2 Agt 2013

Tanpa Identitas


Judulnya labil banget sepertinya ya, dan kenyataannya memang seperti itulah yang aku rasa sekarang. Sebenarnya pertanyaan ini muncul begitu saja waktu lagi asyik naik motor dalam perjalanan pulang kantor. Teringat saat aku mengantar teman kuliahku yang sekarang jadi wartawati koran ternama nasional, saat dia jalan-jalan di Bali beberapa waktu lalu. Jalan-jalan sambil tugas liputan sih kalau dia. Saat ketemu orang aku akan mudah mengenalkannya pada orang, “kenalkan ini Amalia dan dia seorang jurnalis”. Lalu tiba-tiba kepikiran, aku akan diperkenalkan sebagai apa dong oleh orang lain nantinya. Yang sering terjadi sih suami hanya mempernalkan aku sebagai istri.

Berkaitan dengan profesi, dulu aku pernah bekerja di stasiun TV tapi berhubung skala TV lokal aku tidak pernah bangga menyebut diri sebagai broadcaster. Lagian aku sudah gak bekerja lagi dibidang itu. Pekerjaanku sekarang mengajar di PTS tapi aku juga tidak berani menyebut diri dosen dengan bangga karena aku sendiri masih berkutat dengan pengajaran, belum sepenuhnya melaksanakan penelitian dan pengabdian masyarakat. Malu menyebut diri dosen. Aku kerap melakukan penulisan artikel untuk keperluan publikasi kampus tempat aku bekerja tapi tidak bisa menyebut diri sebagai penulis. Penulis itu seharusnya punya buku. Aku punya blog namun malu juga menyebut diri sebagai blogger karena jarang update blog dan ngeblog itu hanya hobby sampingan. Kalau udah bisa melakukan sesuatu melalui blog barulah layak aku menyebut diri blogger. Aku suka fotografi tapi bukan fotografer dan bukan juga instagramer karena sekali-kali aja upload foto. Aku suka videografi tapi bukan videografer. 

Jadi.. siapa aku? Ok, cukuplah edisi galau hari ini dan aku masih belum menemukan sejatinya aku ini apa.