30 Mei 2012

Love to do this..

Kalau di runut, tentu banyak hal dari apa yang telah aku jalani itu menarik bagiku. Tapi tentunya tidak semua menjadi passion bagiku. Kalau boleh aku runut berdasarkan ingatan dan perasaan, diantaranya adalah :

Membaca 
Ini adalah passionku sejak pertama kenal huruf hingga sekarang. Jangan salah lho, tidak semua orang memiliki kegemaran bahkan passion dalam hal membaca. Jadi Anda termasuk beruntung jika memiliki ketertarikan membaca. Entah itu novel, sejarah, buku pelajaran, ataupun membaca koran. Tapi aku akui, tidak begitu suka baca ebook. Mungkin ada hubungannya dengan kebiasaanku membaca sambil tiduran. Gak mungkin kan aku baca-baca novel digital di laptop atau monitor sambil tiduran di kasur. Hahhaa... kalau ini aku rasa kayaknya udah saatnya beralih ke tablet sih tapi uang yang gak punya.

Ngubek Toko Buku
Kalau yang ini sepertinya sangat berhubungan dengan hobby membacaku. Kalau sudah di toko buku bisa sampai berjam-jam meskipun akhirnya hanya beli 1-2 buku atau bahkan hanya beli majalah saja. Passion ini udah aku rasakan sejak tinggal di Nganjuk meski jaman itu disana adanya hanya kios buku atau toko buku kecil. Sejak kuliah di Jogja dan sekarang pindah ke Denpasar, kesukaanku akan toko buku makin menggila karena ada Gramedia dan Toga Mas. Aku juga pernah nulis tentang toko buku Toga Mas disini.

Sahabat Pena
Boleh percaya atau tidak, jaman SMP aku punya sahabat pena itu sampai puluhan.  Gara-garanya menang salah satu kuis di majalah Bobo dan namaku tercantum disana. Tanpa diduga ternyata banyak sekali surat datang dan akhirnya berlanjutlah surat-suratan itu dengan sesama penggemar Bobo. Bahkan ada yang masih berlajut ampe sekarang meskipun udah gak pakai surat lagi melainkan sms atau FB. Cerita tentang sahabat penaku pernah kutulis disini.

Menulis
Buku diary pertamaku adalah saat SMP dan kegiatan tulis menulis itu berlanjut hingga sekarang meskipun masih sebatas blogging. Kadang menulis juga untuk keperluan pekerjaan atau jobdesk sampingan menulis di website kampus tempatku bekerja atau menulis advetorial untuk surat kabar lokal, seringnya Bali Post.

Sepak Bola
Tentunya bukan sebagai pemain ya. Aku menggilai sepak bola hanya sebatas sebagai supporter saja. Baik itu Premier League, Seri A, Piala Champion, UEFA, EURO apalagi Piala Dunia. Tapi khusunya aku adalah suporter Juventus, Liverpool dan Timnas Italia. Passion ini hanya menjangkitiku sejak jaman SMA hingga kuliah saja. Bahkan rela menyisihkan jatah bulanan buat langganan Kompas dan beli Tabloit Bola. Jaman itu belum booming internet. Dulu sampai rela bergadang demi nonton pertandingan Bola dan koleksi poster-poster pemain/club favorit. Kalau sekarang mending tidur lebih awal dari pada ngantuk di kantor esok harinya.

Berkumpul atau Hangout bersama sahabat
Mungkin teman yang tidak akrab denganku menganggap aku makhluk soliter. Ya memang pada dasarnya aku bukan tipe yang mudah berteman dan suka hangout sana-sini. Passionku hanya hangout bareng sahabat yang memang sehati sehingga obrolan tidak hanya mentok pada masalah remeh-temeh. Kalau sekedar hangout sama teman memang suka tapi kadang aku tidak begitu menikmatinya. Tapi kalau udah menyangkut para sahabat, aku bisa menyempatkan diri ke luar kota untuk bisa bertemu mereka. Bersyukur saat ini ada dua orang sahabatku sejak di Jogja dulu yang sekarang sama-sama tinggal di Bali jadi bisa sering bertemu mereka.

Nah itu tentang passion yang sangat aku nikmati. Kalau sekarang ......
Bagiku passion itu adalah hal-hal yang dapat membuat kita bahagia saat melakukannya dan tersenyum saat menantikannya. Passion itu adalah menit-menit menuju jam 17.00 (jam pulang kerja). Bagiku passion itu adalah novel baru yang tergeletak disamping bantal dan menunggu untuk dilanjutkan. Bagiku passion itu adalah buku new release yang harus segera dihampiri di toko buku. Bagiku passion itu adalah menunggu hari sabtu untuk bisa nongkrong di Pizza Hut bareng sahabat. Bagiku passion itu adalah saat ada ide dan segera menuangkannya dalam bentuk posting seperti ini. Bagiku passion itu adalah berdua sama suami nonton film favorit hasil download tapi formatnya BlueRay atau minimal DVDRip.

24 Mei 2012

Mampukah gelar “Warisan Dunia” Selamatkan Subak?

Dari sekian banyak berita yang ditampilkan di halaman VOA, berita tentang ”UNESCO Akui Sistem Pengairan Subak sebagai Warisan Budaya Dunia” sangat menarik perhatian saya. Tentunya itu ada hubungannya  dengan situasi saya saat ini yang  tinggal Bali, turut bangga gitu lah. Bukan hanya itu saja, momen  ini sangat berbarengan dengan kegiatan saya saat ini di kampus sebagai pembimbing Program Kreatifitas Mahasiswa. Kebetulan salah satu kelompok PKM mengambil obyek pembuatan website Museum Subak dan CD edukasi tentang subak dan pengenalan peralatan sawah basah.

