11 Sep 2013

Uji Betis di Marina Bay dan Singapore River

Jalan-jalan ke Singapore ini boleh dikatakan bonus tak terduga dan sepertinya akan menjadi salah satu highlight di tahun 2013 ini. Karena sudah dipastikan aku gak akan ada liburan seperti ini lagi. Paling mentok ya cuma jalan-jalan biasa seputaran Bali saja. Sebagai persiapan aku memang sudah banyak banget membaca referensi tentang tempat-tempat menarik yang layak dikunjungi. Ya meskipun aku tahu ini bukan perjalanan pribadi karena perginya bersama kolega. Singapore sepertinya sudah menjadi destinasi wajib orang Indonesia untuk liburan ke luar negeri. Buktinya banyak sekali bloggler yang menuliskan pengalaman jalan-jalan kesana. Yang membuat aku lumayan happy pada liburan super singkat ini, hanya 2 hari saja efektif untuk jalan-jalan, karena tempat yang menjadi target untuk aku lihat dapat terpenuhi. Terutama dikawasan Marina Bay dan Singapore River.

Hari pertama, kami sampai di Changi sekitar 08.30 WITA, menggunakan Air Asia dari Ngurah Rai Denpasar. Nyampe stasiun MRT Changi beli Singapore Tourist Pass (STP) paket 3 hari seharga 30 SGD. Kami langsung menuju hotel tempat menginap yaitu V Hotel di kawasan Lavender. Ternyata hotel tempat kami menginap tepat diatas stasiun MRT Lavender. Tinggal naik lift aja sampai ke street level trus nyampe deh, lumayan gak perlu jalan lagi. Lebih enaknya, di bagian bawah V Hotel Lavender ini merupakan semacam mall kecil dengan banyak stand/counter yang menjual makanan. Setelah menitipkan barang karena belum bisa check in, kami cari sarapan di Kopitiam yang ada disana, semacam food court tapi gak begitu besar. Di dalam situ banyak counter makanan dan minuman yang bisa dipilih. Karena masih bingung dan takut bermasalah dengan pencernaan, kami hanya memilih menu standar seperti bihun isi sayur dan ayam goreng, temanku pilih nasi campur dengan ayam goreng. Harganya sekitar 2,5 SGD. Aku gak beli munum karena masih bawa botol isi air keran dari Changi tadi. Ok, aku putuskan untuk berhemat dengan membawa botol kosong untuk diisi air keran siap minum di Singapore.

Foodcourt tepat dibawahnya Hotel V Lavender yang akhirnya menjadi tempat sarapan kami selama 3 hari berturut-turut. banyak pilihan menunya. Gak dapat sarapan di Hotel jadinya gak masalah.
Udah direncanakan kami akan menuntaskan jalan-jalan di Marina Bay dan Singapore River di hari pertama ini. Tujuan pertama adalah Gardens by the Bay. Naik MRT Jalur Kuning, turun di stasiun Bayfront dan keluar melalui Exit B. Awalnya gak menduga kalau ternyata stasiun MRTnya tepat dibawahnya Marina Bay Sand. Makanya begitu keluar stasiun langsung takjub dan nganga. Dasar ya orang kampung. Lihat bangunan megah kayak gini gak tiap hari. Hanya perlu nyebrang sedikit akhirnya sampai juga di Gardens by the Bay ini. Tempat pertama yang kami dapati adalah area Dragonfly & Kingfisher Lake. Lokasi ini berhadapan langsung dengan Marina By Sands. Dari sini kami beli tiket suttle buggy car untuk masuk ke area bagian dalam seharga 2 SGD untuk PP.

