nya hehhee...

Selesai latihan aku menahan diri untuk tidak beli lumpia di Sanur, jajanan wajib tiap jalan-jalan ke pantai. Hal ini karena aku sama bli ada rencana untuk sarapan bubur ayam di Lapangan Lumintang. Lumayan jauh juga ya dari Sanur ke Lumintang dan ternyata bubur ayam yang kami inginkan sudah habis, sold out. Akhirnya nyerah saja beli bubur ayam yang ada. Hanya bubur ayam biasa, bukan bubur ayam beras merah, dan menurut bli pun rasanya tidak seenak bubur ayam beras merah yang kami incar. Lucunya bubur ayam yang kami beli ini disajikan di piring ingke yang dialas kertas minyak. Tidak menggunakan mangkok seperti umumnya.

Bli bilang kalau ingin beli bubur ayam yang kami inginkan itu harus datang lebih pagi, dan sepertinya itu harus mengorbankan latihan yoga, hmmm....pilihan yang sulit ya... 


Bubur ayam tanpa mangkok, tapai pakai ingke

Dua Pose yang belum bisa aku lakukan tanpa bantuan

11 Okt 2011

Pelajaran Berharga

Ini sebenarnya sudah kegiatan 2 minggu lalu, tapi baru sempat ngedit fotonya dan uploadnya sekarang. Aku melakukan ini bersama kolega dan para mahasiswa. Kami melakukan kunjungan ke YPAC Jimbaran Bali.


Kami kesana memang bertujuan untuk berbagi kebahagiaan dengan adik-adik di YPAC tapi kenyataannya justru merekalah yeng telah memberikan kebahagiaan dan banyak sekali pelajaran berharga. Tentang percaya diri, berani menghadapi tantangan dalam keterbatasan, dan penerimaan. Diantara hal-hal yang dimata kita menjadi kekurangan, ternyata masih banyak keberuntungan yang patut kita syukuri. Tuhan itu Maha Adil.

9 Okt 2011

Otonan Gede Adhitya

Dulu aku juga pernah menuliskan tentang acara otonan di posting yang ini.Untuk referensi lebih jelas tentang upacara 6 bulanan (otonan pertama) dapat dilihat pada artikel dari web Babad Bali yang disini. Seingatku, ini adalah upacara 6 bulanan partema yang aku hadiri sejak tinggal di Bali. Kebetulan otonan keponakan sendiri jadi aku bisa mengikuti upacaranya dari awal hingga hampir selesai. Kenapa aku bilang hampir? karena pas hari itu aku tidak ambil cuti gara-gara sudah banyak cuti di bulan September untuk urusan mudik. Jadi hanya ambil ijin meninggalkan kantor. Kebetulan ada jadwal mengajar kelas malam, makanya bisa masuk siang, beruntung upacaranya berlangsung pagi hari sehingga aku bisa ikut hadir disana.


Lucunya, ada beberapa bagian dari upacara ini mirip dengan upacara mitoni (tujuh bulanan) pada adat Jawa. Ada adegan bayinya dimasukkan ke kurungan ayam. Kalau di Jawa ada tradisi nedak sinten (menginjak bumi untuk pertama kalinya), di upacara 6 bulanan adat Bali ini, banyinya diinjakkan kakinya ke genangan air lengkap dengan ikannya. Aku belum sempat interview dengan para tetua tentang maknanya apa. Lalu ada juga bagian dimana bayi tersebut (dengan dibantu ibunya) berdagang makanan kecil. Lalu para tamu akan rebutan membeli makanan itu dengan harga suka rela. Tentu saja nilai uang yang dibayarkan jauh lebih tinggi dari nilai makanan yang didaganngkan. Kalau pada upacara mitoni kan nggak ada yang seperti ini, justru yang ada adalah tradisi membagikan (menyebar) uang. Jadi orang tua si Bayi menyediakan uang pecahan untuk disebarkan dan nantinya menjadi rebutan para tamu.


Tidak tahu deh makna upacara2 tersebut apa, aku hanya tahunya itu tradisi leluhur. Banyak hal rupanya yang aku lihat dan seharusnya memberikan banyak pelajaran dan pengetahuan tapi aku melewatkannya begitu saja tanpa inisiatif untuk mengeksplorenya lebih jauh. Ah sudahlah... ini dia beberapa foto yang aku ambil dari upacara 6 bulannya Gede Adhitya Pratama, selamat ya ponakanku, semoga cepat besar dan jadi anak baik yang membanggakan keluarga.

7 Okt 2011

Intermezo

Jadi malu deh, tiap kali posting pasti disertai kalimat "lama gak posting nih". Well..well... berkelitnya tentu karena kerjaan emang banyak banget. Tapi kalau menjadikan pekerjaan sebagai alasan gak punya waktu untuk menulis ya bisa-bisa berbulan-bulan atau bertahun-tahun gak posting di blog. Lebih tepatnya malas nulis kali ya. Padahal sebenarnya banyak banget ide dan keinginan untuk posting di blog kesayangan ini tapi tindakan yang tidak ada.


Rasanya gak mungkin ya aku melanjukan postingan tentang mudik lebaran yang lalu, hahhaha...yang bener aja, gak aktual banget. Jadi cerita apa ya?.. bingung. Ya udehh... aku tampilin foto ini aja deh. Foto ini diambil ketika kami sekeluarga besar melakukan perjalanan ke Buleleng untuk menghadiri acara pernikahan sepupu Bli. Sepulang acara, kami sempat mampir sebentar di pasar dekat danau Beratan, Bedugul. Para keluarga sempat belanja sayur, buah, dan makanan kecil khas Bedugul.


Saya dan Dadong (Nenek) Bli dengan background para keluarga yang asyik berbelanja buah.
Iya.. iya.. kami memang mekai kebaya untuk berbagai kegiatan, termasuk menghadiri acara pernikahan adat Bali. Tidak seperti di daerah lain yang biasanya mengenakan gaun atau jenis pakaian formal lainnya. Disini pakaian adat lebih diutamakan. Tidak hanya untuk ibu-ibu atau kaum perempuan, tapi para pria juga mengenakan baju adat lengkap dengan udeng. Tidak heran, ketika ada acara-acara tertentu, terutama acara kantor yang mengharuskan berbaju resmi (bukan baju kerja), aku pasti kebingungan setengah mati karena hampir tidak punya koleksi baju/gaun untuk party dan sejenisnya. Apalagi baju dugem.. NO!! kalau ada ajakan dugem gratis pun sepertinya saya akan lebih memilih tidur saja. Bukan karena malas dugem, tapi  karena gak punya baju yang pantas hehhee... Masak pakai kebaya dan kain, apa kata dunia???