30 Des 2012

Agrowisata Bali Pulina Tegalalang

Wuuuiiiii.. saat ini lagi hujan. Padahal hari minggu lho, rencananya tadi mau jalan-jalan sendiri. Maklum suami lagi kerja. Maunya lihat Denpasar Festival sambil nyari kebaya. Kebetulan saat ini sedang perlu kebaya warna putih. 2 Hari yang lalu, saat hari pembukaan aku dan bli sudah sempat lihat Denpasar Festival ini. Tapi pas ruame banget pengunjungnya karena emang lagi prime time gitu hehee.. Denpasar Festival ini agenda tahunan pemerintah kota Denpasar setiap 28-31 Desember di arela jl Gajah Mada, Kawasan Patung Catur Muka hingga alun-alun Puputan sekitar Pura Jagatnatha. Agenda adalah festival kuliner, kerajianan daerah, festival tekstil yang didominasi stand-stand kebaya dan endek (kain tenun tradisional Bali). Ada juga spot tanaman hias, pentas musik dan tari di jam tertentu, juga pameran fotografi. Punya suami yang gak suka keramaian dan paling anti jalan-jalan di pusat perbelanjaan membuat kunjungan kami di Denpasar Fesival hari itu gak memuaskan buat aku. Makanya pingin kesana lagi tapi sendiri aja, gak usah ngajak suami. Tapi giliran suami kerja dan aku pas libur kok hujan, pegimane ini...

Yaudah deh..kita blogging aje, melanjutkan kisah jalan-jalan yang udah hampir basi kemarin. Posting yang ini untuk memenuhi janji tentang ulasan Agrowisata Bali Pulina. seperti aku ceritakan diposting terdahulu, bahwa aku dan bli menyempatkan diri jalan-jalan ke Ubud dan Tegalalang pada libur Natal beberapa waktu lalu. Di Bali sendiri, kopi merupakan salah satu komoditi yang jadi andalan. Kopi Bali jadi salah satu oleh-oleh buat mereka yang berwisata ke Bali. Beberapa tahun terakhir banyak sekali agrowisata kopi dibuka di berbagai daerah di Bali seperti Bangli, Tabanan, Buleleng, Gianyar dan sebagainya. Semuanya menawarkan suasana sejuk kebun kopi dipadu dengan view perkebunan dan tentu saja hidangan kopi Bali yang khas. Salah satu agrowisata yang unik tentu Bali Pulina ini. Sebenarnya aku dan Bli sama-sama bukan penggemar kopi, cenderung menghindari malah, apalagi aku punya maag yang sering kali hangover berlebih hanya gara-gara iseng nyeruput nescafe. Jadi sempat ragu juga mau mampir kesini. Tapi iming-iming view yang menarik mengesampingkan ketakutan kami akan dampak minum kopi.

Begitu masuk kesini, sempat terkejut karena security yang tadi ngantar kami tiba-tiba mukul kentongan yang ada disitu. Rupanya itu alat komunikasi mereka untuk memberitahu petugas di dalam bahwa ada pengunjung baru tiba. Maklum, begitu masuk langsung kawasan seperti kebun gitu dengan berbagai tanaman rimbun dan kandang-kandang luwak. Gak lama datang pemandu yang menyambut kami dan mulai menjelaskan tentang konsep Agrowisata Bali Pulina itu sendiri. Kami melihat luwak yang tengah asyik makan biji-biji kopi di kandang mereka, melihat berbagai jenis pohon koleksi yang ada disana hingga dijelaskan tentang proses pembuatan kopi luwak. Tidak hanya dijelaskan sih karena pengunjung bisa melihat langsung prosesnya. Jadi buat yang belum tahu, kopi luwak itu bukan varietas kopi, melainkan kopi yang dimakan oleh luwak, trus buji-biji yang tidak tercerna keluar melalui kotoran luwak. Nah kotoran inilah yang kemudian diproses untuk pembuatan kopi luwak.

Tapi gak usah ngeri dulu ya, sebenarnya luwak itu hanya mencerna kulit kopinya. Biji-biji kopi tetap utuh dan masih terlapisi oleh kulit ari. Nah si Luwak ini pinter banget memilih kopi yang beneran masak dan bagus, jadi tidak semua kopi dia makan. Jadi biji yang keluar lewat kotorannya itu biji kopi pilihan (pilihan luwak maksudnya), trus dalam proses pencernaannya luwak mengeluarkan enzim yang membuat biji kopi ini nantinya memiliki rasa dan aroma yang khas..(katanya). Kotoran luwak kemudian dijemur samapai kering, dicuci dengan air panas, dijemur lagi dan dikupas kulit pelapisnya. Setelah itu baru biji diproses menjadi bubuk kopi. Tadadaaa..maka jadilah kopi termahal di dunia. Kalau terenak itu kan relatif ya, kalau mahal itu baru mutlak hehehe...