Saat kami sampai disini memang matahari sedang teriknya jadi meskipun antusias tetap mikir juga mau jalan keliling taman. Akhirnya ya pilih lihat-lihat lokasi indoornya, yaitu Could Forrest dan Flower Dome. Yang pertama kami masuki adalah wahana Cloud Forrest yang begitu masuk ke dalam langsung berhadapan dengan air terjun buatan yang tinggi banget. Dari suasana sangat panas di luar langsung terasa sejuk begitu kena percikan air terjun. Cloud Forrest ini sendiri merupakan kubah besar yang didalamnya dibangun semacam tebing untuk dipasang aneka jenih tanaman tropis dan air terjun buatan tadi. Heran juga dinamakan cloud forrest gini karena gak ada cloud-cloudnya sama sekali. Mungkin karena bisa memandang keluar dari ketinggian apa ya. Pengunjung bisa menelusuri setiap levelnya menggunkan jembatan yang disebut cloud walk. Bukannya sombong atau gimana ya, sebagai orang Indonesia yang akrab dengan sawah, hutan, dan air terjun non buatan, kekagumanku pada wahana ini tidak pada isinya. Tapi lebih kepada kreatifitas mereka mewujudkan bangunan ini dan pengelolaannya. Kasihan disatu sisi tapi kagum juga disisi lainnya. Dibanding air terjun dan pemandangan hutan alami di Indonesia ya gak bias dibandingkan dan sebaiknya memang jangan di bandingkan juga.

Dalamnya kubah Cloud Forrest, maaf ya typo : CLOUD red.
Salah satu jenis tanaman menggantung di tebingnya, view disalah satu sudut cloud forrest. Maaf, typo lagi : CLOUD red.

Sering lihat bunga yang kayak gini di Bedugul, tapi memang sih lebih nyaman bersih dan rapi karena memang masuknya bayar, sudah pasti pengelolaannya sangat baik

Setelah tuntas menelusuri Could Forrest, kami menuju ke Flower Dome, sebuah kubah besar yang didalamnya terdapat banyak sekali tanaman bunga yang indah. Semacam rumah kaca gitulah tapi dengan desain yang bagus banget. Jenis bunganya tentunya yang sering kami lihat di taman ataupun di tepi-tepi jalan di Indonesia. Rupanya dome ini memang dirancang dengan pengaturan suhu yang memungkinkan bunga-bunga tropis dapat tumbuh subur dan mekar dengan indah. Jadi dalamnya kami hanya berkeliling menikmati taman bunga indoor dan tentu saja memboroskan memori dan baterai kamera dengan foto. Sebenanrnya banyak hal yang bisa dilihat karena mereka punta taman yang dirancang dengan tema-tema tertentu. Tapi tidak semua bagian kami telusuri, maklum saja, setelah ini akan banyak tempat lain yang harus kami lihat. Jadi save energy dulu apalagi perjalanan ini sepertinya akan full mengandalkan kaki.

Keluar dari Flower Dome kami menelusuri areal outdoor sambil mencari-cari areal Super Tree Groove. Pingin sih naik keatas sambil jalan-jalan di jembatan gantungnya itu namun karena panas terik akhirnya urung naik keatas dan hanya foto-foto disekelilingnya. Mana pula perut juga udah lapar lagi. Masih di arela Super Tree Groove inilah kami makan siang di foordcourt. Cari aman biar bisa makan nasi akhirnya pilihannya Texas Chicken. Selesai makan siang sudah terlanjur malas untuk berkeliling lagi akhirnya kami naik suttle buggy car untuk kembali ke Dragonfly & Kingfisher Lake.

Gak sempat eksplor banyak di outdoor areanya karena panas terik.
Dari Dragonfly & Kingfisher Lake, kami tinggal jalan kaki nyebrang ke Marina Bay Sands lewat jembatan penyebrangan. Di Marina Bay Sands kami sebenarnya hanya lewat saja sambil melihat-lihat Mallnya. Yang mana karena malu pada penampilan dan dompet, kami hanya sebentar saja di dalam dan memutuskan foto-foto saja di kawasan outdoornya, termasuk di Art Science Museum. Dari sini sebenarnya tujuan berikutnya adalah Merlion point. Meskipun sudah terlihat tapi kok nampaknya jauh banget ya, mana panas banget. Sempat bingung apakah akan naik bus atau MRT. Kalau aku dalam hati sih pingin jalan kaki saja kesana biar bisa lewat Helix Bridge. Untung timku ini bingung kalau naik bus atau MRT dari mana dan nantinya turun mana akhirnya diputuskan jalan kaki saja.. dalam hatiku bersorak horayy..hehhee.

