29 Des 2014

Yang Penting Posting

Wow.. sudah akhir tahun, sebentar lagi tahun baru 2015. 
Sungguh rekor yang luar biasa memalukan, selama 2014 hanya ada 4 buah posting. See.. kelihatan sekali betapa pemalasnya aku menulis, bahkan menulis untuk blog sekalipun. Bukannya tidak ada cerita atau karena jarang buka blog. Hampir tiap hari aku ngeblog tapi sebatas blogwalking aja dan sejujurnya banyak cerita juga di tahun 2014, seperti halnya cerita jalan-jalan ke Jogja bersama keluarga. Kalau bukan karena keterbatasan waktu, jarak dan dana, rasanya pingin lebih sering ngajak keluarga jalan-jalan. Banyak juga kegiatan seru urusan pekerjaan. Tapi memang sih aku jarang banget cerita urusan kerjaan disini. Dan tentu saja 2014 ini juga penuh kejutan ketika secara tiba-tiba aku memutuskan buat melanjutkan kuliah. Nah gara-gara kuliah itu pula yang bikin hobby sepedaanku mengendor dengan sukses. Bukan karena padatnya jadwal kuliah atau tugas tapi lebih karena jadwal kuliah yang tidak manusiawi. Belum lagi jadwal kerja bli yang sama tidak manusiawinya. Beruntung juga sih sesekali waktu kami masih bisa menikmati acara bersepeda bareng meskipun tidak leluasa seperti dulu.

Biasanya rute favorit kami adalah menelusuri tepian pantai di kawasan timur kota Denpasar. Mulai dari kawasan hutan bakau sampai Pantai Padang Galak atau sebaliknya. Kami juga sempat menyoba menelusi tepian pantai di kawasan Nusa Dua, dari Water Blow sampai komplek hotel-hotel BTDC. Dan karena kami berdua bukan tipe petualang jadi rute-nya cuma gitu-gitu saja. Menelusuri path disepanjang garis pantai dan beberapa ruas jalan yang mau gak mau harus dilalui dari rumah ke pantai.

Bagaimana dengan 2015? berharapnya sih gak malas lagi update blog-nya.




26 Agt 2014

KA Mutiara Timur Surabaya - Denpasar



Mengulangi lagi pengalaman naik kereta api yang selalu menyenangkan, maka balik dari mudik tahun ini aku minta sama bli naik kereta api lagi. Bli sih sebenarnya lebih suka naik bis. Lebih murah, praktis gak perlu pindah-pindah angkutan, dan tentu saja duduk/tidur lebih nyaman. Tapi tidak ada yang bisa menolak keinginan setahun sekali dari istri penggemar kereta api yang cinta mati sama atmosfer stasiun.  Meskipun tanpa persiapan dan pemesanan jauh-jauh hari jadilah kami bertualang kembali menggunakan alat transportasi yang satu ayah beda ibu dengan Hogward Express ini.


Dibandingkan tahun lalu, memang tahun ini banyak peningkatan yang dicapai PT KAI dari segi fasilitas dan kenyamanan. Ya meskipun menurut bule Perancis yang sempat ngobrol dengan kami menyampaikan kalau perjalan dengan KA sangat melelahkan dan dia tidak bisa mendapatkan posisi nyaman untuk tidur. Yaelah pak, jangan samakan dong dengan KA di Eropa, kan disana bayar pakai Euro.

Jangan dibandingkan dengan KA yang ada negara maju ya. Untuk perkembangan PT KAI ini adalah prestasi membanggakan. Gerbong KA Pasundan kelas Ekonomi yang bersih dan berAC, aman dari pengamen, pedagang asongan dan penumpang gelap. Semoga prestasi ini makin meningkat.
Ke Bali Naik Kereta Api
Naik KA ekonomi sama teman memang seru. Selain murah juga bisa nyantai menghabiskan waktu dengan main games atau tidur. Kalau dulu penumpang lebih suka bawa kipas karena panas sekarang harus siapin selimut karena dingin. Ini rombongan mahasiswa yang duduk disebelah tempat duduk kami.