Demo proses pembuatan kopi luwak.
Agrowisata Bali Pulina ini diuntungkan dengan kontur tanah di bagian belakang yang curam, berbatasan langsung dengan tebing jadi viewnya mengarah ke lembah hijau yang indah. Disana dibuat balai-balai tempat tamu bisa duduk sambil menikmati kopi. Kalau datang kesana kita akan dihidangkan berbagai ragam teh dan kopi aneka rasa. Ada sekitar 8 cangkir kecil dengan 2 varian rasa teh dan 6 lainnya kopi, ada kopi jahe, vanila, cocoa, kopi bali asli, dsb. Yang jadi favorit kami berdua tentu bisa dibeak yaitu tehnya, ada rasa lemon dan jahe. Keduanya sungguh enak karena gratis. Sementara untuk kopinya, meskipun bukan penikmat kopi tapi kami habiskan juga hehhe.. gak mau rugi deh. Dan bersyukur aku hanya sedit pusing saja setelahnya. Biasanya bisa lebih parah lho.

Ada tambahan camilan bentuk stik ini, gak tahu apakah ini ubi atau talas.
Pengunjung yang tertarik untuk membeli kopi dan teh sesuai rasa yang disajikan bisa membeli di galeri yang ada disana. Kaau menurutku memang agak mahal sih. tapi buat para penikmat kopi dan jika ada yang Anda suka, beli lah sebelum kembali ke kota asal dari pada nanti menyesal heheh..setidaknya bisa buat oleh-oleh untuk soadara dan teman. Jadi.. inilah satu lagi tempat di Bali yang saya rekomendasikan selain museum bersejarah ini.

26 Des 2012

Libur Natal di Ubud dan Tegalalang

Selamat Hari Raya Natal.. Merry Chrismast all my friends and family
Aku tentu tidak merayakan Natal tapi sangat menikmati suasananya. Ya suasana yang dapat aku nikmati tentu sebatas acara-acara TV, posting blog teman yang merayakan, TL jejaring sosial, interior pusat perbelanjaan..wuihh..banyak juga ya suasana Natal yang terbangun dalam berbagai situasi. Yang paling jelas tentu aku turut menikmati liburannya. Beruntung Bli juga libur jadi kami bisa jalan-jalan. Kali ini tujuananya adalah Ubud. Dari jauh hari emang udah pingin banget jalan-jalan kesana, kangen dengan suasana Ubud. Lumayan juga, perjalanan Denpasar-Ubud hampir 1 jam, itupun mengambil rute yang gak biasanya untuk menghindari macet. Dan emang gak macet sih, suasana disanapun normal-normal saja. Ya ramailah pastinya kan high session tapi tetap normal.

Tujuan awal kami adalah ke Museum Marketing. Iya.. ada lho museum marketing di Ubud dan aku belum pernah kesana. Tahu dari internet sih dan rupaya museum inipun belum banyak dikenal dikalangan guide dan supir taxi. Setidaknya orang yang kami tanyain. Mereka gak tahu dan akupun lupa mencatat alamatnya dimana, hanya petunjuk yang aku ingat adalah letak museum dekat pasar Ubud. Akhirnya setelah mobile browsing lagi dipinggir jalan dapat juga alamat museumnya, yaitu jadi 1 lokasi dengan Puri Lukisan, dan tidak ada papan namanya. Akhirnya kami masuk dan harus beli tiket IDR 50K/person. Aku sempat heran karena di internet dibilangnya gratis. Trus tanya ke petugas tiketnya, ternyata itu harga untuk masuk ke Puri Lukisan, sementara museum marketing gratis. Sayangnya hari itu museumnya tutup. jadi, museum marketing ini hanya dibuka di hari kerja saja sodara-sodara. Karena niat awal kami gak ke Puri Lukisan ya dibalikin deh itu tiket, untung boleh sama petugasnya. Ramah sekali dia.