Boleh dibilang Helix Bridge ini menjadi ambisi pribadiku untuk aku lewati. Segitunya ya gara-gara kagum sama desain arsitektur jembatannya. Puas foto-foto menelusuri Helix Bridge ternyata jembatan ini berujung di Youth Olimpic Park. Sedang tidak ada kegiatan apa-apa sih dan lagi panas pula jadi kami hanya sambil lalu saja di kawasan ini. Melanjutkan jalan kaki sambil berharap diujung tikungan muncul si Merlion yang mana hal itu tidak juga terjadi. Tapi ada untungnya juga kami jalan karena ternyata Youth Olimpyc Park ini jalannya nyaman. Kami malah bisa sampai di kawasan Event Plaza di samping bangunan Esplanade. Rupanya disini tempat nongkrong yang menyenangkan karena terletak di tepi Singapore River dan menghadap langsung ke Marina by Sands dan Merlion point. Banyak juga pedagang kaki lama menjual aneka camilan dan minuman disini. Dalam hati aku berfikir, kalau tinggal di Singapore mungkin ini bakal menjadi tempat yang aku akan sering kunjungi sama bli. Manalah gratis dan banyak hal yang bisa dilihat, terutama kalau lagi ada art performance. Agak lama kami duduk disini melepas lelah, menikmati pemandangan sekaligus menunggu matahari agak redup. 

Pemandangan dari kawasan Event Plaza, sampingnya gedung Esplanade. Can you point the Merlion?
Kembali mengandalkan kaki, kami berjalan menelusuri Esplanade Bridge menuju patung Merlion. Hmm..Cuma patung biasa dengan air mancur, tapi katanya belum ke Singapore kalau belum foto di sini. Selanjutnya kami melanjutnya agenda dengan melihat Singapore dari sisi berbeda menggunakan Singapore River Cruise. Keren ya namanya, padahal hanya naik perahu semacam jukung gitu namun dengan ukuran lebih kecil menusuri sungai. Yang membuatnya menarik adalah karena sungainya bersih dan melewati kawasan-kawasan penting dan bersejarah bagi Singapore dan kebetulan saat itu momentnya pas sunset. Kami cukup beruntung ikut tour ini karena sangat menghemat waktu. Dalam waktu 30 menit bisa berkeliling sekaligus mengistirahatkan kaki. Beberapa tujuan yang sebenarnya ingin aku kunjungi akhirnya kesampaian juga meskipun hanya dari kejauhan. Selesai tour kami turun kembali di Merlion Point. Matahari sudah sepenuhnya tenggelam saat itu. Beruntung kami bisa menikmati golden moment di Merlion Point ini meski gak bisa foto-foto lagi. Baterai kamera dan baterai HP habis saja gitu. Akhirnya Cuma nebeng kamera teman.
Ini yang sempat terdokumentasi dengan kamera HP yang udah lowbat banget. Foto di Merlion gak usah lah ya.. terlalu mainstream.