Sebenarnya aku pernah nulis tema ini tahun lalu di postingan yang ini. Tapi rupanya saat aku update serial foto perjalanan di instagramku dan link ke FB banyak teman yang komen dan baru tahu ada rute KA Surabaya – Denpasar. Jadi untuk memperjelas informasi yang sempat terlewat di postingan sebelumnya, aku update lagi disini ya.

Rute kereta api Surabaya – Denpasar dan Denpasar – Surabaya menggunakan kereta api ekspres Mutiara Timur. Ada 2 jadwal yaitu pagi dan malam. Dari Surabaya, start di stasiun Gubeng jam 10 pagi WIB dan jam 22.10 WIB. Nah kalau yang dari Denpasar saya belum pernah survey, silahkan cek di web PT KAI. Meskipun tertera rute Surabaya – Denpasar atau sebaliknya, tentu aja KA hanya sampai di Banyuwangi (stasiun yang paling dekat dengan pelabuhan Ketapang). Sementara perjalanan dari Ketapang – Denpasar atau Denpasar – Ketapang, penumpang diangkut dengan bus Damri yang disediakan PT KAI. 

Dari stasiun Nganjuk, saya harus mencari jadwal kereta yang bisa mengejar jadwal Mutiara Timur Malam. Ada 2 alternatif sebenarnya, yaitu menggunakan KA Mutiara Selatan (Bisnis/Eksekutif dari Nganjuk sekitar pukul 19.30 WIB) atau menggunakan KA Pasundan (Ekonomi dari Nganjuk sekitar pukul 17.45 WIB). Jadwal detail dan update silahkan lihat web PT KAI. Kalau berangkat dari kota Anda masing-masing, silahkan pilih jadwal sendiri, menyesuaikan dengan keberangkatan KA Mutiara Timur dari Stasiun Gubeng ke Denpasar.

Perjalanan Nganjuk – Surabaya Gubeng ditempuh dalam waktu 2 jam, jadi kami tiba pukul 20.00 WIB. Kebetulan kami gak pesan tiket melalui online atau pesan di stasiun Nganjuk maka begitu nyampe Gubeng kami langsung beli Tiket Surabaya – Denpasar. 

Saat musim liburan atau mudik lebaran saya sarankan Anda pesan tiket online atau dari stasiun terdekat. Namun perlu diingat, jika Anda ketinggalan KA Mutiara Timur ini maka tiket Anda dianggap hangus. Jadi pastikan Anda tiba di Stasiun Gubeng sebelum jadwal kereta berangkat. Karena masih ada waktu 2 jam sebelum KA Mutiara Timur berangkat, kami memanfaatkannya untuk makan malam dan duduk-duduk di stasiun. Sayang di stasiun Gubeng saya sudah tidak mendapati atraksi music live seperti tahun-tahun sebelumnya.

KA Mutiara Timur berangkat dari Stasiun Gubeng pukul 22.10 WIB. Karena perjalanan malam, kami menghabiskan hampir sepanjang perjalanan untuk tidur. Pagi hari pukul 06.00 WIB kami sampai di stasiun akhir di Banyuwangi. Penumpang ke Denpasar langsung diarahkan menuju Bus Damri yang sudah siap di depan stasiun. Kita tidak perlu lagi membayar bus atau kapal ferry saat menyebrang di Ketapang karena biaya sudah termasuk dalam tiket. Sekitar 1 jam diatas ferry, sampailah di Gilimanuk. Siapkan KTP ya atau Anda tidak akan diperkenankan masuk Pulau Bali.