Gagal ke museum marketing akhirnya kami memutuskan ke Tegalalang, mau ke Agrowisata Bali Pulina. Kami bukan penikmat kopi tapi penasaran dengan tempat ini. Ubud dan Tegalalang itu dekatan kok. Dan sepanjang jalan menuju Bali Pulina itu semuanya adalah deretan artshop dari berbagai jenis kerajinan. Trus rupanya daerah ini sedang greget mengembangkan wisata terasiring. Ada kafe-kafe atau rumah makan gitu yang konsepnya ditepian tebing trus viewnya sawah terasiring. Tentu saja kami tidak berhenti dan makan disana karena hari masih lumayan pagi, belum lapar. Tapi kami berhenti untuk numpang foto-foto. PD banget masuk lokasi rumah makan berundak-undah itu trus cuma numpang foto dan gak pesan makanan. Untung gak sampai diomeli orang.

Ini nebeng foto view di Terrace Padi Cafe di Tegalalang
Puas foto, perjalanan lanjut ke Bali Pulina. Ini tempat yang sungguh nyaman untuk bersantai dan menikmati kopi gratis. Gak gratis-gratis banget sih karena ada fee yang kita kasih untuk guide di Bali Pulina. beruntung kami datang saat Natal, jadi selain dapat merasakan kopi gratis dengan berbagai rasa juga dapat bingkisan Natal. Cerita lengkap tentang Bali Pulina akan aku pos tersendiri aja ya, habis tempatnya oke banget.

View yang dapat dinikmati sambil menyeruput kopi beraneka rasa di Bali Pulina
Akhirnya perjalanan kami hari itu ditutup dengan makan-makan maknyus di Warung Pulau Kelapa Ubud dan jalan-jalan di kebun sayur. Tempat makan ini udah lama banget aku incar sejak nonton tayangan Wisata Kuliner. Dan ternyata memang rekomendasi Pak Bondan gak pernah salah, makanannya memang enak banget. Bli aja samapai merem-melek ngabisin nasi campurnya. Sama seperti Bali Pulina,cerita tentang Warung Pulau Kelapa di posting terpisah. Dan sepertinya kami akan kembali lagi kesini dalam waktu dekat. habis enak dan murah dan dapat menimati suasana syahdu khas Ubud. Lengkaplah nikmatnya.

Bale untuk peristirahatan di kebun sayurnya Warung Pulau Kelapa

Makan siang maknyuss ala Pak Bondan Winarno

12 Des 2012

Bali Shell Museum

Membeli tiket diskon Bali Shell Museum secara online adalah salah satu shopping impulsive-ku bulan ini. Awalnya tentu tergoda oleh diskonnya, kedua karena aku penasaran dengan museum satu ini. Tentu aku bukan penikmat museum tapi suka sama suasanya yang syahdu dengan atap-atap tinggi dan suasana remang-remang yang damai. Bukankah seperti itu suasana umum museum di Indonesia. Sebelum lihat tawaran tiket ini, aku sebenarnya tidak pernah memperhatikan keberadaan museum ini. Baru menjadi penasaran setelah booking tiketnya dan mulai cari informasi sebelum akhirnya datang ke lokasi.

Akhirnya aku dan bli ada waktu juga untuk menikmati libur hari minggu berduaan. Sudah sebulan lebih bli selalu ada jadwal kerja di hari sabtu-minggu. Makanya begitu bangun tidur hari minggu pagi itu dia menceletuk "tumben hari minggu aku libur ya..." Hmm..begitulah nasib pekerja media, dan sebagai istri tentunya aku juga sering jadi korban. Yah..meskipun korban yang bahagia karena kadang aku memanfaatkan kesepian hari minggu buat menikmati me time, baik di rumah atau hangout sama sahabatku. OK deh suami, hari ini kita jalan-jalan ke museum ya.

Bali Shell Museum terletak di Sunset Road Kuta, kalau dari arah Jl. Imam Bonjol ada di kiri jalan setelah Carrefour. Mencari museum ini tidaklah sulit karena bangunannya tepat di pinggir jalan besar dengan papan penunjuk yang mencolok dibagian atas bangunan. Berupa ornamen berbentuk ombak warna biru dengan tulisan besar Bali Shell Museum. Bentuk bangunannya memang tidak serupa museum pada umumnya, malah cenderung mirip toko atau artshop. Tapi pengunjung bisa masuk aja langsung ke artshop tersebut karena museumnya sendiri terletak di lantai 2 dan 3 bangunan ini. Lantai 1 memang difungsikan sebagai artshop yang menjual souvenir segala macam kerajinan kerang.