Agenda berikutnya adalah menuju Singapore Flyer. Awalnya kami menduga bisa kesana menggunakan bus jadi kami jalan kaki menuju halte bus di Fullerton Rd. Ternyata tidak ada bus dari halte tersebut yang menuju atau melewati Singapore Flyer. Karena perut sudah mulai lapar dan kaki pegel, sempat ingin naik taxi tapi ternyata semua taxi yang lewat selalu berpenumpang. Akhirnya kami putuskan untuk jalan balik lagi melewati Hotel Fullerton dan Esplanade Bridge lagi. OK lah, mengandalkan kiki lagi jalan menuju Singapore Flyer. Sebenarnya sempat ketemu uncle pedagang es krim 1 dollar yang lagi booming itu tapi manalah napsu saking pegel dikaki yang berawal di pangkal jari merambat ke pergelangan kaki sekarang udah nyampe betis. Langit sudah total dan digantikan cahaya lampu warna-warni saat kami lewat Esplane Bridge kemudian sampai di kawasan Event Plaza lagi. Sebenarnya sempat berhenti sebentar, maunya melihat laser show yang udah hampir mulai. Tapi kami gak jadi nunggu show karena takut Singapore Flyernya keburu tutup, mana kami tidak tahu berapa lama waktu yang diperlukan untuk sampai disana dengan jalan kaki. Sebenarnya kami tidak tahu arah, hanya berpatokan penampakan Singapore Flyer di kejauhan. Pertimbangan lainnya karena besok bisa melihat laser show juga di Song of the Sea.

Terima kasih kepada betis yang kuat dan makin besar, kami sampai juga di Singapore Flyer. Untungnya proses mengantrinya tidak begitu lama karena sudah capek sekali. Kesampaian juga menikmati suasana malam Singapore dari ketinggian. Kami duduk-duduk di dalam kapsul sambil mengagumi pemandanganSingapore di malam hari dari ketinggian. Di dalam kapsulnya sendiri sih gak terasa sensasi yang gimana karena Singapore Flyer ini berputar sangat pelan. Sayang sekali tidak ada hasil foto yang bagus karena masalah pencahaan, itupun juga nebeng kamera dan HP teman. Turun dari Singapore Flyer sudah pukul 22.00 dan kami akhirnya bisa makan malam Roasted Chicken Rice di foodcourt-nya situ. Selesai makan kami jalan kaki lagi ke Bayfront station untuk kembali ke hotel tempat menginap. Dan hari inipun ditutup dengan melumuri badan dengan counterpain sebelum tidur agar besok bisa bangun untuk kembali melanjutkan perjuangan di hari ke-2.

6 Sep 2013

Naik KA Mutiara Timur dari Surabaya ke Denpasar

Kalau posting sebelumnya ceritanya tentang betapa kagumnya aku sama MRT System di Singapore, kali ini mau cerita sedikit tentang pengalamanku menggunakan jasa PT KAI. Aku juga pernah nulis panjang soal kereta api disini. Beberapa waktu lalu aku senang sekali bisa naik KA lagi dari Nganjuk ke Denpasar setelah hampir seminggu liburan di kampung untuk menghadiri acara pernikahan adikku. Awalnya memang masih bimbang apakah naik bis atau KA. Tapi setelah tanya-tanya jadwal KA, ternyata ada yang pas untuk rute Nganjuk-Denpasar sesuai dengan hari dan jam yang kami inginkan. Langsung deh aku pesan tiketnya. Memang lebih mahal dan lebih rumit dibanding perjalanan menggunakan bus tapi alasan nostalgia yang menguatkan aku. Seingatku, baru 2 kali ini aku naik KA ke Denpasar. 
 
PT KAI menyediakan rute Surabaya-Denpasar dan Denpasar-Surabaya menggunakan KA Mutiara Timur. Kalau dari stasiun Gubeng Surabaya, ada 2 keberangkatan yaitu jam 9 pagi dan jam 10 malam. Kali ini aku sama bli lebih memilih untuk jadwal malam. Dari Nganjuk ke Surabaya kami naik KA Pasundan jam 5 sore, baru kemudian sambung ke KA Mutiara Timur yang berangkat jam 10 malam.