Salah satu patung yang dipamerkan di Museum Subak


Kembali ke masalah subak, setiap anak di Indonesia yang pernah menempuh pendidikan formal di SD pastinya pernah mendengar atau tahu tentang istilah subak ini. Tapi saya yakin masih banyak yang bingung subak yang sesungguhnya itu seperti apa. Bahkan tidak sedikit juga yang menyangka bahwa subak itu terasiring. Karena apa yang biasa kita lihat diberbagai foto atau gambar yang menampilkan persawahan khas Bali, terutama daerah Ubud adalah bentuk persawahan bertingkat-tigkat atau terasiring tadi. Padahal, subak sebenarnya tidak hanya sawah terasiring saja. Lebih dari itu, subak mencakup semua elemen dalam pertanian di Bali.

Subak sendiri sebenarnya adalah organisasi kemasyarakatan pertanian di Bali, jadi semacam kelompok tani di desa-desa di Bali. Namanya juga organisasi, jadi harus ada peraturan dan tata caranya. Nah tata cara atau dalam bahasa Bali disebut awig-awing inilah yang mengatur sistem yang harus dipatuhi oleh anggota subak. Awig-awig subak ada yang tertulis dan tidak tertulis. Kegiatan subak didasarkan pada ajaran Tri Hita Karana, yaitu mengupayakan kesejahteraan bersama dengan menciptakan harmonisasi manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesamanya dan manusia dengan lingkungan. 

Persawahan yang indah dan subur adalah perwujudan pengelolaan Subak di Tabanan
Pelestarian Subak

Sebagai sebuah budaya, subak sangat penting untuk dilestarikan. Salah satu yang sudah terwujud adalah keberadaan Museum Subak Mandala Mathika di desa Sungulan, Tabanan, Bali. Museum ini menjadi sumber informasi bagi peneliti, pelajar/mahasiswa dan masyarakat yang ingin mendapatkan informasi tentang subak. Disini terdapat ruang pamer berbagai contoh peralatan pertanian tradisional, inforasi tentang struktur subak dan berbagai kegiatannya, hingga penggambaran kehidupan petani tradisional di Bali dalam bentuk miniature rumah adat, patung, dan peralatan pertanian dan rumah tangga. Selain itu juga tersedia media pendidikan lainnya dalam bentuk buku-buku, dokumen audio visual hingga miniatur sistem irigasi. Sayangnya keberadaan museum ini belum dikenal luas oleh masyarakat.

Tidak seperti Batik yang bisa dikoleksi, tarian yang bisa ditampilkan dalam bentuk petunjukan, pelestarian subak memerlukan usaha keras, tidak hanya dari petani di Bali, tapi juga peran serta dan kepedulian pemerintah dalam memfasilitasinya. Karena subak adalah norma kemasyarakatan bagi petani di Bali, maka upaya pelestariannya harus seiring dengan pengembangan usaha pertanian. Yang mana hal ini sudah mulai tersingkir oleh pariwisata global yang melanda Bali.

Tantangan Subak

Bali adalah kutub magnet yang menarik banyak wisatawan asing dan domestik untuk datang. Lebih dari pada itu, tidak sedikit yang tergiur untuk menetap dan membuka usaha di Bali karena potensinya yang besar dalam bidang ekonomi. Situasi ini sangat mengancam kelestarian pertanian Bali dan subak itu sendiri. Kebutuhan hunian yang tinggi membuat tanah pertanian beralih fungsi menjadi pemukiman. Pariwisata Bali ibaratnya pisau bermata ganda. Disatu sisi menjadi penghidupan bagi aneka usaha, namun disisi lain melemahkan pertanian Bali. Makin sedikit generasi muda yang memilih profesi lain yang lebih menjajikan dibanding menjadi petani.

Dan pertanyaan saya adalah “mampukah gelar warisan dunia dari UNESCO ini menyelamatkan subak dari gempuran bisnis pariwisata dan tantangan perkembangan populasi masyarakat Bali?”. Salah satu kunci yang saya tawarkan adalah mensinergikan antara pertanian dan pariwisata sehingga keduanya bisa beriringan. Di beberapa tempat di Bali sudah dilakukan seperti Desa Wisata Kertalangu, Jatiluwih, dan Tegalalang. Tinggal bagaimana mengelalolanya dengan serius sehingga Subak dapat dilestarikan sekaligus menguntungkan dari segi bisnis pariwisata.

Berwisata menikmati hijaunya persawahan di desa wisata Kertalangu

4 Mei 2012

Almost 10 Weeks

Ya Tuhan.. gak terasa ya, 10 week. Senangnya jika seandainya itu cerita tentang kehamilan. Sayangnya kok ya belum hehe.. jadi ini almost 10 weeks dimana aku absen posting. Dan si blogger yang aku puja itu selalu mengejekku karena minimnya aktifitas ngeblogku. Padahal ya, yang ngrayu dia agar bikin blog, ngrayu agar rajin nulis di blog ya aku. tapi kok malah sekarang giliranku yang malas posting. Ibaratnya guru kalah sama murit sekarang ini.

Gak papa deh.. yang penting kan sekarang udah posting lagi kan?
Tiada yang lebih membahagiakan kok bagi seorang guru selain melihat muridnya berkembang bahkan melampui dirinya.

Oya, untuk pertama kalinya, akhirnya ngerasain juga sambal bu rudy yang legandaris itu. Pesen online hanya untuk sambal dan udang kayaknya terdengar aneh. Tapi gak rugi kok. Sambelnya emang maknyuss meskipun tidak sespektakuler yang banyak dibicarakan orang-orang di blog. Tapi emang bener kalau pedesnya nagih, keringat mengucur, air mata meleleh dan ingus mencair. Trus diikuti dengan mules keesokan harinya. Top deh bu rudy.