Bagian depan bangunan Bali Shell Museum, 
huruf S-nya hampir ketutup umbul-umbul

Asyiknya, pengunjung museum ini mendapat fasilitas guide yang akan menerangkan segala hal tentang isi museum serta menjawab ha-hal yang ingin kita ketahui. Sesuai dengan namanya. Bali Shell Museum menyimpan koleksi lengkap tentang kerang, fosil kerang dan binatang laut lainnya, serta benda lainnya yang berhungan dengan laut, khususnya kerang. Perjalanan menyusuri museum bermula di lantai 2, diawali dengan pemutaran film dokumenter tentang kehidupan biota laut yang akan membuka pengetahuan pengunjung tentang berbagai spesies unik dan menajubkan penghuni laut selain ikan. Setelah nonton dokumenter penelusuran koleksi museum pun dimulai. Pada bagian ini, koleksi didominasi oleh berbagai fosil kerang dan binatang laut dari berbagai belahan dunia (termasuk Galapagos) yang telah berusia ratusan juta tahun. Bahkan ada fosil yang diperkirakan berasal dari binatang yang sudah punya sebelum jaman dinosaurus. Yang menakjubkan adalah bahwa fosil itu tidak semuanya bertekstur seperti batu biasa yang umumnya kita jumpai. Ada fosil yang mengeras hingga teksturnya menyerupai granit, metal, marner, ametis, kecubung dan sebagainya. Ini dikarenakan setiap tempat dimana fosil tersebut ditemukan memiliki kandungan mineral, suhu dan tekanan berbeda. Seperti misalnya fosil dari Rusia mayoritas akan berstektur menyerupai metal. Koleksi fosilnya pun beragam jenis dan ukurannya.

Dibelakang itu adalah fosil kerang yang sangat besar, dibelah menjadi 2 sisi 
dan disusun menyerupai sayap dengan  pengambilan gambar yang tepat. 
Warna coklat terang itu selain dukungan pencahayaan yang tepat juga karena 
warna asli yang muncul dari fosil kerang tersebut. 
Usianya udah ratusan juta tahun lho.

Kalau yang ini salah satu koleksi fosil batu yang disebut 
kecubung yang besar. Batuan keras berwarna ungu ini 
biasanya diasah sebagai batuan untuk dipasang 
di perhiasan. Kalau yang warna hijau kan disebut zamrut, 
yang merah disebut rubi, dsb. Di Museum ini kita bisa 
menjumpai kecubung dalam bentuk bongkahan 
besar seperti foto diatas. Bayangkan berapa nilai 
nominalnya $$$$... ??

Serunya lagi, pengunjung boleh foto-foto di dalam museum dengan syarat harus ada obyek manusianya jadi tidak boleh foto koleksinya aja. Hmmm...agak berat sih buat kami karena aku dan bli bukan tipe yang suka bergaya-gaya di depan kamera. Tapi gak apa-apa deh, mumpung masih diperbolehkan foto di dalam. Tapi kami berdua agak sial karena ternyata baterai kameranya habis di tengah jalan, menyesal banget. Masih bisa sih kami foto-foto dengan kamera hp, tapi pencahayaan redup jadi warnanya buram, jelek deh pokoknya.

Bagian di lantai 3 adalah koleksi berbagai spesies kerang dan binatang lainnya yang ditata dengan menonjolkan segi artistiknya. Berbeda dengan bagian di lantai 2 tadi yang lebih menonjolkan unsur sejarah. Kerang-kerang yang dari spesiesnya saja ada ratusan spesies lengkap ada disana, selain juga koleksi binatang/tumbuhan laut lainnya. Tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata deh. yang jelas ini adalah museum yang benyak menyimpan pelajaran ilmiah dan juga religius. Tidak terbanyangkan bagaimana Tuhan berkreasi dengan segala seindahan menghasilkan makhluk-makhlum yang menakjubkan, bahkan saat sudah mati sekalipun. Maka aku setuju sekali dengan testimonial Ibu Ani Yudhoyono untuk museum ini yang mengatakan bahwa koleksi Bali Shell Museum makin menyadarkan kita akan keagungan Tuhan dengan segala hasil ciptaan-Nya.

Rangkaian serpihan kerang yang dibentuk menjadi patung 
Rama dan Sita.
Salah satu sudut yang menyimpan koleksi fosil. Foto hasil nyolong dari 
si penjual tiket diskon yang ini.
Bali Shell Museum ini adalah museum kerang pertama di Indonesia yang dibangun oleh seorang kolektor. Selain memiliki nilai artistik yang tinggi, museum ini menyimpan benda bersejarah dari alam semesta yang jauh lebih tua dari dinosaurus. Selain sejarah, ilmiah, keindahan, museum ini memunculkan kekaguman akan kebesaran Tuhan Sang Pencipta. What a perfect combination, what a great place to go. Jadi kalau ke Bali, ini adalah salah satu tempat yang wajib Anda kunjungi.