Buat aku perjalanan dengan KA ini sungguh menyenangkan. Sejak berada di stasiun Nganjuk pun aku sudah antusias karena bisa mengulang kembali kenangan jaman kuliah dulu. Dengan suasana stasiun yang lebih tertata rapi dan terlihat sangat bersih seperti biasanya. Kelihatan sekali banyak kemajuan yang diraih oleh PT KAI dalam upayanya memberikan kenyamanan pada penumpang. Sekarang pengantar sudah tidak diperbolehkan masuk ke areal peron tapi hanya sebatas ruang tunggu saja di bagian depan. Jadi arela peron tidak begitu padat orang. Aku sempat melihat pedagang asongan yang dari dulu selalu mangkal di stasiun ini. Saat kubilang pada bli bahwa pedagang itu sudah berjualan sejak aku kuliah bli gak percaya. Iseng-iseng di tanya langsung ke orang tersebut dan dijawab bahwa dia sudah 40 tahun berjualan disini. Woww... Stasiun juga sudah membenahi diri dengan menyediakan fasilitas WiFi yang lumayan kenceng dan disiapkan pula colokan untuk HP dan Laptop untuk calon penumpang.


KA Pasundan datang pukul 17.30 WIB, terlambat 30 menit dari seharusnya. Aku agak kaget karena ternyata ini adalah KA Pasundan ekonomi yang dulu sering aku naiki kalau mau ke Jogja. Kaget karena di tiket tertera tempat duduk jadi aku menyangka kelas Bisnis. Setelah melihat tempat duduk yang sesuai dengan tiket sudah didahului orang lain akhirnya kami mencari bangku kosong lain. Bli yang seumur hidupnya naik KA baru hitungan jari, terus saja ngedumel soal nomer kursi dan kenapa untuk ukuran KA ekonomi harganya mahal sekali. Hehhee.. gak tahunya karena kami masih kena harga Lebaran. Ternyata masih ada pedangang asongan dalam KA ekonomi. Kami sempat jajan kerupuk pedes dan kacang.

Pemberhentian terakhir adalah stasiun Gubeng Surabaya. Kami turun dan masih ada waktu 2 jam sebelum KA Mutiara Timur berangkat. Awalnya kami ingin sekedar menikmati suasanya Surabaya di sekitar stasiun tapi ragu-ragu juga karena bawaan lumayan berat. Sempat nanya ke petugas kebersihan tentang penitipan tas. Ternyata memang ada persewaan loker tapi udah tutup sejam pukul 18.00 tadi. Ya udah deh akhirnya nekat gendong ransel dan menenteng kardus isi oleh-oleh. Sempat berjalan ke depan stasiun dan duduk di warung minum tapi ternyata sekitar stasiun tidak ada tempat menarik jadi kami putuskan balik lagi ke dalam sambil duduk-duduk. Dari nada bicara dan raut mukanya aku tahu bli agak emosi. Terus mengeluh tentang kardus yang berat padahal aku yakin baget emosinya gara-gara perut lapar. Tadi memang di warung minum maunya sambil beli makanan ringan tapi ternyata sudah habis jadi kami hanya minum teh.


Stasiun Gubeng ini lumayan bagus dan besar. Kami duduk di ruang tunggu sambil memanfaatkan fasilitas WiFi. Tidak lama kemudian ada hiburan live music dari seorang cewek yang suaranya bagus banget yang nyanyi sambil diiringi organ. Sampai sekarang aku masih belum yakin apakah penyanyi ini ngamen atau tidak tapi kalau menurut bli dia ngamen. Dulu waktu kami menunggu Mutiara Timur pagi ada juga live music disini tapi pengisinya Band dengan lagu-lagu nostalgia. Akhirnya ada pengumuman kalau penumpang sudah diperbolehkan untuk naik ke KA. Akhirnya setelah menekan gerbong dan nomer kursi kami bisa beristirahat dalam perjalanan kali ini. Sayangnya kursi di KA tidak senyaman bus dan Acnya sungguh dingin yang membuat para penumpang jadi resah. Untungnya petugas kereta mau menaikkan suhu agar lebih nyaman.

Kami sampai di stasiun terakhir, Banyuwangi sekitar pukul 06.00 pagi WIB dan langsung diarahkan menju bus Damri yang akan mengantar ke Denpasar. Stasiunnya dekat banget dengan pelabuhan Ketapang. Perjalanan dengan bus Damri menuju Denpasar ini tergolong lama. Akhirnya pukul 11.00 WITA kami sampai Denpasar, terlambat 2 jam dari jadwal seharusnya.