Buat yang belum pernah naik ferry Ketapang - Gilimanuk, seperti ini kira-kira suasana di dalamnya. Ada tempat duduk indoor dan outdoor. Lebih aman sih indoor, gak kena angin. Ada pedagang makanan juga di atas ferry, seperti yg tampak di bagian belakang itu. Kendaraan motor, bis, mobil ada di dek paling bawah. Demi keamanan, penumpang disarankan untuk naik ke dek atas. Waktu tempuh untuk berlayar dan bersandar sekitar 45-60 menit.
Perjalanan Gilimanuk - Denpasar memakan waktu sekitar 3 jam. Biasanya sopir akan 1 kali berhenti di rumah makan sehingga penumpang bisa makan dan atau ke toilet. Namun jangan salah sangka, makan di rumah makan ini gak wajib ya dan harus bayar sendiri-sendiri, alias tidak termasuk dalam fasilitas. Jika Anda tidak bermaksud turun di Denpasar penumpang juga diperkenankan untuk turun di jalan yang dilalui. Pemberhentian akhir bus Damri ini adalah Kantor PT KAI di daerah Genteng Biru (jl. Diponegoro dekat jl. Teuku Umar).


Seperti itu sih perjalanan dengan kereta api dari Surabaya – Denpasar. Ada beberapa informasi bagi Anda yang ingin melakukan perjalanan dengan transportasi serupa :

  • Harga tiket (2014) : KA Pasundan, Nganjuk-Surabaya Gubeng Rp 55.000 (ekonomi), KA Mutiara Timur Surabaya-Denpasar Rp 225.000 (Bisnis), Rp 265.000 (Eksekutif).
  • Bagi penumpang tujuan Surabaya – Denpasar, saat sampai di stasiun akhir sebaiknya buru-buru cari bus Damri-nya Karena sistemnya rebutan tempat.
  • Di bus Damri tidak tersedia bagasi luas, seringnya Anda harus membawa tas/koper masuk ke dalam bus, menyelipkannya diantara kursi atau memangkunya. Jika bawaan banyak, pertimbangkan lagi apakah Anda akan tetap naik KA atau pilih transportasi lainnya. Selain bus Damri-nya kecil, Anda kan berpindah transpostasi dari bus ke Kereta atau sebaliknya.
  • Siapkan baju hangat/selimut karena di KA suhunya dingin. Lebih baik lagi jika punya neckpillow (bantal yang melingkar di leher itu lho) sehingga istirahat bisa lebih nyaman.
  • Bawalah bekal minuman, makanan ringan atau makanan berat untuk perjalanan jauh karena tidak ada lagi pedagang asongan di KA. Ada sih makanan yang dijual oleh staf PT KAI tapi kan gak bervariasi.
  • Kalau perjalanan berkelompok, akan lebih seru kalau Anda menyiapkan permainan yg bisa dimainkan grup misalnya monopoli, kartu, halma, main tebak-tebakan dsb. Saat pesan tiket kelompok pilih tempat duduk depan belakang karena kursi KA bisa diatur duduk hadap-hadapan
  • Lebih aman dan murah pesan tiket KA online.
  • KTP wajib disiapkan baik untuk pesan Tiket, pemeriksaan tiket di peron dan di atas KA serta masuk Pulau Bali.

14 Jan 2014

Pantai Balangan

Yukkk ngebut cerita pantai.. mumpung lagi ada semangat buat nulis, mumpung ada waktu juga dan mumpung besok libur, mari lembur blogging. Boleh dibilang ini lanjutan dari ceritaku tentang Pantai Pandawa di postingan sebelumnya. Jadi setelah puas menelusuri pantai dan mendaki tebing, bli mengajak aku melanjutkan perjalanan ke pantai Balangan, masih di daerah Jimbaran juga. Bli bilang sih meskipun agak berbeda, pantai Balangan ini bagus, recomended untuk dikujungi. Ok lah.. karena suami lagi semangat, hayukk aja lanjut ke pantai berikutnya. Untungnya cuaca sudah tidak lagi terik. Mendung tapi tidak hujan, jadi pas banget. Apalagi saat itu baru pukul  14.00 WITA yang mana kalau cuaca cerah pasti matahari menyengat banget seperti yang kami alami di pantai Pandawa.