5 Sep 2013

MRT yang Bikin Jatuh Cinta

Alat transportasi massa yang menurutku paling nyaman tentu saja kereta api. Makanya ketika ada kesempatan jalan-jalan ke Singapore beberapa waktu lalu, hal yang paling membuatku jatuh cinta pada negara mungil ini adalah sistem MRT-nya. Memang sih sebelum berangkat udah sempat baca-baca tulisan yang mengulas tentang MRT ini. Namun begitu langsung menggunakannya masih saja aku dibuat takjub dengan mekanismenya. Tentu sangat berbeda dengan pengalaman naik kereta api Nganjuk-Jogjakarta PP beberap tahun lalu sebelum pindah ke Bali. Pada MRT, semuanya serba teratur, bersih, modern dan pastinya aman. Kenyamanan dan keamanan sangat diutamakan.  Kalau kereta api yang sering aku naiki bahkan naiknya aja kadang menyiksa karena level statiun tidak disesuaikan dengan level tinggi kereta. Mau naik atau turun aja tersiksa. 

Tidak seperti di Indonesia yang setiap stasiun bisa ada beberapa jalur sekaligus, stasiun MRT biasanya memiliki 2 jalur saja, kearah kanan atau kiri. Nah kalau yang ini pastikan dulu kemana tujuan kita, jangan sampai salah naik. Menunggu MRT pun gak akan lama karena setidaknya setiap 6 menit akan ada yang lewat. Buat yang baru pertama kali naik MRT perhatikan galis merah dan hijau disetiap pntu MRT yang akan membuka karena itu menunjukkan dimana penumpang yang akan naik harus berdiri agar tidak tertabrak penumpang yang turun. Dan harus diingat pula, tunggu sampai penumpang dari dalam MRT turun dulu sebelum kita masuk. 


Perbedaan mencolok lainnya, kalau kereta api di indonesia bahkan hampir tidak ada pemberitahuan tentang pemberhentian kereta. Jadi penumpang yang mau turun harus waspada maksimal kapan harus turun ke stasiun yang dituju. Kalau di MRT biasanya ada petunjuk rute stasiun yang dilewati, bahkan ada lampu indikator yang menandakan MRT sudah sampai stasiun apa. Kalaupun lampu indikator tidak menyala selalu ada speaker yang memberitahukan kepada penumpang stasiun yang akan dilewati atau pemeberhentian berikutnya. Jadi buat orang yang baru pertama kalinya naik MRT pun tidak akan kebingungan. Apalagi dengan bantuan peta MRT yang bisa kita dapatkan dengan mudah di internet atau aplikasi di HP, sepertinya tidak akan mungkin membuat orang tersesat gara-gara salah jalur. Yang penting tahu dimana atau stasiun apa yang akan dituju. 

Kemanan di MRT juga menjadi salah satu hal yang aku kagumi. Aku pernah merasakan sendiri dijambret di kereta api dalam perjalanan meuju Jogja. Kewaspadaan adalah kewajiban. Jangankan di kereta ekonomi, bahkan naik kereta kelas bisnis dan eksekutif pun tetap harus waspada dengan keamanan diri dan barang bawaan. Kalau di MRT orang-orang bisa dengan santai memainkan gadgetnya tanpa harus was-was diincer copet. Bahkan aku pernah naik MRT terakhir jam 12 malam dan masih banyak terlihat manula yang dengan santainya bepergian. 

Pengguna MRT di Singapore bisanya memiliki kartu pass seperti Ezlink atau untuk turis yang hanya beberapa hari tinggal bisa beli STP (Singapore Tourist Pass). Atau kalau gak  mau beli salah satu dari kedua kartu tersebut bisa beli tiket eceran di mesin-mesin yang tersedia di setiap stasiun untuk sekali jalan.
Kapan ya di Bali ada ginian?
BTW aku cerita juga tentang perkembangan kereta api terbaru di posting yang ini.