Kalau pantai Pandawa sudah mendapat sentuhan komersil dan memberikan fasilitas bagi para pelancong, pantai Balangan ini masih belum serius penanganannya. Meskipun akses menuju pantai ini sudah bagus, namun begitu sampai di kawasan pantai, pengelolaan wisatanya masih sangat sederhana. Mungkin itu yang membuat pantai Balangan tidak begitu banyak pengunjung seperti halnya pantai Pandawa. Saat aku kesana hanya ada beberapa pengunjung lokal dan wisatawan asing.

Karena ini pertama kalinya aku kesini,  sempat bingung juga, dimana gerangan pantainya. Setelah memarkir kendaraan, bli malah mengajak aku berjalan agak mendaki menuju kawasan seperti perbukitan. Sampai di atas bukit aku baru tahu ternyata dibalik bukit itu jurang dan dibawahnya menghampar lautan. Boleh dibilang bibir pantainya langsung menghadap tebing atau perbukitan tadi. Dan untuk menjangkau pantai, kami harus menuruni tebing melalui tangga yang memang sudah dibangun untuk memudahkan pengunjung. Tapi sebelum turun menuju pantai, bli mengajak untuk berkeliling disekitar bukit atau puncak tebing disitu. 


Bli bilang ini adalah icon dari Pantai Balangan tapi aku sendiri gak tahu apa maksudnya tonggak-tonggak kayu ini disini. Pantainya ada dibawah tebing di belakangku itu.
Cewek ini benar-benar nekat banget duduk disitu. Disentil dikit aja dia bisa nyungsep jatuh ke laut hehhe... syukurnya baik-baik saja dan semoga dia mendapatkan foto bagus, sebagus foto yang aku dapat ini.
Menjelajah bukit atau puncak tebing dan menikmati pemandangan laut dari ketinggian. Selama kami berada di pantai Balangan ini situasi terus mendung. Menguntungkan sebenarnya karena kami menjadi tidak kepanasan tapi tidak bisa melihat langit biru yang cerah.
Hal menjijikan yang kami lihat di beberapa sudut di puncak bukit, tumpukan sampah dan kerasakan yang timbul sisa pesta kembang api tahun baru. Sungguh menyedihkan.
 
Setelah puas menikmati pemandangan di bawah, kami turun ke pantai. Pasirnya coklat muda dan butirannya lebih kasar, tetap mengundang untuk guling-guling sih. Namun ombak di pantai ini cukup besar dan dasar pantainya banyak karang. Saat di pantai kami sempat 2 kali melihat wisatawan yang berenang di pantai terluka kena karang. Aduhh..gak kebayang pedihnya.
Bonus foto mbak-mbak yang cuma berani nampang di batu karang.

Pantai Pandawa

Huhuhu... bulan januari udah masuk hari ke-13 aja nih. Gak terasa ya? atau bahkan terasa banget mungkin buat yang lagi nunggu gajian karena udah masuk pertengahan bulan. Apalagi buat mereka yang tahun baru gaji baru. Hayo..siapa yang tahun baru naik gaji? Aku salah satunya, hehehe.... Bukan naik gaji sih, tepatnya naik uang makannya. Jadi ya bersyukur aja, sedikit atau banyak tetap harus pandai bersyukur. Dan untuk menandai awal tahun dengan kegiatan menyenangkan, aku sama bli akhirnya memutuskan jalan-jalan di hari minggu pertama bulan Januari ini. Karena bingung mau kemana, kami gambling aja memutuskan pergi ke pantai di daerah Jimbaran. Boleh dibilang ini acara nekat juga sih, mengingat kami berangkat dari rumah pukul 11 siang dan cuaca lagi cerah buanget alias panas terik. Huhhuu.. mau ngikutin Agnes Monica nih tanning kulit. Kurang gelap apalagi coba kulitku sekarang, dasarnya aja udah sawo matang.

Singkat kata singkat cerita akhirnya kami pergi ke Pantai Pandawa. Boleh dibilang ini pantai yang saat ini lagi hits di Bali. Jangankan bagi wisatawan, untuk orang lokal pun pantai ini masih hangat jadi perbincangan sebagai tempat melancong baru. Bukan pantai baru sih, tapi dari segi pengembangan kawasan wisata, Pantai Pandawa termasuk baru dikembangkan. Jadi masih fresh from the oven gitulah. Masih kinclong dan semoga akan terus selalu kinclong. 

Patung Bima

Fotoku di depan patung Bima. Posisi deretan patung Pandawa ada di sisi kiri jalan ini dan sisi kanannya langsung menghampar laut biru yang menakjubkan. Sekali pandang langsung bikin jatuh cinta.

Aku sendiri tidak tahu bagaimana awalnya pantai ini dikenal sebagai pantai Pandawa. Tapi nama Pandawa itu telah dikukuhkan dengan dibangunnya patung-patung Pandawa di tebing yang posisinya tepat berhadapan dengan pantai. Saat aku kesana, ada 6 patung besar yaitu Dewi Kunthi (ibunda dari Pandawa) dan patung kelima Pandawa bersaudara. Sebagai icon dari pantai ini, patung-patung tersebut menjadi obyek yang sangat menarik juga buat foto-foto selain pantainya sendiri yang........ seperti bisa dilihat di foto-foto berikut, silahkan Anda simpulkan sendiri.

Pantainya lebar dan panjang dengan pasir putih yang lembut. Sangat mengundang untuk guling-guling disini. Bersih kan? Yang seperti ini semoga selalu terjaga.

Ketika sampai di bibir pantai ombaknya memang tidak landai tapi juga tidak keras jadi sangat mengundang buat nyebur. Agak di tengah ombaknya agak besar jadi banyak juga kegiatan surfing disini. Aku juga sempat melihat paralayang yang sepertinya juga bisa menjadi kegiatan alteratif di Pantai Pandawa karena tempatnya ideal banget, langsung berhadapan dengan tebing tinggi.
Kurang ideal apa coba buat yang narsis dan selalu ingin eksis
Tersedia untuk disewakan, 1 payung dengan 2 kursi pantai ini katanya harganya 50rb saja. 


Untuk yang lapar atau haus dan gak bawa persediaan makan dan minum, jangan khawatir. Disepanjang pinggir pantai ada areal penjaja makanan. Kalau diamati, meskipun kaki 5 tapi pengelolaannya cukup baik dan lumayan bersih. Aku dan bli sempat membeli kelapa muda di salah satu warung disana. Whats a day.. langit biru cerah, pantai biru tosca membentang, sebutir kelapa muda dan suami tercinta. Meskipun jalan-jalan gaya kere tetep aja kerasa romantisnya kalau pemandangannya seperti ini.

Setelah puas menjelajah pantai dan foto-foto, meskipun gak nyebur karena gak bawa baju ganti, kami memutuskan untuk balik. Tapi ternyata sebelum keluar areal pantai kami melihat beberapa anak muda yang berfoto-foto diatas tebing. Jadinya tergoda juga buat naik dan ingin tahu kayak apa pemandangan dari atas tebing-tebing yang ada di Pantai Pandawa. Meskipun jalan untuk mencapai tebing cukup terjal, syukurlah kami nyampe juga diatas dengan selamat. 
Jalan menuju pantai dilihat dari ketinggian, dia tas tebing
Sedikit mengambil resiko tapi bisa melihat sudut pandang berbeda dari pemandangan panatai Pandawa

Foto ini diambil dari tebing paling tinggi yang ada diseberang pantai

Tuh kan.. ternyata emang jadi favorit buat hunting.